Fiqih
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Waspadai Dosa Kezaliman di Bulan Haram!

Penulis: Ja’far Ad-Demaky, S.Ag.

Editor: Athirah Mustadjab


Mengenal Bulan Haram

Bulan haram ada empat. Allah ta’ala berfirman tentangnya,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّـهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّـهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ 

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah sewaktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semua. Dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, demikianlah syariat yang lurus dalam mempraktikkan perintah Allah yang berkaitan dengan bulan-bulan haram. Ikutilah sebagaimana ketetapan Allah sejak awal (dalam hal jumlah dan urutannya).” (Tafsir Ibnu Katsir, 4:203)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa larangan untuk tidak menzalimi diri sendiri adalah dengan tidak melakukan segala maksiat yang dapat merusak nilai-nilai kemuliaan dan keagungan yang terdapat dalam bulan haram. (Tafsir Al-Qurthubi, 8:134)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Satu tahun itu dua belas bulan. Di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Satunya lagi adalah bulan Rajab yang terletak antara bulan Jumadats Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no. 3197 dan Muslim, no. 1679)

Ibnu ’Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latha’iful Ma’arif, hlm. 207)

Al-Hasan rahimahullah berkata,

ما عبد العابدون بشيء أفضل من ترك ما نهاهم الله عنه

“Tidaklah para hamba melakukan suatu keta’atan yang lebih baik daripada meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (Al-Wara’, hlm. 40)

Larangan Berbuat Zalim

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ 

“Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-syiar Allah dan jangan pula menodai kehormatan bulan haram.” (QS. Al-Maidah: 2)

Ada dua pendapat ulama tentang maksud “kezaliman” dalam ayat tersebut.

  • Pertama: Larangan "Jangan zalimi diri kalian di dalamnya dengan melakukan peperangan!" dihapus hukumnya (naskh) dengan pembolehan perang pada seluruh bulan.
  • Kedua: Jangan zalimi diri kalian di dalamnya dengan melakukan dosa. (Tafsir Al-Qurthubi, 8:134)

Sebagian ulama mengatakan bahwa larangan berperang di bulan haram sudah di-mansukh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan beberapa peperangan setelahnya di bulan haram. Ayat yang me-mansukh-nya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Perangilah mereka di jalan Allah!” (QS. Al-Baqarah: 190)

Kendati demikian, sebagian ulama mengatakan ayat ini belum di-mansukh dan bahwasanya berperang di bulan haram tetap tidak boleh. Ini pendapat yang dinilai shahih oleh Syaikh Utsaimin.

Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقوا الظُّلمَ فإنَّ الظُّلمَ ظلماتٌ يومَ القيامةِ

“Jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2447 dan Muslim, no. 2578)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ، لا يَظْلِمُهُ ولا يُسْلِمُهُ، ومَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ

“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain; tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Muslim, no. 2564)

Perlu diketahui pula, perbuatan zalim yang dikerjakan di bulan haram dilipatgandakan. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada tempat dan waktu yang mulia. Kebaikan dilipatgandakan dari segi kuantitas dan kualitas. Adapun keburukan, maka yang dilipatgandakan adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya." (Asy-Syarhul Mumti’, 7:262)

Macam-Macam Kezaliman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظلم ثلاثة فظلم لا يغفر الله وظلم يغفره وظلم لا يتركه فاما الظلم الذي لا يغفره فالشرك قال تعالى ان الشرك لظلم عظيم واما الظلم الذي يغفره فظلم العباد انفسهم فيها بينهم وبين ربهم واما الذي لا يتركه الله فظلم العباد بعضهم بعضا حتى يدين لبعضهم من بعض

“Kezaliman ada tiga: (1) yang tidak akan diampuni oleh Allah, (2) yang akan diampuni oleh-Nya, dan (3) yang tidak akan dibiarkan oleh-Nya. Kezaliman yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah perbuatan syirik. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.’ Adapun kezaliman yang diampuni oleh Allah adalah kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri, yakni lalai terhadap hak antara dirinya dan Tuhannya. Adapun kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah kezaliman manusia terhadap saudaranya yang lain, sampai mereka saling memaafkan.” (HR. Abu Daud, no. 2232. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 1927)

a. Zalim kepada Allah

Zalim kepada Allah yaitu dengan berbuat syirik kepada Allah. Itulah kezaliman yang paling besar. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ‘Wahai anakku, jangan menyekutukan (syirik) kepada Allah! Sesungguhnya syirik merupakan kezaliman yang paling besar.’” (QS. Luqman: 13)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ 

“Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

b. Zalim terhadap diri sendiri

Kezaliman pada diri sendiri dilakukan oleh para hamba. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ 

“Mereka tidak menzalimi Kami. Justru merekalah yang menzalimi diri sendiri.” (QS. Al-Baqarah 57)

Allah ta’ala juga berfirman,

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِه 

“Kemudian, Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri ....” (QS. Fathir: 32)

Di antara bentuk kezaliman pada diri sendiri adalah:

  • meninggalkan kewajiban, seperti tidak shalat, tidak puasa, enggan mengeluarkan zakat, dan tidak mau berkurban;
  • menerjang keharaman, seperti makan riba, meminum khamer, berzina, dan membunuh.

c. Zalim terhadap orang lain

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

قال صلى الله عليه وسلم: أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟ قالوا: المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ، فقالَ: إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tahukah kalian siapa yang disebut sebagai orang yang bangkrut?’

