๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Dia Sangat Ingin Kamu Selamat

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Athirah Mustadjab


Bayangkan, ada seorang manusia yang mengorbankan seluruh hidupnya demi keselamatan orang lain. Ia rela dihina, dilempari batu, diboikot secara ekonomi, diusir dari tanah kelahirannya, kehilangan orang-orang tercinta, menghadapi berbagai peperangan, bahkan tetap memikirkan umatnya di detik-detik terakhir hidupnya. Dialah Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, utusan Allah yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Seluruh perjuangan beliau bertujuan menyelamatkan manusia, bukan sekadar dari penderitaan dunia, tetapi juga dari kesyirikan, kesesatan, azab Allah, dan kebinasaan di akhirat. Ironisnya, banyak kaum muslimin mencintai beliau, tetapi belum sepenuhnya mengenal besarnya kasih sayang dan pengorbanan beliau. Padahal, setiap dakwah, nasihat, doa, kesabaran, hingga syafaat beliau pada Hari Kiamat merupakan bukti betapa besar keinginan beliau agar umatnya selamat. Artikel ini mengulas bagaimana kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tercermin dalam seluruh perjalanan hidupnya berdasarkan Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah, serta pelajaran yang dapat diambil agar cinta kepada beliau tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dengan mengikuti petunjuk dan perjuangannya.

Rasulullah: Rahmat Allah dan Nikmat Terbesar bagi Umat Manusia

Salah satu bukti terbesar kasih sayang Allah kepada manusia adalah bahwa Dia tidak pernah membiarkan mereka hidup tanpa petunjuk. Sejak Nabi Adam โ€˜alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, Allah senantiasa mengutus para nabi untuk mengajak manusia mentauhidkan-Nya dan menuntun mereka ke jalan keselamatan. Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุนูŽุซู’ู†ูŽุง ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู‹ุง ุฃูŽู†ู ุงุนู’ุจูุฏููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชูŽ

โ€œDan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan), โ€˜Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.โ€™โ€ (QS. An-Nahl: 36)

Allah juga berfirman,

ุฑู‘ูุณูู„ู‹ุง ู…ูุจูŽุดู‘ูุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽู…ูู†ุฐูุฑููŠู†ูŽ ู„ูุฆูŽู„ู‘ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุญูุฌู‘ูŽุฉูŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฑู‘ูุณูู„ู

โ€œPara rasul itu sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar manusia tidak mempunyai alasan di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul.โ€ (QS. An-Nisaโ€™: 165)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengazab seorang pun hingga hujah ditegakkan melalui diutusnya seorang rasul kepada mereka.[1] Hal ini menunjukkan bahwa risalah para nabi merupakan wujud kasih sayang sekaligus keadilan Allah, agar manusia mengenal kebenaran sebelum dimintai pertanggungjawaban.

Rangkaian risalah tersebut mencapai puncaknya dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ู‘ูู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

โ€œDan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.โ€ (QS. Al-Anbiyaโ€™: 107).

Bahkan, Allah menyebut pengutusan beliau sebagai karunia terbesar bagi orang-orang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya,

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู…ูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฅูุฐู’ ุจูŽุนูŽุซูŽ ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู‹ุง ู…ู‘ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชู’ู„ููˆ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽูŠูุฒูŽูƒู‘ููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนูŽู„ู‘ูู…ูู‡ูู…ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ

โ€œSungguh Allah telah memberikan karunia yang besar kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah.โ€ (QS. Ali โ€˜Imran: 164)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa pengutusan Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam merupakan anugerah bagi seluruh manusia. Namun, Allah secara khusus menyebut kaum mukminin karena merekalah yang benar-benar memperoleh manfaat dari risalah beliau. Oleh sebab itu, nikmat tersebut menjadi karunia yang paling agung bagi orang-orang yang beriman.[2]

