Sirah

Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu

Penulis: Azhar Abu Usamah

Editor: Athirah Mustadjab


Tak bisa dipungkiri, kebodohan menjadi salah satu biang kerusakan dan kekacauan terbesar di muka bumi ini. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala memuji ilmu dan ulama dalam banyak kesempatan karena merekalah penjaga kemaslahatan manusia yang ada di dunia. Jika kebodohan menjadi salah satu faktor terbesar penyumbang kerusakan di muka bumi, bagaimana jadinya bila ia dicampur dengan sifat agresif dan hawa nafsu yang tak pernah puas? Bencana di atas bencana yang akan terjadi.

Salah satu peristiwa dalam sejarah yang patut untuk kita jadikan sebagai renungan dan mawas diri dari bahaya kebodohan serta dari perilaku orang-orang yang bodoh, ialah tragedi terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Selamat menyimak.

Mengenal Sosok Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu[1] 

Ia telah membeli surga dua kali dengan harta dan sumurnya, yang kemudian ia sedekahkan untuk kaum muslimin. Namun, di akhir hayatnya ia dibiarkan mati kehausan karena tak bisa minum dari sumur yang telah ia bebaskan, lantaran dikepung oleh gerombolan pengacau dalam aksi pemberontakan.

Dahulu dirinya dibela oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan seluruh kaum muslimin saat desas-desus beredar bahwa Quraisy telah membunuhnya sebelum Perjanjian Hudaibiyah terjadi. Pada akhir hayatnya, manusia dari Irak, Mesir, dan daerah lain datang mengepung rumahnya untuk membunuh dan menjarah hartanya.

Dahulu ia telah memberangkatkan pasukan yang kesusahan perbekalannya dengan menjadikan barang dagangannya sebagai sumber logistik utama, namun di akhir hidupnya ia diperlakukan sebagai musuh dan narapidana oleh sebagian manusia yang dahulu bisa jadi ikut merasakan manfaat dari berbagai peperangan yang logistiknya disokong olehnya.

Ia telah mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan satu bacaan agar kaum muslimin tidak lagi berselisih lantaran perbedaan bacaan, seperti perselisihan sesama Yahudi dan Nasrani. Hanya saja, lagi-lagi dirinya difitnah telah menistakan Al-Qur’an dan membakarnya. Bahkan, di akhir cerita, ia terbunuh di rumahnya, di depan mushaf Al-Qur’an yang sedang dibaca, dalam keadaan menunggu waktu berbuka.[2]

Di masa pemerintahannya, hidup kaum muslimin terjamin, bantuan dari pemerintah mengalir deras, pemimpin negara sangat mengasihi rakyatnya. Hanya saja, tak semua paham dengan kebijakan dan bentuk kasih sayangnya, sehingga mereka malah menyebarkan fitnah dan kebencian serta asumsi sesat yang liar hingga menjadi aksi anarki dan berujung pada pembunuhan. Ironis.

Beliau adalah menantu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan merupakan seorang lelaki yang membuat malaikat merasa malu karena sifat santunnya. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, Khulafa’ur Rasyidin ketiga, tokoh terkemuka, dermawan yang kaya raya, serta pemuka Quraisy di zamannya. Salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Dengan sebabnya pula, Baiat Ridhwan terjadi pada tahun 6 H.

Pada tahun 35 H, di kota Madinah yang seharusnya aman, ia terbunuh dalam keadaan sabar menghadapi kezaliman, ditikam bertubi-tubi oleh para pemberontak yang menyerukan ‘amar ma’ruf dan nahi munkar’, namun hakikatnya hanyalah hawa nafsu duniawi yang dibungkus oleh kedengkian jiwa dan kebodohan yang merajalela.[3] Allahul Musta’an.

Kekacauan yang Terjadi di Masanya[4] 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda saat menaiki bangunan yang tinggi di kota Madinah, “Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? Aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah yang berada di sela-sela rumah kalian layaknya tetesan-tetesan hujan (yang jatuh).”[5]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Maksud penyerupaan Rasul terhadap fitnah dengan turunnya hujan ialah dalam sisi banyak dan merata jangkauannya. Ini termasuk tanda kenabian yaitu kemampuan untuk mengabarkan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Hal itu terbukti dengan terjadinya pembunuhan Utsman dan peristiwa lainnya. Apalagi dalam peristiwa Al-Harrah. Penglihatan beliau terhadap fitnah yang akan terjadi itu bisa juga bermakna pengetahuan terhadap kejadiannya, atau memang benar-benar ditampakkan di hadapan mata beliau layaknya pemandangan surga dan neraka di arah kiblat (saat beliau shalat).”[6]

Menurut para ahli sejarah dari kalangan Ahlussunnah, banyak sekali motif yang melatarbelakangi terjadinya pemberontakan di zaman kekhilafahan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.

