Wajah Baru SMA-IT HSI: Dulu Tahfiz, Kini Boarding School

Reporter : Rizky Aditya Saputra

Redaktur : Dian Soekotjo



وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا

Sesungguhnya umat kalian ini dijadikan keselamatannya di permulaan, sedangkan masa akhirnya akan tertimpa musibah dan hal-hal yang kalian ingkari. Dan cobaan akan berdatangan sehingga sebagian dari cobaan tersebut menyebabkan cobaan lain terasa ringan

(HR. Muslim no. 1844 dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu)

sumber : almanhaj.or.id

Jarak diutusnya Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dengan hari kiamat laksana kedekatan jari telunjuk dan jari tengah, maka masa kita tinggal saat ini, ialah akhir zaman. Hal-hal yang diingkari agama, bertubi-tubi muncul ke permukaan bahkan nampak bergerak menjadi kewajaran. Memperdalam ilmu dan memperkokoh iman, biidznillah, akan menjadi tanggul kuat demi menghadang malapetaka ini. Bukan hanya bagi diri sendiri, tapi dua bekal tersebut tentu layak dimiliki anak-anak sebagai generasi penerus. Yayasan HSI AbdullahRoy terlihat turut menggalang upaya tersebut. SMA-IT HSI salah satu buktinya.

Yayasan HSI melakukan langkah besar dengan mengakuisisi SMA IT HSI-IDN. Masih hangat di ingatan, pada pertengahan tahun 2022, HSI bekerja sama dengan IDN menopang kegiatan operasional sekolah yang bertempat di Kompleks Masjid Ar Rayyan, Jl. Jendral Gatot Subroto No. 370 Krajan, Balendo, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tersebut.

Dalam kerja sama itu, Yayasan HSI bertanggung jawab menyediakan bangunan dan lokasi, sedangkan IDN menjalankan peran manajemen dan pengelolaan. Seperti diketahui, IDN merupakan sebuah lembaga yang berkomitmen mencetak sekolah-sekolah gratis dan memiliki keunggulan utama di bidang teknologi informasi atau IT. Namun sejak Agustus 2024, HSI resmi mengakuisisi SMA-IT HSI, baik dalam segi manajemen maupun bangunan.

Beberapa penyegaran program dilakukan oleh HSI, di antaranya dengan mengubah kurikulum dasar. Sekolah yang awalnya berfokus pada tahfiz tersebut, kini beralih menjadi boarding school yang menawarkan materi ilmu lebih seimbang dan variatif. SMA-IT HSI, kemudian, juga membuka kelas akhwat. Program ini dibuka sejak tahun lalu. Inovasi tersebut dilakukan dalam rangka mewujudkan cita-cita Yayasan HSI, biidznillah, yaitu mencetak santri yang andal di bidang IT sekaligus pintar mengaji, tak hanya dari kalangan ikhwan.

Alhamdulillah, Tim Majalah HSI mendapat kesempatan mewawancarai Kepala SMA-IT HSI Akhwat, Ustadzah Muthi’ah, dan Kepala SMA-IT HSI Ikhwan, Ustadz Fauzi M. Noor, S. Sy. Dari wawancara terpisah, keduanya menceritakan berbagai perkembangan SMA-IT HSI beberapa tahun terakhir.

Ustadzah, Ustadz, bagaimana perkembangan SMA-IT HSI beberapa tahun terakhir ini?

Ustadzah Muthi’ah : SMA-IT HSI sudah berdiri tiga tahun. Tetapi saat itu, HSI yang bagian putri hanya provide (penyedia, red) di bagian bangunan dan lokasi, sedangkan manajemen dan pengelolaan di bawah kendali IDN. Nah pada Agustus 2024, manajemen sudah diakuisisi oleh HSI, dan IDN pindah. Jadi saat ini, HSI sudah memegang kendali dalam segi manajemen maupun dalam segi lokasi. Yang awalnya pengelolaan IDN berfokus pada tahfiz, ketika diambil alih HSI, kami membentuk sekolah ini menjadi boarding school berbasis IT dan life skill untuk berdakwah.

Ustadz Fauzi M. Noor : Perkembangan SMA-IT HSI di tahun-tahun terakhir ini sangat luar biasa dan begitu banyak perubahan yang tentunya ke arah alignment (sejalan, red) dengan visi Yayasan HSI. Dari sisi pendidikan, banyak hal yang kami perbaharui, mulai dari merapikan kurikulum dan juga gol yang akan kita capai.

Manajemen baru membuat beberapa perubahan, khususnya di sisi kurikulum. Apa saja yang berubah?

