Tulang Bisa Keropos Tanpa Rasa Sakit? Kenali Bahayanya!
Kontributor: dr. Sri Setya Wahyu Ningrum
Redaktur: dr. Avie Andriyani
The International Osteoporosis Foundation sebuah lembaga internasional nirlaba yang berfokus kepada penanganan masalah penyakit osteoporosis atau tulang keropos, dalam sebuah unggahan di laman resminya, mengklaim bahwa satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia di atas 50 tahun, mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Meski data ilmiah ini diambil hingga kisaran tahun 2019, tapi tren risikonya cenderung meningkat menurut mereka.
Osteoporosis kabarnya dijuluki silent disease karena si penderita cenderung tidak menunjukkan gejala khas dan terbilang tidak terdeteksi alias tanpa didahului rasa sakit. Meskipun di awal tidak menimbulkan gejala, akan tetapi osteoporosis dapat menimbulkan kondisi yang serius. Tulang cenderung mudah patah karena insiden kecil, seperti terpeleset, terjatuh, bahkan sekedar batuk atau bersin.
Edisi kali ini, Rubrik Kesehatan Majalah HSI akan menampilkan pembahasan seputar osteoporosis. Kita akan mengenali siapa saja yang sebenarnya paling rentan mengidap penyakit ini, apakah benar osteoporosis cuma melanda lansia, apa mungkin osteoporosis dicegah, serta berbagai pasal menarik lainnya. Mari simak bersama.
Apa itu osteoporosis?
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous. Osteo artinya tulang dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang keropos yaitu kondisi yang ditandai dengan massa tulang rendah, kerusakan jaringan tulang, dan gangguan mikroarsitektur tulang yang menyebabkan penurunan kekuatan tulang.
Kerapuhan akibat osteoporosis menyebabkan tulang tidak mampu menahan beban normal tubuh. Situasi ini bisa-bisa berujung pada patah tulang meskipun gara-gara cedera ringan atau aktivitas sehari-hari. Akibatnya, kemandirian penderita osteoporosis dapat dikatakan berkurang, serta kualitas hidupnya menurun signifikan. Kondisi tersebut umumnya terjadi secara perlahan tanpa gejala yang nyata sampai akhirnya muncul patah tulang spontan.
Siapa yang Berisiko Mengalami Osteoporosis?
Osteoporosis seringkali tidak disebabkan faktor tunggal, melainkan multifaktor. Osteoporosis dapat terjadi pada siapa saja terutama yang memiliki faktor-faktor risiko berikut:
a. Genetik
Faktor genetik memiliki kontribusi terhadap massa tulang. Adanya riwayat osteoporosis dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa hingga 80% variasi massa tulang seseorang, ditentukan oleh faktor genetik yang diwariskan dari orang tua. Selain itu, gen juga berperan dalam membentuk pola metabolisme kalsium, pembentukan kolagen, dan aktivitas sel pembentuk serta perusak tulang.
b. Kurang aktivitas fisik
Aktivitas fisik terutama latihan beban akan memberikan penekanan pada rangka dan menyebabkan tulang berkontraksi sehingga merangsang pembentukan tulang. Kurangnya aktivitas dapat mengurangi massa tulang. Hidup dengan aktivitas fisik yang cukup dapat menghasilkan massa tulang lebih besar. Itulah sebabnya seorang atlet memiliki massa tulang yang lebih besar dibandingkan dengan orang awam.
c. Usia tua
Semua bagian tubuh berubah seiring bertambahnya usia, begitu juga dengan rangka tubuh. Mulai dari lahir sampai kira-kira usia 30 tahun, jaringan tulang yang dibuat lebih banyak daripada yang hilang. Setelah usia 30 tahun situasi berbalik. Jaringan tulang yang hilang lebih banyak daripada yang terbentuk.
Penurunan kepadatan tulang ini terjadi secara bertahap dan menjadi lebih cepat pada wanita setelah menopause akibat berkurangnya hormon estrogen. Selain faktor hormonal, kurangnya asupan kalsium, vitamin D, serta berkurangnya aktivitas fisik juga mempercepat proses pengeroposan tulang. Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi ini dapat berkembang menjadi osteoporosis yang meningkatkan risiko patah tulang bahkan akibat benturan ringan.
d. Defisiensi vitamin D dan kalsium
Vitamin D mempunyai peran penting dalam menjaga kesehatan sistem muskuloskeletal (otot dan tulang) melalui perannya dalam penyerapan kalsium, mineralisasi tulang, dan memelihara fungsi otot rangka. Kadar vitamin D rendah menyebabkan berkurangnya massa tulang, kekuatan otot rangka, dan meningkatnya risiko patah tulang. Kalsium memiliki peranan penting dalam mempertahankan kepadatan tulang agar tidak mudah keropos.
e. Merokok
Tembakau dapat meracuni tulang dan juga menurunkan kadar estrogen, sehingga kadar estrogen pada orang yang merokok akan cenderung lebih rendah daripada yang tidak merokok. Ketika kadar estrogen rendah, siklus remodeling (pembaruan) tulang terganggu dan menyebabkan pengurangan jaringan tulang.
f. Konsumsi alkohol
Konsumsi alkohol jelas dilarang dalam Islam. Ternyata alkohol juga mempunyai andil merusak tubuh salah satunya menyebabkan penurunan massa tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis. Alkohol bekerja dengan dua cara, yaitu secara langsung meracuni sel pembentuk tulang (osteoblas) dan mengganggu penyerapan kalsium serta vitamin D yang penting untuk pembentukan tulang.
