Tausiyah Ustadz


Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/7lkEh6BYrNI?si=62XjsBDdVfQ2L4Z2

TAUBAT NASUHA

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitriah


Apa Itu Taubat?

Secara bahasa, taubat berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali.

Secara istilah, taubat adalah kembali dari dosa atau berhenti dari dosa.

Allah Ta’ala telah mensyariatkan taubat untuk hamba-Nya, sebagaimana yang dimuat di dalam hadis. Di antara nama Allah Ta’ala adalah At-Tawwab (ٱلْتَّوَّابُ) artinya Dzat yang sering memberikan taubat.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَأْخُذُ ٱلصَّدَقَـٰتِ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (QS. At-Taubah: 104)

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا۟ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25)

Di dalam dua ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan di antara nama Allah adalah At-Tawwab (ٱلْتَّوَّابُ) yaitu Dzat yang sering memberikan taubat dan menerima taubat dari hamba-Nya. Hal ini menunjukkan disyariatkannya taubat.

Keutamaan Taubat

(1) Taubat termasuk amal shalih

Bahkan ia termasuk amalan yang paling mulia dan qurbah yang paling mulia. Dan di antara yang menunjukkan keutamaan bertaubat kepada Allah Ta’ala yakni Dia mencintai orang-orang yang bertaubat.

Allah Ta'ala mengatakan,

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

(2) Taubat sebab keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Allah Ta'ala berfirman,

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

(3) Taubat sebab dihapuskannya dosa dan dimasukkan ke dalam surga.

Allah Ta'ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)

Dua keutamaan di dalam ayat ini yaitu:

  1. Dihapuskan dosa-dosanya.
  2. Dimasukkan ke dalam surga.
  3. Inilah bentuk keberuntungan orang yang bertaubat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
  4. Allah Ta’ala mengganti kejelekan-kejelekan seseorang dengan kebaikan, jika seseorang bertaubat.
  5. Allah Ta’ala akan menambah rahmat dan karunia-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًۭا ۞ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا ۞ إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ۞

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)

Di dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala menceritakan kisah para nabi dan para rasul. Dahulu, mereka menasihati kaumnya untuk bertaubat dan beristigfar kepada-Nya, sebagaimana ketika Allah Ta’ala menceritakan tentang kisah Nabi Hud 'alaihissalam.

Beliau ‘alaihissalam mengatakan kepada kaumnya,

وَيَـٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًۭا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (QS. Hud (11): 52)

Ini adalah berkah dunia, di mana dengan sebab istigfar dan taubat, seseorang diberikan rezeki oleh Allah Ta’ala. Orang yang beristigfar kepada Allah Ta’ala akan semakin kuat.

Di antara yang menjadikan kita semangat untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan tidak menunda-nunda taubat adalah apa yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah hadits, bahwasanya Allah Ta’ala sangat suka pada hamba-Nya yang bertaubat. Sampai-sampai Allah Ta’ala lebih bergembira daripada seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang membawa bekalnya, lalu hewan tersebut tiba-tiba datang kembali.

Dari Anas bin Malik Al-Anshari—pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam—beliau radhiallahu’anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ

"Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas." (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya, dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian, ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatannya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747)

Bagaimana Hukum Taubat?

Hukum bertaubat kepada Allah Ta’ala adalah wajib.

Bertaubat dari dosa besar maupun dosa kecil adalah wajib untuk segera dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda.

Di antara yang menunjukkan tentang wajibnya hal tersebut, Allah Ta’ala menyuruh kita bertaubat di dalam Al-Qur'an.

Allah Ta'ala mengatakan,

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Allah Ta'ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)

Maka ketahuilah bahwa hal ini adalah perintah. Secara kaidah, asal dari perintah adalah wajib selama di sana tidak ada yang memalingkan dari kewajiban.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

التوبة فرض من الله على كل مُذنب وإذا كان هذا الإصرار على الذنب حراما بإجماع الأمة فالتوبة والإقلاع فرض بإجماع الأمة كلها ، لا خلاف في ذلك

“Sesungguhnya bertaubat kepada Allah adalah wajib atas setiap orang yang berdosa. Apabila terus menerus melakukan dosa adalah haram dengan kesepakatan umat, maka bertaubat dan melepaskan diri dari maksiat adalah wajib dengan kesepakatan umat.”

Cara bertaubat dalam agama kita jika dibandingkan dengan cara bertaubat bagi umat-umat sebelum kita, lebih mudah. Umat Islam adalah umat yang disayang oleh Allah Ta’ala. Banyak syariat yang berat yang disyariatkan kepada umat terdahulu, namun telah dihilangkan oleh Allah Ta’ala untuk umat ini.

Apa Saja Syarat Taubat?

Syarat taubat ada tiga. Jika kita penuhi tiga syarat ini dengan baik, maka dosa yang kita lakukan sebanyak apapun akan dihapuskan oleh Allah Ta’ala.

1. Menyesal atas apa yang telah dikerjakan

Dalilnya adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah no. 4252, Ahmad no. 3568, dan yang lainnya)

Menyesal adalah rukun di antara rukun-rukun taubat dan ia adalah rukun yang utama.

2. Bersegera meninggalkan dosa

Allah Ta'ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali-ʿImran: 135)

Syarat atau rukun taubat yang kedua adalah seseorang meninggalkan dosa tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dia kembali kepada Allah dalam waktu yang dekat dan tidak terus menerus di atas kemaksiatan, apabila dia kembali melakukan dosa, maka dia segera bertaubat.”

3. Bertekad untuk tidak mengulangi kembali kemaksiatan tersebut

Harus memiliki azam (keinginan yang kuat) untuk tidak melakukan dosa tadi di masa yang akan datang.

Selama terpenuhi tiga syarat taubat di atas, Allah Ta’ala akan menerima taubat kita.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Hakikat dari taubat adalah menyesal terhadap apa yang sudah berlalu, meninggalkan dosa itu sekarang, dan mempunyai azam untuknya tidak melakukan dosa itu di masa yang akan datang."

Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak anak Adam (hak makhluk), maka ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, yakni harus mengembalikan hak tadi kepada orang yang dizalimi, harus meminta maaf kepada saudaranya yang bersangkutan, seperti meminta diikhlaskan, mengembalikan atau mengganti suatu barang yang telah ia rusakkan atau curi dan sebagainya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan makna taubat, "Di dalam syariat taubat adalah meninggalkan dosa dan menyesal, kemudian berazam untuk tidak melakukan, serta mengembalikan kezaliman (seandainya ada)."

Ini menunjukkan bahwasanya dosa seseorang berkaitan dengan hak orang lain maka harus dikembalikan.

Apabila dosa tadi ada kafarat (tebusan), maka harus melakukan kafaratnya seperti, orang yang mendatangi istrinya di siang hari bulan Ramadan. Jika dosanya mengharuskan untuk di-hadd, atau menuduh orang lain telah berzina namun tanpa bukti, atau mencuri, apabila perkaranya sudah sampai ke pemerintah atau penguasa maka di antara kesempurnaan taubatnya adalah harus ditegakkan hukuman pada orang tersebut sebagai penghapus dosa-dosanya.

Tiga syarat taubat yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala, akan bermanfaat bagi seseorang apabila dilakukan pada waktu diterimanya taubat, yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah dua waktu itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima. Wallahu ta'ala a'lam.

0