Sirah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Zubaidah binti Ja’far: Jelita Berhati Mulia

Penulis: Azhar Abu Usamah

Editor: Athirah Mustadjab


Paras jelita mudah ditemui, tetapi yang istimewa sedikit sekali. Salah satu wanita yang dianugerahi paras cantik, nasab mulia, serta karakter shalihah ialah Amatul Aziz binti Ja’far bin Al-Manshur, cucu kesayangan Khalifah Al-Manshur sekaligus permaisuri Khalifah Harun Ar-Rasyid. Ia dijuluki “Zubaidah”, yang berarti wanita istimewa.


Dia adalah “Zubaidah”

Bergelar Zubaidah (yang istimewa), ia terlahir pada tahun 145 H dengan nama Amatul Aziz[1] dan ber-kuniyah dengan nama Ummu Ja’far.

Sejak kecil, Amatul ‘Aziz adalah penyejuk pandangan kakeknya, Khalifah Al-Manshur. Suatu ketika, tatkala Khalifah Al-Manshur melihat cucu kesayangannya itu, ia berkata, “Engkau adalah Zubaidah.” Gelar “Zubaidah”, wanita istimewa, semenjak itu lekat pada diri Amatul ‘Aziz.

Gelar yang indah tersebut bukanlah sekadar nama. Kehidupan Zubaidah benar-benar seindah namanya. Ia adalah satu-satunya wanita Bani Hasyim yang menjadi permaisuri dan melahirkan seorang khalifah, yaitu Al-Amin, kakak tiri Al-Makmun. Dengan ketakwaannya, ia dikelilingi oleh kurang lebih 400 dayang-dayang wanita yang semuanya adalah penghafal Al-Qur’an.[2] 

Garis kedermawanan keluarga Al-Abbas juga tampak pada diri Zubaidah. Beliau sangat aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah, amat perhatian terhadap fakir dan miskin, serta memiliki pemikiran revolusioner yang jauh melampaui pemikiran wanita, bahkan para lelaki di zamannya secara umum. Pernikahannya dengan sepupunya, Harun Ar-Rasyid, juga menjadi salah satu pesta pernikahan yang spektakuler. Bukan karena kemeriahan acara yang dihelat, tetapi uang yang dibagi-bagikan kepada para dhuafa dan selain mereka dari para hadirin juga sangat banyak. Pernikahan itu sendiri terjadi pada tahun 165 H.

Megaproyek Zubaidah

Seakan “tak mau kalah” dengan suaminya yang diceritakan selalu bersedekah sebanyak 100 dinar setiap hari, Zubaidah banyak menjalankan proyek-proyek besar untuk kepentingan umat atas nama sedekah.

Sejarah mencatat peninggalan besar dalam peradaban Islam yang diwariskan oleh Zubaidah. Salah satu yang paling diingat oleh pena sejarah ialah sistem pengairan sepanjang jalur haji menuju Makkah yang dikelola dengan sistem wakaf. Megaproyek itu dikenal dengan nama “Sumur Zubaidah” (عين زبيدة). Dimulai dari pipanisasi Mata Air Nu’man hingga ke padang Arafah di kota Makkah untuk akses minum bagi jamaah haji. Tak main-main; realisasi proyek tersebut melibatkan ribuan tenaga profesional dan tenaga ahli, dengan jutaan keping dinar emas digelontorkan untuk menyukseskan pekerjaan tersebut. Bahkan, dari salah satu sumber klasik disebutkan bahwa biaya megaproyek Sumur Zubaidah itu saja bisa digunakan untuk membangun sebuah kota yang sempurna pada zamannya!

Yang lebih mencengangkan, Zubaidah berucap, “Jalankan terus proyek ini, walau harus membayar 1 keping dinar untuk sebuah cangkulan!” Padahal, saat itu para insinyur memproyeksikan dana yang dibutuhkan adalah sekitar 1,7 juta dinar.

Selain proyek Sumur Zubaidah, juga ada fasilitas lain yang dibangun di sepanjang jalur haji; mulai dari rumah singgah, sumur di setiap marhalah, hingga perluasan jalan dan pembangunan dinding di sisi kanan dan kiri jalan (Darb Zubaidah). Ide brilian Zubaidah juga terwujud dalam bangunan dinding yang terbentang dari Baghdad hingga Makkah, sebagai jalur khusus yang memudahkan para orang buta untuk menunaikan haji secara mandiri.

Sungguh perencanaan yang matang dan menyeluruh. Jika para jamaah haji ingin menginap, mereka bisa singgah di rumah yang sudah dibangun. Jika mereka merasa haus, mereka bisa langsung minum gratis dari Sumur Zubaidah. Allahu Akbar.

Wafatnya Zubaidah meninggalkan warisan yang begitu banyak dan bermanfaat, yang masih bisa disaksikan hingga sekarang. Beliau berpulang ke hadirat Allah pada tahun 216 H. Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah bermimpi melihat Zubaidah, lalu beliau menanyainya, “Apa yang Allah perbuat padamu?” Dalam mimpi itu, Zubaidah menjawab, “Allah mengampuniku dengan sebab cangkulan pertama (pada proyek) jalanan kota Makkah.”

Refleksi

Dari sepotong kisah Zubaidah di atas kita dapat mengambil pelajaran, bahwa harta dan kekuasaan yang dititipkan oleh Allah kepada hamba, bisa menjadi sarana yang memudahkan kita menggapai surga Allah Ta’ala. Inilah mungkin rahasia sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik harta adalah milik orang yang shalih.”[3]

Lihat pula, apa saja yang diniatkan untuk Allah, pasti akan kekal dan bermanfaat. Terbukti, sepeninggal Zubaidah, warisannya dikelola oleh lembaga wakaf secara profesional dari berbagai dinasti yang datang setelah Era Abbasiyah. Betapa dahsyatnya perniagaan dengan Allah sembari berharap pahala dari-Nya. Namun, sebagian manusia kerap kali bersikap seperti yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, “Bahkan kami lebih mementingkan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal .…”[4]

Referensi

  • Siyar A’lamin Nubala’, Syamsuddin Abu Abdillah Adz-Dzahabi.
  • Al-Bidayah wan Nihayah, Imaduddin Abul Fida’ Ibnu Katsir, Dar Ihya’ Turats, Lebanon, cet. 1, tahun 1988 M. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Tarikh Baghdad, Abu Bakar Ahmad bin Ali Al-Khathib Al-Baghdadi, tahqiq: Dr. Basyar Awwad Ma’ruf, Darul Gahrb Al-Islami, Lebanon, cet. 1, tahun 2002 M. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Al-Mausu’ah Al-Mujazah fit Tarikh Al-Islami. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Al-Mausu’ah At-Tarikhiyah, Alawi bin Abdulqadir As-Saqqaf, dkk., dari situs web dorar.net.
0