Tanya Jawab
Bersama Al-Ustadz
Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullÄh
Ilmu Filsafat Berbahaya?
Assalamuāalaikum, Ustadz. Mengapa ilmu filsafat dianggap berbahaya dan apa dasarnya?
Jawab:
Ilmu filsafat bukan berasal dari Islam, melainkan dari luar Islam. Untuk memahami Islam, Al-Qurāan, dan hadis, seseorang tidak perlu mempelajari ilmu filsafat. Permasalahan akidah dan hukum-hukum syariat telah dijelaskan dengan jelas. Bahkan, orang yang tidak mempelajari filsafat tetap dapat memahami akidah yang benar.
Seseorang dapat selamat dan berada di jalan yang lurus apabila ia mempelajari Al-Qurāan dan hadis berdasarkan pemahaman para sahabat. Ilmu filsafat cenderung mendahulukan akal, bahkan mengagungkan dan mendewakan akal. Banyak kaum muslim yang terpengaruh oleh ilmu ini sehingga lebih mengutamakan akal daripada dalil. Apabila dalil sesuai dengan akalnya, maka diterima; tetapi jika tidak sesuai, maka ditolak. Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang menolak hadis sahih karena dianggap bertentangan dengan akal. Mereka tertipu oleh akalnya sendiri, dan hal ini tidak dibenarkan.
Akal yang sehat tidak mungkin bertentangan dengan dalil. Selain itu, akal manusia bersifat terbatas; banyak hal di sekitar kita yang tidak mampu dijangkau oleh akal. Adapun dalil merupakan kebenaran mutlak yang berasal dari Allah. Apabila secara lahiriah tampak adanya pertentangan antara dalil Al-Qurāan dan hadis dengan akal, maka seorang muslim wajib mendahulukan dalil. Allahu aālam.
Jika Berfatwa Tanpa Ilmu
Assalamuāalaikum. Bagaimana cara menghadapi orang yang berfatwa tanpa ilmu, Ustadz
Jawab:
Berfatwa tanpa ilmu merupakan perbuatan yang jelas diharamkan dalam Islam. Setiap orang hendaknya berhati-hati dalam berbicara atau mengeluarkan fatwa. Janganlah seseorang berbicara atas nama Allah atau agama Allah tanpa dasar ilmu. Ia harus memastikan terlebih dahulu adanya dalil serta memperhatikan pendapat para ulama.
Jangan sampai seseorang termasuk dalam ancaman hadis nabi tentang orang yang berfatwa tanpa ilmu, yaitu orang yang sesat dan menyesatkan manusia. Berdusta atas nama Allah merupakan perkara yang sangat besar dalam agama Islam. Oleh karena itu, orang yang beriman dan takut kepada hari akhir hendaknya sangat berhati-hati dalam menyampaikan ilmu atau mengeluarkan fatwa. Allahu aālam.
Memanggil Teman dengan Sebutan Ustadz
Assalamuāalaikum. Apakah boleh memanggil teman atau orang lain dengan sebutan āUstadzā, meskipun ia tidak mengajarkan ilmu, tetapi taat beribadah?
Jawab:
Dalam salah satu riwayat, Aisyah radhiyallahu āanha menyampaikan bahwa manusia diperintahkan untuk ditempatkan sesuai dengan kedudukan dan posisinya. Apabila seseorang memang seorang ustadz, maka pantas dipanggil dengan sebutan āUstadzā. Namun, apabila bukan, maka tidak sepatutnya dipanggil demikian.
Seseorang hendaknya ditempatkan sesuai dengan kedudukannya. Dikhawatirkan apabila terjadi sikap berlebihan dalam penyebutan atau pujian, hal tersebut justru dapat memudaratkan dirinya, seperti menimbulkan kesombongan, ria, atau pujian terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ia miliki. Allahu aālam.