Sirah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Wasiat Terakhir: Untukmu yang Tak Pernah Ia Lupakan

Penulis: Abi Usamah Al-Kadiri

Editor: Athirah Mustadjab

“Engkau akan dikumpulkan kelak bersama orang yang kau cintai.”

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mengatakan, “Tidaklah kami merasa bahagia melebihi kebahagiaan dengan sabda Nabi ini, ‘Kau akan dikumpulkan bersama orang yang kau cintai.’ Maka aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka, walaupun belum bisa beramal seperti mereka.”[1]

Muhammad bin Abdillah

Ada cinta murni yang tidak pernah menuntut balasan. Ada rasa sayang yang tetap tinggal, bahkan ketika raga sudah hampir tidak sanggup lagi bertahan dengan sisa-sisa napas.

Bayangkan, saat dirimu merasa kesusahan, bingung, dan gundah, ada seorang asing yang tak mengenalmu. Ia dengan senang hati membantu tanpa mengharap imbalan. Tak pernah menuntutmu, bahkan sekadar untuk ucapan “terima kasih”. Orang itu adalah Muhammad bin Abdillah, Nabi dan Rasul yang Allah utus untuk menunjuki kita semua ke jalan yang diridhai-Nya, shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Qur’an mengabadikan karakteristik pribadinya yang agung, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah: 128)

Cinta Kasihnya

Kasih sayangnya bukan sebatas rangkaian kata yang menggema dari atas mimbar. Sepuluh tahun lebih dirinya berjuang dengan segala yang ia mampu untuk menjaga keberadaan Islam yang menjamin kebahagiaan kita semua. Puncaknya, dia diuji di jalanan Tha’if, dilempari batu hingga darah mengalir ke sandalnya. Saat semua orang kafir bermufakat untuk menghabisi nyawa dan dakwahnya, Malaikat Gunung menawarkan diri untuk menghimpitkan dua bukit, bila ia menghendaki. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya, bahkan memilih untuk mendoakan kebaikan, “Jangan, aku berharap Allah akan mengeluarkan keturunan yang hanya beribadah kepada-Nya dari tulang sulbi mereka.”[2]

Di tengah kondisi yang kritis, saat wajahnya terluka parah oleh sabetan pedang Ibnul Qami’ah, bukan laknat yang keluar dari bibirnya yang suci. Dia hanya memohon kepada Rabbnya, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”[3] Dalam riwayat lain, dirinya memohonkan hidayah bagi orang-orang yang telah berusaha untuk melenyapkannya, “Ya Allah, berilah mereka petunjuk, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu.”[4] 

Kasih sayang itu tidak berhenti sampai di sana. Pada detik-detik akhir hidupnya, di kamar Aisyah radhiyallahu ’anha, dengan tubuh demam dan napas yang tersengal-sengal, beliau masih mengingatkan umatnya agar menjaga shalat dan menghindari perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengultuskan kuburan para nabi mereka sehingga menjadi berhala. Tak ada sama sekali wasiat harta untuk keturunan atau keluarganya. Harta peninggalan beliau habis disedekahkan semua. Untuk siapa? Umatnya.

Suatu ketika, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah (QS. Ibrahim: 36), “Ya Rabbi, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Beliau ingat perkataan Nabi Isa terhadap kaumnya (QS. Al-Ma’idah: 118), “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah para hamba-Mu. Jika Engkau ampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Tahukah engkau bagaimana reaksi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali? Ia hanya mengingat keselamatanmu! Nabi mengangkat kedua tangannya yang mulia seraya memohon, “Ya Allah, umatku …, umatku ….” Butiran hangat dari sudut mata beliau pun jatuh beruntai. Allah lalu memerintahkan Jibril ‘alaihissalam untuk datang menenangkannya serta menjawab kegundahannya, “Kami akan berbuat baik kepada umatmu.”[5] 

Bahkan, kisah kasih sayangnya terus berlanjut hingga kehidupan akhirat. Dalam hadits syafaat yang panjang, dikisahkan bahwa seluruh umat manusia berada dalam kegelisahan. Perhitungan amal yang panjang, terombang-ambing dalam kesusahan. Mereka mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bantuan. Apa yang dia lakukan? Dia bersujud. Lama sekali sujudnya. Memuji Allah Ta’ala dengan pujian yang tak pernah diucapkan sebelumnya. Pada akhirnya Allah ridha padanya dan berfirman, “Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, pasti kau akan diberi! Berilah syafaat, niscaya kau akan dikabulkan!” Seketika itu Nabi mengangkat kepalanya. Tahukah dirimu, apa permintaan pertamanya dan satu-satunya? “Ya Rabbi, umatku …, umatku ….”[6]

Lihatlah, saat semua berpikir untuk keselamatan diri sendiri, tak ingat lagi akan anak maupun istri. Ada seorang yang masih setia mengingatmu. Ia terus memperjuangkan kebahagiaanmu tanpa lelah, bahkan melebihi usahamu untuk meraihnya. Dirinya rela menyimpan doa pamungkasnya untuk diucapkannya di Padang Mahsyar. Ia sangat bersedih saat sebagian doanya tak dikabulkan oleh Allah Ta’ala menyangkut nasibmu!

