Tarbiyatul Aulad
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Tauhid, Kesabaran, dan Cinta Baitullah: Tiga Nyawa Pendidikan Anak Berdasarkan Teladan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz dan Indah Ummu Halwa

Editor: Athirah Mustadjab


Tujuan adalah penentu arah bagi orang tua dalam mendidik anak. Dengan menetapkan tujuan, orang tua lebih mudah mengetahui arah yang akan ditempuh. Jika tujuan jelas, arah pun jelas. Beda cerita jika yang ada hanya orientasi semu: anak harus pintar, berprestasi, dan layak dibanggakan di depan orang banyak; hasilnya tiada lain hanyalah kerapuhan.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ayahanda para nabi, mencontohkan tiga nyawa pendidikan yang wajib ditanamkan dalam jiwa anak sejak dini. Tauhid, sabar, dan cinta Baitullah adalah tiga poin wajib yang harus ada dalam kurikulum pendidikan setiap keluarga muslim. Nabi Ismail dan Nabi Ishaq ‘alaihimassalam adalah bukti nyata dari prinsip pendidikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Tiga Nyawa Pendidikan

Pertama, mentauhidkan Allah

Dalam pendidikan Islam, tauhid merupakan inti tarbiyah. Darinya, hati anak diarahkan agar senantiasa terikat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika tauhid benar-benar baik, semua amal pun akan baik. Menyadari hal tersebut, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam secara detail berdoa terkait tiga hal bagi anak-anaknya:

  • mempersembahkan ibadah hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla (QS. Al-Baqarah: 127),
  • menjauhi kesyirikan (QS. Ibrahim: 35), dan
  • menegakkan shalat (QS. Ibrahim: 40).

Di rumah, Aba dan Umma dapat mempraktikkan hal berikut untuk menanamkan tauhid pada diri anak.

  • Biasakan anak mengaitkan setiap aktivitas dengan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan kalimat sederhana, misalnya, “Kita menyelesaikan tugas ini karena Allah suka anak yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.”
  • Jika anak menjumpai kesulitan ketika mengerjakan sesuatu, ingatkan dia untuk mengucapkan hauqalah (laa hawla wa laa quwwata illaa billaah) agar Allah mampu mengubah kesulitan itu menjadi kemudahan.

Kedua, kesabaran di Jalan Allah

Betapa sabarnya Nabi Ismail ‘alaihissalam tatkala beliau diuji dengan perintah penyembelihan. Tiada bantahan atau pemberontakan. Darinya, hanya terujar, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”[1]

Apakah Aba dan Umma juga mendamba anak yang demikian mulianya? Sungguh kepatuhan dan kesabaran semacam itu tidaklah muncul serta-merta. Ia adalah hasil tempaan sejak dini. Bahkan, hasil studi juga menyatakan hal yang sama bahwa karakter yang kuat itu tumbuh dari pembiasaan serta contoh nyata yang konsisten.[2]

Untuk membentuk kepribadian anak yang bersabar di jalan Allah, Aba dan Umma bisa mempraktikkan ide berikut.

  • Jelaskan kepada anak bahwa kesabaran terdiri atas tiga macam: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi dosa, dan sabar dalam menjalani takdir Allah.
  • Beritahukan pada anak bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar.
  • Buatlah aturan di rumah yang disepakati bersama anak. Ingatkan anak bahwa pelanggaran terhadap aturan tersebut pasti memiliki konsekuensi. Misalnya, ketika sedang melaksanakan shalat, anak wajib bersikap tenang, bukan bermain-main.

Ketiga, cinta Baitullah

Selain perintah Allah untuk menyembelih Ismail, momen lain yang tak kalah berkesan dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya adalah tatkala Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan beliau untuk membangun Ka’bah.[3] Proyek kebaikan ini menjadi inspirasi bagi setiap orang tua muslim untuk bertanya pada dirinya masing-masing, “Proyek kebaikan apa yang akan saya rencanakan bersama anak-anak saya?”

Baitullah—kiblat kaum muslimin dari segala penjuru—bukan sekadar bebatuan biasa yang tersusun. Di sana ada gambaran ketundukan, ketulusan, dan harapan. Berkiblat padanya bukan sekadar simbolisme kosong. Ia adalah wujud kepatuhan seorang hamba, terhadap perintah Rabb-nya, untuk rukuk dan sujud lima kali setiap hari. Bertawaf mengelilinginya adalah ketulusan demi meraih cinta dan Ridha Allah Ta’ala. Memandang kokohnya Ka’bah mengingatkan pada harapan Nabi Ibrahim bahwa jerih payahnya membangun Baitullah akan menjadi amal shalih yang diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Seselesainya Ka’bah terbangun, Nabi Ibrahim berdoa,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Wahai Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Selain itu, keberadaan Baitullah menumbuhkan kerinduan di hati setiap mukmin untuk menziarahinya dan beribadah di sana. Inilah bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diabadikan dalam surah Ibrahim ayat ke-37; Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

“Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Bahkan, orang yang sudah menziarahi Ka’bah tetap ingin kembali lagi dan lagi. Padahal, yang dikunjungi “hanyalah” Makkah, dengan bangunan sederhana berbentuk kotak yang terbuat dari batu, yaitu Ka’bah. Namun, berkat doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Allah ‘Azza wa Jalla menanamkan kerinduan dalam hati orang-orang untuk kembali ke Makkah, baik untuk haji maupun umrah. [4] 

Aba dan Umma, untuk menanamkan kecintaan pada Baitullah di hati anak, silakan coba kiat di bawah ini.

  • Ceritakan kisah sejarah pembangunan Ka’bah dan pensyariatan haji dan umrah.
  • Ajak, libatkan, dan latih anak untuk mengisi waktu-waktu di bulan haram dengan amal-amal shalih dan ibadah rutin, baik yang wajib maupun sunnah, sesuai kemampuan anak.

