Aqidah
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Tauhid Menggema dalam Rangkaian Ibadah Haji

Penulis: Abu Ady

Editor: Athirah Mustadjab


Musim Haji saatnya kaum muslimin berkumpul dari berbagai penjuru negeri. Tanah Suci menjadi saksi letih dan peluh para hamba Ilahi. Rangkaian ibadah haji adalah musim ketaatan di tempat paling suci di bumi. Darinya, tauhid menggema di dalam hati, hingga tampak dalam setiap ucapan dan gerakan. Memahami haji tanpa memahami tauhid adalah kekeliruan mendasar karena seluruh bangunan ibadah haji berdiri di atas fondasi pengesaan kepada Allah semata. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฅูุฐู’ ุจูŽูˆู‘ูŽุฃู’ู†ูŽุง ู„ุฅุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุชูุดู’ุฑููƒู’ ุจููŠ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽุทูŽู‡ู‘ูุฑู’ ุจูŽูŠู’ุชููŠูŽ ู„ูู„ุทู‘ูŽุงุฆููููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุฆูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุฑู‘ููƒู‘ูŽุนู ุงู„ุณู‘ูุฌููˆุฏู โ€Œโ€Œ

โ€œDan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), โ€˜Jangan sekutukan Aku dengan apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, yang beribadah, serta yang rukuk dan sujud.โ€™โ€ (QS. Al-Hajj: 26)

Dalam Tafsir Ibn Katsir, 5:413, dijelaskan makna ayat di atas:

  • Jangan sekutukan Aku: Bangunlah rumah itu dengan menyebut nama-Ku semata.
  • Dan bersihkanlah rumah-Ku: (Membersihkan) dari kesyirikan.
  • Untuk orang-orang yang tawaf, yang beribadah, serta yang rukuk dan sujud: Jadikanlah rumah itu khusus bagi mereka yang beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu.

Ayat ini menunjukkan bahwa sejak awal, pembangunan Kaโ€™bah di Makkah telah diikat dengan tauhid. Perintah pertama yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim bukanlah meninggikan Kaโ€™bah secara fisik semata, melainkan membangunnya di atas prinsip โ€œtidak boleh ada syirik sedikit punโ€. Dengan demikian, barang siapa yang berhaji ke Baitullah, sejatinya ia sedang memasuki wilayah tauhid yang harus dijaga kemurniannya.

Sepanjang rangkaian ibadah haji, nilai-nilai tauhid terus menggema karena seluruh bentuk ibadah yang dilakukan di dalamnya menuntut keikhlasan dan ketundukan. Seorang jamaah meninggalkan negerinya, hartanya, dan keluarganya. Ia menempuh perjalanan panjang, menghadapi kesulitan fisik, berdesakan dengan manusia, dan menjalani rangkaian ibadah yang tidak ringan. Semua itu tidak akan mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang benar-benar mengarahkan hatinya kepada Allah.

โ€œLillahโ€: Roh Seluruh Manasik

Di antara ayat yang paling agung dalam pembahasan haji adalah firman Allah,

ูˆูŽุฃูŽุชูู…ู‘ููˆุง ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู…ู’ุฑูŽุฉูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู

โ€œDan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.โ€ (QS. Al-Baqarah: 196)

Kata โ€œู„ูู„ู‘ูŽู‡ูโ€ dalam ayat ini adalah roh dari seluruh manasik. Ia menjadi prinsip dasar yang menentukan apakah ibadah seseorang diterima atau tidak. Seluruh rangkaian haji harus dibangun di atas keikhlasan total kepada Allah, tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk selain-Nya.

