Utsman bin Affan: Dengan Harta, Bangun Peradaban
Penulis: Azhar Abu Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sebaik-baik harta ialah yang berada di tangan seorang yang shalih.”[1] Kiranya penjelasan tentang hadits tersebut sudah bisa diwakili oleh biografi sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu kali ini.
Pribadi Utsman bin Affan
Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abul Ash Al-Umawi radhiyallahu 'anhu, Khulafa’ur Rasyidin ketiga, sekaligus menantu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sikapnya sangat dermawan dan santun, sampai para malaikat dibuat memuji perangainya.
Utsman dilahirkan di kota Tha’if, lima tahun setelah kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahnya adalah seorang saudagar Quraisy yang sukses. Semenjak kecil Utsman hidup berkecukupan. Sepeninggal sang ayah, Utsman mewarisi kekayaan ayahnya dan mengembangkan perniagaannya. Terkenal karena sifat-sifatnya yang terpuji dengan rekam jejak yang bersih dari aib-aib jahiliah, Utsman layak menjadi seorang tokoh dan pebisnis yang disegani.
Utsman masuk Islam pada masa-masa awal fase Makkah melalui tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersama para As-Sabiqunal Awwalun yang mulia. Setelah masuk Islam, ia menjadi salah satu da’i dan tokoh sentral generasi Islam pertama. Karena itu pula, Bani Umayyah merasa geram sehingga mereka sempat menggulungnya di dalam tikar, lalu memanggangnya di atas bara api, agar Utsman kembali kepada agama berhala.
Karena keistimewaan yang Utsman miliki, Rasulullah menikahkannya dengan putri beliau, Ruqayyah, sebelum Islam. Ruqayyah menemani masa-masa perjuangan Utsman di awal Islam hingga berhasil berhijrah ke Madinah. Tatkala Ruqayyah wafat, Utsman sangat bersedih karena beliau mengira hubungannya dengan Rasulullah juga akan ikut terputus. Oleh sebab itu, Nabi menikahkannya lagi dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum, hingga putri kedua itu juga berpulang ke hadirat-Nya pada tahun 9 H di Madinah. Pada momentum ini, Rasulullah menegaskan kedudukan Utsman di depan para sahabat dengan kalimatnya, “Andai aku memiliki putri yang lain, niscaya akan aku nikahkan lagi dengan Utsman.” Dengan sebab itu pula, Utsman mendapatkan gelar Dzun Nurain (pemilik dua cahaya) karena beliaulah satu-satunya lelaki yang menikahi dua putri seorang Nabi.
Semenjak hijrah ke Madinah, semua pertempuran melawan orang-orang kafir telah ia ikuti, kecuali Perang Badar, lantaran harus merawat Ruqayyah yang tengah sakit. Namun, Rasulullah tetap memberi bagian kepada Utsman dari harta rampasan perang. Mengenai kedudukannya yang mulia, cukuplah sebab terjadinya baiat Ridhwan pada tahun 6 H yang menjadi jawabannya.
Adapun pengangkatan beliau sebagai Khulafa’ Rasyidin ketiga, hal itu terjadi setelah Khalifah Umar ditikam oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusi dan berwasiat kepada enam orang sahabat ahli syura yang juga sekaligus mereka yang tersisa dari 10 orang yang dijanjikan oleh Rasulullah untuk masuk surga. Utsman memimpin kaum muslimin selama 12 tahun dengan prestasi yang luar biasa.
Melepaskan Perniagaan Demi Berhijrah
Saat Utsman mendapat izin untuk berhijrah untuk pertama kalinya ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian, beliau langsung mengambil kesempatan emas itu untuk lari menyelamatkan agamanya. Bersama Ruqayyah dan para sahabat yang lain, ia mencari suaka sampai di negeri seberang. Namun, hijrah itu tak berselang lama, karena para sahabat yang ada di Habasyah mendengar desas-desus bahwa kaum Quraisy masuk Islam, lantaran mereka ikut sujud saat Rasulullah selesai membaca ayat Al-Qur’an di Tanah Haram. Tepat pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, Utsman memutuskan kembali ke kampung halaman. Hanya saja, sesampainya di Makkah, ia mendapati keadaan tak seperti yang dibayangkan. Perlakuan Quraisy tetap sama: mengintimidasi, menyiksa, dan menghalangi dakwah Islam serta para pemeluknya, bahkan dengan cara yang lebih keji.
Hijrah ke Habasyah bagi Utsman menjadi sebuah langkah yang sangat berisiko, mengingat nilai pertaruhan beliau amatlah besar; omset perniagaan yang selama ini sudah dibangun dan koneksi yang sudah terjalin. Namun, karena ridha Allah sudah menjadi motivasi utama, semua yang selain-Nya akan terasa amat kecil dibandingkan dengan pahala dari-Nya. Keputusan Utsman ini benar-benar sangat kontras apabila dibandingkan dengan perilaku sebagian orang yang niat hijrahnya justru terbalik: rela mengorbankan agama demi mendapat maslahat dunia. Allahul Musta’an.
