Terlalu Banyak Kegiatan: Apa Dampaknya pada Kesehatan Anak?
Reporter : Nurul Hikmah
Redaktur : dr. Avie Andriyani
Jadwal keseharian ananda : pagi berangkat sekolah, siang ekstrakurikuler, sore mengerjakan tugas, lanjut les, dan malam masih belajar lagi. Sekilas terlihat produktif dan membanggakan. Namun, di balik jadwal yang padat, ada pertanyaan penting : “Apakah anak baik-baik saja?”
Anak adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada orang tua. Nikmat ini menjadi amanah dan tanggung jawab yang besar pula. Maka dari itu, orang tua wajib memberikan pengasuhan untuk menjaga tumbuh kembang anak secara seimbang mulai dari sisi fisik, mental, hingga emosi. Pengasuhan ini sangat penting untuk menunjang kesiapan dan proses belajar anak di masa depan biidznillah. Selain itu, keseimbangan antara aktivitas, istirahat, dan kebahagiaan turut mendukung kesehatan fisik dan mental anak.
Seiring pertambahan usia, sering kali anak memiliki jadwal sekolah dan kegiatan tambahan di luar jam sekolah yang kian padat. Fenomena ini dikenal dengan istilah ‘overscheduling’, yaitu kondisi ketika anak memiliki terlalu banyak aktivitas terstruktur, tanpa jeda yang cukup. Kegiatan belajar maupun les tambahan banyak memengaruhi akademik hingga keterampilan anak. Namun, jika berlebihan, apakah tidak akan ada dampaknya pada anak? Mari simak ulasannya dalam artikel Rubrik Kesehatan Majalah HSI berikut ini.
Fenomena Overscheduling pada Anak Sekolah
Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Namun, tanpa disadari, sebagian pilihan yang diambil orang tua dapat berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Salah satunya adalah memberikan terlalu banyak kegiatan tambahan di luar jam sekolah, seperti ekstrakurikuler, les pelajaran, maupun berbagai kursus.
Kondisi ini dikenal dengan istilah overscheduling, yaitu keadaan ketika anak memiliki terlalu banyak agenda dan aktivitas terstruktur sehingga jadwal hariannya menjadi sangat padat. Akibatnya, anak kehilangan waktu luang yang cukup untuk beristirahat maupun menikmati masa bermainnya.
Beban Akademik Anak Sekolah
Data dari berbagai lembaga penelitian menunjukkan bahwa beban akademik anak SD telah meningkat secara signifikan. Sebuah penelitian tahun 2024, menunjukkan bahwa rata-rata siswa SD di kota besar, menghabiskan waktu belajar hingga 9 jam per hari, termasuk waktu untuk menyelesaikan PR dan mengikuti les tambahan. Hal ini jauh melebihi standar internasional yang merekomendasikan waktu belajar tidak lebih dari 6 jam per hari. Dampak dari kondisi ini ialah meningkatnya kasus stres, seperti kecemasan, dan justru menurunkan minat belajar pada anak.
Jika mengacu ukuran ideal, durasi waktu belajar pada anak-anak SD hingga SMP, yang direkomendasikan, ialah 2 hingga 4 jam per hari, dengan jeda 30 sampai 45 menit. Sementara pada usia SMA, yaitu sekitar 4 hingga 6 jam per hari dengan jeda 60 sampai 90 menit.
Kita bisa mengamati, realitanya tidak demikian. Banyak anak-anak di sekitar kita harus menjalani durasi belajar melebihi batas ideal tersebut.
Anak-anak, terutama di kota-kota besar, umumnya memulai aktivitas sejak pukul 06.30 pagi dan menghabiskan sekitar 8 jam di sekolah. Setelah pulang pun, sebagian dari mereka belum memiliki cukup waktu untuk beristirahat karena harus mengikuti les tambahan. Belum lagi berbagai kegiatan di luar pelajaran sekolah, seperti latihan olahraga atau kursus keterampilan lainnya.
Dampak Overscheduling
Dampak oversheduling pada fisik anak, antara lain tubuh kelelahan, kurang tidur, gangguan pencernaan, sering mengeluh sakit perut atau kepala, muncul keluhan psikosomatis, hingga penurunan daya tahan tubuh. Anak jadi lebih mudah sakit dan sering izin tidak masuk sekolah.
