Tebalkan Sabar, Kerapkan Syukur

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Athirah Mustadjab


Krisis adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia, baik krisis ekonomi, sosial, kesehatan, maupun spiritual. Semua itu menguji kualitas iman dan kepribadian seseorang. Dalam konteks kehidupan seorang mukmin, krisis bukan hanya ujian, tetapi juga ladang pahala, kesempatan untuk memperkuat karakter, dan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Untuk menghadapi krisis yang hadir dalam berbagai wajah, sabar dan syukur adalah dua pilar utama untuk menggenggam keteguhan.

Makna Sabar dan Syukur dalam Islam

Kata ṣhabr (sabar), dalam bahasa Arab, secara etimologi berarti menahan (al-ḥabs). Adapun secara terminologi, Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikannya, “Sabar adalah menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, menahan diri untuk tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya, dan menahan diri dari sikap tidak ridha dan mengeluh terhadap takdir-Nya.”

Kata syukr (syukur) secara etimologi berarti menyadari nikmat dan menampakkannya, atau mengenali kebaikan (yang diberikan) dan menyebarkannya. Adapun secara terminologi, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Syukur adalah tampaknya pengaruh nikmat Allah pada lisan seorang hamba dengan pujian dan pengakuan, pada hatinya dengan kesadaran dan cinta, dan pada anggota tubuhnya dengan ketundukan dan ketaatan.”

Hubungan Erat antara Sabar dan Syukur

Sabar dan syukur sering dipahami sebagai dua sikap yang berdiri sendiri, padahal dalam pandangan Islam keduanya saling melengkapi bagaikan dua sisi mata uang. Sabar diperlukan tatkala menghadapi kekurangan, sementara syukur dibutuhkan sewaktu mendapati kelebihan. Namun, yang menarik, dalam banyak keadaan, keduanya hadir bersamaan dalam diri seorang mukmin. Ketika seorang mukmin diuji, ia bersabar atas hal yang hilang dari dirinya. Kendati demikian, ia tetap bersyukur atas nikmat yang masih bisa ia rasakan.

Jika sabar dan syukur telah menjadi perisai jiwa seorang mukmin dalam kondisi pahit semacam itu, akan tampaklah kebenaran ajaran nubuwwah yang menuntut kaum mukminin untuk tidak larut dalam keluh kesah, tetapi tidak pula lalai dalam keberlimpahan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan keterkaitan antara keduanya. Di Fathul Bari, beliau mengulas secara panjang lebar, “Syukur mencakup kesabaran dalam menaati (Allah) dan kesabaran dalam menjauhi maksiat. Sebagian ulama berkata, ‘Sabar meniscayakan syukur; dia tidak akan sempurna tanpa syukur. Demikian pula sebaliknya. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka yang lain pun akan hilang.’

Oleh sebab itu, siapa pun yang berada dalam kenikmatan, maka dia wajib untuk bersyukur dan bersabar. Bentuk syukur itu jelas, sedangkan sikap sabarnya ditampakkan dengan menahan diri dari maksiat. Akan halnya bagi siapa pun yang tengah mengalami cobaan, maka kewajibannya adalah bersabar dan bersyukur. Bentuk sabar di sini jelas, sedangkan syukurnya diwujudkan dengan menjalankan hak-hak Allah atasnya dalam musibah tersebut. Demikianlah sepatutnya karena Allah memiliki hak penghambaan atas hamba-Nya, baik tatkala hamba tersebut tertimpa musibah maupun ketika mendapat nikmat.

Selanjutnya, kesabaran terbagi dalam tiga kategori:

  1. Sabar dalam menjauhi maksiat, yaitu tidak melakukannya.
  2. Sabar dalam menjalankan ketaatan, hingga ia dapat menunaikannya.

Dan manusia pasti berada dalam salah satu dari tiga keadaan ini, maka sabar adalah sesuatu yang harus dimiliki terus-menerus; tidak ada pilihan lain.”

Dalam sebuah hadits juga dijelaskan tentang hubungan antara keduanya dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‌عَجَبًا ‌لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur; itu baik baginya. Apabila dia tertimpa musibah, dia bersabar; dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Pentingnya Sabar dan Syukur pada Masa Krisis

Di tengah krisis, manusia seringkali tergoda mencari jalan pintas, bahkan yang dilarang agama sekalipun, demi keluar dari tekanan hidup. Di saat inilah kesabaran diuji. Sementara itu, ketika nikmat terasa sangat minim, rasa syukur pun menjadi ujian tersendiri. Akan tetapi, dalam kondisi inilah sabar dan syukur menjadi nilai hidup yang paling berharga.