Di samping itu, ulama menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa faktor penting yang melandasi terjadinya peristiwa memilukan tersebut.[7] 

1. Munculnya Sekte Saba’iyah dengan pemikiran sesatnya. Gerakan ini dipelopori oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan diri seolah-olah sudah masuk Islam. Dia berkampanye di berbagai daerah Islam dalam rangka kaderisasi da’i penyesat umat. Hanya saja, ia tidak mendapatkan simpatik dari masyarakat Syam dan Hijaz. Ia pun memfokuskan dakwahnya di Mesir dan menyebarkan pemikirannya hingga daerah Irak.

2. Pengaruh Arab badui. Arab badui di sini bertingkat-tingkat dalam masalah keimanan. Menurut Dr. Amhazun, mereka terbagi menjadi tiga:

  1. Ada yang masuk Islam dan sudah baik tingkatan imannya. Ia menjadi mukmin. (QS. At-Taubah: 99)
  2. Mereka yang masuk Islam karena takut dan berpura-pura, serta hanya menginginkan harta. (QS. At-Taubah: 97)
  3. Kelompok tiga adalah orang-orang yang sangat gigih dalam menjalankan agama dan bahkan meninggalkan urusan dunia. Berpegang teguh pada Islam dengan sangat ketat, fanatik dan radikal. Mereka menakwilkan teks dalil sesuai dengan jiwa dan watak mereka yang keras. Terlihat tekstualis, tetapi kaum ini lemah logikanya dan sangat kuat emosinya. Mereka, pada zaman itu, sering disebut sebagai qurra’ (pembaca Al-Qur’an). Mereka itulah leluhur kaum Khawarij yang datang di kemudian hari. Pada zaman Utsman, beliau terpaksa merekrut orang-orang seperti ini karena daerah penaklukan semakin meluas. Namun, kita sudah tahu konsekuensinya: mereka sangat liar.

3. Perubahan tabiat masyarakat di zaman Utsman. Hal itu lantaran penaklukan yang terjadi semakin meluas dan kualitas generasi kaum muslimin yang baru tidak sekuat dan sebaik generasi sahabat.

4. Efek kemakmuran terhadap masyarakat. Banyaknya jihad dan penaklukan negeri asing menyebabkan harta ghanimah dan pajak mengalir deras untuk masyarakat. Sayangnya, ada sebagian masyarakat yang salah mengartikan kebaikan Utsman itu dan sifat beliau yang penyantun. Dari situlah ada sebagian dari mereka yang bersikap kurang ajar saat penaklukan dan jihad berhenti secara insidental, lantaran faktor alam atau sebab manusia. Ketika pemberian tidak sebanyak biasanya, sebagian orang yang sudah terbiasa mendapatkan pemberian yang banyak pada waktu sebelumnya lantas mempertanyakan, “Di manakah harta ghanimah yang dibagikan seperti biasanya!” Ketika mereka tidak mau mengecek kebenaran masalahnya dan berprasangka baik kepada Khalifah, pada akhirnya asumsi liar merekalah yang berkembang hingga terjadilah apa yang terjadi sebagaimana tertulis di buku sejarah.

5. Efek transisi pemerintahan Umar menuju era Utsman. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ada perbedaan yang mencolok antara karakter Khalifah Umar dan Khalifah Utsman. Yang pertama adalah seseorang yang memiliki citra yang tegas di tengah masyarakat, dan cenderung ditakuti oleh orang-orang jahil.[8] Di sisi lain, Khalifah Utsman adalah seorang yang sangat santun, sabar, dan lunak pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Karena itulah, pada enam tahun awal masa pemerintahan Utsman, segenap masyarakat mencintai Utsman dan tidak mempermasalahkannya. Namun, lama-kelamaan sifat lembut Utsman tersebut disalahartikan oleh sebagian kaum sebagai kelemahan.

6. Fanatisme kesukuan. Faktor-faktor di atas ditambah dengan faktor keenam ini, yaitu adanya sebagian kabilah yang merasa keberatan dengan pemerintahan yang dipegang oleh suku Quraisy. Rata-rata mereka yang berat hatinya ialah kabilah badui yang wataknya keras, didominasi oleh emosi, namun minim kebijaksanaan dan ilmu.

Itulah beberapa sebab krusial yang melatarbelakangi tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.