Karena itulah, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa tidak ada kebutuhan manusia yang melebihi kebutuhan terhadap petunjuk Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Seluruh kebaikan bergantung pada sejauh mana manusia mengenal, mengamalkan, mendakwahkan, dan bersabar di atas ajaran beliau, sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan kemenangan yang hakiki selain mengikuti petunjuk yang beliau bawa.[3] Oleh karena itu, kebutuhan manusia terhadap wahyu jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap makanan, minuman, udara, atau cahaya matahari. Semua itu hanya menghidupkan jasad, sedangkan petunjuk Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menghidupkan hati, membangun peradaban, dan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Sejarah membuktikan bahwa dalam waktu sekitar 23 tahun, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berhasil mengubah masyarakat Arab yang sebelumnya hidup dalam masa jahiliah menjadi sebuah peradaban yang berlandaskan tauhid, keadilan, ilmu, dan akhlak, hingga memberikan pengaruh besar bagi sejarah dunia. Sebaliknya, sejarah juga memperlihatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tidak mampu menghapus penyembahan kepada selain Allah, ketidakadilan, penindasan, maupun kerusakan moral.[4] 

Temuan ilmiah modern menguatkan kenyataan tersebut. Berbagai penelitian psikologi moral menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak otomatis melahirkan perilaku yang bermoral. Manusia tetap membutuhkan landasan nilai yang kokoh agar akal, ilmu, dan kekuasaan digunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.[5] Penelitian lain juga menemukan bahwa semakin kuat orientasi seseorang terhadap materi, semakin besar risiko menurunnya kesejahteraan psikologis dan semakin mudah ia mengabaikan nilai-nilai moral demi kepentingan pribadi.[6] 

Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, kecerdasan, dan kekayaan saja tidak cukup untuk membawa manusia kepada kehidupan yang baik. Semua itu tetap memerlukan wahyu sebagai kompas yang membimbing arah penggunaannya. Karena itulah, diutusnya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan puncak kasih sayang Allah dan nikmat terbesar bagi umat manusia, yang membimbing mereka menuju ridha Allah serta keselamatan di dunia dan akhirat.

Seluruh Perjuangan Rasulullah Bertujuan Menyelamatkan Umat

Tidak banyak ayat Al-Qurโ€™an yang mengungkapkan isi hati seseorang. Namun, Allah mengabadikan isi hati Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dalam firman-Nya,

๏ดฟู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽุงุกูŽูƒูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŒ ู…ู‘ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุนูŽุฒููŠุฒูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูŽุง ุนูŽู†ูุชู‘ูู…ู’ ุญูŽุฑููŠุตูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู… ุจูุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฑูŽุกููˆููŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู…ูŒ๏ดพ

โ€œSungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri; berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, serta sangat penyantun lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.โ€ (QS. At-Taubah: 128)

Ayat ini menggambarkan betapa besar kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau merasakan setiap penderitaan yang menimpa mereka, sangat menginginkan mereka memperoleh hidayah, serta selalu memperlakukan mereka dengan kelembutan dan kasih sayang. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sangat berharap umatnya mendapatkan hidayah dan meraih segala kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.[7] Karena itulah, seluruh perjuangan dan dakwah beliau tidak pernah bertujuan mengejar kekuasaan, popularitas, ataupun kekayaan. Semua pengorbanan beliau hanya bermuara pada satu tujuan, yaitu membimbing manusia kepada tauhid, meraih ridha Allah, dan memperoleh keselamatan yang abadi.

Inilah sebabnya dakwah pertama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukanlah mengajak manusia membangun kekuatan politik atau mengejar kemajuan ekonomi, melainkan memperbaiki akidah dengan mentauhidkan Allah. Ketika berdakwah di Pasar Dzul Majaz, beliau mengenakan pakaian berwarna merah seraya berseru,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูุŒ ู‚ููˆู„ููˆุง: ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ูŽุงู‘ ุงู„ู„ู‡ู ุชููู’ู„ูุญููˆุง

โ€œWahai sekalian manusia, ucapkanlah La ilaha illallah, niscaya kalian akan memperoleh keberuntungan dan keselamatan.โ€ (HR. Ibnu Hibban, no. 6562; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Syuโ€™aib Al-Arnauth)