Sabar berperan menahan diri dari sikap putus asa dan berkeluh kesah, sambil tetap menjaga harapan dan iman. Dalam masa sulit, sabar menjadi benteng terakhir yang menjaga hati dari kegoncangan dan pikiran dari keputusasaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

Sementara itu, syukur memberi kesadaran untuk tetap menghargai nikmat yang tersisa, sekecil apa pun itu. Rasa syukur akan menjaga kita tetap fokus pada kebaikan, menjernihkan pikiran, dan memperkuat semangat untuk bertahan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Ketika sabar menjaga kita dari perasaan putus asa, syukur menjaga kita dari rasa kekurangan. Keduanya adalah penopang jiwa yang menuntun kita tetap teguh dan tenang dalam badai kehidupan.

rubrik utama

Kisah Inspiratif dari Mereka yang Pernah Melalui Kepedihan

Di balik setiap ujian yang Allah turunkan tersimpan pelajaran berharga yang hanya dapat dipetik oleh seorang mukmin. Sejarah para nabi dan orang-orang saleh bukan sekadar catatan masa lalu yang terukir di kertas sejarah, melainkan cermin bagi jiwa kita yang sering rapuh di tengah badai kehidupan. Ketika hidup terasa sempit, ketika doa belum kunjung terijabah, dan ketika harapan mulai pudar, maka pada saat itulah kita perlu menengok kembali kisah-kisah agung yang diabadikan oleh Allah.

1. Nabi Ayyub: Simbol kesabaran tanpa batas

Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah seorang nabi yang awalnya dikaruniai kekayaan melimpah, anak-anak yang banyak, dan kesehatan yang sempurna. Namun, Allah mengujinya selama 18 tahun dengan musibah yang beruntun: seluruh hartanya hilang, anak-anaknya wafat, dan tubuhnya terserang penyakit kronis yang menjijikkan hingga semua orang meninggalkannya, kecuali istrinya yang selalu setia.

Walau demikian, Nabi Ayyub ‘alaihissalam tetap bersabar dan tidak pernah mengeluh kepada Allah. Yang ia pinta semata pertolongan dari Rabb-nya, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla kabarkan dalam firman-Nya,

وَٱذۡكُرۡ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٍ وَعَذَابٍ

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya. ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’” (QS. Ṣhad: 41)

Allah ‘Azza wa Jalla kemudian memulihkannya secara sempurna, mengembalikan kesehatannya, melipatgandakan hartanya, dan mengaruniainya anak-anak yang lebih banyak dari sebelumnya.

2. Nabi Yusuf: Lapis demi lapis ujian

Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah sosok yang diuji sejak masa kecil. Dimulai dari pengkhianatan oleh saudara-saudaranya, dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, lalu digoda oleh istri majikannya. Ketika ia menolak berbuat dosa, justru ia dipenjara tanpa alasan yang jelas.

Namun, Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak mengeluh. Ia bertahan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan serta kesucian jiwa. Allah ‘Azza wa Jalla beritakan tentanya,

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ

“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.’” (QS. Yusuf: 33)

Setelah bertahun-tahun dalam penjara, Allah membebaskannya dan mengangkatnya sebagai penguasa Mesir. Merupakan sebuah kehormatan tatkala penguasa Mesir mempercayainya tatkala ia menunjukkan kelebihan dirinya. Allah ta'ala mengabarkan tentang ucapan Nabi Yusuf,

إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Ketika akhirnya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dipertemukan kembali dengan saudara-saudaranya, ia tidak membalas dendam. Justru, ia berkata,

لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ

“Tidak ada celaan atas kalian hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian.” (QS. Yusuf: 92)

3. Ummu Salamah: Tawakal yang tak pernah hilang

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri dari Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, adalah salah satu wanita terbaik dari kalangan sahabat. Pada saat hijrah ke Madinah, ia mengalami tragedi luar biasa: ia dipisahkan dari suaminya Abu Salamah, sedangkan anaknya direbut oleh keluarganya sendiri. Ia harus menjalani hari-hari panjang sebatang kara, dalam kesedihan dan keterasingan, hingga akhirnya ia diizinkan untuk menyusul suaminya ke Madinah.

Namun, ujiannya belum selesai. Tak lama setelah hidup kembali bersatu dan bahagia, Abu Salamah jatuh sakit dan wafat. Ummu Salamah pun berada di titik terendah hidupnya: menjadi janda, kehilangan pasangan hidup, dan merawat anak-anaknya sendirian di tanah perantauan.

