Tanya Ustadz
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Tanya Jawab

Bersama Al-Ustadz

Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullāh


Terjerat Utang Pinjaman Online (Pinjol)

pinjol

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, qadarullah, kami sedang dalam keadaan sulit karena terlilit utang pinjaman online (pinjol). Keadaan yang tidak mampu kami hadapi ini akhirnya menjerumuskan kami ke dalam dosa besar. Semoga Allah mengampuni kekhilafan dan kelemahan iman kami.

Yang ingin saya tanyakan, apakah boleh berutang untuk membayar utang pinjol tersebut? Saat ini kami tidak bekerja, dan sebagian harta sudah kami jual untuk melunasi utang pinjol. Tidak ada lagi harta yang bisa dijual karena kami juga harus membayar kontrakan rumah dan biaya sekolah anak-anak.

Mohon nasihat dari ustadz agar kami mendapatkan ampunan atas dosa ini.

Barakallahu fikum.

Jawab:

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa kita semua. Aamiin.

Riba adalah dosa besar. Oleh karena itu, siapa saja yang telah terjerumus ke dalam praktik pinjaman berbunga seperti pinjol, wajib segera bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sudah banyak korban dari praktik ini, baik dari kalangan awam maupun penuntut ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Barang siapa telah sampai kepadanya peringatan dari Rabb-nya lalu ia berhenti, maka baginya apa yang telah lalu."

Adapun pertanyaan, apakah boleh berutang untuk melunasi utang pinjol? Jika yang dimaksud adalah berutang tanpa riba untuk melunasi utang pokok pinjol, maka hal tersebut diperbolehkan. Namun, jika yang dimaksud adalah berutang untuk membayar tambahan bunga atau kelebihan yang bersifat riba, maka hal itu tidak diperbolehkan.

Sebagai informasi, insyaallah ada jalan keluar yang telah dicoba oleh banyak orang. Mereka berusaha melunasi hanya utang pokoknya saja tanpa membayar tambahan bunga yang termasuk riba. Bahkan, terdapat beberapa lembaga atau pihak yang membantu masyarakat keluar dari jeratan riba tersebut.

Mungkin hal ini dapat menjadi salah satu solusi yang bisa diupayakan. 

Wallahu ta'ala a'lam.

Bermaksiat Saat Sendirian

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, bagaimana cara menumbuhkan rasa takut kepada Allah agar tidak terus terjerumus dalam dosa ketika sedang sendirian? Sampai-sampai rumah tangga saya hancur akibat dosa yang saya perbuat. Mohon nasihat dan doanya untuk saya serta seluruh kaum muslimin agar terhindar dari maksiat ketika sendirian.

Jawab:

Subhanallah, pertanyaan ini sangat penting karena sesungguhnya kita semua membutuhkan jawabannya.

Bagaimana cara menumbuhkan rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla, baik ketika sendirian maupun saat bersama orang lain?

Rasa takut kepada Allah yang proporsional akan memberikan banyak manfaat. Rasa takut tersebut mendorong seseorang untuk beramal saleh dan menjauhi larangan-larangan Allah. Jika rasa takut terlalu sedikit, seseorang akan mudah meremehkan kewajiban dan melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, jika rasa takut berlebihan, hal itu dapat menjerumuskannya ke dalam keputusasaan dari rahmat Allah.

Karena itu, seorang muslim hendaknya memiliki rasa takut yang seimbang.

Bagaimana cara menumbuhkannya?

Pertama, memperdalam ilmu akidah. Dengan mempelajari akidah, seseorang akan semakin mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia akan memahami bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengawasi dalam setiap keadaan, baik ketika bersama orang lain maupun saat sendirian.

Apabila keyakinan ini tertanam kuat dalam hati, maka ia akan merasa selalu diawasi oleh Allah sehingga tidak berani melakukan apa yang diharamkan-Nya.

Kedua, mengingat akibat buruk dari dosa, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan musibah apa pun yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kalian." (QS. Asy-Syuara': 30)

Banyak musibah yang menimpa manusia merupakan akibat dari dosa. Namun, Allah adalah Al-'Afuww, Dzat Yang Maha Pemaaf. Seandainya setiap dosa langsung dibalas dengan hukuman, niscaya tidak ada seorang pun yang selamat.

Seseorang hendaknya mengingat bahwa dosa dapat menyebabkan sempitnya rezeki, hilangnya pekerjaan, hilangnya jabatan, dan berbagai kenikmatan lainnya. Bahkan kerusakan rumah tangga pun bisa menjadi salah satu akibat dosa yang dilakukan oleh suami, istri, atau keduanya.

Ketika seseorang merenungkan akibat-akibat tersebut, akan tumbuh rasa takut dalam dirinya untuk kembali melakukan dosa, baik saat sendirian maupun di hadapan orang lain.

Jika seseorang mengetahui bahwa dirinya lemah ketika sendirian, maka hendaknya ia berusaha menutup celah tersebut. Sebisa mungkin ia tidak membiarkan dirinya berada dalam kondisi yang memudahkannya melakukan kemaksiatan. Carilah lingkungan yang baik dan kebersamaan dengan orang-orang shalih yang dapat membantu menjaga dirinya dari dosa.

Wallahu ta'ala a'lam.

Hidayah dan Taufik, Apa Bedanya?

Izin bertanya, ustadz. Apa perbedaan antara hidayah dan taufik? Kadang saya mendengar orang berkata, "Saya bisa lulus karena taufik dari Allah." Mohon penjelasannya. Syukran.

Jawab:

Hidayah berarti petunjuk menuju kebenaran. Seseorang yang mendapatkan hidayah akan diberikan petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga ia dapat mengetahui, memahami, dan mengenali jalan yang benar sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis yang shahih.

Dengan kata lain, hidayah berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap kebenaran.

Adapun taufik adalah kemudahan dan kemampuan yang Allah berikan kepada seorang hamba untuk mengamalkan kebenaran yang telah diketahuinya.

Karena itu, seseorang mungkin telah mendapatkan hidayah berupa ilmu dan pemahaman, tetapi belum tentu memperoleh taufik untuk mengamalkannya. Sebaliknya, orang yang mendapatkan taufik akan dimudahkan oleh Allah untuk menjalankan ilmu yang telah diketahuinya.

Maka ketika kita berdoa agar diberikan hidayah dan taufik, kita memohon kepada Allah agar diberi pemahaman terhadap kebenaran sekaligus kemampuan untuk mengamalkannya.

Wallahu ta'ala a'lam.

19