Filantropis Sejati
Berbicara masalah derma dan kebaikan untuk sesama, sungguh amat layak Utsman menjadi ikonnya. Hal itu tak berlebihan, karena memang fokus tujuan pembelanjaan harta beliau didominasi oleh niatan berbuat baik kepada sesama. Berikut ini beberapa contohnya.
1. Donatur utama logistik Perang Tabuk
Kejadian ini sangat masyhur di dalam buku-buku sejarah. Ketika Rasulullah dilanda kesusahan, musuh Allah dari bangsa Romawi datang memberi ancaman. Rasul terpaksa mengumumkan sendiri pendaftaran pasukan dan pembukaan donasi. Satu per satu para sahabat datang membawa donasi dengan besaran yang bervariasi. Kendati demikian, logistik dan kendaraan untuk kebutuhan akomodasi 30.000 tentara masih amat kurang. Pada saat krusial itu, tiba-tiba Utsman bin Affan datang membawa seribu keping emas ke pangkuan Nabi. Di samping itu, Utsman juga menyedekahkan 900 ekor unta dan 50 ekor kuda fi sabilillah. Karena itulah, Rasulullah pernah bersabda, “Demi Allah, tidak akan ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang dia lakukan pada hari ini.”[2]
Kejadian serupa pun terulang kembali pada zaman Khalifah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Ketika itu, kaum muslimin dilanda krisis. Semua mengadu kepada Khalifah Abu Bakar. Beliau lantas berdoa kepada Allah dan menenangkan rakyat. “Bubarlah kalian dan bersabarlah! Semoga sebelum sore datang Allah sudah membereskan masalah kalian,” kata Abu Bakar.
Benar saja, tak berapa lama berselang, kafilah dagang Utsman dari Syam datang, lengkap membawa bahan makanan dan barang dagangan. Para saudagar yang lokal mulai mengerumuni kafilah Utsman yang terdiri dari seratus ekor unta baru saja kembali. Tawaran pun mereka ajukan kepada Utsman untuk menjual barang-barang itu kepada para saudagar, supaya dapat diberikan secara cuma-cuma kepada kaum muslimin yang membutuhkan. Tawaran pertama diajukan, “Kami bayar sepuluh dirham dengan dua belas dirham!” kata para saudagar.
Utsman menantang, “Apakah kalian masih bisa menambah lagi?” Pada akhirnya, negosiasi berlanjut alot, sehingga para saudagar itu hanya mampu menawarkan keuntungan sebesar 15 dirham untuk setiap 10 dirham.
Utsman masih bergeming dengan pendiriannya. Merasa heran, para saudagar itu bertanya kepada Utsman, “Wahai Abu Amr,[3] di Madinah tidak ada lagi pedagang selain kami. Kami juga yakin tidak ada yang mendahului kami untuk bertransaksi denganmu. Lalu, siapa lagi kira-kira yang berani menerima tawaranmu?”
Utsman menjawab keheranan mereka dengan jawaban yang lebih mengherankan, “Sesungguhnya Allah telah (berjanji) akan memberiku sepuluh kali lipat. Apakah kalian sanggup?”
Mereka pun serempak menjawab, “Tidak!”
Utsman melanjutkan, “Maka aku bersaksi di hadapan Allah, bahwa diriku telah menjadikan bahan makanan dan barang dagangan ini sebagai sedekah untuk fakir miskin dari kalangan kaum muslimin karena Allah!”[4]
Menurut Anda, manakah yang lebih menakjubkan; kedermawanan Utsman yang tak pernah ragu sedikit pun saat membelanjakan hartanya di dalam sektor-sektor yang Allah ridhai? Atau perlombaan para saudagar tadi yang juga tak ingin melewatkan kesempatan untuk berbagi? Wallahi, mereka itulah para filantropis sejati.