Akan tetapi, ia ingat pesan suaminya sebelum wafat, yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilayhi rāji‘un. Allahumma’jurni fi muṣibati wakhluf li khayran minha,’ melainkan Allah akan menggantikan untuknya dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Muslim, no. 918)

Ummu Salamah tetap membaca doa itu dengan penuh keyakinan, kendati hati kecilnya berbisik, “Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?”

Tak lama kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang melamarnya. Akhirnya, Ummu Salamah pun menjadi ibunda bagi orang-orang beriman (Ummahatul Mukminin), istri dari Nabi terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam; sebuah ganti yang tak terbayangkan sebelumnya.

Meski Diterpa Krisis, tetap Kuatkan Hati dengan Sabar dan Syukur

Implementasi sabar dan syukur pada masa-masa krisis, terkait krisis apa pun itu, dapat diwujudkan secara praktis dan konseptual sebagai berikut.

1. Sabar di tengah krisis

(a) Menerima ujian dan kesulitan dengan keteguhan hati tanpa putus asa, memahami bahwa kesabaran adalah cahaya yang mengeluarkan dari kegelapan masalah. Sebagaimana nasihat Luqman kepada anaknya,

وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara penting.” (QS. Luqman : 17)

(b) Melatih kesabaran dalam berbagai aspek, seperti sabar dalam menjalankan perintah agama, dalam melewati musibah, dalam menghadapi gangguan orang lain, dan dalam melewati keterbatasan ekonomi.

(c) Menjadikan shalat dan doa sebagai penolong utama dalam menghadapi kesulitan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat.” (QS Al-Baqarah : 153)

(d) Mengatasi gangguan mental yang muncul dalam krisis (misalnya kecemasan atau stres) dengan kesabaran yang disertai optimisme, konsistensi, dan tidak mengeluh.

2. Syukur di tengah krisis

(a) Menyadari dan bersyukur atas nikmat-nikmat kecil yang masih ada, sehingga menjaga keseimbangan pikiran dan semangat meskipun situasi sulit, sebab Allah ‘Azza wa Jalla berjanji dalam firman-Nya

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim : 7).

(b) Membiasakan diri mengucapkan “alhamdulillah” pada segala kondisi sebagai penguat hati dan pikiran positif. Sebagaimana yang dikabarkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha; beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ» ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: «‌الْحَمْدُ ‌لِلَّهِ ‌عَلَى ‌كُلِّ ‌حَالٍ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat sesuatu yang disukai, beliau mengucapkan, 'Alhamdulillahil ladzi bini’matihi tatimmus shalihat.' Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, beliau mengucapkan, 'Alhamdulillah ‘ala kulli hal.' (HR. Ibnu Majah, no. 3803; dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

(c) Melihat krisis sebagai kesempatan pembelajaran dan bentuk kasih sayang dari Allah, sehingga syukur menjadi sikap menerima dengan ikhlas dan mensyukuri hikmah di balik ujian tersebut.

3. Perpaduan antara sabar dan syukur di tengah krisis

  1. Menghindari keluhan berlebihan, fokus pada solusi, sembari memaknai setiap ujian sebagai karunia sekaligus jalan dari Allah untuk meningkatkan derajat di sisi-Nya.
  2. Mempraktikkan sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari dapat memperkuat ketahanan mental dan spiritual, membantu menjaga kesehatan mental, dan meningkatkan kualitas hidup di tengah krisis.
  3. Penerapan ini juga merupakan bentuk tawakal, yaitu menyerahkan hasil kepada Allah dengan penuh kepasrahan.

Secara ringkas, implementasi sabar dan syukur meliputi: penerimaan yang ikhlas, fokus pada nikmat yang ada, menguatkan ibadah sebagai penopang, melatih mental positif, serta memaknai krisis sebagai ladang amal dan pembelajaran untuk pertumbuhan spiritual dan psikologis.

Praktik Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Di dunia kerja

Seorang pegawai yang tetap menjaga amanah meski gajinya dipotong atau pengusaha yang menolak proyek haram saat omzet menurun adalah contoh kesabaran dalam dunia kerja. Bersyukur dalam kondisi ini ditunjukkan dengan tetap menjaga produktivitas, tidak menyalahkan keadaan, dan menghargai rezeki yang ada.

