Tiga Puluh Tahun Belajar Adab
Penulis: Azhar Rizki, Lc.
Editor: Athirah Mustadjab
Jika boleh diibaratkan, ilmu yang dimaksud oleh Imam Ibnu Al-Mubarak seperti fondasi keimanan, sedangkan adab dan akhlak yang beliau pelajari ialah praktik nyata dari ilmu yang beliau pahami dan imani di dalam hati.
Awal Kehidupan Ibnu Al-Mubarak
Nama beliau adalah Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih rahimahullah. Imam Adz-Dzahabi memujinya, “Syaikhul Islam, ahli ilmu pada zamannya, dan pemimpin kaum yang bertakwa.”
Ibnu Al-Mubarak merupakan gambaran nyata dari kemuliaan yang telah dijanjikan oleh Ta’ala bagi orang-orang yang menjadi ahli Al-Qur’an. Bagaimana tidak, ayahnya hanya seorang bekas budak Turkmenistan yang dibebaskan oleh saudagar Bani Hanzhalah dari Hamdan. Adapun ibunya adalah wanita Khawarizmi. Dari darah orang tuanya, sama sekali tak ada nasab mentereng yang dapat dibanggakan.
Pada tahun 118 H di Marwa, Ibnu Al-Mubarak terlahir. Pada usia 20 tahun, dia mulai mencari ilmu. Usia berkepala dua bukanlah halangan baginya untuk melangkah di jalan yang sama dengan para pendahulunya dari kalangan penuntut ilmu syar’i. Dia meyakini bahwa kemuliaan di hadapan Allah dinilai dari takwa dan kesungguhan.
Menjadi Seorang Thalibul ‘Ilmi
Ibnu Al-Mubarak rahimahullah pertama kali belajar kepada Ar-Rabi’ bin Anas Al-Khurasani. Sedari awal, perjalanannya dalam menuntut ilmu tidaklah mudah. Beliau harus mengendap-endap ke dalam penjara supaya bisa mengambil empat puluh hadits dari gurunya. Kesulitan di awal tidak menjadikan langkah beliau semakin berat, bahkan sebaliknya, beliau jadikan itu sebagai motivasi dan pijakan untuk melanglang buana berburu ilmu para tabi’in yang masih tersisa. Dari para tabi’in senior, semisal Hisyam bin Urwah, hingga ulama sebayanya, semisal Sufyan ats-Tsauri, berusaha direguk cawan ilmunya.
Dimulai sejak tahun 141 H hingga sepeninggalnya, Ibnu Al-Mubarak telah mengunjungi berbagai negeri. Syam, Mesir, Hijaz, Yaman dan Irak, semua sudah dia jejaki. Tak sampai di situ, Abdullah bin Al-Mubarak dikenal sebagai satu dari jajaran ulama yang bisa menyelaraskan antara keagungan ilmu agama dan banyaknya harta benda untuk kepentingan akhiratnya. Adz-Dzahabi menuturkan, “Beliau menuntut ilmu dari para tabi’in yang masih hidup. Beliau banyak bersafar bolak-balik hingga wafat dalam keadaan menuntut ilmu, berjihad, berdagang, dan membiayai sesama para ulama serta penuntut ilmu yang membutuhkan sekaligus menyiapkan perjalanan haji bersama mereka.”
Mempraktikkan Ilmu
Siapa saja yang membaca biografi beliau, pasti akan mendapati betapa Abdullah bin Al-Mubarak diberi taufik oleh Allah untuk mengumpulkan dua hal mulia yang jarang sekali bisa diselaraskan dalam satu kesempatan. Dua hal itu ialah ilmu yang berkah yang dikendalikan oleh adab nan indah.
Beliau menjadi donatur utama bagi para ulama dan penuntut ilmu hadits di sepanjang Khurasan hingga Hijaz. Salah satu orang yang merasakan kedermawanannya adalah Imam Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Dalam sebuah kesempatan, Al-Fudhail bin Iyadh berkata pada Ibnu Al-Mubarak, “Anda menyuruh kami untuk zuhud dan sedikit berbekal dari harta dunia, sedangkan kami melihatmu membawa banyak barang dagangan. Bagaimana hal itu menurut Anda?”
Ibnu Al-Mubarak menjawabnya, “Wahai Abu Ali (panggilan Al-Fudhail), aku melakukan ini semua (berniaga) semata hanya demi menjaga kehormatanku dan sarana untuk membantuku dalam menaati Rabbku.”
