Tarbiyatul Aulad

Tarawih yang Menyenangkan bagi Anak

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Za Ummu Raihan


Sebagai seorang Muslim, bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu kita nantikan setiap tahun. Bagaimana tidak? Satu bulan yang terdiri atas 29–30 hari istimewa, penuh dengan berbagai keutamaan. Di antaranya, bulan di mana terbuka lebar kesempatan bagi kita untuk mengharap ampunan dari Allah ‘azza wa jalla, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam penuh keberkahan bernama Lailatulqadar—malam yang jika kita menghidupkannya dengan ibadah, maka dosa-dosa kita akan diampuni, dan pahalanya lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan yang tidak memiliki Lailatulqadar di dalamnya. Ramadhan juga menjadi momen yang tepat untuk bermuhasabah diri, membersihkan hati dari noda akibat dosa-dosa sebelumnya, meluruskan kembali niat, lebih mendekat kepada-Nya, serta mengumpulkan bekal amal kebaikan sebagai penolong kita di akhirat kelak, beserta keutamaan-keutamaan lainnya.

Tentu, ada banyak hal yang harus kita persiapkan dalam menyambut bulan yang mulia ini. Selain persiapan ilmu, fisik, hati, dan iman, kita juga perlu mempersiapkan seluruh anggota keluarga agar turut menyambut serta mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah dan aktivitas-aktivitas yang baik. Terlebih bagi kita yang telah Allah ‘azza wa jalla amanahkan peran sebagai orang tua, yakni ayah dan ibu. Kita mengetahui bahwa salah satu ibadah mulia yang khusus terdapat dalam bulan Ramadhan adalah shalat sunah tarawih. Para ulama fikih sepakat mengenai sunnahnya (anjurannya) shalat tarawih. Bahkan, menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan, serta merupakan salah satu dari syiar Islam.[1]

Sebagai orang tua, tentu kita ingin turut melaksanakan shalat sunah tarawih berjemaah di masjid bersama keluarga, termasuk anak-anak kita. Selain untuk mengenalkan mereka pada kemuliaan ibadah di bulan Ramadhan, kebiasaan ini juga menjadi cara untuk menghidupkan Ramadhan dengan ibadah bersama keluarga dan kaum Muslimin lainnya. Selain itu, kita juga berharap agar amal ibadah tersebut mendatangkan ganjaran kebaikan dari Allah ‘azza wa jalla.

Namun, dalam praktiknya, banyak orang tua yang menghadapi kendala saat mengajak anak-anaknya—terutama yang masih berada pada usia aktif—untuk melaksanakan shalat sunah tarawih berjemaah di masjid. Kekhawatiran terbesar biasanya adalah anak-anak akan membuat gaduh atau mengganggu jemaah lainnya. Oleh karena itu, berikut beberapa cara yang dapat diterapkan agar ibadah tarawih menjadi pengalaman yang indah dan menyenangkan bagi anak-anak:

Langkah pertama sebelum mengajak anak-anak shalat tarawih adalah mengenalkan mereka pada apa itu shalat tarawih. Jelaskan kepada mereka bahwa shalat tarawih adalah salah satu ibadah istimewa yang hanya ada di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan sendiri merupakan bulan yang sangat istimewa bagi kaum Muslimin, karena pada bulan ini, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan para setan dibelenggu. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu.”[2] (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika anak sudah berada pada usia yang mampu memahami dasar hukum-hukum syariat, jelaskan pula hukum shalat tarawih. Sampaikan bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan) bagi laki-laki maupun perempuan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Sunnah mu’akkad berarti jika ditinggalkan, seseorang tidak berdosa, tetapi akan merugi karena melewatkan kesempatan besar untuk mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, jika dilaksanakan, maka ia termasuk orang-orang yang beruntung karena memperoleh keutamaan lebih dan tergolong di antara hamba-hamba pilihan yang mendapatkan taufik dari Allah.

Selain itu, jelaskan beberapa keutamaan shalat tarawih. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai teladan kita, mengajarkan dan membiasakan shalat tarawih. Orang yang mengerjakannya akan memperoleh pahala besar dari Allah, termasuk dalam golongan hamba-hamba yang dicintai-Nya, serta berusaha menggapai surga-Nya. Tentunya, penyampaian ini harus disesuaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak sesuai usianya.

1. Memberikan Pemahaman kepada Anak tentang Adab di Masjid dan Adab shalat berjemaah

Sebelum mengajak anak ke masjid, orang tua perlu menjelaskan bahwa masjid bukanlah tempat bermain, melainkan rumah Allah yang digunakan untuk beribadah. Ajarkan bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan memberikan begitu banyak nikmat (sebutkan beberapa contohnya), sehingga sebagai bentuk syukur, kita harus menjaga adab di dalam masjid, seperti tidak berisik dan tidak berlarian. Tanamkan pula pemahaman bahwa Allah Maha Melihat dan selalu mengawasi kita, sehingga tidak baik jika mengganggu orang-orang yang sedang beribadah.

2. Melatih shalat di Rumah

Sebelum mengajak anak shalat berjemaah di masjid, alangkah baiknya jika anak sudah terbiasa melaksanakan shalat di rumah. Latihan ini membantu mereka memahami gerakan, aturan, dan bacaan dalam shalat. Jika anak masih kecil, orang tua bisa mulai dengan mengajak mereka mengikuti beberapa rakaat terlebih dahulu, baik di rumah maupun saat tarawih di masjid.