Efek Domino dari Tragedi Terbunuhnya Khalifah Utsman

Tidak akan pernah terbayangkan bahwa tragedi pemberontakan yang merenggut nyawa Khalifah Utsman radhiyallahu 'anhu memiliki efek domino yang begitu panjang. Inilah yang tidak disadari oleh mayoritas pengusung kekacauan dan penyulut api fitnah. Mulai dari Perang Shiffin, Perang Jamal, pemberontakan Khawarij, hingga terbunuhnya Al-Husain bin Ali radhiyallahu 'anhu merupakan efek domino dari tragedi itu.[9] 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Pada akhir masa pemerintahan Utsman terjadi peristiwa yang menimbulkan konflik. Lalu muncullah sekelompok tukang fitnah (provokator) dan pelaku kezaliman yang membunuh Utsman. Kaum muslimin berpecah-belah setelah pembunuhan itu. ketika kaum muslimin berperang di Shiffin dan menyepakati putusan dua delegasi (untuk membahas perundingan damai), muncullah Khawarij (kaum pemberontak) yang menentang pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Mereka memisahkan diri dari beliau dan jamaah kaum muslimin menuju tempat terpencil bernama Harura’ ….”[10]

Belum lagi bila ditambah munculnya Syi’ah yang bahayanya dapat kita lihat dari zaman dahulu melalui buku-buku sejarah hingga zaman sekarang ini. Allahul Musta’an.

Pesan Terakhir

Darah Utsman telah mengering, namun bukan berarti peristiwa yang telah merenggut nyawa beliau kita abaikan begitu saja. Dari sana kita belajar, untuk wajib mewaspadai merebaknya kebodohan yang ditunggangi oleh kepentingan para provokator. Pelajarilah polanya, karena sejarah akan terus berulang.

Jika Khalifah Utsman pada zaman dahulu terbunuh akibat merebaknya kabar hoaks melalui lisan-lisan yang tak bertanggung jawab, pada zaman yang dimudahkan dengan adanya beragam media sosial dan informasi, kita harus selalu tabayyun (selalu mengecek) kebenaran sebuah informasi yang ada di hadapan kita. Jangan bermudah-mudahan dalam membagikan, mengomentari atau mereaksi informasi yang datang kepada kita sebelum mengetahui kebenarannya.

Pada zaman dahulu, lisan-lisan yang tak bertanggung jawab menyebarkan asumsi-asumsi sesat mereka berdasarkan kabar burung atau kebijakan yang belum dipahami maksudnya. Adapun pada zaman sekarang, hal itu bisa saja terulang. Hanya bermodalkan foto yang diedit asal-asalan atau audio dan video yang dipotong sembarangan, lantas sebagian orang merasa bebas bernarasi sesuka hati, hingga tanpa rasa bersalah menjadi sumber malapetaka yang bahayanya tak terbayangkan.

Yang terakhir dalam tulisan kali ini, berkaca pada piciknya akal sebagian besar para pengacau pada zaman Utsman, maka kita sebagai rakyat jelata yang belum pernah mengemban amanah besar semisal mengurusi masyarakat atau sebuah negara, selayaknya selalu kedepankan prasangka yang baik terlebih dahulu kepada para penguasa yang sedang mengurusi negara. Bagaimanapun juga, sudut pandang kita sebagai rakyat tentu sangat terbatas, dan tidak semua hal kita mengetahui hakikat yang ada di balik layar media.

Ingat, Allah Maha Adil! Apa pun kezaliman yang diterima rakyat dari pemimpin pasti akan dihisab oleh Allah Ta’ala. Sebaliknya, kezaliman rakyat terhadap pemimpin pun juga pasti akan dihisab. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari api fitnah. Amin.

Referensi:

  • Al-Bidayah wan Nihayah, Abul Fida’ Ibnu Katsir, tahqiq: Dr. Abdul Muhsin At-Turki, Dar Hajar, cet. 1, tahun 1997 M (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Al-Idhahul Mubin fi Syarhil Arba’in, Dr. Anis bin Nashir Al-Mush’abi, cet. 3, tanpa tahun dan penerbit.
  • Fathul Bari, Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalani, Darul ‘Alamiyah, Mesir, cet. 2, tahun 2015.
  • Ar-Rahiqul Makhtum, Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir, cet. 21, tahun 1431 H.
  • Al-‘Awashim minal Qawashim, Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki, tahqiq: Muhibbuddin Al-Khathib, tahun 1986 M, Al-Maktabah Al-Ilmiyah, Lebanon.
  • Tarikhul Khulafa’, Jalaluddin As-Suyuthi, Darul Kutub Al-Islamiyah.
  • Hiqbah minat Tarikh, Utsman bin Muhammad Al-Khamis, cet. 3, tahun 1427 H, Maktabah Al-Imam Al-Bukhari, Mesir.
  • Tarikhul Khulafa’ Ar-Rasyidin wad Daulah Al-Umawiyah, Kementrian Pendidikan Arab Saudi.
  • Tahqiq Mawaqifis Shahabah, Prof. Dr. Muhammad Amhazun, Darus Salam, Mesir, cet. 2, tahun 2007 M.
6