Tanya Jawab
Bersama Al-Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullÄh
Prioritas Ketaatan Wanita
Assalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, manakah yang harus didahulukan oleh seorang wanita: ketaatan kepada suami atau ketaatan kepada ibu kandung?
Jawab:
Waâalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ketaatan kepada orang tua diperintahkan dalam agama kita. Tetapi, ketika seorang wanita telah menikah/bersuami, maka ketaatan kepada suami didahulukan. Misalnya, ibunya menyuruh untuk datang ke rumahnya, sedangkan suaminya melarang, maka yang didahulukan adalah ketaatan kepada suami, meskipun ibunya memerintah. Di sini dibutuhkan kebijaksanaan seorang suami, misalnya dia melihat bahwa mertuanya membutuhkan kehadiran anaknya karena tidak ada anak lain yang bisa datang membantu, maka di sini seharusnya dia bijaksana; dia membantu istrinya untuk berbakti kepada orang tuanya. Wallahu aâlam.
Ibadah Penderita Alzheimer
Assalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nenek saya memiliki penyakit Alzheimer. Saat wudhu dan shalat, beliau sudah lupa urutan, gerakan, dan bacaan-bacaan shalat. Apakah nenek saya tidak berdosa saat melakukan ibadah tersebut, meskipun sudah kami bantu dan pandu dalam pelaksanaannya? Apakah kami berdosa juga jika luput dalam mendampingi nenek dalam beribadah?
Jawab:
Waâalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Jika seseorang sudah tidak berakal, dia tidak dibebani kewajiban untuk beribadah. Pena telah diangkat dari seseorang yang tidak memiliki akal karena akal diperlukan oleh seseorang dalam mengatur ibadahnya. Demikian jika seseorang yang sudah tua dan pikun; dia sudah tidak dibebani untuk melakukan ibadah tersebut. Seandainya kita sebagai keluarga membantu mengingatkan beliau, maka ini sebuah kebaikan. Namun, apabila kita tidak bisa menuntunnya karena suatu sebab, maka kita tidak berdosa karena beliau telah kehilangan akalnya. Allahu aâlam.
Kedudukan Orang Tua dan Mertua
Assalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah. Bagaimana kedudukan orang tua dan mertua, Ustadz? Mohon penjelasannya.
Jawab:
Waâalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Tentunya ini berbeda. Sikap kita terhadap kedua orang tua dan terhadap mertua tentu tidak bisa disamakan. Hak kedua orang tua lebih besar bagi diri kita. Akan tampak manfaatnya jika pada suatu keadaan terjadi perbedaan antara orang tua kita dan mertua, atau suatu keadaan yang memaksa kita untuk memilih antara orang tua atau mertua. Ketika seseorang tahu bahwa orang tua yang merupakan bapak dan ibu kandung harus didahulukan, maka di sini seseorang bersikap dengan benar karena Allah telah memberikan hak yang besar bagi orang tua terhadap kita sebagai anak. Namun, apakah kita boleh bersikap semena-mena atau berlaku tidak sopan kepada mertua? Bukan begitu. Yang namanya menantu tetap harus memiliki penghormatan terhadap mertua: pertama, karena mereka lebih tua; kemudian, mertua adalah orang tua dari pasangan kita. Saat kita berlaku sayang dan hormat kepada mertua, tentu pasangan kita pun akan bertambah sayang dan senang dengan kita. Ini akan menambah keharmonisan di tengah-tengah keluarga karena masing-masing suami maupun istri menghormati mertua. Allahu aâlam.
Nafkah untuk Orang Tua dan Mertua
Assalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah istri boleh menuntut suami untuk bersikap adil dalam nafkah terhadap orang tuanya dan terhadap orang tua istri?
Jawab:
Waâalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Yang disebut tidak adil itu jika misalnya seorang laki-laki memiliki dua istri, tetapi dia tidak adil dalam nafkah. Akan tetapi, ketika berbuat baik kepada orang tua, tidak demikian karena kedudukan orang tua dan mertua berbeda. Tetapi, jika kita menuntutnya, seakan-akan mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, maka itu tidak boleh. Istri mungkin bisa memberi usulan, misalnya, âMas, tolong berikan hadiah untuk Ibu, dong,â untuk mencerahkan suasana atau supaya saling mencintai satu sama lain, maka ini boleh. Tetapi, jika menuntut atau menyatakan bahwa suami berdosa jika tidak menyamakan antara pemberian antara orang tua dan mertua, maka ini salah. Yang jelas, kedudukan orang tua lebih daripada mertua.
Fenomena Anak Durhaka kepada Orang Tua
Assalamu âalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, pada saat ini banyak anak yang dengan lisannya membentak orang tuanya, dan itu seakan-akan menjadi kelaziman karena banyaknya perbuatan tersebut. Mohon nasihatnya.
Jawab:
Waâalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ini adalah bagian dari âuququl walidain (durhaka kepada orang tua). Durhaka kadang dengan lisan dengan mengatakan âhuhâ atau membentak kedua orang tua. Terkadang dengan perbuatan, misalnya memukul. Allah Subhanahu wa Taâala melarang yang demikian. Allah berfirman, âJangan engkau katakan âufâ kepada keduanya.â Jika orang tua mendengar ucapan âufâ (huh) dari mulut anaknya, tentu itu menyakitkan hati mereka karena anak yang dahulu dididik dan dibesarkan sepenuh hati itu justru mengatakan âufâ ketika dia sudah dewasa. Jika mengatakan âufâ saja tidak boleh, maka bagaimana lagi dengan menzaliminya. âUququl walidain ini termasuk dosa besar (al-kabair). Maka, seorang anak tidak boleh bermudah-mudah dalam masalah ini. Hendaknya dia menjaga lisannya dan merendahkan diri di hadapan orang tuanya. Dia berusaha supaya kebaikan darinya tampak di hadapan orang tua, berupa kebaikan lisan maupun perilaku.
Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Berbeda Agama
Assalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ustadz, bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang berbeda agama. Ayah masih hidup, sedangkan ibu sudah meninggal. Keduanya belum muslim, Ustadz.
Jawab:
Waâalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terkait orang tua yang meninggal dunia dalam keadaan dia kafir (bukan sebagai muslim), maka anak tidak boleh mendoakan mereka dengan ampunan. Allah Taâala berfirman, âTidak boleh bagi seorang Nabi dan orang-orang beriman untuk memohonkan ampun kepada orang musyrik walaupun mereka keluarganya sendiri.â Nabi Ibrahim dilarang untuk memohonkan ampun untuk orang tuanya yang kafir. Rasulullah dan orang-orang beriman juga dilarang untuk memohonkan ampun untuk keluarganya yang kafir. Adapun memohonkan hidayah, maka itu boleh. Dahulu Rasulullah shallallahu âalaihi wasallam mendoakan petunjuk dan hidayah bagi sebagian orang kafir, misalnya ucapan beliau, âYa Allah, berikanlah hidayah kepada orang-orang Daus (kabilahnya Abu Hurairah),â kemudian Kabilah Daus pun akhirnya masuk Islam. Maka, untuk orang tua kita yang masih hidup saat ini, kita doakan agar dia mendapat hidayah. Ditambah lagi dengan dakwah, kita sampaikan tentang kebaikan Islam, dan bahwa Islam meyakini Nabi Isa dan bahwa beliau adalah utusan Allah yang kita akui keutamaannya, tetapi dalam Islam kita tidak meyakini bahwa beliau adalah anak Allah karena Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Selain itu, seseorang perlu bersabar dalam mendakwahi orang tuanya. Barakallahu fikum.