Tausiyah Ustadz


Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://youtu.be/uhmXeDv6IQ0

Targhib Ramadhan

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitriah


Ramadhan merupakan bulan yang istimewa, bulan di mana Rabbunaa Allah Tabaraka wa Ta’ala menjanjikan banyak pahala dan membukakan pintu-pintu ampunan untuk para hamba-Nya. Pada tulisan ini, kita akan mempelajari sebuah hadits. Yang akan dibahas ini termasuk hadits qudsi, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah ‘Azza wa Jalla. Namun sebelum itu, mari kita pahami perbedaan mendasar antara hadits qudsi dan Al-Qur’an.

Antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi, Apa Perbedaannya?

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang dibaca dalam shalat dan setiap hurufnya bernilai pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Tirmidzi)

Hadits qudsi tidak dibaca di dalam shalat, karena yang dibaca di dalam shalat hanya dengan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Ta’ala pada surat Al-Muzzammil (73) ayat ke-20: “Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an.” Selain itu, seluruh Al-Qur’an pasti shahih, sedangkan hadits qudsi—seperti hadits-hadits lainnya—terbagi menjadi shahih, hasan, dan bahkan ada yang maudhu’ (palsu).

Hadits-hadits tentang Keutamaan Puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa.’ Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: ketika berbuka ia bergembira, dan ketika bertemu Rabb-nya ia bergembira karena puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna “Semua Amal Kecuali Puasa”

Apa yang dimaksud “semua amal anak Adam” di sini adalah amal shalih, bukan seluruh perbuatan manusia secara mutlak. Amal-amal seperti salat, sedekah, haji, dan majelis ilmu masih mungkin tercampur dengan riya’ karena terlihat oleh manusia.

Adapun puasa, ia adalah ibadah yang paling tersembunyi. Seseorang bisa saja makan dan minum secara sembunyi-sembunyi, namun ia tidak melakukannya karena yakin bahwa Allah selalu mengawasinya. Inilah yang menjadikan puasa sangat dekat dengan ikhlas dan melatih muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah).

Penjelasan “Aku yang Akan Membalasnya”

Semua amal shalih dibalas oleh Allah. Namun pada puasa, Allah menegaskan: “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Ini menunjukkan bahwa pahala puasa sangat besar dan tidak terbatas. Salah satu sebabnya, puasa termasuk bagian dari kesabaran, bahkan mencakup seluruh jenis sabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Puasa dan Tiga Jenis Kesabaran

Puasa menghimpun tiga bentuk kesabaran sekaligus, yakni:

  1. Sabar dalam ketaatan

    Orang yang berpuasa tetap taat kepada Allah dengan meninggalkan makan, minum, dan syahwat; padahal semua itu tersedia untuknya.

  2. Sabar meninggalkan maksiat

    Puasa melatih menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan dari dosa. Jika yang mubah saja ditinggalkan karena Allah, maka maksiat lebih layak untuk ditinggalkan.

  3. Sabar terhadap takdir Allah

    Lapar dan haus adalah ujian, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ .....

    “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan lapar...” (QS. Al-Baqarah: 155)

Maka sejatinya, seseorang belum sempurna kesabarannya, kecuali jika ia mampu bersabar dalam ketiga hal ini.

Puasa Menghapus Dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, pahala besar ini memiliki syarat:

  1. Ikhlas karena Allah.
  2. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rukun, adab, dan sunnah puasa.

Puasa adalah Perisai

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa menjadi perisai dari maksiat dan juga perisai dari api neraka. Dengan berkurangnya makan dan minum, syahwat melemah dan jalan setan semakin sempit, sehingga maksiat pun berkurang. Di hari kiamat, puasa juga akan memberi syafa’at bagi pelakunya bersama Al-Qur’an.

Adab Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa dilarang berkata keji, berteriak, atau membalas celaan. Jika dicaci atau diajak bertengkar, hendaklah ia berkata:

“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Puasa melatih pengendalian emosi dan akhlak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan bahwa puasa tanpa meninggalkan maksiat akan mengurangi nilainya di sisi Allah.

Dua Kegembiraan Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan:

  1. Saat berbuka, karena diizinkan menikmati makanan dan karena pahala yang telah ditetapkan.
  2. Saat bertemu dengan Allah, ketika melihat besarnya pahala puasa di akhirat.

    Satu kebaikan di hari kiamat sangat berharga, apalagi pahala puasa yang begitu besar.

Penutup

Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa, pahalanya sangat besar, menjadi perisai dari dosa dan neraka, bau mulutnya mulia di sisi Allah, serta menghadirkan dua kegembiraan bagi pelakunya. Maka, di bulan Ramadhan ini sudah sepatutnya kita meluruskan niat, mempelajari fiqih puasa, serta mempersiapkan diri agar Ramadhan kali ini lebih baik daripada Ramadhan sebelumnya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan Ramadhan dengan puasa yang lebih berkualitas (dengan keikhlasan dan sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Demikian, wallahu a‘lam.


292