Tautan rekaman: https://youtube.com/mYP7yEV4ZTg?si=1AjaBUV55oRhjuml
Tauhid: Prioritas Dakwah Para Nabi dan Rasul
Keutamaan Dakwah
Allah berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS Fussilah: 33)
Dalam ayat ini Allah memuji setiap orang yang berdakwah kepada Allah dan mengerjakan amal shalih, bahwasanya ucapan mereka adalah sebaik-baik ucapan. Ini menunjukkan keutamaan para nabi dan rasul yang tugas utamanya adalah berdakwah. Merekalah para aimmah dalam dakwah dan contoh kita dalam berdakwah kepada Allah.
Allah juga berfirman,
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِين
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa berdakwah adalah menyeru kepada jalan Allah, bukan selain-Nya. Caranya adalah dengan hikmah, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan nasihat yang baik dan berdebat dengan cara yang paling baik. Jika terpaksa seorang dai harus berdebat, hendaknya ia memilih cara yang terbaik dari cara-cara yang dianggap baik. Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya dakwah memiliki metode-metode dan cara-cara yang disesuaikan dengan keadaan mad'u.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا
Barangsiapa mengajak kepada petunjuk/kebenaran, maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikuti itu sedikit pun.
Inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits,
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أو علم ينتفع به ، أو ولد صالح يدعو له
“Jika seorang Anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang shalih yang mendoakannya.”
- Sedekah jariyah: Harta yang diinfakkan seseorang dalam hal yang bisa dimanfaatkan dalam waktu yang lama, misalnya masjid atau pesantren. Sedekah yang mengalir. Meski orang yang bersedekah itu telah meninggal dunia, selama harta sedekahnya itu masih dimanfaatkan oleh manusia, maka dia tetap mendapat pahalanya.
- Ilmu yang bermanfaat: Seseorang berdakwah melibatkan ilmu yang bermanfaat, kemudian dimanfaatkan oleh manusia dan mereka amalkan. Selama ilmu tersebut masih diamalkan, meski orang yang mengajarkannya telah meninggal dunia, maka pahalanya tetap akan mengalir kepada orang yang mengajarkannya tersebut.
- Anak shalih yang mendoakan orang tuanya.
Ini menunjukkan keutamaan dakwah. Dakwah adalah celah. Dakwah adalah pintu bagi seseorang untuk meraih pahala yang besar.
Siapa Sebaik-Baik Manusia yang Berdakwah Laa Ilaaha Illallah
Tidak ada yang lebih baik dakwahnya melainkan para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang pilihan. Allah yang memilih mereka. Pilihan Allah pemilik ilmu yang sempurna, sehingga pilihannya pasti yang terbaik. Allah memilih para nabi dan rasul di antara sekian banyak orang untuk menyampaikan dakwah. Para nabi dan rasul adalah orang yang memiliki nasab mulia di tengah kaumnya serta akhlak yang terpuji. Allah berfirman,
ٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ ٱلنَّاسِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌۢ بَصِيرٌ
“Allah telah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Hajj: 75)
Allah memilih malaikat-malaikat. Allah juga memilih para nabi dan rasul dari kalangan manusia, yang tugasnya untuk berdakwah kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa sebaik-baik orang yang berdakwah adalah para nabi dan rasul ‘alaihimussalam.
Kita diperintahkan untuk mengikuti petunjuk mereka dan mengikuti mereka.
Allah berfirman,
اُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)
Allah menyebutkan 18 nama Nabi secara berurutan (di QS. Al-An’am ayat 84-86), kemudian 7 nama lainnya di ayat yang berbeda. Kemudian setelahnya, Allah menyebutkan di ayat ke-90 bahwa Allah memberi hidayah/petunjuk kepada para nabi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja diperintahkan untuk mengikuti para nabi sebelum beliau. Oleh karena itu, kita tentu lebih perlu mengikuti para nabi dan rasul tersebut, termasuk dalam hal dakwah.
Sebaik-baik orang yang berdakwah kepada Allah adalah para nabi dan rasul. Kisah sebagian nabi tersebut telah disampaikan di Al-Qur’an. Dalam hadits shahih riwayat Ahmad dan yang lain, disebutkan bahwa jumlah para nabi adalah 124.000 orang. Adapun yang sampai pada derajat rasul, di antara para nabi tersebut, adalah 315 orang. Tidak semuanya dikisahkan oleh Allah di Al-Qur’an. Allah berfirman,
مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir: 78)
Dari sebagian kecil ini, kita akan melihat dakwah mereka agar kita bisa mengikuti jejak dakwah mereka, sebagai pengamalan dari surah Al-An’am ayat 90.