Seruan sederhana ini menjadi pilar seluruh risalah Islam karena setinggi apa pun kemajuan yang dicapai manusia, tidak ada musibah yang lebih besar daripada kehilangan tauhid. Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

๏ดฟุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ููุฑู ุฃูŽู† ูŠูุดู’ุฑูŽูƒูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู ู…ูŽุง ุฏููˆู†ูŽ ุฐูŽูฐู„ููƒูŽ ู„ูู…ูŽู† ูŠูŽุดูŽุงุกู๏ดพ

โ€œSesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.โ€ (QS. An-Nisaโ€™: 48)

Kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukan hanya tampak dalam ucapan, tetapi juga dalam setiap pengorbanan beliau. Di Thaif, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dilempari batu hingga kedua kaki beliau berlumuran darah. Setelah itu, Malaikat Jibril datang mengabarkan bahwa Allah telah mengutus Malaikat Penjaga Gunung untuk melaksanakan apa pun yang beliau kehendaki. Malaikat tersebut kemudian berkata bahwa jika Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menginginkan, ia akan menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif. Namun Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab, โ€œTidak. Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.โ€ (HR. Bukhari, no. 3231 dan Muslim, no. 1795)

Selama hampir tiga tahun, beliau bersama kaum muslimin bertahan menghadapi pemboikotan di Syiโ€™b Abu Thalib hingga menahan kelaparan. Setelah itu, Abu Thalib dan Khadijah radhiyallahu โ€˜anha wafat pada tahun yang sama, yang kemudian dikenal sebagai โ€˜ฤ€mul Huzn (Tahun Kesedihan).[8] Ketika tekanan kaum Quraisy semakin berat, Allah memerintahkan beliau berhijrah ke Madinah, meninggalkan Makkahโ€”kota yang paling beliau cintaiโ€”agar dakwah Islam terus berlanjut dan cahaya hidayah tersebar kepada seluruh manusia.[9] Semua itu menunjukkan bahwa hidayah manusia jauh lebih beliau utamakan daripada kenyamanan dirinya sendiri.

Bahkan ketika manusia menolak dakwahnya, yang paling beliau khawatirkan bukanlah penderitaan pribadi, melainkan keselamatan mereka. Allah sampai menghibur beliau melalui firman-Nya,

๏ดฟููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูŽ ุจูŽุงุฎูุนูŒ ู†ู‘ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ูฐ ุขุซูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ุฅูู† ู„ู‘ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆุง ุจูู‡ูŽูฐุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุณูŽูู‹ุง๏ดพ

โ€œMaka boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling dan tidak beriman.โ€ (QS. Al-Kahfi: 6)

Beliau sendiri menggambarkan perjuangannya melalui sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda bahwa beliau seperti seseorang yang berusaha menghalangi serangga agar tidak terjatuh ke dalam api, sementara serangga-serangga itu terus menerobos masuk. โ€œAku memegang ikat pinggang kalian agar tidak terjerumus ke dalam neraka, sementara kalian terus menerobos masuk ke dalamnya.โ€ (HR. Bukhari, no. 6483 dan Muslim, no. 2284)

Gambaran ini menunjukkan bahwa seluruh dakwah beliau adalah ikhtiar tanpa henti untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan akhirat. Lihat Rubrik Hadits.

Contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah konsep yang diakui oleh penelitian modern. Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa kepemimpinan yang dibangun di atas empati, kepedulian, dan perhatian kepada orang lain lebih mampu membentuk perilaku yang baik, meningkatkan kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan yang aman dan saling mendukung dibandingkan dengan kepemimpinan yang hanya mengandalkan kekuasaan.[10] Nilai-nilai yang baru banyak dikaji para ilmuwan dewasa ini telah dipraktikkan secara sempurna oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lebih dari empat belas abad yang lalu. Dengan demikian, sirah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukan sekadar rangkaian kisah sejarah. Setiap luka, penghinaan, air mata, hijrah, dan pengorbanan yang beliau alami berpangkal pada satu tujuan yang tidak pernah berubah: menyelamatkan manusia agar mengenal Allah, terbebas dari kesyirikan, dan memperoleh kebahagiaan yang kekal di sisi-Nya.