Beban belajar di sekolah, ekskul, dan les tambahan akan menyebabkan beban kognitif (cognitive overload) pada anak. Saat otak anak dipaksa untuk menerima banyak informasi tanpa jeda, maka kemampuan fokus dan konsentrasi anak akan menurun, efektivitas belajar menurun, mudah lupa, cenderung pesimis, dan sulit mengambil keputusan.
Anak-anak yang mengalami overscheduling cenderung tertekan sehingga menimbulkan stres akademik sejak dini. Stres akademik merupakan respon anak terhadap tekanan dalam proses pembelajaran, tuntutan naik kelas, nilai yang bagus, hingga tuntutan menyelesaikan tugas yang menumpuk. Dampak dari stres akademik sendiri bisa menyebabkan gangguan fisik hingga emosional.
Secara mental, aktivitas yang padat dan berulang pada anak sekolah akan menimbulkan kelelahan mental, mudah marah, hingga depresi. Selain itu, harapan yang terlalu tinggi akan menciptakan kecemasan. Jika hal tersebut dibiarkan maka akan berujung pada child burnout, yaitu kondisi di mana anak mengalami kelelahan emosional, anak merasa tidak berdaya dan kehilangan motivasi sepenuhnya.
Aktivitas Anak: Antara Manfaat dan Batas Kemampuan
Aktivitas yang terstruktur dan terjadwal pada anak pada dasarnya dapat memberikan banyak manfaat. Selain membantu mengurangi screen time, kegiatan seperti ekstrakurikuler olah raga maupun kursus keterampilan juga dapat meningkatkan aktivitas fisik serta mengasah kemampuan anak di berbagai bidang.
Namun, manfaat tersebut dapat berubah menjadi risiko apabila aktivitas yang dijalani sudah melampaui batas kemampuan anak. Kondisi inilah yang dapat memicu beban kognitif berlebih dan child burnout, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Pada kenyataannya, aktivitas yang dijalani karena paksaan atau semata-mata untuk memenuhi ambisi dan harapan orang tua justru dapat meningkatkan produksi hormon kortisol, yaitu hormon yang berkaitan dengan stres. Akibatnya, anak lebih rentan mengalami stres akademik dan kelelahan mental.
Sebaliknya, aktivitas yang sesuai dengan minat, hobi, dan passion anak, cenderung memicu produksi hormon dopamin dan endorfin yang berperan dalam menciptakan rasa senang dan nyaman. Karena itu, kegiatan yang dijalani dengan kesadaran dan ketertarikan dari dalam diri anak, justru lebih mendukung kesehatan mental mereka.
Dampak pada Pola Tidur
Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), rekomendasi waktu istirahat untuk anak sekitar 9-12 jam sehari untuk anak usia 6-12 tahun, dengan tidur siang 30-60 menit. Hal ini penting untuk meregenerasi sel dan perkembangan fisik serta otak anak, juga menurunkan stres, dan meningkatkan kemampuan daya ingat anak.
Kurang tidur akibat jadwal padat memperparah beban kognitif anak sehingga membuat anak tidak stabil secara emosi. Tanpa tidur yang cukup otak anak tidak memiliki waktu untuk membersihkan sisa metabolisme, sehingga stres akademik akan semakin memuncak.
Strategi Menyikapi Overscheduling
1. Prioritaskan kualitas, bukan kuantitas
Sesuaikan aktivitas seperti les tambahan maupun ekskul, yang mendukung minat bakat anak. Bukan sekedar mengikuti tren.
2. Batasi aktivitas tambahan
Maksimalkan dengan cukup 1 atau 2 kegiatan di luar jam sekolah, agar anak tetap memiliki waktu istirahat.
3. Seimbangkan beban belajar
Sesuaikan jam belajar anak dengan rekomendasi 2-6 jam perhari dan seimbangkan dengan istirahat yang cukup.
4. Beri jeda untuk otak
Pastikan ada waktu kosong di sela-sela aktivitas setiap hari untuk mencegah cognitive overload.
5. Cegah burnout sejak dini
Kenali tanda-tanda kelelahan seperti kehilangan motivasi dan mudah marah. Jika tanda ini muncul, segera kurangi beban jadwal anak.