Prioritas Dakwah Para Nabi dan Rasul
Apakah prioritas dakwah mereka? Dalam hal kekuasaan, ataukah dalam hal keutamaan amal (fadhailul a’mal), ataukah dalam hal imamah dan bai’at ataukah dalam masalah tauhid?
Jawabannya ada di Al-Qur’an. Dalil-dalil menunjukkan bahwa dakwah tauhid adalah prioritas dakwah para nabi dan rasul.
Pertama, dalil dari Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.’” (QS. An-Nahl: 36)
Rasul tersebut diutus untuk iqamatul hujjah supaya tidak ada alasan bagi manusia bahwa, “Tidak ada rasul yang diutus kepada kami.” Rasul diutus kepada setiap umat untuk mendakwahkan tauhid, yaitu menyeru kepada manusia supaya menyembah Allah dan menjauhi thaghut.
Menyembah Allah artinya adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah, yaitu tauhid. Diambil dari kata وحد (wahhada) – يوحد (yuwahhidu) – توحيدا (tawhidan).
Adapun tentang menjauhi thaghut, Ibnul Qayyim menyebutkan definisinya, bahwa thaghut adalah: Segala sesuatu yang dilebih-lebihkan oleh seseorang, baik berupa al-ma’bud (sesembahan), al-matbu’ (orang yang diikuti), atau Al-mutha’ (orang yang ditaati).
a. al-ma’bud (sesembahan). Satu-satunya yang berhak disembah hanyalah Allah karena Dia yang telah menciptakan kita dan memberi kita rezeki. Dengan demikian, semua sesembahan yang disembah selain Allah adalah thaghut.
b. al-matbu’ (orang yang diikuti). Seseorang boleh diikuti, yaitu para ulama, jika dia menghalalkan segala sesuatu yang Allah halalkan dan dia mengharamkan segala sesuatu yang Allah haramkan. Akan tetapi, kita tidak boleh mengikuti mereka sampai melampaui batas, yaitu jika mereka justru menghalalkan sesuatu yang Allah haramkan dan mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Allah berfirman,
ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam.” (QS. At-Taubah: 31)
Sebagian sahabat pernah menjadi orang Nasrani. Salah satunya adalah Adiy bin Hatim yang bercerita, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyembah mereka.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan kemudian kalian ikut menghalalkan dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan kemudian kalian ikut mengharamkan?” Maka Ady mengatakan, “Benar, demikianlah kami dahulu lakukan.” Maka Nabi bersabda, “Itulah ibadah mereka kepada pendeta-pendeta tersebut.”
Ini menunjukkan bahwa ada orang yang mengikuti ulama sampai berlebihan. Imam Syafi’i berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”
Imam Malik, guru Imam Syafi’i, berkata, “Semua orang bisa diambil atau ditolak ucapannya kecuali pemilik kubur ini.” Yang beliau maksud dengan “pemilik kubur ini” adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didasari oleh wahyu, bukan hawa nafsu. penjelasan ini menunjukkan bahwa di antara golongan yang termasuk thaghut adalah orang yang diikuti secara berlebihan.
c. Al-mutha’ (orang yang ditaati). Contoh orang yang ditaati adalah penguasa/pemerintah. Kita diperintahkan untuk menaati penguasa dalam kebaikan. Jika kita diperintahkan untuk berbuat maksiat maka kita tidak boleh menaatinya. Dasarnya adalah keumuman pada firman Allah,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59)
Seandainya seseorang tetap menaati penguasa dalam kesyirikan atau maksiat maka itulah yang disebut menaati thaghut. Ringkasnya, penguasa boleh ditaati, tetapi tidak berlebihan hingga dalam hal yang haram.
Kedua, dalil dari hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
“Para nabi itu ibarat memiliki satu ayah. Ibu mereka berbeda-beda; agama mereka adalah satu.”
Maksudnya adalah dakwah para nabi itu satu yaitu dakwah tauhid, tetapi syariat mereka berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka karena Allah Al-Hakim Maha Mengetahui hal yang paling tepat bagi mereka. Misalnya, tayammum disyariatkan kepada umat Nabi Muhammad tetapi tidak pada umat yang lain.
