Aqidah

Telah Habis Waktu

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Dian Soekotjo


Peristiwa besar, yang datang mendadak, berpotensi menimbulkan kepanikan dan kepayahan. Namun, jika peristiwa itu telah dikabarkan jauh hari sebelumnya, seharusnya rasa panik dan payah akan salah alamat belaka. Salah siapa jika tak ambil pusing dan sengaja mengabaikan?

Maut mungkin menjadi salah satu hal pasti yang kerap terabaikan itu. Seseorang yang masih tertawa pada pagi hari, barangkali memasuki alam kubur siang harinya. Seseorang yang masih menebar kezaliman pada sore hari, bisa saja pagi-pagi sudah dijemput Malakul Maut. Seseorang yang menghadiri shalat jamaah waktu subuh mungkin menghembuskan napas terakhirnya kala dhuha. Maut itu sahih meski tak dapat diterka waktunya, pun tampaknya tak sedikit manusia menjadikan ini perkara enteng saja.

Padahal Allah Jalla Jalaluh dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, telah berulang kali mengabarkan bahwa maut pasti menghampiri setiap makhluk yang bernyawa. Tak ada kecuali. Maut menjadi penanda bahwa kesempatan manusia di dunia ini berbatas sangkala.

Waktu adalah Kunci

Surah Al-Ashr menggambarkan tujuh kata kunci dalam hidup manusia: waktu, kerugian, keberuntungan, ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Tujuh kata kunci tersebut saling berkaitan. Waktu manusia terbatas. Dalam keterbatasan itu, manusia bisa memilih untuk menelan kerugian atau meraih keberuntungan. Syaratnya, manusia perlu membekali diri dengan ilmu, amal, dakwah, dan kesabaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَٱلْعَصْرِ (*) إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ (*) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

“Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan waktu -- yaitu malam dan siang, yang merupakan tempat seorang hamba untuk beraktivitas dan beramal -- bahwa setiap manusia itu merugi. ‘Merugi’ adalah antonim dari ‘beruntung’.

Kerugian itu bertingkat-tingkat:

  • Rugi secara mutlak, yaitu rugi di dunia dan di akhirat. Dia terluput dari kenikmatan di dunia, dan tempat kembalinya adalah neraka.
  • Rugi secara parsial dari sisi tertentu. Inilah kerugian yang dinyatakan oleh Allah E di surah Al-Asr sebagai kerugian yang akan menimpa manusia secara umum.

Kendati demikian, kerugian tersebut tidak akan menimpa seseorang yang memiliki empat karakter:

  • Pertama, beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan semua perintah-Nya. Iman tidak akan tumbuh tanpa ilmu agama, sehingga iman tak mungkin berwujud tanpa adanya ilmu agama.
  • Kedua, amal shalih. Amal shalih mencakup semua jenis amal kebaikan, yang zahir maupun yang batin, berkaitan dengan hak Allah atau hak hamba-Nya, serta berupa amal wajib maupun amal mustahab.
  • Ketiga, saling menasihati agar menetap di atas al-haq. Al-haq tersebut berupa iman dan amal shalih. Sesama muslim saling menasihati dengannya, saling memotivasi, dan saling menyemangati.
  • Keempat, saling menasihati agar bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam menjauhi kemaksiatan, dan dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan.

Dua hal pertama (iman dan amal shalih) menyempurnakan pribadi seseorang, sedangkan dua hal terakhir (nasihat dan sikap sabar) menyempurnakan orang lain. Jika seseorang memiliki empat karakter tersebut, dia akan selamat dari kerugian, dan pasti meraih keberuntungan.”[1]

Kesempatan Telah Diberikan

Tatkala ujian tiba, tidak ada celah untuk mundur ke belakang. Maut bak isyarat bahwa masa pencarian bekal usai sudah. Toh, ada saja manusia yang bermimpi menundanya. Agaknya ini suatu tabiat.

Jikalau hidup diibaratkan satu ruang kelas di sekolah, mungkin begini gambarannya. Kala hari ujian datang, ada siswa yang menghadapinya dengan tenang karena telah mempersiapkan diri sejak awal. Ada siswa yang separuh-separuh, antara tegang dan tenang, karena baru fokus mempersiapkan diri di detik-detik terakhir mendekati ujian. Yang paling parah, ada siswa mendatangi medan ujian sama sekali tanpa persiapan: tak pernah membuka buku pelajaran, tak pernah memperhatikan ketika guru menjelaskan di kelas, bahkan tak mau berusaha bertanya ke teman sekelas, padahal jadwal ujian telah diumumkan jauh sebelumnya.

