Kesehatan

Waspada Demam Berdarah

Kontributor: dr. Sri Setya Wahyu Ningrum

Redaktur: dr. Avie Andriyani


Kasus Demam Berdarah (DBD) mengalami peningkatan di beberapa tempat di tanah air[1]. Berbagai media mengabarkan hal tersebut, mulai dari web puskesmas, laman resmi pemerintah daerah, hingga berbagai portal berita skala nasional seperti antaranews, detik, tvrinews, juga RRI.

Tren angka kasus DBD tidak lagi hanya terjadi pada musim hujan. Terbukti sejak awal tahun, ketika musim hujan mencapai puncaknya di tanah air, sampai pertengahan tahun seperti saat ini, kala sebagian besar wilayah Indonesia dirundung kemarau, kabar lonjakan kasus DBD terus bermunculan.

Perkara ini nampaknya menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia beberapa tahun belakangan. Sebuah artikel dalam laman resmi Kemenkes, bahkan telah mengingatkan kemungkinan wabah DBD menyerang bukan saja sepanjang penghujan[2]. Melalui Rubrik Kesehatan kali ini, mari kita mengenali berbagai informasi penting seputar DBD agar bahayanya dapat kita hindari dan pencegahan yang efisien dapat kita upayakan.

Demam Berdarah Dengue atau biasa disebut DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit DBD ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang di dalam tubuhnya terkandung virus dengue. Nyamuk yang sudah terinfeksi, akan terus membawa virus tersebut dan menularkannya kepada individu yang berisiko, saat menggigit dan menghisap darah.

DBD perlu penanganan cepat. Beberapa kasus bisa bermuara pada hilangnya nyawa yaitu ketika terjadi komplikasi yang menyebabkan kerusakan organ-organ vital seperti hati, jantung, juga otak[3].

Apa Saja Faktor Risiko Terjadinya DBD?

Saat ini, nyamuk Aedes aegypti terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia tidak terkecuali di daerah yang ketinggiannya mencapai lebih dari 1.000 mdpl. Dahulu daerah dengan ketinggian seperti ini, dianggap tidak didatangi nyamuk. Namun, efek pemanasan global menyebabkan suhu daerah pegunungan meningkat. Sehingga wilayah tersebut bisa saja menjadi tempat baru bagi nyamuk untuk berkembang.

Tidak hanya itu, suhu juga berpengaruh terhadap kemampuan nyamuk untuk menggigit dan efektivitas penularan virus. Menurut penelitian Monintja tahun 2021, suhu yang memicu tingginya perkembangan nyamuk berkisar antara 35°C hingga 30°C. Rubel dalam penelitiannya pada tahun 2021, menyatakan bahwa curah hujan memiliki kaitan erat dengan peningkatan kejadian DBD disebabkan semakin banyaknya tempat berkembang biak jentik nyamuk, yaitu genangan air. Sehingga umumnya, kasus DBD meroket sekitar musim penghujan.

Apa Saja Gejala DBD?

Infeksi virus dengue memiliki tiga fase dalam perjalanan penyakitnya, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Masing-masing fase berbeda gejalanya.

1. Fase Demam

Fase ini ditandai dengan demam yang mendadak tinggi (dapat mencapai 40°C), terus menerus tinggi. Demam dapat disertai gejala lain seperti nyeri kepala, nyeri sendi, muka kemerahan, dan nafsu makan menurun. Gejala lain yang juga mungkin dijumpai adalah mual, muntah, nyeri ulu hati, hingga nyeri tenggorokan. Perdarahan ringan seperti munculnya bintik-bintik merah, mimisan, dan perdarahan di gusi dapat terjadi di fase ini.

2. Fase Kritis

Pada fase ini, demam mulai turun, lebih rendah dibandingkan fase sebelumnya. Bisa disertai muntah terus-menerus dan nyeri perut hebat. Meskipun di fase ini banyak yang merasa seperti sudah sembuh karena demam sudah turun, tetapi perlu diwaspadai karena dapat terjadi sindrom syok dengue yang mengancam jiwa. Fase ini bisa berlangsung selama 24-48 jam.

3. Fase Pemulihan

Setelah melewati fase kritis, keadaan umum akan membaik, nafsu makan membaik, mual muntah dan nyeri perut mulai berkurang hingga menghilang.

Seberapa Bahaya DBD?

Demam berdarah dengue yang terlambat ditangani dapat beresiko fatal hingga kematian. Kasus DBD yang menyerang anak-anak, dapat berujung kepada komplikasi.

Gejala komplikasi yang mungkin muncul seperti perdarahan, sesak nafas, penurunan kesadaran, hingga kondisi syok yang disebut Dengue Shock Syndrome (DSS). DSS dapat menyebabkan kematian.

Bagaimana Cara Mencegah DBD?

Salah satu cara mencegah DBD yang paling efektif adalah dengan melakukan 3M Plus. Ini merupakan program yang digalakkan pemerintah sebagai upaya mencegah penyakit DBD. Apa yang dimaksud 3M Plus?

1. Menguras

Langkah menguras dilakukan dengan cara membersihkan tempat-tempat penampungan air secara berkala. Seperti bak mandi, tandon air, dan lainnya, yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

2. Menutup

Menutup rapat semua tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas di dalam tanah agar tidak menjadi sarang nyamuk.

3. Mendaur ulang

Mendaur ulang maknanya memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang bisa digunakan agar tidak berpotensi menimbulkan genangan air.

Sementara langkah “Plus” yang perlu digalakkan, di antaranya membudidayakan ikan pemakan jentik nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi dan jendela ruangan, memeriksa tempat penampungan air, menjaga kebersihan lingkungan, meletakkan baju bekas di dalam wadah tertutup, memperbaiki saluran air yang mampet, dan meletakkan larvasida pada penampungan air yang sulit dibersihkan.

Langkah pencegahan lain yang bisa kita terapkan sehari-hari adalah memasang kelambu di tempat tidur, mengoleskan lotion anti nyamuk, dan memakai pakaian tertutup saat keluar rumah. Meningkatkan daya tahan tubuh juga penting dilakukan untuk mencegah DBD. Berbagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh misalnya dengan istirahat yang cukup, makan gizi seimbang, dan rutin olahraga.

Mengingat resiko bahaya penyakit ini terutama pada anak-anak, kita perlu meningkatkan kewaspadaan. Segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami demam 3 hari yang tidak kunjung membaik. Sebagai langkah ikhtiar, lakukan 3M Plus dalam rangka mencegah terjangkit penyakit DBD.

Referensi :

  1. Kurniawan Y, Joyodiningrat Henry. 2024. Analisa Pengaruh Variabilitas Iklim Terhadap Kasus Kejadian Demam Berdarah Dengan Menggunakan Pendekatan Model Regresi: Studi Kasus Kota Bandung. Creative Research Journal. Vol. 10 No. 02 hal.85-96
  2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue Anak dan Remaja.
  3. Infodatin. 2023. Deteksi Dini DBD dan Pengendaliannya di Indonesia Tahun 2023.
  4. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik/demam-berdarah-dengue
  5. https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-mencegah-dbd
0