Ustadzah Muthi’ah: Jadi anak-anak disiapkan menjadi aktivis dakwah, sebagai bentuk kaderisasi dakwah. Kami percaya perbaikan umat dimulai dari memperbaiki wanitanya karena dari wanita-wanita tersebut akan lahir anak-anak yang shalih dan shalihah. Kami menyiapkan wanita dalam tiga peran yaitu menjadi wanita shalihah, istri shalihah, dan ibu shalihah. Mereka diharapkan juga bisa berdampak, seperti membuat kurikulum untuk anak-anaknya. Sekarang para siswi diberikan pelajaran diniyah dan umum, seperti bahasa Inggris, Matematika, dan Muatan Lokal.

Ustadz Fauzi M. Noor : Upaya merapikan kurikulum yang ditempuh, seperti pengadaan program pemantapan bahasa Arab dan bahasa Inggris, yang di tahun-tahun sebelumnya tidak ada. Ada program menghafal kitab, yang tujuannya selain selaras dengan pembelajaran bahasa Arab, juga untuk bekal diniyah para santri setelah keluar dari pondok nanti.

Berapa jumlah santri yang kini menuntut ilmu di SMA-IT HSI?

Ustadzah Muthi’ah: Jumlah siswi per angkatan, kami baru dua angkatan, untuk siswi kelas X ada 11 orang dan kelas XI dihuni 9 orang.

Ustadz Fauzi M. Noor: Untuk siswa kelas X ada 41 santri, kelas XI ada 22 santri, dan kelas XII berjumlah 13 santri.

Fasilitas apa saja yang diberikan sekolah untuk para siswa yang mengenyam pendidikan di SMA-IT HSI?

Ustadzah Muthi’ah: Untuk fasilitas, ruangan kelas yang nyaman dan ditunjang dengan smart TV. Kami berupaya untuk menyusun dengan sangat proper (nyaman, red) untuk belajar. Kemudian di asrama, kami menyediakan kasur, lemari, AC, 10 kamar mandi, UKS, dan dapur. Sehingga di luar kegiatan belajar-mengajar, para siswi kami izinkan untuk memasak apapun.

Ustadz Fauzi M. Noor: Segi fasilitas tentu saja hal ini hanyalah sebuah media untuk mencapai gol yang kami harapkan. Kami mendapatkan dukungan penuh dari Yayasan HSI AbdullahRoy. Hanya saja memang kami sedang dalam masa pembangunan pondok sehingga beberapa hal yang kami perlukan tidak bisa harus kami penuhi di saat sekarang ini. Adapun fasilitas penunjang pendidikan dari sisi santri maka Alhamdulillah telah terpenuhi, seperti pengadaan kitab sebagai panduan, akses WiFi saat pembelajaran, dan lainnya.

Bagaimana cara sekolah menyeimbangkan pelajaran umum dengan agama?

Ustadzah Muthi’ah: Di sini, 85% kurikulumnya diniyah. Untuk Al-Qur’an ada tahfiz, tahsin, dan tasmi. Kemudian diniyah-nya ada manhaj, aqidah, tauhid, fiqih ibadah, fiqih wanita, fiqih muamalah, dan fiqih dakwah. Kemudian ada bahasa Inggris belajar writing, listening, speaking, dan reading. Fokus sekolah ini mencetak kader aktivis dakwah. Program yang dihadirkan adalah program yang menunjang anak-anak untuk bisa berdakwah. Definisi dakwah kami artikan secara luas, bukan cuma berceramah di depan mimbar, tetapi orang-orang yang bermain di seluruh layer (lapisan, red) masyarakat dan umat. Baik dari segi bisnis, mengajar, menulis buku, konten kreator, atau fashion designer (perancang busana, red). Kami berikan skill (keahlian, red) yang sekiranya bisa menjadikan dakwah salaf ini masuk ke masyarakat.

Ustadz Fauzi M. Noor: Di pondok SMA-IT HSI kami menerapkan sistem blok, yang mana dengan sistem ini santri dapat jauh lebih fokus secara penuh pada satu jenis mata pelajaran dalam periode tertentu, sehingga pemahaman mereka lebih mendalam. Selain itu, kami juga menerapkan pendekatan integratif, di mana nilai-nilai keislaman dimasukkan dalam pembahasan-pembahasan pelajaran umum. Insyaallah, dengan pendekatan ini, santri tidak hanya menguasai ilmu agama yang kuat, tetapi juga memiliki wawasan akademik yang luas, serta keterampilan yang dibutuhkan di era modern.

Meski baru berjalan 3 tahun, apakah sudah ada prestasi yang ditorehkan siswa SMA-IT HSI?

Ustadzah Muthi’ah: Prestasi akhwat belum, karena anak-anak baru akan memulai ikut atau berpartisipasi di perlombaan. Semoga anak-anak bisa mengikuti lomba.

Ustadz Fauzi M. Noor: Terkait prestasi, Alhamdulillah, santri kami berhasil meraih prestasi dalam bahasa Arab dengan menyumbang medali untuk pondok. Yakni sebagai juara 1 dan juara 3 di Olimpiade Bahasa Arab yang diadakan oleh JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) di TMII (Taman Mini Indonesia Indah-Jakarta).