3. Membawa Mainan atau Buku Kesukaan

Anak kecil yang belum mencapai usia tamyiz umumnya belum bisa mengikuti shalat tarawih hingga selesai, baik karena bosan maupun kelelahan. Oleh karena itu, orang tua dapat membawa buku cerita Islami atau mainan kecil agar saat anak mulai bosan, mereka tetap tenang dan tidak mengganggu jamaah lain. Selain itu, bawalah air minum agar anak tidak rewel ketika merasa haus.

4. Memilih Posisi yang Aman dan Tepat di Masjid

Usahakan agar anak menempati shaf yang sesuai dengan gendernya, yaitu anak laki-laki bersama ayahnya dan anak perempuan bersama ibunya. Hal ini bertujuan agar mereka terbiasa dengan fitrahnya dan dapat melihat contoh dari orang tua serta jamaah lainnya. Jika anak masih dalam tahap belajar untuk fokus, ibu bisa memilih posisi di bagian belakang, jauh dari area tangga atau tempat yang berisiko membahayakan anak maupun mengganggu kekhusyukan jamaah lain. Jika masjid memiliki ruang khusus untuk anak, fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan.

5. Memberikan Reward dan Motivasi

Berikan pujian atau hadiah kecil ketika anak berhasil mengikuti shalat tarawih dengan tertib tanpa membuat gaduh. Hadiah tersebut bisa berupa uang untuk ditabung, makanan kesukaannya, atau barang impiannya. Selain itu, ceritakan bahwa mengikuti shalat di masjid juga akan mendapatkan pahala besar dan menjadi salah satu tanda bahwa seseorang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla.

6. Mengawasi Anak Selama shalat

Pastikan anak tetap dalam pengawasan agar tidak bermain atau mengganggu jamaah lain. Jika anak mulai rewel, orang tua boleh menggendongnya untuk menenangkan. Jika situasi menjadi tidak kondusif, lebih baik membawa anak keluar sejenak untuk menenangkannya sebelum kembali ke dalam masjid atau memutuskan untuk pulang jika diperlukan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي، ‌وَهُوَ ‌حَامِلٌ ‌أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ، بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم، ولأبي العاص بن الربيع بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قام حملها.

Dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab (cucu beliau). Jika beliau sujud, beliau meletakkannya, dan jika berdiri, beliau kembali menggendongnya.[3] (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara faedah dari hadis ini ialah:

a. Menggendong anak saat shalat tidaklah membatalkan shalat, baik dalam shalat wajib maupun sunnah, sebagai imam ataukah shalat sendirian (munfarid).

b. Apakah ada ukuran banyak untuk gerakan yang membatalkan shalat? Sebagian ulama membatasi dengan tiga gerakan. Namun, pembatasan tiga gerakan di sini adalah pendapat yang tidak kuat karena butuh dalil khusus. Dalil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggendong Umamah juga menyanggah pembatasan tiga gerakan tersebut.

c. Gerakan dalam shalat ada tiga macam: (a) gerakan yang diperintahkan, baik itu demi sahnya shalat atau sempurnanya shalat seperti memutar diri menghadap kiblat atau menutup celah dalam shaf; (b) gerakan yang dilarang, yaitu gerakan yang banyak, berturut-turut, tanpa ada hajat (kebutuhan), hukumnya itu membatalkan shalat atau minimal makruh, seperti meraba-raba jam tangan saat shalat, bermain-main dengan jenggot; (c) gerakan mubah yaitu gerakan yang sedikit karena ada hajat (butuh) seperti menggendong bayi saat shalat, atau gerakan yang banyak karena darurat seperti dalam shalat khauf.[4]

7. Mengajak Anak Tarawih Bersama Teman yang Tertib.

Jika anak memiliki teman sebaya yang sudah terbiasa mengikuti shalat dengan baik, ajak mereka bersama agar anak lebih termotivasi.

8. Mengatur Durasi Kehadiran di Masjid.

Jika anak belum siap mengikuti seluruh rangkaian tarawih, ajak mereka untuk mengikuti beberapa rakaat terlebih dahulu dan pulang ke rumah sebelum mereka bosan atau mulai berpotensi menimbulkan kegaduhan.


‘Alaa kulli haal, kerja sama yang baik dengan porsi yang sesuai antara ayah dan ibu sangat-sangat diperlukan dalam upaya ini. Maka sudah seharusnya sebagai orang tua dan juga pasangan untuk saling peka dan memahami kondisi anak dan juga pasangan kita dalam mewujudkan pengalaman ibadah yang menyenangkan bersama keluarga di bulan Ramadhan. Dengan mengupayakan hal-hal ini, insyaallah, anak-anak sekaligus bisa belajar mencintai masjid, memiliki pengalaman yang bermakna bersama orang tua dan keluarganya di bulan Ramadhan, serta terbiasa shalat berjamaah di masjid sejak kecil tanpa mengganggu jamaah lain. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat, semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa memudahkan segala urusan kita dalam kebaikan, baarakallahu fiikum.

Daftar Pustaka

  1. Al-Ju’fi, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Shahih al-Bukhari. Damaskus: Daar Ibnu Katsir, 1414 H.
  2. An-Naisaburi, Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi. Shahih al-Imaam Muslim. Turki: Daar at-Thibaa’ah al-‘Aamiroh, 1334 H.
  3. Majmuu’ah minal Mu’allifiin. Al-Mawsuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. Kuwait: Wizaaroh al-Awqoof wa asy-Syu’uun al-Islaamiyyah, 1431 H.
  4. Tuasikal, Muhammad Abduh. Bulughul Maram - Shalat: Menggendong Anak Kecil Saat Shalat. Diakses dari https://rumaysho.com/29242-bulughul-maram-shalat-menggendong-anak-kecil-saat-shalat.html.
0