Kasih Sayang Rasulullah dalam Bimbingan dan Syariat

Kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak hanya tampak dalam kelembutan akhlaknya, tetapi juga dalam syariat yang beliau bawa. Seluruh ajaran Islam dibangun di atas kemudahan, keseimbangan, dan kemaslahatan, bukan kesulitan dan beban yang melampaui kemampuan manusia. Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจููƒูู…ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุฑููŠุฏู ุจููƒูู…ู ุงู„ู’ุนูุณู’ุฑูŽ

โ€œAllah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.โ€ (QS. Al-Baqarah: 185)

Allah Taโ€™ala juga berfirman,

ู…ูŽุง ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ููŠูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู… ู…ูู‘ู†ู’ ุญูŽุฑูŽุฌู ูˆูŽู„ูŽูฐูƒูู† ูŠูุฑููŠุฏู ู„ููŠูุทูŽู‡ูู‘ุฑูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูุชูู…ู‘ูŽ ู†ูุนู’ู…ูŽุชูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’

โ€œAllah tidak hendak menjadikan kesulitan bagimu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu.โ€ (QS. Al-Maโ€™idah: 6)

Atas dasar itulah, syariat memberikan berbagai keringanan ketika manusia menghadapi kesulitan, seperti bertayamum saat tidak ada air, mengqashar dan menjamak shalat ketika safar, serta berbuka bagi orang sakit dan musafir. Semua ini menunjukkan bahwa syariat hadir untuk menjaga manusia, bukan memberatkannya.

Prinsip tersebut tercermin dalam kehidupan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Aisyah radhiyallahu โ€˜anha berkata,

ู…ูŽุง ุฎููŠู‘ูุฑูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุทู‘ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑูŽู‡ูู…ูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุฅูุซู’ู…ู‹ุง

โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak pernah diberi pilihan antara dua perkara, melainkan beliau memilih yang lebih mudah di antara keduanya, selama tidak mengandung dosa.โ€ (HR. Bukhari no. 6126 dan Muslim no. 2327)

Hadits ini menunjukkan bahwa memilih jalan yang lebih mudah selama tetap berada dalam batas-batas syariat merupakan akhlak Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Namun, apabila kemudahan itu mengandung dosa atau bertentangan dengan ketentuan Allah, beliau tidak mengambilnya, melainkan berpegang teguh pada syariat.[11] Karena itu, mempersulit agama tanpa dasar bukanlah bagian dari sunnah beliau.

Kasih sayang beliau juga tampak ketika meluruskan pemahaman tiga sahabat yang ingin beribadah secara berlebihan. Ada yang ingin mendirikan shalat malam tanpa tidur, ada yang hendak berpuasa setiap hari, dan ada yang tidak ingin menikah. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kemudian bersabda,

ุฃูŽู…ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุฎู’ุดูŽุงูƒูู…ู’ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุชู’ู‚ูŽุงูƒูู…ู’ ู„ูŽู‡ูุŒ ู„ูŽูƒูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุตููˆู…ู ูˆูŽุฃููู’ุทูุฑูุŒ ูˆูŽุฃูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ู‚ูุฏูุŒ ูˆูŽุฃูŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌู ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกูŽุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุบูุจูŽ ุนูŽู†ู’ ุณูู†ู‘ูŽุชููŠ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู‘ููŠ

โ€œDemi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, serta aku menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.โ€ (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim, no. 1401)

Hadits ini menegaskan bahwa kesalehan tidak diukur dari beratnya ibadah, tetapi dari kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Beliau juga berulang kali memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam sikap berlebihan dalam agama. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุบูู„ููˆู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุบูู„ููˆู‘ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู

โ€œHindarilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya sikap berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.โ€ (HR. Ibnu Majah, no. 3029; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Sebaliknya, Islam mengajarkan sikap pertengahan sebagaimana firman Allah โ€˜Azza wa Jalla,

ูˆูŽูƒูŽุฐูŽูฐู„ููƒูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุณูŽุทู‹ุง

โ€œDemikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang pertengahan.โ€ (QS. Al-Baqarah: 143.

Kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga tampak dalam berbagai peringatan yang beliau sampaikan demi menjaga keselamatan umat. Selama tiga belas tahun di Makkah, beliau menanamkan tauhid sebagai fondasi seluruh ajaran Islam. Beliau mengingatkan bahaya syirik,

ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูŠูุดู’ุฑููƒู ุจูุงู„ู„ู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ

โ€œBarang siapa meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk neraka.โ€ (HR. Bukhari no. 1238 dan Muslim no. 92)

Beliau juga memperingatkan agar menjauhi bidโ€™ah,

ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูู„ู‘ูŽ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุฉู ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒุŒ ูˆูŽูƒูู„ู‘ูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูŒ

โ€œJauhilah perkara-perkara baru dalam urusan agama, karena setiap perkara baru adalah bidโ€™ah, dan setiap bidโ€™ah adalah kesesatan.โ€ (HR. Abu Daud no. 4607; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Selain itu, beliau mengingatkan agar tidak diperbudak oleh gemerlap dunia,

ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽุง ุงู„ู’ููŽู‚ู’ุฑูŽ ุฃูŽุฎู’ุดูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽุฎู’ุดูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูุจู’ุณูŽุทูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุงุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ุจูุณูุทูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ุŒ ููŽุชูŽู†ูŽุงููŽุณููˆู‡ูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ุชูŽู†ูŽุงููŽุณููˆู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุชูู‡ู’ู„ููƒูŽูƒูู…ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽุชู’ู‡ูู…ู’

โ€œDemi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, yang aku khawatirkan adalah apabila dunia dilapangkan untuk kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.โ€ (HR. Bukhari no. 3158)

Peringatan ini semakin relevan pada zaman modern. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kemakmuran material tidak selalu meningkatkan kebahagiaan; justru orientasi hidup yang terlalu materialistis berkaitan dengan rendahnya kepuasan hidup.[12] Di tengah derasnya arus informasi, termasuk informasi keagamaan di media digital, umat juga dituntut semakin selektif agar tidak mudah mengikuti ajaran yang tidak memiliki dasar ilmiah dan syarโ€™i.

Semakin dalam seseorang mengenal Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, semakin tampak bahwa setiap perintah, larangan, dan nasihat beliau lahir dari kasih sayang yang tulus. Beliau tidak ingin umatnya dipersulit oleh agama, tidak pula dibiarkan tersesat oleh syirik, hawa nafsu, atau tipu daya dunia. Beliau membimbing mereka dengan syariat yang penuh rahmat agar tetap berada di atas jalan yang lurus hingga menghadap Allah dalam keadaan beriman.

Perhatian Rasulullah yang Tiada Henti

Kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kepada umatnya tiada henti. Menjelang akhir hayat, yang memenuhi perhatian beliau bukanlah harta atau kepentingan pribadi, melainkan keselamatan umat. Dalam berbagai riwayat, beliau berulang kali berpesan,

ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽุŒ ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูููŠู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’

โ€œJagalah shalat, jagalah shalat! Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan hamba sahaya yang berada di bawah tanggung jawab kalian.โ€ (HR. Abu Daud no. 5156; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Beliau juga mengingatkan agar umat tidak berlebih-lebihan dalam mengagungkan kubur demi menjaga kemurnian tauhid (HR. Muslim, no. 532)

Sebelum wafat, beliau meninggalkan warisan terbesar berupa petunjuk yang tidak akan menyesatkan siapa pun yang berpegang teguh kepadanya, yaitu Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah (HR. Hakim, no. 318; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih at-targhib, no. 40)

Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

๏ดฟูˆูŽู…ูŽุง ุขุชูŽุงูƒูู…ู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ููŽุฎูุฐููˆู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽุงูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ู ููŽุงู†ุชูŽู‡ููˆุง๏ดพ

โ€œApa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.โ€ (QS. Al-Hasyr: 7)

Perhatian Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bahkan terus berlanjut hingga Hari Kiamat. Ketika setiap manusia sibuk memikirkan dirinya sendiri sebagaimana digambarkan dalam firman Allah (QS. โ€˜Abasa: 34โ€“37), beliau justru memikirkan umatnya. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ููƒูู„ู‘ู ู†ูŽุจููŠูู‘ ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉูŒ ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุฉูŒ ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูุฑููŠุฏู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุฎู’ุชูŽุจูุฆูŽ ุฏูŽุนู’ูˆูŽุชููŠ ุดูŽููŽุงุนูŽุฉู‹ ู„ูุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู

โ€œSetiap nabi memiliki doa yang pasti dikabulkan, yang dipanjatkannya kepada Allah. Adapun aku, ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari akhir.โ€ (HR. Bukhari no. 6304 dan Muslim no. 198)

Pada hari itu pula beliau memperoleh Asy-Syafaโ€™ah Al-โ€˜Uzhma, ketika Allah mengizinkan beliau memberi syafaat bagi manusia, sebagaimana firman-Nya,

๏ดฟุนูŽุณูŽู‰ูฐ ุฃูŽู† ูŠูŽุจู’ุนูŽุซูŽูƒูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู‹ุง ู…ู‘ูŽุญู’ู…ููˆุฏู‹ุง๏ดพ

โ€œMudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.โ€ (QS. Al-Israโ€™: 79)

Kasih sayang beliau juga tampak di Al-Haudh (Telaga). Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุดูŽุฑูุจูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุธู’ู…ูŽุฃู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง

โ€œBarang siapa minum darinya, niscaya ia tidak akan pernah merasa haus lagi selama-lamanya.โ€ Namun, beliau juga memperingatkan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dari telaga tersebut karena mengubah ajaran beliau setelah beliau wafat.โ€ (HR. Bukhari no. 7050 dan Muslim no. 2290)

Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam harus dibuktikan dengan berpegang teguh kepada sunnahnya.

Salah satu gambaran paling mengharukan tentang kasih sayang beliau terdapat dalam hadits riwayat Muslim. Setelah membaca doa Nabi Ibrahim dan Nabi Isa โ€˜alaihimas salam untuk umat mereka, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa, โ€œYa Allah, umatku ... umatku ...โ€ lalu beliau menangis. Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman, โ€œWahai Jibril, pergilah kepada Muhammadโ€”padahal Tuhanmu lebih mengetahuiโ€”lalu tanyakan kepadanya apa yang membuatnya menangis.โ€ Setelah Jibril datang dan bertanya, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyampaikan apa yang beliau ucapkan. Maka Allah berfirman, โ€œWahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakan kepadanya, โ€˜Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.โ€™โ€ (HR. Muslim no. 202)

Hadits ini menjadi penutup yang indah atas seluruh perjalanan hidup beliau: sejak awal dakwah hingga Hari Kiamat, yang selalu memenuhi hati Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah keselamatan umatnya.

Menghargai Perjuangan Rasulullah dengan Mengikuti Sunnah

Seluruh pengorbanan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam akan kehilangan maknanya jika umat hanya mengagumi beliau tanpa berusaha mengikuti petunjuknya. Ironisnya, tidak sedikit kaum muslimin yang lebih mengenal tokoh dunia daripada mengenal Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Mereka mengetahui kehidupan para selebritas, atlet, atau tokoh media sosial, tetapi belum memahami bagaimana Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam beribadah, berakhlak, memimpin, mendidik keluarga, dan bermuamalah. Padahal Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

๏ดฟู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ๏ดพ

โ€œSungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian.โ€ (QS. Al-Ahzab: 21.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa karakter, empati, dan perilaku baik lebih mudah dibentuk melalui keteladanan daripada sekadar nasihat.[13] Di tengah meningkatnya krisis akhlak, rendahnya empati, serta derasnya arus informasi, kebutuhan manusia terhadap teladan yang benar justru semakin besar. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menghadirkan teladan yang utuh: pemimpin yang adil, pendidik yang sabar, suami yang lembut, ayah yang penyayang, sekaligus hamba Allah yang paling bertakwa.