Makna ini menunjukkan bahwa โ€œlillahโ€ bukan sekadar niat di awal, tetapi harus terus dijaga sepanjang manasik. Sejak seseorang berniat berangkat haji, saat ia mengucapkan talbiyah, ketika ia tawaf dan saโ€™i, hingga sewaktu ia kembali ke negerinya; semua harus berada dalam bingkai keikhlasan.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, โ€œPelaksanaan haji dan umrah yang sempurna adalah dengan cara berihram dari tempat tinggalmu, dengan tujuan semata berhaji dan umrah, dan engkau bertalbiyah (memulai ihram) dari miqat. (Yang benar) Bukanlah seperti orang yang keluar untuk berdagang atau untuk urusan tertentu, hingga ketika sudah dekat dengan Makkah, ia berkata, โ€˜Seandainya aku berhaji atau berumrah,โ€™ kemudian ia melaksanakannya. Ini memang sah, tetapi yang sempurna adalah sejak awal engkau keluar memang untuk tujuan haji atau umrah; bukan untuk tujuan selain keduanya.โ€ (Tafsir Ibnu Katsir, 1:531)

Tentang niat, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู„ููƒูู„ู‘ู ุงู…ู’ุฑูุฆู ู…ูŽุง ู†ูŽูˆูŽู‰

โ€œSesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya.โ€ (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Nilai ibadah tidak terletak pada besarnya amal, melainkan pada keikhlasan. Seseorang bisa melakukan haji dengan sempurna secara lahiriah, tetapi jika niatnya tercampur dengan riya atau ambisi dunia, ia kehilangan hakikat ibadah tersebut.

Dalam ibadah haji, ujian keikhlasan menjadi semakin besar. Perjalanan ini mahal, terlihat, dan sering kali menjadi pusat perhatian orang banyak. Di sinilah โ€œlillahโ€ benar-benar diuji: Apakah seseorang tetap menjaga keikhlasannya, atau justru tergelincir dalam riyaโ€™ dan ingin dipuji?

โ€œLillahโ€ juga berarti bahwa seluruh tujuan haji harus kembali kepada Allah; bukan untuk status sosial, gelar, atau kebanggaan keluarga. Lepaskan semua niat yang ditujukan kepada selain Allah.

Ihram: Melepaskan Dunia, Memurnikan Keikhlasan

Ketika seorang Muslim memasuki miqat lalu mengenakan pakaian ihram, sesungguhnya ia sedang memasuki tempat dan waktu yang sangat mulia. Dua helai kain putih yang sederhana itu melambangkan pelepasan diri dari kemewahan dunia. Tiada identitas sosial atau kepongahan pribadi yang dipajang. Segala atribut duniawi dilepaskan.

Raja maupun rakyat jelata akan tampak sama dalam balutan kain ihramnya. Si kaya dan si miskin tak lagi memiliki pembeda. Semua berdiri dalam keadaan yang serupa di hadapan Allah. Inilah pelajaran pertama perihal tauhid dalam ibadah haji, yaitu kemuliaan sejati bukan pada balutan kain yang dikenakan, melainkan pada siapa ketaatan itu ditujukan.

Ihram mengajarkan bahwa manusia harus melepaskan ketergantungannya kepada makhluk. Selama hidup, manusia sering terikat oleh banyak hal, seperti penampilan, jabatan, harta, dan sanjungan. Namun, tatkala berihram, semua itu ditanggalkan.

Pakaian ihram juga mengingatkan manusia pada kain kafan. Dua lembar kain putih itu menyerupai pakaian terakhir seorang manusia sebelum menghadap Allah. Oleh karenanya, sesungguhnya setiap jamaah sedang diingatkan bahwa suatu hari nanti ia akan berdiri di hadapan Allah sendirianโ€”tanpa harta, tanpa keluarga, dan tanpa gelar.

Dalam ihram juga terdapat larangan-larangan tertentu: tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh memotong rambut, tidak boleh berburu, dan tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Semua ini mendidik jiwa agar tunduk, meskipun kadang tidak dipahami seluruh hikmahnya. Dengan demikian, ihram adalah awal perjalanan tauhid, tatkala seorang hamba meninggalkan dirinya sendiri untuk kembali kepada Rabb-nya.

Talbiyah: Pengakuan Tauhid sepanjang Perjalanan

Di antara syiar haji yang paling menggugah hati adalah talbiyah. Dalam zikir tersebut, pengakuan tauhid terus berkumandang sepanjang perjalanan. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengajarkan lafaznya,

ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽุŒ ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽ ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽูƒูŽ ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูุนู’ู…ูŽุฉูŽ ู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽุŒ ู„ูŽุง ุดุฑูŠูƒ ู„ูƒ

โ€œAku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.โ€ (HR. Bukhari no. 1474)

Kalimat ini mengandung tauhid yang mendalam. Setiap bagiannya adalah pengakuan bahwa tidak ada sekutu bagi Allah, baik dalam ibadah, pujian, pengakuan nikmat, dan maupun kekuasaan.

