Tanya Ustadz
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Tanya Jawab

Bersama Al-Ustadz

Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullāh


Puasa di Bulan Muharram

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, saya ingin bertanya tentang puasa di bulan Muharram. Ada pendapat yang mengatakan bahwa puasa Muharram dilakukan dari tanggal 1 sampai 10. Ada juga yang mengatakan cukup tanggal 9 dan 10. Bagaimana yang benar, Ustadz? Jazakallahu khair.

Jawab:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Pertanyaan yang baik terkait puasa di bulan Muharram. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.

Secara umum, puasa di bulan Muharram dianjurkan pada seluruh harinya. Namun, yang paling utama adalah tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. Pada hari tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

Kemudian, yang lebih utama lagi adalah berpuasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram. Hal ini berdasarkan keinginan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau bersabda bahwa jika beliau masih hidup pada tahun berikutnya, beliau akan berpuasa juga pada tanggal 9.

Adapun puasa yang dikhususkan dari tanggal 1 sampai 10 Muharram tidak memiliki dalil khusus. Kemungkinan yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah, bukan Muharram.

Kesimpulannya, puasa Muharram dianjurkan secara umum di seluruh harinya, dengan penekanan utama pada tanggal 10, dan dianjurkan pula berpuasa pada tanggal 9. Wallahu a‘lam.

Menyambut Awal Tahun Muharram dengan Yasinan

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, saya ingin bertanya mengenai kebiasaan menyambut tahun baru Islam dengan membaca Surah Yasin tiga kali. Setiap kali selesai membaca, kami berdoa: pertama untuk kehidupan yang lebih baik di dunia, kedua untuk akhirat, dan ketiga untuk kebaikan secara umum. Bagaimana hukumnya, Ustadz? Terima kasih. Barakallahu fiikum.


Jawab:

Membaca Surah Yasin tiga kali dengan tata cara seperti itu tidak memiliki dasar dari dalil yang sahih. Jika kita kembali kepada tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada riwayat yang menunjukkan adanya pengkhususan amalan tertentu pada awal atau akhir tahun hijriah. Para sahabat yang paling semangat dalam beramal pun tidak pernah melakukan hal tersebut.

Seandainya amalan itu baik dan disyariatkan, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya. Oleh karena itu, tidak ada ibadah khusus yang ditetapkan pada awal atau akhir tahun hijriah. Amalan yang disyariatkan tetap sama seperti biasanya, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berdoa tanpa pengkhususan waktu tertentu. Wallahu ta‘ala a‘lam.

Mencintai Ahlul Bait

Assalamualaikum Ustadz. Saya ingin bertanya, bagaimana menyikapi kecintaan kepada habib atau orang saleh dari kalangan Ahlul Bait, jika perilakunya tidak mencerminkan akhlak dan adab Salafus Shalih? Bagaimana kaidah cinta dan benci dalam kondisi seperti ini? Syukran.

Jawab:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Di antara akidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah mencintai Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud Ahlul Bait adalah istri-istri Nabi dan keturunan Bani Hasyim yang muslim.

Kita diperintahkan untuk mencintai, menghormati, dan menjaga hak mereka, baik hak penghormatan maupun hak-hak lain yang Allah tetapkan bagi mereka.

Namun, kecintaan kepada Ahlul Bait harus berdasarkan syariat, bukan kecintaan yang berlebihan atau melampaui batas. Kita mencintai mereka karena keislaman mereka dan karena kedudukan mereka sebagai keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berdasarkan ketaatan mereka kepada Allah.

Semakin seseorang bertakwa dan mengikuti sunnah, maka semakin besar kecintaan kita kepadanya. Sebaliknya, jika seseorang—meskipun dari Ahlul Bait—menyimpang dari ketaatan, melakukan bid’ah, atau mengajak kepada penyimpangan, maka kita tidak mencintai penyimpangannya, meskipun tetap ada haknya sebagai seorang muslim.

Oleh karena itu, kecintaan dalam Islam selalu seimbang: mencintai karena iman dan ketaatan, serta membenci kebatilan karena Allah.

Sebagaimana manusia pada umumnya, Ahlul Bait juga tidak lepas dari kesalahan. Maka sikap kita adalah adil dalam mencintai dan membenci sesuai dengan syariat. Wallahu a‘lam.

0