Allah berfirman,
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah: 48)
Rasul-rasul sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diutus kepada kaumnya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh umat manusia. Di Al-Qur’an terdapat kisah-kisah para nabi dan rasul tentang dakwah tauhid.
1. Nabi Nuh ‘alaihissalam
Disebutkan di surah Al-A’raf, surah Nuh, dan surah Luth.
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’”
Setelah Nabi Adam diturunkan ke bumi, terdapat masa 10 generasi pertama yang bersih dari kesyirikan. Kesyirikan baru terjadi pada masa Nabi Nuh akibat sikap berlebihan terhadap orang shalih. Setan membisiki kaum Nabi Nuh untuk membuat patung orang-orang shalih agar mereka semakin semangat dalam beramal shalih karena terinspirasi dengan keshalihan mereka.
Pada awalnya, masih ada orang yang berilmu di tengah mereka. Akan tetapi, setelah orang yang berilmu tersebut meninggal, setan membisiki generasi setelahnya, yang tidak berilmu, untuk menyembah patung orang-orang shalih tersebut. Itulah akibatnya jika manusia tidak berilmu.
Tatkala Nabi Nuh mengingatkan kaumnya dengan ucapan yang lembut, agar dakwahnya diterima oleh kaumnya, “Wahai kaumku …,” Nabi Nuh menegaskan bahwa orang-orang shalih tersebut tidak layak untuk disembah karena yang layak untuk disembah hanyalah Allah. Andai orang-orang shalih tersebut masih hidup, mereka pasti tidak ridha untuk disembah seperti itu.
Allah berfirman,
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَٰفِلُونَ (*) وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُوا۟ لَهُمْ أَعْدَآءً وَكَانُوا۟ بِعِبَادَتِهِمْ كَٰفِرِينَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)-nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 5-6)
Orang-orang yang jahil justru saling menyemangati dan mengingatkan satu sama lain untuk tetap berada di atas kesesatan. Misalnya dengan ucapan, “Kalau kita tidak beriman dengan orang-orang shalih tersebut, itu artinya kita meremehkan dan tidak menghormati orang-orang shalih.” Ini adalah anggapan yang keliru karena mencampurkan antara kebatilan dan kebenaran. Yang benar, kita tetap diperintahkan untuk menghormati orang shalih, tetapi tidak boleh berlebihan.
Allah berfirman tentang kisah orang-orang yang sesat tersebut,
وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr.’” (QS. Nuh: 23)
Ini adalah nama orang-orang shalih yang hidup pada masa Nabi Nuh yang kemudian disembah oleh kaumnya. Dakwah Nabi Nuh selama 950 tahun berkisar pada dakwah tauhid.
2. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
Disebutkan di Al-Qur’an,
وَإِبْرَٰهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.’” (QS. Al-‘Ankabut: 16)
Nabi Ibrahim mendakwahi kaumnya, termasuk pula ayahnya yang musyrik. Allah berfirman tentang hal tersebut,
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِى عَنكَ شَيْـًٔا
“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?’” (QS. Maryam: 42)
Seseorang menyembah sesuatu karena ingin mendapat manfaat dan terhindar dari mudarat. Dengan demikian, bagaimana mungkin kita menyembah sesuatu yang bahkan tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar sedikitpun. Adapun Allah, Dia Maha Melihat lagi Maha Mendengar, serta dapat memberi manfaat dan menghindarkan mudarat.
3. Nabi Hud ‘alahissalam
Allah mengutus Nabi Hud kepada kaum ‘Ad. Allah berfirman,
وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS. Al-A’raf: 65)
Kaumnya membantah. Allah berfirman,
قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ
“Kaum 'Ad berkata, ‘Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.’” (QS. Hud: 53)
4. Nabi Shalih ‘alahissalam
Allah mengutus Nabi Shalih kepada kaum Tsamud untuk mendakwahkan tauhid.
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Shalih berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.’” (QS. Hud: 61)
Namun, kaumnya enggan menerima dakwah tersebut. Allah berfirman,
قَالُوا۟ يَٰصَٰلِحُ قَدْ كُنتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَآ ۖ أَتَنْهَىٰنَآ أَن نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِى شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُونَآ إِلَيْهِ مُرِيبٍ
“Kaum Tsamud berkata, ‘Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.’”
Mereka menolak dakwah Nabi Shalih karena keinginan untuk tetap berada di atas agama nenek moyang mereka.