Talbiyah adalah jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah yang diseru oleh Nabi Ibrahim dalam firman-Nya,

ูˆูŽุฃูŽุฐู‘ูู†ู’ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู

โ€œSerulah manusia untuk berhaji.โ€ (QS. Al-Hajj: 27)

Talbiyah adalah jawaban hati seorang mukmin terhadap panggilan tauhid yang telah diserukan sejak ribuan tahun lalu. Di masa jahiliyah, orang-orang musyrik juga memiliki talbiyah, tetapi mereka mencampurkannya dengan kesyirikan. Mereka berkata,

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ: ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽ ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽูƒูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: "ูˆูŽูŠู’ู„ูŽูƒูู…ู’! ู‚ูŽุฏู’. ู‚ูŽุฏู’" ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ: ุฅูู„ู‘ูŽุง ุดูŽุฑููŠูƒู‹ุง ู‡ููˆูŽ ู„ูŽูƒูŽ. ุชูŽู…ู’ู„ููƒูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽ. ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุทููˆูููˆู†ูŽ ุจุงู„ุจูŠุช.

โ€œDahulu orang-orang musyrik mengucapkan, โ€˜Labbaik, tidak ada sekutu bagi-Mu.โ€™ Lalu, Rasulullah bersabda, โ€˜Celaka kalian! Cukup! Cukup!โ€™ Namun, mereka tetap berkata, โ€˜Kecuali satu sekutu yang Engkau miliki; Engkau menguasainya dan segala sesuatu yang ia miliki.โ€™ Mereka mengucapkan itu ketika sedang tawaf di Baitullah.โ€ (HR. Muslim no. 1185)

Mereka mengakui Allah, tetapi memberi ruang bagi sekutu untuk-Nya. Oleh sebab itu, Islam datang membersihkan talbiyah itu sehingga kembali murni.

Talbiyah juga mengajarkan bahwa hidup seorang Muslim harus selalu menjawab panggilan Allah. Ketika Allah memerintah, ia berkata, โ€œLabbaik.โ€ Ketika Allah melarang, ia berkata, โ€œLabbaik.โ€ Ketika Allah menguji, ia tetap berkata, โ€œLabbaik.โ€

Maka talbiyah bukan hanya ucapan jamaah haji. Ia seharusnya menjadi sikap hidup seorang mukmin; siapa pun ia, di mana pun ia berada.

Tawaf: Poros Kehidupan berputar pada Allah

Tawaf adalah salah satu syiar terbesar dalam ibadah haji yang melambangkan kehidupan seorang hamba yang seharusnya berputar hanya pada satu pusat, yaitu ketundukan pada Allah. Banyak manusia hidup dengan pusat yang berbeda: ada yang berputar pada harta, pada jabatan, pada manusia, atau pada dirinya sendiri. Namun, pusat hidup seorang mukmin adalah meraih ridha Rabb-nya.

Ketika jutaan manusia mengelilingi Kaโ€™bah dengan arah yang sama, tanpa komando atau paksaan, di sanalah tauhid tergambar. Seluruh manusia harus tunduk pada satu Rabb, satu tujuan, dan satu orientasi. Gerakan tawaf yang terus berulang tanpa henti menggambarkan kesinambungan ibadah. Tidak ada titik akhir dalam penghambaan. Selama hidup, seorang hamba harus terus โ€œbertawafโ€ dengan hatinya mengelilingi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan mengarahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุทู‘ูŽูˆู‘ูŽูููˆุง ุจูุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ุงู„ู’ุนูŽุชููŠู‚ู

โ€œDan hendaklah mereka melakukan tawaf di sekeliling Baitullah yang tua itu.โ€ (QS. Al-Hajj: 29)