Oleh karenanya, mencintai Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak cukup hanya dengan pengakuan lisan atau memperbanyak shalawat, meskipun shalawat merupakan ibadah yang agung. Cinta sejati harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah beliau. Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ู‚ูู„ู’ ุฅูู† ูƒูู†ุชูู…ู’ ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนููˆู†ููŠ ูŠูุญู’ุจูุจู’ูƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฐูู†ููˆุจูŽูƒูู…ู’

โ€œKatakanlah, โ€˜Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.โ€™โ€ (QS. Ali โ€˜Imran: 31)

Mengikuti Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dimulai dengan mempelajari sirah dan sunnahnya, menghidupkan ajarannya dalam ibadah, akhlak, keluarga, dan muamalah, kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Beliau bersabda,

ุจูŽู„ู‘ูุบููˆุง ุนูŽู†ู‘ููŠ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุขูŠูŽุฉู‹

โ€œSampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.โ€ (HR. Bukhari, no. 3461)

Beliau telah mengorbankan usia, tenaga, harta, kenyamanan, bahkan darahnya agar manusia mengenal Allah dan memperoleh jalan menuju surga. Beliau menangis untuk umatnya, mendoakan mereka, memperingatkan mereka dari setiap jalan yang membinasakan, bahkan menanti mereka dengan syafaat pada Hari Kiamat. Jika hari ini kita masih dapat mengucapkan laa ilaaha illallaah, membaca Al-Qurโ€™an, mendirikan shalat, dan berharap masuk surga, semua itu merupakan buah dari perjuangan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Dengan demikian, pertanyaan yang patut kita renungkan bukan lagi, apakah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mencintai umatnya? Jawabannya telah nyata. Yang lebih penting adalah, sudahkah kita membalas cinta itu dengan mempelajari, mengamalkan, menjaga, dan mendakwahkan sunnah beliau hingga akhir hayat?

Penutup

Seluruh kehidupan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah bukti nyata kasih sayang Allah kepada manusia. Tidak ada satu pun pengorbanan, nasihat, doa, air mata, maupun perjuangan beliau yang tidak bermuara pada satu tujuan agung: menyelamatkan umat dari kesyirikan, kesesatan, dan azab Allah menuju tauhid, ampunan, serta surga-Nya. Jika beliau telah mencintai umatnya sedemikian besar hingga mengorbankan seluruh hidupnya demi keselamatan mereka, maka sudah sepantasnya kecintaan kita kepada beliau diwujudkan bukan sekadar dengan pengakuan di lisan, tetapi dengan mengenal beliau, mempelajari sirah dan sunnahnya, mengamalkannya dengan istiqamah, serta menjaganya dari segala bentuk penyimpangan. Pada hakikatnya, penghormaan terbaik kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukanlah banyaknya pujian yang kita ucapkan, melainkan sejauh mana kita meneladani petunjuk yang beliau wariskan hingga Allah mengumpulkan kita bersama beliau di surga-Nya.

Demikianlah uraian mengenai kasih sayang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang tercermin dalam seluruh perjalanan hidup beliau berdasarkan Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah, serta pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat kita maknai dan wujudkan dengan meneladani petunjuk serta perjuangan beliau. Semoga tulisan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan membuahkan amal salih di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala dengan segala asmaโ€™ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi taufiq ila aqwamith thariq.