Cintanya tak pernah padam. Dari semenjak kita belum ada hingga berpindah ke kehidupan selanjutnya. Rindunya pun sama. Tak pernah pudar sampai di Padang Mahsyar. Janjinya, akan menemui kita di telaganya. Ketika melihat sebagian umatnya diusir dari telaga, hatinya kembali bersedih seraya meminta penjelasan pada Malaikat, “Mereka termasuk umatku!” Hingga Malaikat menjelaskan, “Sesungguhnya kau tidak tahu apa yang telah mereka ubah sepeninggalmu!”[7]

Wasiat Terakhir

Dari awal kita tahu, bahwa cinta yang setia dan kasih yang tulus dari baginda Nabi berlangsung terus-menerus. Namun kehidupan dunialah yang membatasi cinta itu. Mau tak mau Rasulullah harus pergi menemui Rabbnya Yang Maha Pengasih.

Ada cinta dari Nabi yang tak pernah padam hingga detik terakhir. Ada pula gema terakhir dari suara itu. Suara yang sengaja ditinggikan, agar sampai ke seluruh penjuru bumi, ke setiap zaman, hingga hari ini dan nanti.

Wasiat itu Nabi ucapkan pada momentum Haji Wada’. Beliau mengingatkan poin-poin penting yang pasti akan dilanggar oleh umatnya sepeninggal beliau. Wasiat itu berisi tentang hak-hak sesama Muslim yang wajib dijaga, para wanita yang harus dimuliakan, hingga pentingnya berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah yang beliau tinggalkan.

Sebulan setelah itu beliau sakit. Semakin hari penyakitnya semakin parah. Tak ada penyesalan secara pribadi terhadap derita yang beliau alami demi kita semua. Bahkan, mulut beliau masih memberikan wejangannya untuk kebaikan kita. Di antara yang beliau takutkan pada kita adalah meniru kebiasaan ahli kitab yang dilaknat oleh Allah Ta’ala. Yaitu menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai berhala yang diibadahi dan dikultuskan. Beliau tidak ridha bila umat ini berbondong-bondong mendatangi kuburan Nabi dan meminta solusi atas segala permasalahan yang mereka hadapi sepeninggalnya nanti seperti Yahudi dan Nasrani.

Nabi juga mewasiatkan agar kita semua menjaga shalat, berbuat baik kepada para budak serta orang-orang yang lemah.[8] Setelah melalui 10 hari yang berat, beliau wafat. Namun demikian, wasiatnya tidak ikut dikubur, pesan-pesannya pun tak akan luntur.

Tugas Kita

Lihatlah, di sepanjang kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kita semua pasti sepakat, bahwa beliau tidaklah hidup untuk memperjuangkan kepentingannya secara pribadi. Dari semenjak diangkat menjadi Nabi tanpa pengikut, hidup terlunta-lunta, hingga bisa menggetarkan Romawi dan Persia, tujuan dan harapan beliau masih sama dan setia. Kebaikan kita!

Seakan beliau berpesan, “Aku rela bersusah payah seperti ini, asalkan kamu selamat!”

Maka wasiat ini sebenarnya bukanlah akhir dari sebuah cerita. Ini adalah titipan untuk kita semua. Tatkala beliau sudah menyampaikan ajaran syariat secara sempurna, telah bersusah payah menanggung derita, lalu meninggalkan pedoman agar kita selamat hingga akhirat dan tak tersesat, lalu apa yang akan kita jawab seandainya Nabi bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan wasiatku?”

Ikhwah fiddin, sudah sejauh mana kita berusaha membalas cinta yang bahkan tidak pernah kita minta, tapi selalu kita dapatkan?

Semoga kelak di telaga, ketika bisa bertemu dengan beliau, kita dikumpulkan bersama Rasulullah dalam suasana bahagia. Bukan termasuk orang-orang yang dihalau oleh Malaikat dari telaga.

Semoga kerinduan Nabi kepada kita saat beliau masih hidup dapat berbalas. Saat beliau mengatakan, “Aku ingin sekali melihat (bertemu) saudara-saudara kita.”[9] Kita berharap hati dan lisan ini berkata, “Kami juga rindu padamu, duhai Nabi,” seraya terus menjaga kerinduan itu hingga bertemu di telaga dalam keadaan bahagia. Amin.

Referensi:

  • Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Mesir.
  • Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, cet. 4, tahun 2011, Mu’assasah Ar-Rayyan-Jam’iyah Ihya’it Turats, Kuwait.
  • As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’i Mashadirihal Ashilah, Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, cet. 3, tahun 1424 H, Dar Zidni/Imam ad-Da’wah, Arab Saudi.
  • Hadzal Habib Ya Muhibb, Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, cet. 2, tahun 2016 M, Darul Aqidah, Mesir.
  • Fiqhus Sirah, Muhammad Al-Ghazali, cet. 8, tahun 1988 M, Darul Fikr, Lebanon.
14