Tanya Ustadz

Tanya Jawab

Bersama Al-Ustadz

Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullāh


Meninggal dalam Keadaan Tidak Mengikuti Sunnah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika kita meninggal dalam keadaan tidak mengikuti sunnah, apakah kita akan mendapatkan azab kubur, Ustadz?

Jawaban:

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa, "Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di neraka kecuali satu golongan, yaitu golongan yang mengikuti jalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya." Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang menyelisihi sunnah terancam dengan api neraka.

Ancaman tersebut bisa saja Allah laksanakan karena dia telah menyelisihi sunnah. Namun, terkadang ada ancaman yang tidak Allah laksanakan karena Allah memberikan ampunan kepadanya. Allah Maha Berkehendak.

Selama penyelisihan terhadap sunnah itu tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islam, maka di akhirat nanti dia berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya. Jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya karena telah menyelisihi sunnah.

Keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah adalah bahwa tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk kaum muslimin, bukan orang-orang kafir. Akan tetapi, mereka terancam dengan neraka karena telah menyelisihi sunnah, terlebih lagi apabila penyelisihan itu berkaitan dengan masalah aqidah.

Masuk ke dalam neraka, meskipun hanya sebentar, bukanlah perkara yang ringan. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita menasihati mereka sebagai bentuk kasih sayang kepada saudara-saudara kita yang masih menyelisihi sunnah. Wallahu ta'ala a'lam.

Syafaat bagi Pelaku Dosa Besar

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin bertanya, Ustadz. Apakah syafaat bagi pelaku dosa besar juga berlaku bagi mereka yang telah bertobat?

Jawaban:

Pelaku dosa besar yang telah bertobat dianggap tidak lagi memiliki dosa. Misalnya, seseorang pernah berzina, minum minuman keras, atau menggunakan narkoba. Jika dia bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengampuni dosanya.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Orang yang bertobat dari suatu dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa."

Dosanya dihapus oleh Allah sehingga tidak ada lagi perhitungan atas dosa tersebut pada hari kiamat.

Adapun yang akan dihisab adalah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat kepada Allah. Misalnya, dia meninggal dalam keadaan masih berzina, masih mabuk, atau masih melakukan dosa besar lainnya tanpa sempat bertobat. Jika dia seorang muslim, pada hari akhir nanti urusannya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya. Jika Allah menghendaki, Dia menyiksanya sesuai dengan dosa yang telah dilakukannya.

Jadi, yang dimaksud syafaat bagi pelaku dosa besar adalah pelaku dosa besar yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat. Wallahu ta'ala a'lam.

Memiliki Rasa Cinta kepada Rasulullah

Bismillah. Ustadz, apa yang harus dilakukan agar memiliki rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai dengan syariat? Jazakallahu khairan.

Jawaban:

Pertama, hendaknya seseorang membaca dan mempelajari sirah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam serta biografi beliau. Ketika kita membacanya, kita akan melihat betapa besar pengorbanan beliau dalam berdakwah, mulai dari di Makkah hingga di Madinah. Berkat perjuangan beliau, sampai hari ini kita dapat melaksanakan salat dan beribadah dengan akidah yang benar. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat.

Melalui ajaran beliau, kita mengetahui apa yang harus dilakukan ketika memperoleh nikmat dan apa yang harus dilakukan ketika tertimpa musibah. Semua itu telah diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini akan semakin menambah rasa cinta kita kepada beliau.

Sebagaimana ketika kita mengingat jasa kedua orang tua kita, rasa cinta kepada mereka pun akan semakin bertambah.

Yang kedua, bacalah kembali tentang akhlak beliau, keutamaan-keutamaan yang Allah berikan kepada beliau, serta sifat-sifat mulia dan sempurna yang Allah anugerahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua itu akan semakin menumbuhkan kecintaan kepada beliau.

Secara fitrah, manusia mencintai sesuatu yang sempurna. Ketika kita melihat seorang yang alim, misalnya, akan tumbuh rasa cinta dan hormat kepadanya karena kesempurnaan ilmunya dibandingkan orang lain. Demikian pula ketika kita melihat orang yang sabar, dermawan, atau memiliki akhlak yang mulia, kita akan mengaguminya.

Lalu bagaimana jika seluruh sifat-sifat mulia itu terkumpul pada satu orang, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Tentu rasa cinta kita kepada beliau akan semakin besar karena seluruh kesempurnaan akhlak tersebut ada pada diri beliau.

Itulah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu ta'ala a'lam. 

16