Tanya Jawab
Bersama Al-Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullāh
Mengikutsertakan Mayit dalam Kurban
Assalamu’alaikum, Ustadz. Bagaimana hukumnya mengikutsertakan mayit dalam berkurban? Orangnya telah meninggal dan akan diikutkan dalam kurban orang tuanya, insya Allah.
Naam, tidak masalah seseorang mengikutkan orang yang sudah meninggal untuk mendapatkan pahala dalam kurbannya. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dan mengikutsertakan umat beliau yang tidak berkurban, dan umat beliau ada yang sudah meninggal serta ada yang masih hidup. Ini menunjukkan bolehnya seseorang berkurban dan mengikutkan orang yang sudah meninggal. Ini pendapat yang lebih kuat.
Adapun berkurban khusus untuk orang yang telah meninggal saja, tanpa diikutsertakan bersama orang yang masih hidup, maka ini tidak sesuai dengan sunnah.
Hal ini juga tidak terbatas jumlahnya, dan cukup kita berniat tanpa perlu menyebutkan nama satu per satu. Meskipun saat kita menyembelih, atau orang yang kita minta tolong menyembelih tidak menyebutkan nama juga, ini tidak masalah. Wallahu a’lam.
Antara Istiqomah dan Karamah
Assalamu’alaikum. Bukankah karamah itu tidak bisa diusahakan dan merupakan karamah dari Allah? Ustadz pernah menyampaikan bahwa istiqamah merupakan karamah teragung. Bukankah untuk mencapai istiqamah ini kita berusaha dengan sungguh-sungguh? Mohon penjelasannya, Ustadz. Barakallahu fiikum.
Jawab:
Adapun ucapan bahwa karamah tidak bisa diusahakan, ini adalah kejadian luar biasa yang tidak diketahui oleh manusia biasa atau melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Seperti perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang berkata kepada pasukan kaum muslimin, “Pergilah ke gunung,” padahal beliau berada di Madinah dan pasukannya berada di tempat peperangan.
Karamah juga seperti yang Allah berikan kepada Maryam, ketika beliau berada di mihrab dan datang makanannya, bukan dibawa oleh Nabi Zakariya, tetapi diberikan langsung oleh Allah. Ini yang dimaksud karamah yang tidak bisa diusahakan, tidak bisa dipelajari, dan merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun istiqamah termasuk karamah secara bahasa, yaitu karamah dalam arti anugerah. Karena istiqamah merupakan anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang bisa diusahakan oleh seseorang. Oleh karena itu, ada yang namanya sebab-sebab istiqamah, yaitu sebab-sebab seseorang bisa tetap berada dalam agamanya dengan menambah keimanannya. Maka dikatakan istiqamah itu bagian dari karamah dalam arti dilihat dari segi bahasanya. Wallahu A’lam.
Urutan Hewan dalam Berkurban
Assalamu’alaikum. Mana yang lebih utama jika kita berkurban dengan domba atau dengan sapi sendiri tanpa urunan, Ustadz? Jazakallahu khairan.
Jawab:
Jika dibandingkan menyembelih domba dengan sapi sendiri tanpa urunan, maka yang lebih afdal adalah menyembelih sapi sendirian. Urutan yang lebih utama adalah menyembelih unta sendirian, kemudian sapi sendirian, kemudian menyembelih domba, kemudian kambing, kemudian sepertujuh dari unta, dan terakhir adalah menyembelih sepertujuh dari sapi. Kerbau dihukumi sama dengan sapi. Wallahu a’lam.
Seputar Kiat Menuntut Ilmu
Assalamu’alaikum. Bagaimana agar ilmu yang sudah kita dapatkan bisa mengubah kita, serta bagaimana cara agar kita mudah mendapatkan dan mengamalkan ilmu, Ustadz? Mohon penjelasannya. Jazakumullahu khairan.
Jawab:
Yang pertama adalah meluruskan niat dalam menuntut ilmu: apa yang diinginkan dari ilmu tersebut? Apakah menuntut ilmu hanya sekadar ingin menambah wawasan atau ingin mengamalkannya? Jika sejak awal tujuan kita adalah mengamalkan ilmu tersebut, ini akan membantu kita mengamalkan ilmu yang kita dapatkan.
Yang kedua adalah mengingat keutamaan mengamalkan ilmu. Di antaranya, Allah akan memudahkan kita mendapatkan ilmu yang lain. Sebagian salaf mengatakan, “Siapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan mengajarkan sesuatu yang belum dia ketahui sebelumnya.” Ini merupakan bentuk syukur kepada Allah atas nikmat ilmu. Siapa yang bersyukur, maka Allah akan menambahnya. Wallahu A’lam.