Referensi

  • Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  • Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
  • Sunan Ibni Majah, Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Al-Qazwaini Ibnu Majah, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Maโ€™arif, Cet. 1, tanpa menyebutkan tahun.
  • Sunan Abi Daud, Abu Daud Sulaiman bin Al-Asyโ€™ats As-Sijistani, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Maโ€™arif, KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
  • Al-Mustadrak โ€˜Ala Ash-Shahihain, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Hakim, Tahqiq Mushtafa Abdul Qadir โ€˜Atha, Dar Al-Kutub Al-โ€˜Ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1411 H/1990 M.
  • Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balaban, Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti, Tartib Al-Amir สฟAlaสพuddin สฟAli ibn Balaban Al-Farisi, Tahqiq dan Takhrij : Shuสฟaib Al-Arnaโ€™uth, Muสพassasat Ar-Risalah, Beirut, Cet. 2, Tahun 1414 H/1993 M.
  • Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Maโ€™ฤrif, Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1421 H/2000 M.
  • Tafsir Al-Qur'an Al-โ€˜Adhim, โ€˜Imaduddin Abul Fida' Ismaโ€™il Ibnu Katsir, Tahqiq Hikmat bi Basyir, Dar Ibn Al-Jauzi, Cet. 1, Tahun 1431 H.
  • Al-Jami' Li Ahkam Al-Qur'an, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Tahqiq Ahmad Al-Bardouni dan Ibrahim Atfayish, Dar Al-Kutub Al-Misriyyah-Kairo, Cet. 2, Tahun 1384 H/1964 M.
  • Miftaแธฅ Dar As-Sa'adah Wa Mansyur Wilayah Al-ilm Wal Iradah, Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakr Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qaid, Dar โ€˜Atha'at Al-ilm, Cet. 3, Tahun 1440 H/2019 M.
  • Zadul Ma'ad Fi Hady Khair Al-โ€˜Ibad, Syamsuddin Abu Abdullah Muแธฅammad ibn Abi Bakr Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Taแธฅqiq Syuโ€™aib Al-Arnaโ€™uth dan สฟAbdul Qadir Al-Arnaโ€™uth, Muโ€™asasah Al-Risalah, Beirut, Cet. 1, Tahun 1417 H/1996 M.
  • Ma Sya'a wa Lam Yatsbut fi al-Sirah al-Nabawiyyah, Muhammad bin 'Abdillah Al-'Awsyan, Dฤr แนฌaybah, Riyadh, tanpa menyebut tahun.
  • Website dorar.net, https://dorar.net/hadith/sharh/23926. Diakses pada 29 Juni 2026.
  • Website islamweb.net, www.islamweb.net/amp/ar/ article/34801/. Diakses pada 28 Juni 2026.
  • Zakharin, Michael, dan Timothy C. Bates. โ€œHigher Cognitive Ability Linked to Weaker Moral Foundations in UK Adults.โ€ Intelligence, vol. 111, Juli 2025, hlm. 101930. https://doi.org/10.1016/j.intell.2025.101930.
  • Liu, Ziqiang, dkk. โ€œMoral Chameleons: The Positive Association between Materialism and Self-Interest-Triggered Moral Flexibility.โ€ Journal of Research in Personality, vol. 100, Oktober 2022, hlm. 104268. https://doi.org/10.1016/j.jrp.2022.104268.
  • Ramachandran, Sunder, dkk. โ€œWhither Compassionate Leadership? A Systematic Review.โ€ Management Review Quarterly, vol. 74, no. 3, September 2024, hlm. 1473โ€“557. https://doi.org/10.1007/s11301-023-00340-w.
  • Fitriyah, Lailatul. JANGAN TERLALU MATERIALISTIK! MATERIALISME SEBAGAI TOLAK UKUR KEPUASAN HIDUP. PSIKOVIDYA, vol. 20, no. 1, April 2016, hlm. 1-8. https://psikovidya.wisnuwardhana.ac.id/index.php/psikovidya/article/view/11.
  • Sanderse, Wouter. โ€œThe Meaning of Role Modelling in Moral and Character Education.โ€ Journal of Moral Education, vol. 42, no. 1, Maret 2013, hlm. 28โ€“42. https://doi.org/10.1080/03057240.2012.690727.
33