Al-Fudhail menanggapi, “Wahai Ibnu Al-Mubarak, jika demikian alangkah indahnya bila perniagaan itu sempurna niatnya.”
Ibnu Al-Mubarak juga pernah berkata kepada al-Fudhail bin Iyadh, “Jika bukan karena dirimu dan kawan-kawanmu (para ulama), sungguh aku tidak akan berniaga.” Jika diakumulasikan, setiap tahun infak Ibnu Al-Mubarak untuk orang-orang fakir mencapai seratus ribu dirham!
Di lain kesempatan, Ibnu Al-Mubarak sempat dikritik lantaran menyedekahkan hartanya ke luar daerah dan meninggalkan daerahnya sendiri. Beliau lalu memberikan sebuah alasan yang sangat brilian, “Aku tahu tempat tinggal sebuah kaum yang memiliki keutamaan dan kejujuran. Mereka mencari hadits dan sangat totalitas cara menuntutnya lantaran tahu kebutuhan manusia terhadap hadits mereka. (Mereka sibuk mencari hadits sehingga) mereka pun butuh (bekal). Jika kami meninggalkan kaum itu, ilmu mereka akan hilang tak bersisa. Jika kami bisa membantu mereka, para ulama itu akan menyebarkan ilmu untuk umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku tidak tahu ada hal yang lebih utama setelah kenabian dibanding menyebarkan ilmu (agama).”
Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat orang semisal Abdullah bin Al-Mubarak.” Yahya Al-Qaththan menyergah, “Termasuk Sufyan Ats-Tsauri ataupun Syu’bah?” Ibnu Mahdi menjawab, “Termasuk Sufyan juga Syu’bah. Sebab Ibnu al-Mubarak adalah seorang yang faqih (mendalam) ilmunya, hafizh (menjaga hadits), zuhud, ahli ibadah, kaya, sering berhaji dan berjihad juga ahli bahasa serta sastra. Aku tak pernah melihat yang semisal dirinya.”
Hal itu tidaklah berlebihan, bahkan Imam Sufyan Ats-Tsauri sendiri pernah mengakui, “Sungguh, diriku sangat ingin jika seluruh usiaku semisal dengan satu tahun milik Ibnu Al-Mubarak. Namun, aku tak sanggup untuk menjadi dirinya, walaupun hanya tiga hari.”
Imam Sufyan bin Uyainah mempersaksikan, “Aku memperhatikan kehidupan sahabat Nabi dan keseharian Abdullah (bin Al-Mubarak). (Kesimpulanku) bahwa aku tidak mendapati kelebihan para sahabat Nabi atas Ibnu Al-Mubarak kecuali hanya pada status kebersamaan mereka dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sehari-sehari dan saat berjihad bersama beliau.”
Dalam masalah ketulusan memberi manfaat bagi sesama, Imam Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Al-Bukhari, menyatakan, “Mataku ini tak pernah melihat yang sepadan dibanding keempat orang ini: Tidak ada yang lebih hafal terhadap hadits melebihi Sufyan Ats-Tsauri, tak ada yang lebih zuhud dan bersahaja dibanding Syu’bah, tak ada yang lebih cerdas dibanding Malik bin Anas, dan tidak ada yang lebih tulus perhatiannya terhadap umat ini dibanding Abdullah bin Al-Mubarak.”
Dalam memandang harta, Ibnu Al-Mubarak berpandangan bahwa zuhud tidak mengharuskan kita tak memiliki harta sama sekali. Namun, zuhud ialah kosongnya hati dari ikatan harta duniawi. Karena itulah, beliau tetap bekerja, tetapi dengan niat menjalankan ketaatan kepada Allah dan memberikan manfaat kepada sesama, terlebih kepada para ulama serta penuntut ilmu agama. Allahu Akbar!
Jika ilmu yang benar akan membawa rasa takut kepada pemiliknya, demikian halnya Abdullah bin Al-Mubarak dengan ilmunya. Beliau pernah mengatakan, “Jika seseorang tahu hakikat kapasitas dirinya, niscaya dia akan menjadi lebih hina kedudukannya dibanding seekor anjing.”
Tak mengherankan jika Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah menyatakan tatkala Ibnu Al-Mubarak wafat, “Telah wafat penghulu para ulama!”