Namun, penting untuk dipahami, Kaโ€™bah bukanlah tujuan ibadah, tetapi arah ibadah. Ia tidak disembah. Tidak pula memiliki kekuatan gaib. Ia hanyalah syiar yang Allah muliakan. Perkataan Umar bin Khattab menjadi penjelas yang sangat kuat ketika beliau mencium hajar aswad,

ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽุฌูŽุฑูŒ ู„ูŽุง ุชูŽุถูุฑู‘ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ููŽุนูุŒ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ููŠ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ูŠูู‚ูŽุจู‘ูู„ููƒูŽ ู…ูŽุง ู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชููƒูŽ

โ€œSesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak memberi manfaat dan tidak pula mudarat. Seandainya aku tidak melihat Nabi menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.โ€ (HR. Bukhari no. 1520 dan Muslim no. 1270)

Ucapan ini adalah perwujudan tauhid yang murni. Ia menegaskan bahwa semua amalan haji harus dibangun di atas ittibaโ€™, bukan pada keyakinan tanpa dasar.

Saโ€™i: Antara Ikhtiar dan Tawakal

Saโ€™i antara Shafa dan Marwah adalah salah satu manasik yang sarat dengan pelajaran tauhid, khususnya dalam hal tawakal. Yang tampak memang perjalanan bolak-balik dari satu titik ke titik lain, tetapi sejatinya saโ€™i menghidupkan kembali kisah agung Hajar yang mulia, yang berlari mencari air untuk anaknya tanpa bantuan seorang pun. Allah Taโ€™ala berfirman,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽููŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ูˆูŽุฉูŽ ู…ูู† ุดูŽุนูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

โ€œSesungguhnya Shafa dan Marwah adalah bagian dari syiar-syiar Allah.โ€ (QS. Al-Baqarah: 158)

Saโ€™i mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Hajar tidak duduk diam menunggu pertolongan. Ia berlari, berusaha, dan berbolak-balik, meskipun secara logika tidak ada sumber air di sana. Namun, di saat yang sama, hatinya tidak bergantung kepada usahanya, melainkan kepada Allah.

Di sinilah letak keseimbangan tauhid yaitu antara usaha dan ketergantungan hati. Banyak manusia terjatuh dalam dua kesalahan: ada yang hanya mengandalkan usaha tanpa tawakal, dan ada yang mengaku tawakkal tetapi meninggalkan usaha. Saโ€™i mengoreksi keduanya. Ia mengajarkan bahwa seorang hamba harus berusaha maksimal, tetapi tetap menyadari bahwa hasilnya hanya datang dari Allah.

Air Zamzam, yang kemudian muncul, bukan hasil usaha Hajar semata, melainkan tersembur dari dalam bumi atas rahmat Allah Taโ€™ala. Ini mengajarkan bahwa penyebab tidak selalu melahirkan hasil, dan hasil tidak selalu datang dari sebab yang tampak. Karenanya, saโ€™i adalah pelajaran tauhid dalam bentuk kehidupan nyata: berusahalah sekuat tenaga, dan selalu bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Dalam semua urusan, baik ketika tengah berhaji maupun dalam kondisi selain itu, seorang Muslim harus bersandar kepada Allah. Namun, waspadalah dari munculnya โ€œtawakal palsuโ€, yaitu ketika seseorang bergantung pada sebab-sebab dunia, tetapi hatinya tidak lagi bergantung kepada Allah.

Dalam perjalanan haji, manusia sering sibuk dengan persiapan logistik seperti tiket, hotel, makanan, transportasi, fasilitas, dan sebagainya. Semua ini memang penting dan termasuk bagian dari ikhtiar. Namun, masalah muncul ketika hati mulai bergantung sepenuhnya pada sebab-sebab tersebut, dan melupakan bahwa yang mengatur semuanya adalah Allah.

