Utang: Ringan di Lisan, Berat di Timbangan
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
Khotbah pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mari kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti ajaran beliau hingga hari Kiamat nanti.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada khutbah ini, marilah kita renungkan bersama sebuah perkara yang sering kita lakukan dan kadang sebagian kita menganggapinya sebagai hal yang sepele, padahal sangat besar pengaruhnya di dunia dan akhirat, yaitu utang piutang.
Utang bukan hanya urusan ekonomi dan dunia, tetapi juga urusan akhirat. Utang bisa menjadi penghalang seseorang masuk surga, jika seseorang wafat dalam keadaan belum melunasinya dan tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk menyelesaikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَفْسُ المُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan utangnya sampai utangnya itu dibayarkan.” (HR. At-Tirmidzi nomor 1078)
Jiwa atau roh orang yang meninggal dalam keadaan memiliki utang terhalang dari nikmat kubur atau belum ditentukan nasibnya, beruntung atau menderita hingga utangnya dilunasi.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dunia ini, meminta seseorang memberikan utang kepada kita sangat mudah. Setelah diberi utang, untuk membayarnya sesuai tempo yang disepakati juga mudah bagi yang serius atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, melalaikan bahkan menghindar dari membayar utang juga mudah. Namun, sanksi tidak membayar utang di akhirat sangatlah berat sebab utang yang belum dibayar dapat menghalangi pelakunya dari masuk surga. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berdiri di hadapan para sahabat, lalu bersabda,
أَنَّ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْإِيمَانَ بِاللهِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: نَعَمْ، إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: كَيْفَ قُلْتَ؟. قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ، أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إِلَّا الدَّيْنَ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ عليه السلام قَالَ لِي ذَلِكَ
Berjihad di jalan Allah dan beriman kepada Allah adalah amalan yang paling utama. Maka berdirilah seorang lelaki dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapuskan?” Rasulullah bersabda, “Ya, jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam keadaan sabar, ikhlas mengharap pahala dari Allah, dan tidak lari dari medan perang.”
Kemudian Rasulullah bertanya lagi, “Bagaimana maksud perkataanmu tadi?” Orang itu mengulangi, “Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapuskan?” Lalu Rasulullah menjawab, “Ya, jika engkau bersabar, mengharap pahala dari Allah, dan tidak lari dari pertempuran, kecuali utang. Karena Jibril ‘alaihissalam telah memberitahuku tentang hal itu.” (HR. Muslim nomor 1885).
Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang terbunuh sebagai syahid dalam keadaan berjihad di jalan Allah, dengan penuh kesabaran, ikhlas, dan tidak melarikan diri dari musuh, dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya akan diampuni kecuali utang. Sebab, utang adalah hak manusia yang tidak akan gugur meskipun seseorang wafat dalam keadaan syahid. Hak itu tetap harus diselesaikan.
Bahkan, ada orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi membeli mobil mahal. Padahal sebetulnya ia hanya mampu membeli mobil yang lebih murah. Semua ini adalah tanda kurangnya pemahaman terhadap agama dan lemahnya keyakinan terhadap rezeki dari Allah Ta’ala.
Berusahalah untuk tidak berutang, apalagi dengan cara cicilan. Namun jika terpaksa karena keadaan, maka ambillah secukupnya saja, agar tidak memberatkan dan tidak membawa pada utang yang lebih besar.
Kita memohon kepada Allah agar melindungi kita semua dari perkara yang mendatangkan murka-Nya, dan agar Dia melunasi utang kita dan utang sesama hamba-Nya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 2/526-527).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Utang adalah tanggung jawab yang tidak hanya mengikat seseorang di dunia, tetapi juga membayangi kehidupannya setelah mati. Betapa mengerikan jika seseorang telah gugur sebagai syahid, namun tetap tertahan karena belum menunaikan utangnya. Ini adalah nasib orang yang mati syahid, apalah lagi orang yang level amalannya berada di bawah itu? Tentunya lebih mengerikan.
Ini bukan hanya sekadar ancaman dan hukuman, tetapi sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap para hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin agar hamba-Nya tidak menyepelekan hak orang lain. Bahkan, ketika tubuh telah terbujur dan kain kafan telah membungkus tubuh, roh tetap tidak tenang selama hak orang lain belum dilunasi. Maka, selagi hidup, jangan biarkan utang membuat jiwa tersiksa setelah kematian. Segera lunasi, atau setidaknya jujurlah dan berusahalah karena keikhlasan dan niat baik lebih mulia daripada lari dan pura-pura lupa.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mengabaikan utang adalah dosa besar, sayangnya banyak orang berusaha menunaikan berbagai ibadah, tetapi ia meremehkan utang. Padahal Islam menganggap utang sebagai perkara berat. Rasulullah menolak menyalatkan jenazah orang yang masih memiliki utang, dalam sebuah hadits, Salamah bin Akwa’ radiyallahu 'anhuma menyebutkan bahwa para sahabat sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, kemudian disebutkan beberapa keterangan yang ada dalam hadits.
