Khusyuk ketika Mengingat Allah
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Za Ummu Raihan
LAFAL AYAT
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَما نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ مِنْ قَبْلُ فَطالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فاسِقُونَ (١٦) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِها قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآياتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (١٧)
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16-17)
TAFSIR
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
(أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا) bermakna “sudah dekat dan akan segera hadir”.[1]
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Syaddad bin Aus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hal yang pertama diangkat dari manusia adalah kekhusyukan.” (HR. Ath-Thabari di Tafsir-nya, 27:131)[2]
وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ مِنْ قَبْلُ فَطالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ
Allah melarang kaum mukminin untuk menyerupai ahlul kitab sebelum mereka, yaitu Yahudi dan Nasrani, lantaran mereka mengubah kitabullah yang ada pada mereka. Mereka juga “menjual” kitabullah tersebut dengan harga yang sedikit, lalu mereka lempar kitab tersebut ke punggung mereka. Mereka berjalan di belakang orang yang menyimpang dan mengikuti perkataan orang-orang yang berselisih. Mereka mengekor kepada para tokoh mereka dalam urusan agama dengan cara menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai sesembahan selain Allah. Itulah bentuk terkuncinya hati mereka, sehingga mereka tidak mau menerima nasihat, dan hati mereka tidak melembut dengan adanya janji kenikmatan dari Allah maupun ancaman dari-Nya.[3]
وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فاسِقُونَ
Kebanyakan mereka itu fasik dalam amal. Hati mereka rusak, amal mereka bathil. Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang mukmin untuk menyerupai mereka, baik dalam perkara dasar maupun cabang.[4]
اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِها
Pada ayat tersebut terdapat isyarat bahwa Allah Ta’ala mampu melembutkan hati hamba-Nya yang sebelumnya hati itu keras membatu. Dia pula yang menunjuki jalan kepada orang yang tersesat, yang berada di atas kesesatan. Dia juga yang memberi kelapangan kepada hamba-Nya setelah sebelumnya dia diliputi kesempitan. Sebagaimana pula Dia menghidupkan bumi yang mati nan tandus, dengan menurunkan hujan yang tercurah. Demikianlah, Allah menghidupkan hati yang mati melalui petunjuk Al-Qur’an dan ayat-ayat-Nya, kemudian cahaya memasuki hati tersebut. Padahal sebelumnya Dia terkunci tanpa bisa dimasuki secercah sinar pun. Allah Yang Maha Suci adalah pemberi hidayah bagi siapa pun yang Dia kehendaki, meski sebelumnya orang tersebut terperangkap dalam kesesatan. Sebaliknya, dia juga sanggup menyesatkan siapa pun yang Dia kehendaki, meski sebelumnya orang tersebut berada dalam keadaan yang sempurna. Allah Ta’ala Maha Mampu melakukan setiap kehendak-Nya. Dia Maha Bijaksana dan Maha Adil dalam setiap perbuatannya. Dialah Al-Lathif Al-Khabir Al-Muta’al.[5]
Shalih Al-Muri berkata, “Maknanya adalah melembutkan hati yang sebelumnya mengeras.” Ada pula ulama yang berpendapat bahwa ayat tersebut menunjukkan “dihidupkannya” orang kafir dengan hidayah menuju iman setelah sebelumnya mereka “mati” dalam kekafiran dan kesesatan. Selain itu, ulama lain mengemukakan tafsir yang berbeda, “Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang yang telah mati. Allah membedakan antara hati yang khusyuk dan hati yang mati.”[6]
قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآياتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Allah menghidupkan bumi setelah matinya; itu merupakan tanda kekusaan Allah, bahwa Dia Maha Mampu untuk menghidupkan orang yang telah mati (membangkitkannya di Hari Akhir).[7]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK
1. Ada ulama yang berpendapat bahwa ayat ini berkenaan dengan peristiwa kaum munafikin, pada masa satu tahun setelah hijrah, yang meminta Salman Al-Farisi untuk membacakan isi Taurat karena menurut mereka isinya menakjubkan.[8]
2. Berlalu masa yang panjang sejak diutusnya nabi kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Setelah tiada lagi nabi di sisi mereka, hati mereka mengeras. Ibnu Abbas berkata, “Mereka condong kepada dunia dan berpaling dari petunjuk Allah.”[9]
3. Allah ‘Azza wa Jalla melarang kaum mukminin untuk menyerupai perilaku ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang hatinya mengeras seiring berlalunya masa. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa dia diutus kepada para qurra’ dari kalangan penduduk Bashrah. Di antara mereka ada 300 orang yang ahli dalam bacaan Al-Qur’an. Abu Musa berpesan kepada mereka, “Kalian adalah golongan pilihan dari kalangan penduduk Bashrah. Oleh karena itu, bacakanlah Al-Qur’an untuk mereka. Jangan sampai berlalu masa (tanpa mereka mendengar bacaan Al-Qur’an), sehingga hati mereka mengeras sebagaimana kerasnya hati kaum sebelum kalian.” Wujud kerasnya hati ahlul kitab adalah penolakan mereka untuk beriman kepada Nabi Isa dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]
4. Orang yang khusyuk adalah orang yang merendah dan tenang. Adapun dalam istilah syar’i, yang dimaksud dengan hati yang khusyuk adalah rasa takut kepada Allah – dengan dilandasi ilmu syar’i – yang masuk ke dalam hati. Khusyuknya hati akan tampak pada anggota badan berupa sikap rendah hati dan tenang sebagaimana kondisi seseorang yang takut.
5. Khusyuknya hati yang dimaksud di surah Al-Hadid ayat 16 adalah khusyuk karena mengingat Allah. Makna ini juga ditunjukkan oleh firman Allah di surah Al-Anfal ayat 2. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
Makna ayat ke-2 surah Al-Anfal tersebut adalah perasaan takut ketika mengingat Allah. Dengan demikian, sifat al-wajl/الوجل (gemetar) di surah Al-Anfal memiliki makna yang sama dengan al-khasyyah/الخشية (rasa takut) yang disebutkan di surah Al-Hadid.[11]
6. Candaan adalah warna kehidupan, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercanda dengan istrinya [Lihat Rubrik Mutiara Nasihat Muslimah] maupun anak-anak kaum muslimin [Lihat Rubrik Tarbiyatul Aulad]. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas dalam candaan karena mungkin saja candaan yang terkesan ringan di lisan justru merupakan bencana yang menjerumuskan ke dalam hal yang diharamkan oleh Allah [Lihat Rubrik Doa] hingga seseorang tanpa sadar telah tergelincir ke lubang kekufuran [Lihat Rubrik Aqidah]. Oleh sebab itu, hendaklah seorang muslim tetap berusaha mengingat Allah dan menjaga sikap khusyuk dalam aktivitas sehari-harinya.
7. Jika seorang muslim terlibat dalam percakapan yang diselingi candaan, selayaknya dia mengingat panduan syariat [Lihat Rubrik Utama] agar canda dan tawa tersebut tidak sampai mematikan hati.
Referensi:
- Tafsir Al-Qurthubi. Al-Imam Al-Qurthubi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Ibnu Katsir. Al-Imam Ibnu Katsir. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Al-Baghawi. Al-Imam Al-Baghawi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Adhwaul Bayan. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.