Bersama Teladan dan Doa

Pertama, orang tua sebagai uswah

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tak sendirian dalam membina ketakwaan di tengah keluarganya. Bersamanya, ada Sarah, sang istri tercinta, yang dikenal sebagai wanita shalihah, menjaga dirinya, dan takut pada Rabb-nya. Selain Sarah, ada Hajar—juga merupakan istri Nabi Ibrahim—yang menjadi teladan nyata dalam kesabaran, kegigihan, dan tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.[5] 

Benarlah kiranya bahwa untuk mendidik anak-anak agar menjadi shalih dan shalihah diperlukan kerja sama antara ayah dan ibu. Dari dua sosok itulah, anak akan belajar banyak hal. Dari keduanya pula, anak akan meniru banyak perilaku. Anak belajar bukan hanya dari nasihat yang didengar, melainkan juga dari “pemandangan” yang dilihat setiap hari. Selain menyerap kata-kata, anak juga mengadaptasi cara hidup orang tuanya.[6] Karenanya, Aba dan Umma, manakah yang kita pilih: menjadi teladan dalam kebaikan atau contoh dalam keburukan?

Kedua, anak adalah subjek

Salah satu kesalahan dalam pola asuh adalah memposisikan anak hanya sebagai objek yang wajib menaati perintah: anak disuruh, diatur, dan dituntut tanpa diajak untuk memahami. Padahal, dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kita belajar bahwa orang tua perlu melibatkan anak dalam diskusi agar dia turut memahami sesuatu yang akan dia lakukan. Di dalam Al-Qur’an dicontohkan,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak langsung memaksa, melainkan mengawali dengan mengajak Nabi Ismail berdiskusi. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap diri anak, serta latihan untuk mengasah logika dan kepekaannya agar tetap bermuara pada ketundukan pada syariat Ilahi.

Terinspirasi dari pola didik Nabi Ibrahim, Aba dan Umma coba lakukan hal berikut.

  • Hindari komunikasi satu arah terus-menerus. Jika kondisi memungkinkan, ajak anak berdiskusi ringan dalam berbagai kesempatan.
  • Ketika anak berbuat suatu kesalahan, tanyakan, “Mengapa kamu melakukan itu?” Luangkan waktu untuk mendengarkan penjelasan anak hingga selesai. Hargai pendapatnya, tanpa menyela atau meremehkan. Namun, tetap luruskan dan nasihati jika ada pemikirannya yang bertentangan dengan aturan agama atau norma di masyarakat.

Ketiga, pilih lingkungan yang menyuburkan iman

Penempatan Hajar dan Ismail di lembah Mekkah yang tandus didasari oleh perintah Allah ‘Azza wa Jalla.[7] Di tempat yang menjadi pilihan Allah itulah Ismail tumbuh dan berkembang. Hasilnya, terbentuklah pribadi Nabi Ismail ‘alaihissalam yang tangguh dalam menghadapi ujian demi ujian, berbakti kepada orang tua, dan tunduk pada seluruh perintah Allah ‘Azza wa Jalla.[8] 

Dari sini kita belajar bahwa dalam pendidikan anak, lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Allah Ta’ala memilih Makkah sebagai tempat terbaik untuk tumbuh kembang Ismail. Perjalanan keluarga Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

"Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)

Lingkungan tak kalah penting dibandingkan isi rumah. Oleh sebab itu, Aba dan Umma dapat menerapkan contoh di bawah ini.

  • Tutup akses atau hindari anak dari paparan konten/tontonan yang merusak aqidah.
  • Hidupkan rumah dengan Al-Qur’an, ibadah-ibadah sunnah dan zikir yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Bimbing dan pantau anak agar dapat memilah pergaulan dan memilih teman-teman yang baik.

Keempat, selalu beriring doa

Kita tahu bahwa doa adalah kunci keberhasilan atas segala upaya. Tanpa pertolongan-Nya, seorang hamba tidak akan mampu melakukan apa-apa. Hal ini juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang senantiasa mengiringi ikhtiarnya dengan doa-doa yang indah. Di antara doa beliau yang sangat masyhur,

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“(Ibrahim berdoa), ‘Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.’” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Dengan demikian, Aba dan Umma, jangan lupakan salah satu kunci utama keberhasilan ini. Sungguh, hanya Allah Ta’ala yang bisa memberi taufik kepada setiap orang tua beserta anak-anaknya agar dapat berada di jalan yang diridhai dan diberkahi oleh-Nya.

Semoga Manis Buahnya

Seorang petani, setelah menanam benih, berusaha memberikan perawatan terbaik agar tumbuhlah pohon yang lebat nan berbuah manis. Dengan mencontoh Nabi Ibrahim, Aba dan Umma menjadikan tauhid, kesabaran, dan cinta Baitullah sebagai nyawa pendidikan di rumah. Sebagaimana hasil terbaik telah diperoleh Nabi Ibrahim melalui metode pendidikannya, semoga Aba dan Umma juga dapat merasakan manis yang sama.

Teladan yang diberikan, doa yang dipanjatkan, dan tawakal yang menjadi keniscayaan merupakan bukti bahwa Aba dan Umma telah berusaha keras. Akhir harapan kita bersama,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ ذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari (Shulthaniyyah), Al-Maktabah Asy-Syamilah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Ibnu Katsir, Qashahul Anbiya’, Mathba’ah Dar at-Ta’lif: Kairo, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A., Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam, Penerbit UFA Office, Cet ke-2, November 2024.
  • Agustina, Elsi, dkk., Peran Keteladanan Orang Tua dalam Membangun Kebiasaan Positif Anak, JUPERAN: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 04, No. 02, Tahun 2025.
0