Satu-dua siswa mungkin menyeletuk, “Pak Guru, ujiannya ditunda saja. Saya belum siap.” Apa yang bisa Pak Guru sampaikan selain teguran, “Mengapa tidak mempersiapkan diri, bukankah sudah Bapak umumkan bahwa akan ada ujian?”

Begitulah tabiat. Ada saja manusia yang bawaannya menyepelekan sesuatu yang penting. Ketika waktu tiba, dia baru tersadar, sedangkan semuanya sudah terlambat. Seolah-olah terpatri di benaknya, “Tidak mengapa repot belakangan. Yang penting bisa bersenang-senang sekarang.” Naudzubillah.

Difirmankan dalam Al-Quran,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ ‌الْمَوْتُ ‌فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Infakkanlah harta yang Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian mendatangi kalian. Lalu ada yang berkata, ‘Wahai Rabb-ku, andai Engkau tunda ajalku sebentar lagi, aku akan bersedekah dan aku akan menjadi orang yang shalih.’” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Mereka menyesali habisnya kesempatan yang telah diberikan. Dalam pinta, mereka berharap mendapat kesempatan kedua, berharap dikembalikan pada kehidupan, demi mengumpulkan pahala melalui amal shalih.[2]

Sayangnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengabulkan permohonan itu, meski mereka begitu memelas,

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Allah tidak akan mengakhirkan ajal seseorang jika waktunya telah tiba. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

‘Ala bin Ziyad berkata, “Hendaknya seseorang mengingatkan dirinya tentang datangnya kematian, kemudian dia segera menghadap kepada Rabb-nya, dan memohon ampunan-Nya. Oleh karena itu, hendaknya dia beramal shalih dengan melaksanakan amal ketaatan.”[3]

Qatadah berkata, “Demi Allah! Impianku adalah kembali kepada Allah dalam keadaan menaati-Nya. Lihatlah angan-angan orang kafir yang lalai tersebut! Kerjakanlah amal shalih yang mereka impikan itu!”[4]

Mempersiapkan Perjalanan Panjang

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَكُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Bersikaplah di dunia bagai orang yang terasing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6053)

Hadits tersebut, menurut Ibnu Rajab, mengingatkan muslimin bahwa dunia tak selayaknya dijadikan tujuan akhir. Seorang muslim seharusnya menempatkan dunia sebagai persinggahan, tempat mengisi bekal perjalanan.[5] Bekal yang dimaksud oleh Ibnu Rajab, adalah amal shalih.

Amal shalih bermacam-macam, misalnya shalat, zakat, puasa, haji, birrul walidain, silaturahim, dan sebagainya. Jika seorang muslim ingin amal shalihnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dia wajib memperhatikan dua syarat, yaitu amal tersebut dilakukan ikhlas karena Allah dan amal tersebut dilakukan sesuai petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.[6]

Berikut ini beberapa catatan penting agar kita cerdas dalam beramal:

1. Utamakan amalan wajib.

Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat mencintai hamba-Nya yang melaksanakan amal wajib. Dalam hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai.” (HR. Bukhari no. 6137)

Seseorang akan berdosa jika mengabaikan amal wajib tanpa ada uzur syar’i. Akan tetapi, realitanya, ilmu yang dangkal membuat seseorang tidak cerdas dalam menentukan prioritas amal. Mengutamakan amal sunnah dibanding amalan wajib misalnya. Padahal secara umum, prinsip semacam ini keliru.

Contohnya, seseorang melakukan qiyamul lail sejak pukul 2 dini hari hingga menjelang subuh. Qadarullah, 15 menit menjelang azan subuh, kantuknya tak tertahankan. Dia pun terlelap hingga pukul 7 pagi. Perhitungannya kurang tepat. Semangatnya begitu tinggi, tetapi ia lupa bahwa tubuhnya memiliki ambang batas. Demi mengejar pahala sunnah dari shalat malam, dia luput dari kewajiban shalat subuh pada waktunya. Alangkah baik jika dia mencukupkan tidur dan bangun dalam kondisi tubuh yang bugar, hingga memungkinkannya tetap terjaga tanpa melewatkan shalat subuh tepat waktu.