6. Beri ruang bermain bebas
Fasilitasi anak dengan memberikan waktu kosong dan ruang bermain untuk mengeksplorasi hal-hal yang anak sukai. Hal ini bermanfaat untuk pemulihan mental, membangun keterampilan, mengembangkan kepercayaan diri, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah sendiri.
Penutup
Mengatur jadwal dan memfasilitasi kegiatan positif bagi anak memang penting untuk menunjang tumbuh kembangnya. Namun, keseimbangan tetap perlu dijaga. Sebab, tekanan yang dirasakan anak sering kali bukan berasal dari aktivitasnya, melainkan dari ekspektasi dan tuntutan yang melampaui kemampuan serta fitrahnya.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental anak merupakan bagian dari amanah besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan kepada orangtua. Jadwal yang seimbang akan membantu anak bertumbuh secara utuh. Bukan hanya cakap dalam akademik, tetapi juga memiliki ruang untuk beribadah dengan tenang, bermain dengan gembira, dan menyimpan kenangan masa kecil yang hangat dalam ingatannya.
Pada akhirnya, kualitas seorang anak tidak ditentukan oleh seberapa padat aktivitasnya, melainkan dari bagaimana ia tumbuh menjadi pribadi yang sehat, taat kepada Allah, dan menjalani hari-harinya dengan hati bahagia serta penuh rasa syukur.
Mari menjaga anak-anak kita dengan penuh hikmah dan kasih sayang, agar mereka tumbuh dalam lindungan Allah, kuat jiwanya, sehat raganya, dan indah akhlaknya.
Referensi:
- Anshori, Ahmad. (2023). Pendidikan Anak adalah Amanah Allah. Diakses dari https://muslim.or.id/89903-pendidikan-anak-adalah-amanah-allah.html
- Compass Publishing Indonesia. Cognitive Overload pada Anak dan Cara Mengatasinya. Diakses dari https://compasspubindonesia.com/ blogs/2025/04/22/cognitive-overload-pada-anak-dan-cara-mengatasinya/
- Halodoc. (2026). Akibat Stres Berlebihan: Tubuh dan Mental Terancam. Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/akibat-stres-berlebihan-tubuh-dan-mental-terancam
- IDAI. (2015). Pola Tidur pada Anak. Diakses dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pola-tidur-pada-anak
- Imamatuzzadah, Ailsa Widya. (2026). Beban Akademik Anak SD Melonjak, Kasus Viral Tangisan Karena PR Soroti Kegagalan Implemmtasi Sekolah Ramah Anak. Diakses dari https://s2dikdas.fip.unesa.ac.id/post/beban-akademik-anak-sd-melonjak-kasus-viral-tangisan-k arena-pr-soroti-kegagalan-implementasi-sekolah-ramah-anak
- Media Scanter. (2025). Berapa Jam Ideal Untuk Belajar agar Hasil Maksimal?. Diakses dari https://mediascanter.id/berapa-jam-ideal-untuk-belajar-agar-hasil-maksimal/
- RSMMC. (2026). Stress in Adolescence Ubah Otak Remaja, Waspada. Diakses dari https://rsmmc.co.id/stress-in-adolescence/
- Sekarningrum, Putu Anindia, dkk. (2017). Korelasi Postif Kegiatan Ekstrakulikuler dengan Tingkat Stres pada Anak Sekolah Dasar. Sari Pediatri 2017;19(3):145-9.
- Stolberg, Ronald. (2023). How Overscheduling Prevent Skill Development. Diakses dari https://www-psychologytoday-com.translate.goog/us/blog/parent-tips-20/202301/how-overs cheduling-prevents-skill-development?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
- Tanfidiyah, Nur. (2022). Analisis Kondisi Fisik, Mental, dan Emosi Dalam Kesiapan dan Proses Belajar Anak. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam. Vol.4, No.2.
- University of Reading. (2021). The Science Behind Why Hobbies Can Improve Our Mental Health. Diakses dari https://research.reading.ac.uk/research-blog/2021/02/15/the-science-behind-why-hobbies-ca n-improve-our-mental-health/
- Wulandari, Larastining. (2025). Sistem Full Day School, Lebih Baik atau Buruk bagi Anak?. Diakses dari https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/pro-dan-kontr a-full-day-school/