2. Pembelian Sumur Rumah (بئر رومة)
Ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah, mereka mengeluhkan sumber air yang layak minum. Satu-satunya sumur yang airnya bagus adalah milik seorang Yahudi. Sumur itu bernama “Rumah” (رومة). Hanya saja, si Yahudi tak memberikan air sumurnya secara cuma-cuma. Hal itu menambah derita kaum Muslimin yang tengah berjuang merintis sebuah masyarakat dari nol. Masalah itu sampai di telinga Rasul. Beliau lalu bersabda, “Siapakah yang mau membeli Sumur Rumah dan menjadikan (hak) timbanya sama dengan kaum muslimin yang lain, maka ia akan mendapatkan ampunan?” Maka, majulah Utsman membeli sumur itu seharga 20.000 dinar dan mewakafkannya untuk kepentingan kaum Muslimin.[5]
Ajaibnya, disebutkan bahwa manfaat wakaf itu masih bisa dirasakan oleh masyarakat Madinah hingga sekarang.[6]
3. Perhatian terhadap kesejahteraan rakyat
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah memberi persaksian sebagai pelaku sejarah, “Aku melihat petugas (pemerintah) yang mengumumkan di zaman (kekhilafahan) Utsman menyeru manusia, ‘Wahai sekalian manusia, pergilah untuk mengambil jatah (pemberian) kalian!’ Seketika itu mereka pun berangkat mengambilnya dengan utuh. Si petugas berkata, ‘Wahai manusia, pergilah kalian untuk mengambil rezeki kalian!’ Mereka pun segera mengambilnya dengan utuh. Sampai-sampai, demi Allah, aku dengar si petugas mengatakan, ‘Ambillah jatah pakaian kalian, minyak samin dan madu!’ Mereka lalu mengambil pakaian yang banyak.” Al-Hasan melanjutkan, ‘Jatah bantuan kepada rakyat mengalir deras, kebaikan merata, dan hubungan antarsesama terjaga. Tidak ada di atas bumi seorang mukmin pun yang takut kepada mukmin yang lain. Mereka semua pasti mencintai, membantu sesamanya dan akrab. “[7]
Untuk menggambarkan betapa kemakmuran merata di zaman Utsman, mari kita simak penuturan Muhammad bin Sirin rahimahullah yang hidup sezaman dengan beliau, “Harta melimpah ruah di zaman Utsman hingga seorang budak perempuan dijual senilai berat tubuhnya, seekor kuda seharga seratus ribu dirham, dan sebatang pohon kurma dengan seribu dirham.”
Bahkan, konon, sampai dikabarkan bahwa ada satu hotel di Arab Saudi yang rekening pemiliknya diatasnamakan Utsman bin Affan, meski berita ini kurang tepat.[8]
Setelah pengorbanan yang beliau lakukan demi agama dan sesama, Allah menakdirkan Utsman gugur sebagai syahid yang terzalimi melalui tangan para pemberontak. Beliau wafat pada bulan Syawal tahun 35 H di rumahnya, dalam keadaan berpuasa dan membaca Al-Qur’an. Semoga Allah meridhainya.
Pelajaran dan Refleksi
Dari kisah Khalifah Utsman di atas kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran berharga.
Pertama, orang-orang besar semisal Utsman bin Affan memandang harta dan dunia secara umum hanya sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai alat untuk membangun kehidupan bahagia di surga. Oleh karena itu, saat orang-orang besar tersebut memegang harta yang melimpah, silaunya tak akan sampai ke hati mereka. Harta itu cukup mereka genggam di tangan, tak sampai menjadi pikiran yang menyibukkan hati dari ibadah.
Kedua, pentingnya ilmu dalam setiap hal, termasuk saat mendermakan harta. Bayangkan, seandainya Utsman tak memiliki ilmu dalam mengelola dana sedekahnya, bisa jadi sejarah yang kita baca tidak akan seperti sekarang, dan manfaat yang ditimbulkan juga tidak akan signifikan. Utsman mengelola harta secara lebih visioner dengan membuat hartanya bekerja secara mandiri untuk kemaslahatan akhirat, melalui wakaf dalam sektor produktif.
Ketiga, sebagian orang berangan-angan untuk bersedekah sebanyak Utsman andai kekayaannya juga seperti Utsman. Hal itu sebenarnya tidaklah salah. Hanya saja, cita-cita tersebut jangan sampai seseorang menunda sedekah demi menunggu “waktu yang tepat”. Mulailah bersedekah sekarang, semampunya. Semoga Allah terus mengalirkan rezeki berlimpah dan memberi hidayah bagi kita semua untuk berinfaq di jalan-Nya.
Referensi
- Ar-Rahiqul Makhtum, Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Maktabah At-Taufuqiyah, Mesir, cet. 21, tahun 1431 H.
- Al-‘Awashim minal Qawashim, Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki, tahqiq: Muhibbuddin Al-Khathib, tahun 1986 M, Al-Maktabah Al-Ilmiyah, Lebanon.
- Tarikhul Khulafa’, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Kutub Al-Islamiyah.
- Hiqbah minat Tarikh, Utsman bin Muhammad Al-Khamis, cet. 3, tahun 1427 H, Maktabah Al-Imam Al-Bukhari, Mesir.
- Tarikhul Khulafa’ Ar-Rasyidin wad Daulah Al-Umawiyah, Kementrian Pendidikan Arab Saudi.
- Asy-Syari’ah, Abu Bakar Al-Ajurri, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- https://www.alarabiya.net/saudi-today/saudi-press/2014/11/01/لا-حساب-مصرفي--بإسم-الخليفة-عثمان-بن-عفان.
- https://www.alarabiya.net/amp/saudi-tday/saudi-press/2014.