Tausiyah Ustadz


Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/N7gLyVto1rc?si=ka0Bs_YtR2fRIyYS

Tawakal dalam Perkara Rezeki

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitriah


Tawakal sebagai Kunci

Perkara rezeki adalah hal yang acapkali menjadi kekhawatiran manusia, padahal Islam sebagai agama yang sempurna, telah mengatur segalanya termasuk rezeki yang sepenuhnya dibagikan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada makhluk-Nya.

Jika kita kembali kepada Islam yang murni, mengikuti Al-Qur'an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan menemukan solusi atas berbagai permasalahan, termasuk tentang rezeki. Salah satu kunci untuk mendapatkan ketenangan dalam hal ini adalah dengan bertawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla. Tawakal adalah perintah Allah Ta’ala dalam semua urusan, termasuk urusan rezeki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ

"Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati......." (QS. Al-Furqan: 58).

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ

"....Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal: 49)

Allah Ta’ala di dalam ayat ini memerintahkan kita agar bertawakal kepada-Nya di dalam seluruh perkara.

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Al-Maidah: 23)

Di dalam seluruh perkara kita diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah. Ingatlah firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ

"Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath-Thalaq: 3)

Pertolongan Allah bagi Mereka yang Bertawakal kepada-Nya

Bertawakal kepada Allah artinya menjadikan-Nya sebagai wakil dan penolong dalam setiap urusan, baik untuk mendatangkan manfaat maupun menghindarkan dari bahaya. Ini adalah bentuk ketergantungan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan satu-satunya Dzat yang memegang kekuasaan untuk mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan.

Bagi orang-orang yang benar-benar beriman dan bertawakal, Allah akan mencukupi segala kebutuhan mereka, baik dalam urusan dunia maupun agama. Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang sepenuhnya bersandar kepada Allah, mereka tidak akan pernah kekurangan karena pertolongan dan kebutuhan yang terpenuhi datang langsung dari Allah.

Allah Menjamin Rezeki Semua Makhluk

Untuk mendapatkan rezeki, sikap tawakal kepada Allah adalah hal yang sangat penting. Kita harus bergantung kepada Allah karena Dia adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Allah menciptakan semua makhluk, termasuk manusia, jin, hewan, bakteri, dan virus, serta menjamin rezeki bagi masing-masing makhluk tersebut. Tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan tanpa diberikan rezeki olehNya. Allah-lah yang menanggung rezeki bagi semua ciptaanNya.

Dalam sebuah ayat, Allah Ta’ala mengatakan,

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

"Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 58)

وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz)." (QS. Hud: 6)

Para ilmuwan telah lama berupaya menghitung jumlah spesies makhluk hidup di bumi, meskipun menyadari keterbatasan mereka. Perkiraan awal berkisar dari 5 juta hingga 7 juta spesies. Namun, seiring berjalannya waktu dan kemajuan ilmu pengetahuan, beberapa perkiraan terbaru bahkan mencapai 1 triliun spesies.

Penghitungan ini mencakup berbagai jenis makhluk hidup, termasuk yang hidup di kedalaman laut yang ekstrem, di mana tekanan air sangat besar, tetapi kehidupan tetap ada dan mendapatkan rezeki dari Allah Jalla wa 'Ala.

Jumlah spesies yang diperkirakan mencapai triliunan ini, bahkan disebut-sebut lebih banyak dari jumlah bintang di Galaksi Bima Sakti, Allah akan berikan rezeki mereka sesuai dengan kadarnya dan sesuai dengan waktu yang Allah tentukan.

Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki. Dia menanggung rezeki bagi seluruh makhluk-Nya, bahkan sebelum mereka diciptakan. Selain spesies yang terlihat oleh manusia, ada juga makhluk gaib seperti jin, yang jumlahnya tidak ada yang tahu, kecuali Allah. Meskipun tidak terlihat, Allah Ta’ala pula yang menyediakan rezeki bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa rezeki seluruh makhluk di alam semesta ini sepenuhnya berada dalam kuasa dan jaminan Allah.

Allah telah menjamin dan menentukan rezeki setiap individu bahkan sebelum kelahiran mereka. Sejak usia empat bulan di dalam kandungan, ada malaikat diutus untuk meniupkan ruh dan menuliskan rezeki serta ajal. Penulisan rezeki ini bahkan sudah terdahulu dicatat di Lauhul Mahfuz, sebuah kitab yang memuat seluruh ketetapan. Ini menunjukkan bahwa rezeki kita sudah pasti dan ditetapkan jauh sebelum kita menginjakkan kaki di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim no. 2653).

Allah adalah penjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, sudah semestinya kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya dan menghilangkan segala kekhawatiran akan masalah rezeki. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan.

Kita diwajibkan untuk bertawakal dan bergantung kepada Allah dalam mencari rezeki, karena Allah telah menakdirkan dan menjamin rezeki masing-masing. Namun, hal ini tidak menghalangi kita untuk berusaha dan mengambil sebab-sebab yang telah Allah tetapkan untuk memperoleh rezeki tersebut. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berikhtiar sambil tetap bertawakal kepada-Nya.

Allah mengatakan,

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Jumu'ah: 10).

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

"Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya dibandingkan dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis) lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya." (HR. Bukhari no. 2074)

Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong umatnya untuk mengambil sebab untuk mendapatkan rezeki.

Para Nabi dan Figur Keteladanan

Para nabi adalah teladan dalam bekerja dan berusaha. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bekerja, Nabi Zakaria ‘alaihissalam adalah tukang kayu, dan Nabi Musa alaihissalam menjadi penggembala selama delapan tahun sebelum menikahi putri seorang shalih dari Madyan. Ini menunjukkan bahwa para nabi, meskipun paling paham agama, tetap mengambil sebab dan berusaha dalam kehidupan mereka.

Namun, mereka tetap bertawakal kepada Allah. Usaha dan tawakal bisa berjalan bersama, seseorang boleh bekerja dan berikhtiar, tetapi kebergantungan hatinya tetap hanya kepada Allah. Rezeki sejatinya bukan semata hasil usaha fisik, melainkan karena tawakal yang benar.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

"Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi no. 2344).

Penutup

Maka dari itu, berbekal dari penjelasan sebelumnya, faedah yang bisa kita ambil di sini adalah:

  1. Tawakal merupakan sebab datangnya rezeki.
  2. Tawakal yang benar harus disertai dengan usaha atau mengambil sebab.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dianjurkan untuk meneladan sikap ini. Orang yang bertawakal kepada Allah tidak hanya dimudahkan dalam urusan rezeki, tetapi juga mendapat pahala besar karena sikap tawakalnya, dan Allah memerintahkan agar hanya kepada-Nya kita bertawakal. Oleh karena itu, mintalah selalu kepada Allah Ta’ala hati yang selalu tertaut kepadaNya, sehingga dengan itu, bi’idznillah Allah Ta’ala berikan kepada kita keyakinan untuk sepenuhnya menyandarkan setiap urusan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Amin.

Wallahu a’lam bishshawab.

0