Arafah: Puncak Kehinaan di Hadapan Rabb

Wukuf di Arafah adalah puncak ibadah haji. Di sinilah seorang hamba berdiri dalam keadaan paling hina, paling lemah, dan paling membutuhkan Rabb-nya. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉู

โ€œHaji adalah Arafah. โ€œ(HR. Tirmidzi no. 889)

Hadits ini menunjukkan bahwa inti haji terletak pada ibadah di Arafah. Allah Taโ€™ala berfirman,

ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽูููŠุถููˆุง ู…ูู†ู’ ุญูŽูŠู’ุซู ุฃูŽููŽุงุถูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

โ€œKemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.โ€ (QS. Al-Baqarah: 199)

Arafah adalah gambaran hari kiamat. Manusia berkumpul di satu tempat, tanpa perbedaan, tanpa kebanggaan dunia. Semuanya takut kepada Allah sembari mengharap ampunan-Nya. Di sinilah tauhid mencapai puncaknya. Tiada lagi tempat bergantung selain Allah. Tiada lagi yang bisa diharapkan selain rahmat-Nya. Seorang hamba yang memahami Arafah akan pulang dengan hati yang berbeda. Ia telah merasakan kehinaan di hadapan Allah, dan itu cukup untuk meruntuhkan kesombongan yang selama ini menguasai dirinya.

Jamarat: Pernyataan Perang terhadap Setan

Melempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap setan dan hawa nafsu yang terus menggoda manusia sepanjang hidupnya. Ibadah ini menghidupkan kembali kisah Nabi Ibrahim ketika digoda oleh setan dalam perjalanannya melaksanakan perintah Allah. Ia tidak berdebat, tidak menunda. Namun, ia langsung melempari makhluk terlaknat itu sebagai bentuk penolakan total. Allah Taโ€™ala berfirman,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุนูŽุฏููˆู‘ูŒ ููŽุงุชู‘ูŽุฎูุฐููˆู‡ู ุนูŽุฏููˆู‘ู‹ุง

โ€œSesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.โ€ (QS. Fathir: 6)

Melempar jumrah adalah pernyataan bahwa seorang Muslim siap melawan setan, bukan hanya di Mina, tetapi sepanjang hidupnya. Setiap batu yang dilempar adalah simbol tekad untuk menolak bisikan setan, menolak hawa nafsu, dan menolak segala yang menjauhkan dari Allah. Namun, hakikatnya, yang harus dilempar bukan hanya jumrah, tetapi juga sifat-sifat busuk dalam diri seperti kesombongan, riya, iri, cinta dunia, dan segala penyakit hati. Jika seseorang selesai melempar jumrah, tetapi ia masih tunduk kepada hawa nafsunya, maka ia belum memahami makna ibadah ini.

Penutup

Haji adalah masa bergemanya tauhid. Bersamanya juga terdapat ujian keikhlasan karena kesyirikan bisa hadir tanpa disadari. Syirik besar maupun syirik kecil sama-sama berbahaya. Riyaโ€™, misalnya, bisa berawal dari postingan ibadah yang dipublikasikan di media sosial pribadi.

Benarlah adanya, menjaga kemurnian niat adalah kunci utama dalam menunaikan ibadah haji. Kemurnian niat ini juga menuntut pemahaman yang benar tentang ibadah, termasuk dalam mencari berkah atau tabarruk, yang hanya boleh berdasarkan dalil, seperti air Zamzam, mencium Hajar Aswad, atau mengharap keberkahan Masjidil Haram karena mengikuti Nabi. Adapun praktik sesat (seperti mengusap makam Ibrahim, mencium dinding Kaโ€™bah, mengambil tanah di lokasi manasik, atau meyakini bahwa benda lain memiliki keutamaan padahal tidak ada dalil shahihnya) adalah penyimpangan yang mencederai tauhid.

Kemurnian tauhid juga harus tercermin dalam tata cara ibadah yang benar. Dengan demikian, dalam manasik haji tidak boleh ada tambahan tata cara atau bacaan doa/zikir tertentu tanpa dalil shahih karena setiap amalan yang dikarang tanpa dalil adalah bidโ€™ah, dan bidโ€™ah itu tergolong kesesatan yang dapat merusak tauhid.

Pada akhirnya, seluruh rangkaian ini bermuara pada tujuan haji yang sesungguhnya, yaitu melahirkan perubahan hati menjadi lebih ikhlas dan tawadhuโ€™, serta semakin menjauhi syirik dan bidโ€™ah. Itulah hakikat haji, sebagai perjalanan menuju tauhid yang lebih murni.

Referensi

  • Shahih Bukhari, Imam Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
2