Khotbah Jumat

Ziarah Kubur untuk Mengingat Akhirat

Penulis: Abu Ady

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M. A.


Khotbah Pertama

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَمَرَ بِذِكْرِهِ، وَوَعَدَ ٱلذَّاكِرِينَ أَجْرًا عَظِيمًا، وَنَهَى عَنِ ٱلْغَفْلَةِ وَنِسْيَانِ ٱلْآخِرَةِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَسْتَعِينُهُ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى ٱللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ ٱللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ ٱلْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَٱتَّقُوا ٱللهَ حَقَّ ٱلتَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي ٱلسِّرِّ وَٱلْعَلَنِ، فَإِنَّ ٱلتَّقْوَى وَصِيَّتُهُ لِعِبَادِهِ، قَالَ تَعَالَىٰ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu amalan hati dan jasmani yang sering dilupakan tujuan utamanya adalah ziarah kubur. Banyak orang melaksanakannya semata-mata sebagai kebiasaan, bahkan terkadang dimotivasi oleh tujuan duniawi, seperti mencari berkah dunia dan kekayaan, atau hal-hal keduniaan lainnya. Maka dari itu, marilah kita kembalikan pemahaman tentang ziarah kubur kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Apa sebenarnya tujuan utama ziarah kubur? Tujuan utamanya adalah untuk mengingat akhirat, bukan untuk mencari dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

"Dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena itu akan mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim nomor 977)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, ziarah kubur merupakan sunnah yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau melarang hal itu sebelumnya. Ziarah kubur yang bertujuan untuk mengingat kematian dan mengambil pelajaran, hukumnya sunnah. Sebab, apabila seseorang menziarahi kuburan orang-orang yang sebelumnya hidup bersamanya, makan dan minum bersamanya di dunia, lalu sekarang mereka telah menjadi tawanan amal mereka sendiri, apakah baik atau buruk, hal ini tentu akan melunakkan hatinya, membuatnya sadar, dan kembali kepada Allah dengan taubat serta ketaatan. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimīn, 2:254).

Ziarah kubur merupakan ibadah yang berfungsi meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena saat seseorang berdiri di depan kuburan, dia akan teringat bahwa dirinya pun akan mengalami kematian sehingga dia mempersiapkan dirinya dengan menambah ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ziarah kubur tidak harus dilakukan ke tempat yang jauh seperti kuburan yang dianggap keramat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menziarahi kuburan Baqi’, yang berada dekat dari tempat tinggal beliau. Tujuannya bukan karena lokasi atau tokoh yang dimakamkan, melainkan karena mengingat kematian dan mendoakan orang yang telah wafat.

Saat menziarahi kubur, selain memberikan manfaat bagi kita dengan mengingat kematian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa ketika menziarahi kubur yang bermanfaat untuk orang yang telah meninggal dunia. Doa tersebut adalah,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ ٱللَّهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ ٱللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai penghuni negeri kaum mukminin, dan sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian.” (HR. Muslim nomor 975).

Masing-masing dari kita bisa melakukan ziarah kubur di mana saja dan kapan saja, tidak harus ke kuburan tertentu, sebab tujuan ziarah kubur yaitu mengingat kematian dan mendoakan orang yang wafat, akan tercapai di kuburan mana saja.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melakukan perjalanan khusus untuk ziarah kuburan syaikh atau wali tertentu dilarang dalam Islam. Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, perjalanan jauh untuk ziarah ke kuburan mana pun, tidak dibolehkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِي هذَا، وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidak boleh melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Bukhari nomor 1189 dan Muslim nomor 1397)

Maksud dari hadits ini adalah tidak dibenarkan melakukan perjalanan khusus ke tempat mana pun di muka bumi dengan tujuan ibadah semata melalui perjalanan tersebut, kecuali ke tiga masjid. Atas dasar ini, kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak disyariatkan untuk dijadikan sebagai tujuan safar. Perbuatan yang disyariatkan adalah berangkat ke Masjid Nabawi, dan setelah sampai di sana, laki-laki disunnahkan untuk menziarahi kuburan Nabi. Adapun kaum perempuan, tidak disunnahkan ziarah ke kuburan Nabi. Wallahul muwaffiq. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimin, 2/237).

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berziarah bukan untuk meminta kepada penghuni kubur, bukan untuk mengharapkan berkah dari tanahnya, bukan pula untuk mencari keramat dari orang yang meninggal dunia itu. Semuanya bukan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula ajaran para sahabat dan orang-orang beriman setelah mereka. Tujuan-tujuan keduniaan ini bahkan mengandung unsur syirik dan sangat terlarang dalam Islam.

نَفَعَنِيَ ٱللهُ وَإِيَّاكُمْ بِٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَبِهَدْيِ سَيِّدِ ٱلْمُرْسَلِيْنَ، وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ ٱللهَ لِي وَلَكُمْ، فَٱسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah yang telah mengutus Nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabatnya, dan umat beliau yang mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Marilah kita renungi kembali tujuan utama dari ziarah kubur. Jangan sampai niat kita bercampur dengan perkara syirik dan bid‘ah, karena banyak orang datang ke kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang-orang saleh dengan cara yang berlebihan. Ada yang mencium batu nisan, ada yang menangis sambil memohon kepada penghuni kubur. Ada pula yang membuat nazar atau sesajen di kuburan tersebut. Ini semua bukan ajaran Islam, tapi warisan jahiliah.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hendaknya kita menjadikan ziarah kubur sebagai momentum untuk memperbaiki iman, merenungi kematian dan mempersiapkan bekal akhirat. Bukan untuk mengikuti tradisi yang salah, apalagi untuk tujuan duniawi belaka.

Semoga Allah menjaga hidup kita dalam Islam dan ketaatan serta mewafatkan kita dalam keadaan beriman dan husnul khatimah, amin.

اعْلَمُوا، أَنَّ ٱللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّىٰ بِمَلَائِكَتِهِ، وَقَالَ تَعَالَىٰ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَٱرْضَ ٱللَّهُمَّ عَنِ ٱلْخُلَفَاءِ ٱلرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ ٱلصَّحَابَةِ وَٱلتَّابِعِينَ، وَعَنَّا مَعَهُم بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ ٱلرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Referensi

  • Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah As-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah As-Syamilah.
  • Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Muhammad Ibn Shalih Al-Utsaimin, Ibnu Al-Utsaimin, Al-Maktabah As-Syamilah.



2