Puncak Adab adalah Tahu Diri
Seseorang mendatangi Ibnu Al-Mubarak lalu bercerita, “Semalam aku membaca seluruh Al-Qur’an dalam rakaat shalat malam.” Lantas, Ibnu Al-Mubarak ingin memberi pelajaran kepada si penanya ini tentang hakikat sebuah ilmu dengan cara dan adab yang bagus sekali. Kata beliau, “Akan tetapi, aku juga tahu, tadi malam ada seorang yang shalat malam hanya mengulang-ulang surat At-Takatsur hingga pagi karena dia tak kuasa untuk meneruskan bacaannya.” Maksudnya adalah beliau sendiri.
Ibnu Al-Mubarak hendak memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi seorang ini supaya tidak lekas berbangga diri dengan ibadah dan amal shalih yang baru saja dikerjakan. Sekali lagi, ilmu itu bukanlah sebatas dengan banyaknya riwayat dan kuantitas amal shalih, tetapi kualitas dan hadirnya hati saat melakukannya juga rasa takut kepada Allah Ta’ala. Sebuah pelajaran dari puncak adab kepada Allah, yakni tahu diri: Di mana kita di hadapan-Nya?
Demikian pula, dengan adab yang bagus kita akan mengetahui posisi kita di hadapan makhluk-Nya. Inilah beberapa momentum penempatan keindahan adab yang dilandasi dengan ilmu yang benar oleh sang Imam. Suatu ketika seorang keturunan Bani Hasyim (ahlul bait) menemui Abdullah bin Al-Mubarak untuk meriwayatkan sebuah hadits, tetapi Ibnu Al-Mubarak menolak (karena sebuah alasan). Syarif (keturunan Bani Hasyim) ini lalu berkata kepada pembantunya, “Ayo pergi! Sesungguhnya Abu Abdirrahman (Ibnu Al-Mubarak) tidak ingin menyampaikan hadits untuk kita.”
Tatkala sang Syarif bangkit untuk menaiki kendaraannya, Ibnu Al-Mubarak bergegas membantu memegangi tali kekangnya. Sang Syarif bertanya heran, “Kau rela melakukan ini, tetapi dirimu tak mau memberikanku sebuah hadits!”
Lagi-lagi Ibnu Al-Mubarak memberi sebuah alasan yang cemerlang, “Aku rela merendahkan badanku untuk Anda, tetapi aku enggan merendahkan haditsku untuk Anda.” Dalam momentum ini seakan sang Imam ingin memberikan contoh nyata kepada kita, bahwa menghormati ahlul bait adalah perkara yang disyariatkan. Akan tetapi, kedudukan hadits juga harus tetap dijunjung tinggi: manakala ada seorang yang belum memenuhi standar kelayakan periwayatan hendak meriwayatkan sebuah hadits, hendaknya tidak merendahkan hadits Nabi kepada si perawi, walaupun ia adalah seorang ahlul bait. Jika sebuah hadits pada asalnya adalah shahih, lalu dengan alasan menghormati ahlul bait maka dia dibolehkan meriwayatkan hadits tersebut meski dia tidak kredibel, niscaya hadits tersebut menjadi rendah dan tertolak. Lihatlah, Ibnu Al-Mubarak menerapkan ketegasan ilmiah dan akhlak mulia dalam waktu bersamaan.
Sungguh baris-baris uraian ini hanya sepotong kecil bagian hidup Imam Abdullah bin Al-Mubarak. Akan tetapi, betapa luas hamparan hikmah yang bisa kita teladani dari beliau, mulai dari semangat dalam menuntut ilmu syar’i, beramal shalih, bersikap zuhud, berani, dan dermawan.
Wafatnya beliau, pada bulan Ramadhan tahun 181 H di Irak (daerah Hit) sepulang dari berjihad di jalan Allah, mendatangkan kesedihan di tengah kaum muslimin. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau dan mengumpulkan kita semua di dalam surga-Nya yang luas dan abadi dengan kemurahan dan kasih-Nya. Aamiiin.
Referensi:
- Siyar A’lam An-Nubala’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, tahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tahdzib At-Tahdzib, Syamsuddin Adz-Dzahabi, tahqiq oleh Ghanim Abbas Ghanim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Az-Zuhd wa Ar-Raqa’iq, Abdullah bin Al-Mubarak, tahqiq oleh Ahmad Farid, cet. ke-1 tahun 1995, Dar Al-Mi’raj Ad-Dauliyah, Arab Saudi.