Pola makan yang buruk juga sering ditemukan pada individu dengan kebiasaan minum alkohol, karena mereka cenderung memperoleh sebagian besar kalori dari alkohol sehingga asupan makanan bergizi terabaikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh, proses penyembuhan patah tulang melambat, dan meningkatkan risiko jatuh akibat gangguan keseimbangan atau koordinasi tubuh.
g. Indeks Massa Tubuh (IMT) yang rendah
Indeks massa tubuh yang rendah menyebabkan kekuatan tulang menurun dan meningkatkan risiko tulang menjadi rapuh atau keropos. Hal ini karena orang dengan berat badan terlalu rendah biasanya memiliki lebih sedikit jaringan lemak dan otot, yang berfungsi melindungi tulang dari benturan serta membantu menjaga kepadatan tulang.
Selain itu, asupan nutrisi seperti kalsium, protein, dan vitamin D sering kali tidak mencukupi pada orang dengan berat badan rendah, sehingga proses pembentukan tulang tidak optimal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan IMT yang rendah memiliki risiko patah tulang dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki berat badan normal.
Osteoporosis dan Lansia
Osteoporosis sering terjadi pada usia 50 tahun keatas terutama wanita. Data Kemenkes RI mencatat penderita osteoporosis di Indonesia sebesar 23% pada wanita berusia 50-80 tahun, dan 53% pada wanita berusia 80 tahun keatas. Seiring bertambahnya usia, kepadatan dan fungsi tulang akan semakin menurun, sehingga tulang menjadi lebih mudah keropos. Namun, hal ini tidak berarti setiap lansia akan mengalami osteoporosis.
Normalnya, tulang mengalami proses pembaruan yang konstan. Tulang yang sudah tua akan digantikan dengan tulang baru, namun proses ini melambat seiring pertambahan usia. Melambatnya proses pembaruan tulang ini perlahan dapat membuat tulang kehilangan kepadatannya sehingga tulang pun menjadi lebih rapuh dan meningkatkan risiko osteoporosis.
Osteoporosis bisa menunjukkan gejala yang paling ringan seperti nyeri saat berjalan atau saat tulang digerakkan, hingga yang fatal seperti patah tulang karena rapuh. Lokasi tulang yang sering mengalami efek dari kerapuhan ini yaitu pada tulang belakang bagian bawah, tulang pinggul, dan pergelangan tangan.
Mencegah Osteoporosis
Mencegah osteoporosis bisa dimulai dengan langkah sederhana yang dilakukan setiap hari. Tulang yang kuat dapat terbentuk dari kebiasaan hidup sehat seperti aktif bergerak, berjemur di bawah sinar matahari pagi, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Kita juga perlu memperhatikan ketercukupan kebutuhan kalsium dan vitamin D. Kedua unsur itu bisa kita peroleh dari sumber alami yang mudah dijumpai dan murah seperti ikan, susu, tahu, tempe, dan sayuran hijau. Tinggalkan merokok, apalagi mengonsumsi alkohol karena keduanya dapat mempercepat pengeroposan tulang.
Selain itu, olahraga teratur menjadi kunci penting dalam menjaga kepadatan tulang. Aktivitas seperti jalan cepat, naik turun tangga, senam ringan, atau latihan beban dapat membantu merangsang pembentukan tulang baru. Tidak perlu menunggu usia lanjut untuk memulainya karena makin dini kebiasaan baik ini dibangun, semakin lama tulang kita bertahan sehat dan kuat, biidznillah. Jadi, mari sayangi tulang mulai sekarang, agar tetap kokoh menopang badan hingga masa tua dan tidak sampai menghalangi kita mengamalkan ketaatan kepada Allah Taβala.
Referensi:
- https://www.osteoporosis.foundation/facts-statistics/epidemiology-of-osteoporosis-and-fragility-fractures
- https://www.niams.nih.gov/health-topics/osteoporosis
- https://rso.go.id/mari-ketahui-osteoporosis
- https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1689/osteoporosis-pada-lansia
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2023, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Osteoporosis, Nomor Hk.01.07/Menkes/2171/2023.
- Rheza DK, Ismah Z, 2024, Analisis Pengaruh Paparan Asap Rokok terhadap Kejadian Osteoporosis pada Wanita Usia 50-59, Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Vol. 23(2), pp.134-140.
- Wardhani I et al, Rasio Aktivitas Fisik Terhadap Risiko Osteoporosis Pada Lansia, Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. 07(2), pp. 239-246.
- Widhianto K, Dwimartutie N, 2022, Vitamin D dan Kalsium untuk Pencegahan Fraktur pada Usia Lanjut, CDK-306, vol. 49(7), pp.389-393