Tautan rekaman: https://youtube.com/60iMchoNr_8?si=p9c8H1r5VCQ-3d4B
Tinggalkan yang Tidak Bermanfaat Bagimu
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Faizah Fitriah
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ" حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat." (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Abu Hurairah adalah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling banyak meriwayatkan hadits, meskipun ia termasuk yang terakhir masuk Islam. Beliau masuk Islam setelah Perang Khaibar dan bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selama beberapa tahun saja. Namun, Allah memberikan keutamaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Abu Hurairah termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ada beberapa sebab mengapa hal ini terjadi:
- Karena doa yang baik dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga beliau tidak pernah melupakan setiap hadits yang pernah beliau dengar.
- Karena Abu Hurairah sering melazimi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau termasuk muhajir yang hijrah ke Madinah dan hidup dalam keadaan miskin. Beliau tinggal di Masjid Nabawi dan termasuk ahlu shuffah. Beliau tidak memiliki banyak kesibukan selain berada di masjid mendengarkan petuah dan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika beliau menghafal lebih banyak hadits daripada sahabat lainnya. Ini merupakan karunia dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Hadits ini menunjukkan pentingnya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hadits ini termasuk dalam pokok adab dan merupakan ucapan ringkas namun penuh makna yang Allah berikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibnu Rajab menyatakan bahwa hadits ini adalah salah satu pondasi adab. Hamzah Al-Kinani menyebutnya sebagai sepertiga dari Islam, sedangkan Ibnu Hajar Al-Haitami menilai hadits ini sebagai seperempat dari Islam, bahkan seluruh Islam. Hadits ini mencerminkan pentingnya menghindari segala hal yang tidak memiliki kepentingan.
Yang terpenting bagi kita sebagai manusia adalah melaksanakan syariat Allah, yang mencakup kewajiban dan menjauhi larangan. Tidak mengherankan jika beliau menyatakan bahwa hadits ini mencakup seluruh Islam. Oleh karena itu, Imam An-Nawawi memasukkan hadits ini dalam Arbain Nawawiyah.
Al-Shan'ani berkata, "Hadits ini termasuk jawami' al-kalim, yang mencakup seluruh ucapan dan perbuatan."
Ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "Di antara kebaikan Islam seseorang" menunjukkan kesempurnaan Islam seseorang. Islam berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Semakin tinggi keislaman seseorang, semakin baik pula pelaksanaan perintah Allah dan semakin jauh dari larangan-Nya.
Ucapan "meninggalkan apa yang tidak ada kepentingannya" mencakup ucapan dan perbuatan. Waktu yang Allah berikan di dunia ini sangat berharga, dan orang yang rugi adalah orang yang tidak dapat memanfaatkannya dengan baik.
Allah berfirman dalam Surah Al-Asr: 1-3,
وَالْعَصْرِ ۞ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۞ إِلَّا ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّٰلِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِٱلصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampaknya biasa dapat menjadi amal yang bernilai pahala. Misalnya, makan dan minum dengan niat untuk mendapatkan kekuatan beribadah akan mendapatkan pahala.
Di dunia ini banyak perkara yang tidak bermanfaat. Seorang muslim harus memanfaatkan waktu dengan baik untuk kepentingan akhirat. Termasuk dalam kebaikan Islam seseorang adalah memandang sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Para ulama menjaga pandangannya, bahkan dalam hal-hal yang mubah, hanya jika ada maslahatnya.
Kita juga harus menjaga pendengaran kita agar hanya mendengarkan hal-hal yang bermanfaat. Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Tanda Allah berpaling dari seseorang adalah ketika Allah menjadikan kesibukannya dalam perkara yang tidak bermanfaat." Ma'ruf Al-Kurkhi menambahkan, "Ucapan seseorang yang tidak memiliki kepentingan adalah kehinaan dari Allah."
Luqman Al-Hakim menyebutkan bahwa keutamaan didapatkan melalui menjaga ucapan, melaksanakan amanah, dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Asy-Syafi'i mengatakan, "Ada tiga hal yang akan meningkatkan akal seseorang: bermajelis dengan ulama, bermajlis dengan orang-orang saleh, dan meninggalkan ucapan yang tidak memiliki kepentingan."
Muhammad ibnu Ajlan menjelaskan bahwa ucapan yang penting meliputi berzikir, membaca Al-Qur'an, bertanya tentang ilmu, dan membicarakan urusan dunia yang penting. Ibnu Taimiyyah menambahkan bahwa hal-hal yang tidak bermanfaat termasuk perkara tambahan yang tidak diperlukan, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menekankan bahwa tidak meninggalkan hal yang tidak bermanfaat menunjukkan kesalahan dalam Islam seseorang. Ibnu Rajab dalam kitabnya, Jaami'u Al-Ulum wa Al-Hikam, menjelaskan bahwa hadits ini mencakup semua ucapan dan perbuatan yang tidak memiliki kepentingan. Islam mengajarkan untuk fokus pada kewajiban dan menjauhi hal-hal yang dilarang.
Di antara faedah hadits ini adalah mengajarkan kesempurnaan iman dan Islam. Kesempurnaan Islam seseorang terlihat dari kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal ini termasuk menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Hadits ini juga menyoroti pentingnya waktu dan penggunaan waktu secara bijaksana. Nabi H memperingatkan bahwa banyak orang yang tertipu oleh nikmat sehat dan waktu senggang. Untuk mencapai derajat ini, seseorang memerlukan tekad dan kesabaran.
Contoh hal-hal yang tidak bermanfaat yang disebutkan oleh para ulama termasuk:
- Terlalu banyak berbicara dalam majelis, di mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang qila wa qal (perbicaraan yang tidak bermanfaat).
- Berlebihan dalam urusan dunia yang hanya bersifat kesempurnaan.
- Bertanya tentang keadaan pribadi tanpa alasan yang jelas.
- Mencari aib atau kesalahan orang lain, termasuk pemerintah atau ulama. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa menghinakan penguasa Allah yaitu pemimpin maka Allah akan menghinakannya."
- Meriwayatkan hadits yang tidak sahih atau menyebarkan kisah tanpa dasar yang jelas.
Penilaian tentang penting atau tidaknya sesuatu bukan hanya dinilai berdasarkan hawa nafsu pribadi, tetapi harus sesuai dengan ajaran agama. Amar ma'ruf nahi mungkar adalah kewajiban agama dan bukan termasuk perkara sia-sia. Demikian juga, bercanda yang disyariatkan atau berwisata untuk menghilangkan kepenatan dan mempererat tali ukhuwah tidak termasuk hal yang sia-sia.
Semoga artikel ini bermanfaat dan kita dapat menerapkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan dalam Islam.