2. Perhatikan amalan hati.

Banyak orang menaruh perhatian terhadap amal lisan dan amal jawarih (anggota tubuh), tetapi luput terhadap kondisi hati, padahal ikhlas atau riya’, muncul sum’ah atau tidak, adanya rasa takabur atau tidak, mempengaruhi keabsahan dan derajat pahala yang akan diraih atas sebuah amal shalih. Ingatlah sabda Rasulullah H,

‌إِنَّمَا ‌الْأَعْمَالُ ‌بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Amal dinilai berdasarkan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai niatnya.” (HR. Bukhari no. 54)

3. Tunaikan hak Allah, dan jangan lupakan hak sesama makhluk.

Pada hari kiamat manusia akan bertanggung jawab atas hak-hak yang seharusnya dia tunaikan selama di dunia, baik itu menyangkut hak Rabb-nya maupun hak sesama makhluk. Jangan sampai seorang muslim giat dalam mengumpulkan pahala, tetapi lalai menjaga timbangan amalnya dari kemungkinan kebangkrutan.

Hak Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tak terlaksana, berada di bawah kehendak-Nya. Namun, hak sesama makhluk harus ditunaikan secara impas. Betapa mengerikan apabila amal shalih habis tak bersisa akibat dakwaan-dakwaan yang menuntut balas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ ‌الْمُفْلِسَ ‌مِنْ ‌أُمَّتِي ‌يَأْتِي ‌يَوْمَ ‌الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, dia juga mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Akibatnya, sebagian pahala kebaikannya diberikan kepada si A, si B, dan seterusnya. Jika pahala kebaikannya telah habis, padahal masih ada hak orang lain yang belum dia tunaikan, maka kesalahan si A, si B, dan seterusnya akan ditimpakan kepada orang tadi. Kemudian, dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

4. Istiqamah dalam beramal.

Seorang muslim hendaknya memohon taufik kepada Allah Jalla Jalaluh agar dijaga dalam keistiqamahan amal shalih hingga ajal menjemput karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

‌أَحَبُّ ‌الْأَعْمَالِ ‌إِلَى ‌اللهِ ‌تَعَالَى ‌أَدْوَمُهَا ‌وَإِنْ ‌قَلَّ

“Amal shalih yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang paling langgeng meski sedikit” (HR. Muslim no. 783).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menasihati Ibnu Umar agar istiqamah dalam beramal,

يَا عَبْدَ اللَّهِ، لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ ‌يَقُومُ ‌اللَّيْلَ ‌فَتَرَكَ ‌قِيَامَ ‌اللَّيْلِ

“Wahai Abdullah, jangan seperti si Fulan! Dia dahulu rutin melakukan qiyamul lail, tetapi sekarang tidak lagi melakukannya.” (HR. Bukhari no. 1101 dan Muslim no. 1159)

Ummul Mukminin Ummu Habibah J meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keutamaan shalat sunnah rawatib yang berjumlah total 12 rakaat sehari-semalam. Ummu Habibah J menuturkan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, sejak aku mendengar hadits tersebut, langsung dari Rasulullah H.” (HR. Muslim no. 728)

Lain lagi kisah inspiratif dari Sa’id bin Al-Musayyib. Dia merupakan salah satu ulama besar generasi tabi’in. Sebelum azan berkumandang, dia sudah berada di masjid. Dia melakukan hal tersebut secara istiqamah selama 40 tahun.[7]

Penutup

Hidup ini begitu singkat, waktu kita pasti terbatas. Masuki setiap pintu kebaikan yang terbuka di depan mata. Jangan menunda hingga penyesalan tiada guna.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menuntun setiap langkah kita di dunia dan memberikan kita akhir kehidupan yang indah.‌

اللهُمَّ ‌أَحْسِنْ ‌عَاقِبَتَنَا ‌فِي ‌الْأُمُورِ ‌كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا، وَعَذَابِ الْآخِرَةِ

“Ya Allah, perbaikilah setiap akhir urusan kami, serta selamatkanlah kami dari kebinasaan di dunia dan siksa akhirat.” (HR. Ahmad no. 17628)

Referensi:

  1. Shahih Al-Bukhari. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  2. Shahih Muslim. Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Maktabah Asy-Syamilah
  3. Jami’ul ‘Ulum wal Hikam. Ibnu Rajab Al-Hanbali. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  4. Taisirul Karimir Rahman. Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  5. Tafsir Juz ‘Amma lil ‘Utsaimin. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  6. Tahdzibut Tahdzib. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  7. Ma’arijul Qabul bi Syarhi Sullamil Wushul. Hafizh bin Ahmad bin Ali Al-Hakami. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
16