5. Nabi Syu’aib ‘alahissalam
Allah berfirman tentang dakwah Nabi Syu’aib,
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib. Dia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.’” (QS. Hud: 84)
Ucapannya sama dengan ucapan Nabi Hud, Nabi Nuh, dan selainnya.
6. Nabi Isa ‘alahissalam
Nabi Isa mengingatkan kaumnya tentang dakwah tauhid dan bahaya kesyirikan. Allah berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam,’ padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)
وَإِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِى بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُۥ فَقَدْ عَلِمْتَهُۥ ۚ تَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِى وَلَآ أَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.’” (QS. Al-Maidah: 116)
Itulah dakwah Nabi Isa kepada Bani Israil untuk bertauhid.
7. Nabi Ya’qub ‘alahissalam
Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq. Beliau berpesan kepada putra-putranya tentang perkara tauhid. Allah berfirman,
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq; (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 133)
Ayat tersebut menunjukkan perhatian Nabi Ya’qub terhadap akidah anak-anaknya sepeninggalnya. Beliau berpesan kepada mereka untuk mentauhidkan Allah.
8. Nabi Yusuf ‘alahissalam
Ketika Nabi Yusuf berada di penjara, beliau mengajarkan tauhid kepada sesama penghuni penjara. Allah berfirman,
يَٰصَىٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ ءَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ (*) مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَٰنٍ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 39-40)
9. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Pada masa 10 tahun pertama dakwahnya adalah tentang tauhid. Barulah ketika beliau berada di Madinah, perintah syariat diturunkan. Itu menunjukkan betapa pentingnya penanaman tauhid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ, وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ, وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ, فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintahkan (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk memerangi manusia, sampai mereka bersyahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadarrasulullah, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Apabila mereka melakukan perbuatan itu semua, maka terpeliharalah dariku harta dan darah mereka kecuali dengan haknya. Dan hisabnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz sebagai dai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya,
إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْـمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Laa Ilaaha Illallaah wa anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mentaati hal itu, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil) dari harta terbaik mereka, dan lindungilah dirimu dari doa orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak satu penghalang pun antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Ta’ala juga berfirman,
قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا
“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, ...’” (QS. Al-An'am: 151)
Hal pertama yang diperintahkan adalah tauhid. Itu menunjukkan bahwa tauhid adalah prioritas dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keutamaan Tauhid
Setelah kita melihat dakwah para nabi dan rasul, kita memahami bahwa dakwah tauhid adalah jalan yang lurus. Dakwah mereka adalah satu, yaitu tauhid. Oleh sebab itu, barang siapa yang mendustakan satu rasul maka itu sama saja dengan mendustakan rasul yang lain. Allah berfirman,
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ
“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu'ara: 105)
Yang diutus kepada kaum Nuh hanya satu rasul, yaitu Nuh ‘alaihissalam. Namun, pada ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa mereka mendustakan al-mursalin (para rasul). Dengan demikian, ayat ini adalah dalil bahwa mendustakan satu rasul artinya sama saja dengan mendustakan seluruh rasul.
1. Tauhid adalah syarat masuk surga. Orang yang menyekutukan Allah diharamkan masuk surga. Allah berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)
Jika Allah mengharamkan surga atas seseorang, maka bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalamnya?
Dalam hadits juga disebutkan,
مَن مات لا يشركُ باللهِ شيئًا دخل الجنةَ، ومَن مات يشركُ باللهِ شيئًا دخل النارَ
“Barang siapa yang mati, tanpa berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, ia masuk surga. Barang siapa yang mati dalam keadaan membawa dosa syirik, maka ia masuk neraka” (HR. Muslim)
2. Tauhid adalah sebab diampuninya dosa. Selama orang bertauhid maka masih ada harapan baginya untuk diampuni oleh Allah. Allah berfirman dalam hadits qudsi,
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi)
3. Dakwah tauhid adalah dakwah yang bisa menyatukan manusia. Yang mencerai-beraikan manusia adalah hawa nafsunya karena setiap orang memiliki kepentingan. Dengan dakwah tauhid, mereka menyembah Tuhan yang sama, sehingga dengan itulah mereka akan bersatu.
Penutup
Para nabi dan rasul juga mengingkari kemungkaran dan maksiat di tengah kaumnya, tetapi prioritas mereka adalah tauhid. Hendaknya para dai menyeru manusia kepada tauhid dan menjelaskan berbagai keutamaannya tauhid.