إِذْ أُتِيَ بِجِنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ، قَالُوا: لَا، قَالَ: فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا، قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيْهِ. ثُمَّ أُتِيَ بِجِنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ، قِيلَ: نَعَمْ، قَالَ: فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا، قَالُوا: ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا. ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: هَلْ تَرَكَ شَيْئًا، قَالُوا: لَا، قَالَ: فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ، قَالُوا: ثَلَاثَةُ دَنَانِيرَ، قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.
Ada jenazah yang dibawa kepada Nabi, lalu orang-orang berkata, “Shalatkanlah jenazah ini.” Beliau bertanya, “Apakah ia punya utang?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan sesuatu? Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau pun menyalatinya. Kemudian dibawa jenazah lain dan orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah jenazah ini.” Beliau bertanya, “Apakah ia punya utang?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan sesuatu?” Mereka menjawab, “Tiga dinar.” Maka beliau pun menyalatinya. Setelah itu, dibawa jenazah ketiga, lalu orang-orang berkata, “Shalatkanlah jenazah ini.” Nabi bertanya, “Apakah ia meninggalkan sesuatu?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” Nabi bertanya lagi, “Apakah ia punya utang?” Mereka menjawab, “Tiga dinar.” Maka beliau bersabda, “Shalatkanlah oleh kalian jenazah teman kalian ini.” Abu Qatadah berkata, “Shalatkanlah ia wahai Rasulullah, sedangkan utangnya, aku yang akan melunasinya.” Lalu Nabi menyalati jezanah itu. (HR. Al-Bukhari nomor 2289)
Ini menunjukkan bahwa beban utang sangat berat, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menyalatkan orang yang meninggal dalam keadaan masih punya utang, sampai ada yang menanggung atau menyelesaikan urusannya.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hendaknya kita takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam urusan utang. Janganlah kita menunda-nunda, apalagi menghindar dari kewajiban untuk membayarnya. Pemberi utang hendaklah bersabar serta berikan waktu untuk orang yang berutang karena hal itu bisa menjadi sebab datangnya keberkahan untuk harta yang Allah titipkan kepada kita.
أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika memiliki utang harus kita sikapi dengan penuh rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita dalam kesulitan membayar utang, jangan pernah putus asa dan jangan pula mencoba lari dari tanggung jawab untuk melunasinya.
Bagi yang sedang terlilit utang dan susah untuk membayarnya, maka bersungguh-sungguhlah untuk melunasinya sebab Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ
“Barang siapa mengambil harta orang lain (berutang) dengan niat akan membayarnya, maka Allah akan membantu membayarkannya. Dan barang siapa mengambilnya dengan niat untuk merusaknya (tidak membayar), maka Allah akan membinasakannya.” (HR. Al-Bukhari, nomor 2387)
Bila seseorang bersungguh-sungguh ingin membayar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan jalannya. Tetapi jika niatnya buruk yaitu tidak memiliki keinginan untuk membayar utang tersebut, ia hanya akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara cara agar utang kita dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melunasinya adalah dengan berdoa. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mengajarkan doa untuk memohon perlindungan dari beban utang,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari beban utang dan tekanan orang lain." (HR. Al-Bukhari nomor 2893 dan Muslim nomor 6363).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Cicillah utang dengan fokus pada kebutuhan pokok dan tunda pengeluaran yang tidak penting. Hindari gaya hidup boros atau mengikuti tren yang membuat uang terpakai untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Misalnya, jika biasanya membeli sarapan atau camilan berat setiap hari, ubahlah jadi seminggu sekali saja. Dana yang tersisa bisa dialihkan untuk mencicil utang. Lebih baik menahan selera, daripada berutang terlalu lama atau bahkan tidak bisa membayarnya hingga kematian datang.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Untuk melunasi utang, periksalah barang-barang yang dimiliki, mungkin ada barang yang jarang dipakai tetapi masih bernilai jual. Gunakan hasilnya untuk membayar sebagian utang. Misalnya dengan menjual sepeda lama, gadget yang bukan menjadi kebutuhan primer, atau menjual koleksi barang yang bisa diuangkan. Uang hasil dari menjual barang tersebut dapat digunakan untuk membayar utang.
Banyak cara agar kita bisa melunasi utang. Bisa dengan mencari penghasilan tambahan sesuai kemampuan dan keahlian kita atau cara lain yang dianggap bisa membantu kita untuk melunasi utang. Jika bersungguh-sungguh, insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjuki jalan dan memberikan kemudahan.
Di akhir khutbah ini, mari kita bershalawat untuk Nabi dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اللَّهُمَّ اقْضِ دَيْنَنَا وَدَيْنَ الْمَدِينِينَ، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا وَهُمُومَ الْمَهْمُومِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.