Para sahabat menjawab, ‘Menurut kami, orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki uang atau harta benda.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari kalangan umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, di saat yang sama, mereka juga membawa dosa karena pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Kelak, kebaikan-kebaikan yang dimilikinya akan diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Jika seluruh amal kebaikannya telah habis, sedangkan dosa kezalimannya belum terbayar, dosa-dosa orang yang terzalimi akan dipindahkan kepadanya. Akhirnya, dia pun akan dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)

Contoh kezaliman terhadap orang lain ada tiga macam, sebagaimana dalam penjelasan hadits Nabi ketika Haji Wada’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا: بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟، قَالُوا: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا

“Wahai manusia, hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari haram (suci).” Nabi bertanya lagi, “Lalu, negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Ini tanah haram (suci).” Nabi bertanya lagi, “Lalu, bulan apakah ini?” Mereka menjawab, “Ini bulan suci.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 4406 dan Muslim, no. 1679)

Penyebab kebanyakan manusia berbuat zalim terhadap orang lain adalah karena banyaknya pergaulan dan terlalu banyak tahu urusan orang lain yang ia ketahui. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,ِ

وَكُلَّمَا طَالَتِ المُخَالَطَةُ اِزْدَادَتْ أَسْبَابُ الشَّرِّ وَالعَدَاوَةُ وَقُوِّيَتْ , وَبِهَذَا السَّبَبُ كَانَ الشَّرُّ الحَاصِلُ مِنَ الأَقَارِبِ وَالعُشَرَاءِ أَضْعَافَ الشّرِّ الحَاصِلِ مِنَ الأَجَانِبِ وَالبُعَدَاءِ

“Makin lama orang bergaul, maka sebab-sebab keburukan dan permusuhan pun kian bertambah dan kuat. Karena sebab itulah, keburukan yang muncul dalam pergaulan bersama kerabat dan orang terdekat jauh lebih mungkin muncul dibandingkan keburukan yang datang dari orang asing dan kenalan jauh.” (Miftah Daris Sa’adah, 1:422)

Bertobatlah dari Perbuatan Zalim!

Sebelum seorang Muslim berniat berbuat zalim, hendaklah ia ingat bahwa orang yang zalim akan diliputi kegelapan pada hari kiamat. Selain itu, doa orang yang terzalimi pasti dikabulkan oleh Allah, termasuk jika dia mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فإنَّهَا ليسَ بيْنَهَا وبيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi karena doanya langsung sampai kepada Allah tanpa ada penghalang.” (HR. Bukhari, no. 2448 dan 1496 serta Muslim, no. 19)

Bahkan, kelak di akhirat, kezaliman akan menjadi penyebab datangnya bencana dan petaka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang pernah berbuat zalim terhadap kehormatan saudaranya atau mengambil sesuatu darinya, hendaknya segera meminta maaf dan kehalalannya (di dunia ini) sebelum tiba hari di mana dinar dan dirham tak lagi bermanfaat. Jika tidak, maka pada hari kiamat, amal salehnya akan diambil sebanding dengan kezaliman yang telah diperbuat. Jika ia tak lagi memiliki kebaikan, maka keburukan orang yang pernah ia zalimi akan dipindahkan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Bentuk-Bentuk Kezaliman

Selain uraian di atas, melakukan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi juga merupakan bentuk kezaliman, misalnya:

  1. Meyakini bulan haram adalah bulan keramat.
  2. Menghidupkan malam pertama bulan haram.
  3. Mengadakan peringatan Hari Asyura ala Syiah.
  4. Peringatan doa-doa tertentu yang tidak berdasar.

Referensi

  • Al-Wara’, Ahmad bin Hanbal.
  • Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Muhammad Nasiruddin Al-Albani.
  • Shahih Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.
  • Shahih Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj.
  • Sunan Abi Daud, Sulaiman Abu Daud.
  • Jami’ At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa At-Tirmidzi.
  • Sunan An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i.
  • Sunan Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Ibnu Majah.
  • Latha’iful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali.
  • Miftah Daris Sa’adah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir.
  • Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Al-Qurthubi.
33