2. Di keluarga

Sabar dan syukur dalam rumah tangga terlihat pada pasangan yang saling mendukung meski kondisi ekonomi menurun. Anak-anak yang tidak menuntut banyak, ibu yang tetap melayani keluarga dengan cinta, dan ayah yang berusaha keras tanpa keluhan adalah teladan keluarga sabar dan bersyukur.

3. Di masyarakat

Sabar dalam masyarakat sewaktu krisis ditunjukkan dengan tidak mudah terpancing emosi, tidak menyebar hoaks, dan tetap menjaga ketertiban meski keadaan serba sulit. Contoh aplikasinya: antre dengan tertib saat pembagian bantuan atau menahan diri dari protes yang tidak solutif. Syukur dalam masyarakat tampak ketika kita tetap peduli terhadap sesama, meski dengan kemampuan terbatas, seperti berbagi makanan sederhana, saling mendoakan, atau sekadar menyapa tetangga dengan senyuman. Nikmat kecil seperti listrik yang menyala, tetangga yang peduli, atau lingkungan yang aman menjadi sesuatu yang patut disyukuri pada masa krisis.

Jalan ke Surga di Tengah Ujian

Masa krisis adalah saat yang tepat untuk memperkuat karakter mukmin sejati. Sabar dan syukur bukan sekadar teori, tetapi kunci keberhasilan di dunia dan akhirat. Dengan bersabar, kita menjaga diri dari dosa. Dengan bersyukur, kita menjaga hati dari keluh kesah. Keduanya adalah tanda keimanan dan pintu menuju rida Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala hadir sebagai balasan atas ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia akan meraih ridha Allah. Barang siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah, no. 4031; dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits ini menegaskan bahwa musibah adalah tanda cinta Allah, dan menerima musibah tersebut dengan ridha adalah kunci mendapatkan ridha-Nya serta cara terbaik dalam menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan tersebut.

Penutup

Krisis bukan hanya perkara duniawi, tetapi mengandung ujian keimanan. Ia bisa menghancurkan, tetapi juga bisa menjadi kesempatan emas untuk tumbuh dan menguat. Dengan sabar dan syukur, seorang mukmin tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang secara spiritual dan moral. Inilah waktu terbaik untuk membuktikan bahwa keimanan bukan hanya di masjid dan dalam doa, tetapi juga dalam cara kita bekerja, bertahan, dan berkontribusi secara positif pada masa yang sempit. Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap bersinar dengan kejujuran, kesederhanaan, dan ketulusan, bahkan di tengah gelapnya krisis.

Demikian yang dapat Penulis uraikan tentang sabar dan syukur pada masa-masa krisis. Semoga ulasan ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi Taufiq Ila Aqwamith Thariq.

Referensi:

  • Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'Isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
  • Sunan Ibni Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwaini Ibnu Majah, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebutkan tahun.
  • Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-Asqalani, Dar Al-Ma’rifah-Beirut, Cet. Tahun 1379 H.
  • Risalah ibni Qayyim Ila Ahadi Ikhwanihi, Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Tahqiq Abdullah bin Muhammad Al-Mudaifir, Dar ‘Atha’atil ilm-KSA, Cet. 5, Tahun 1440 H/2019 M.
  • Madarij As-Salikin Fi Manazil As-Sairin, Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Tahqiq Muhammad Ajmal Al-Islahi, Dar ‘Atha’atil ilm-KSA, Cet. 2, Tahun 1441 H/2019 M.
  • Qashash Al-Anbiya’, Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi, Tahqiq Musthafa Abdul Wahid, Mathba’ah Dar At-Ta’lif-Kairo, Cet. 1, Tahun 1388 H/1968 M.
  • Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi, Tahqiq Sami bin Muhammad As-Salamah, Dar Thaibah-KSA, Cet. 2, Tahun 1420 H/1999 M.
  • At-Tabaqat Al-Kubra, Abu Abdillah Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ Al-Bashri, Tahqiq Muhammad Abdul Qadir ‘Atha, Darul Kutub Al-ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1410 H/1990 M.
  • Lisan Al-'Arab, Abul Fadhl Jamaluddin Muhammad bin Mukrim bin 'Ali Ibnu Mandhur Al-Anshari, Dar Shadir-Beirut, Cet. 3, Tahun 1414 H.
  • Al-Mufradat Fi Gharib Al-Qur’an, Abul Qasim Al-Husain bin Muhammad Ar-Raghib Al-Ashfahani, Tahqiq Shafwan Adnan Ad-Dawadi, Darul Qalam-Beirut, Cet. 1, Tahun 1412 H.
0