Apa target jangka pendek atau jangka panjang SMA-IT HSI?

Ustadzah Muthi’ah: Untuk kelas X kami fokus di character building (pendidikan karakter, red). Kami berikan kelas-kelas yang membangun kepercayaan siswi, self control (pengendalian diri, red), juga manajemen emosi. Di semester kedua, kami ajarkan public speaking (kemampuan berbicara di hadapan publik, red) dan ada proyek-proyek. Untuk kelas XI kami ajarkan konten marketing, bagaimana siswi membuat copywriting, clickbait, konten dakwah, dan social media strategy. Di semester kedua, kami ajarkan pengelolaan event dakwah. Kelas XII semester 1, kami fokuskan anak-anak belajar bisnis. Bukan cuma sekadar dagang di sosmed, tetapi bisnis kompleks, seperti analisa dan laporan keuangan. Kelas XII semester kedua adanya micro teaching, bagaimana membuat kurikulum, kalender akademik, dan capaian pembelajaran. Sehingga mereka sudah punya data yang akan menjadi benchmark pada saat kerja.

Ustadz Fauzi M. Noor: Tujuan sekolah termuat dalam perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang melalui perencanaan sebagai berikut:

  • Tujuan jangka pendek (1 tahunan): Meningkatkan jumlah siswa yang memiliki hafalan Al-Qur'an minimal 2 juz. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai ilmu agama, bahasa Arab.
  • Jangka menengah (3 tahunan): Meningkatkan jumlah siswa yang memiliki hafalan Al-Qur'an minimal 8 juz. Memastikan bahwa setiap lulusan mampu menguasai ilmu agama, bahasa Arab, dan bahasa Inggris dengan baik. Menjamin bahwa setiap lulusan memiliki kemampuan IT yang mumpuni sesuai dengan perkembangan teknologi saat itu.
  • Tujuan jangka panjang (5 tahunan): Menjadi pusat unggulan dalam pembelajaran ilmu agama, bahasa Arab, dan bahasa Inggris di tingkat nasional. Menjadi rujukan dalam penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan. Dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat, berakhlak mulia, dan siap bersaing di tingkat global melalui pengembangan kepemimpinan dan kecakapan sosial yang ditanamkan melalui kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam proses seleksi masuk SMA-IT HSI, apakah ada kriteria tertentu semisal banyaknya hafalan Al-Qur’an?

Ustadzah Muthi’ah: Ada jalur penghafal Al-Qur’an dan beasiswa untuk siswi yang kurang mampu. Untuk beasiswa Al-Qur’an, minimal memiliki hafalan 7 juz dan mutqin. Dan untuk beasiswa kurang mampu, dapat melampirkan surat keterangan tidak mampu (SKTM), kami sangat terbuka untuk anak-anak yang ingin belajar dan orang tuanya mau bekerja sama dalam mendidik.

Ustadz Fauzi M. Noor: Kami menyediakan jalur beasiswa yang diberikan oleh Yayasan HSIB, beasiswa ini diberikan bagi beberapa kriteria penerima: duafa yang berprestasi, penghafal Al-Qur'an dan mendapatkan rekomendasi resmi dari asatidzah kibar atau dia adalah anak dari seorang pegiat dakwah. Dan kami mengutamakan santri yang telah memiliki hafalan banyak, serta memiliki ingatan yang kuat dengan kemampuan menghafal yang teruji. Adapun minimal jumlah juz yang harus mutqin adalah 3 juz saat mendaftar.

Terakhir, Ustadzah, Ustadz, bagaimana cara mendaftar masuk SMA-IT HSI?

Ustadzah Muthi’ah: Pendaftaran semua dilakukan secara online. Kemudian membayar biaya pendaftaran, mengikuti tes via google form, lalu mengambil jadwal wawancara online. Kemudian jika lolos, akan dihubungi oleh sekolah.

Ustadz Fauzi M. Noor: Untuk mendaftar dapat mengakses link: https://psb.smaithsi.info. Adapun terkait biaya pendaftaran Rp 700.000, biaya Masuk Rp 15.000.000, dan SPP bulanan Rp 1.500.000.

Usai pertanyaan-pertanyaan tersebut mendapat tanggapan, Majalah HSI mengakhiri wawancara. Jargon sekolah yaitu melahirkan generasi jago IT yang pinter ngaji, mudah-mudahan benar terwujud. Semoga harapan dalam slogan itu sungguh-sungguh terkabul.

Mereka yang belia, bisa menjadikan SMA-IT HSI sebagai sarana menggantungkan mimpi. Sementara, kita yang telah melampaui masa sekolah menengah atas, bukan berarti kehilangan peluang urun andil mencetak generasi yang insyaallah siap mendada tantangan masa depan ini. Mari mendukung dakwah haq dengan terus mendukung Yayasan HSI AbdullahRoy. Baarakallahu fiikum..

0