Tanya Dokter
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Sakit Maag Pada Anak: Fakta Ilmiah vs Mitos

Dijawab oleh : dr. Arifin K. Kashmir, Sp.A., M.Kes., CHt., FISQua


Anak Sering Nyeri Perut dan Demam

Pertanyaan dari ART241-5009

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Izin bertanya, Dok. Qadarullah, anak kedua saya sejak umur 4-5 tahun sering mengeluh sakit perut yang sakit sekali. Memang dari pola makan anak saya juga berantakan. Kalau saya perhatikan, jika anak saya skip satu atau dua sesi jam makan, maka dia akan demam. Memang dia agak susah makan, Dok. Beberapa bulan ini qadarullah sering kali demam 6-7 hari, Dok.

Terakhir sudah kontrol ke RSUD Petukangan. Dokter anak melakukan cek Mantoux dengan hasil tes negatif. Namun, qadarullah, belum sempat cek darah karena anaknya takut jarum. Ditambah lagi berat badannya kurang untuk anak umur 8,5 tahun. Berat badannya kemarin 19-20 kg.

Karena demam yang sering, baiknya rangkaian pemeriksaan apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhJazaakillahu khayr atas pertanyaannya, Umm. Situasinya agak panjang sebenarnya dengan beberapa keluhan yang disampaikan. Semoga ananda segera diberikan kesembuhan.

Jadi tadi ada nyeri perut berulang sejak usia 4 tahun, dan ini agak unik, yaitu demam kalau skip makan. Kemudian juga dilakukan pemeriksaan lain, karena berat badan turun. Ini harus dipilah-pilah apakah penyakit ini merupakan satu kesatuan atau tidak, karena kesannya sakit berulang akhirnya diasumsikan sakitnya jadi satu kesatuan besar. Usianya sudah 8,5 tahun, dengan berat 19-20 kg dan sakit perutnya sejak 4 tahun yang lalu. Sesuai dengan topik, kita fokus pada sakit perutnya dahulu.

Jadi, sakit perutnya harus dilihat, Umm, kapan sakitnya muncul, apakah memang terkait pada saat anak terlambat makan atau memang pada saat anak makan sesuatu atau bahkan tanpa proses makan. Misalnya, jika tidak berhubungan dengan proses makan, tetapi sakit perutnya muncul pada saat lagi istirahat. Kalau misalnya berhubungan dengan waktu makan, artinya anak sakit perut pada saat perutnya sedang kosong atau terlambat makan, kemungkinan ada permukaan dari lambungnya yang mungkin kita perlu evaluasi. Jika memang benar, ini harus dibuktikan dengan serangkaian pemeriksaan. Kalau sakit perut anak memburuk saat diberikan makanan, kemungkinan bisa jadi ada nyeri yang disebabkan karena permukaan lambung juga.

Kok permukaan semua, Dok? Jadi seperti ini, permukaan itu bisa terjadi di lambung atau di usus dua belas jari, atau bisa di batang tenggoroknya. Artinya pada saat ada makanan di daerah-daerah luka itu, akan menyebabkan nyeri.

Nah, jika dia nyaman dengan makanan, artinya dengan adanya makanan, asam lambung tertekan. Misalkan pada saat ada makanan nyeri perut berkurang, kalau misalnya perut anak bertambah sakit pada saat ada makanan, bisa jadi luka itu di bagian atas, yang mana ada makanan yang lewat, itu teriritasi lebih banyak.

Sehingga onset waktu sakit atau mulai sakitnya, itu menjadi satu yang esensial. Untuk anak 8 tahun, dan ini sudah 4 tahun sejak umur 4 tahun anak sakit, paling sering ini sebenarnya bukan permukaan, justru biasanya karena gangguan pola BAB (buang air besar). Karena tadi kalimatnya ada yang menarik, “Anaknya agak susah makan, Dok”. Jika anak susah makan, sering kali orangtua akhirnya memberikan asumsi bahwa yang penting makan deh. Dikasih apa saja, bagus. Kalau sudah seperti ini, frekuensi makannya jadi lebih sempit.

Contoh misalnya, mungkin bukan kasus anaknya Umm penanya, tapi ada anak yang jarang makan buah dan sayur. Ada yang makan sayur tetapi lebih banyak sayur sop, itupun yang diambil kuah sopnya, wortelnya sedikit, kentangnya dihabiskan, lalu ayam yang di sopnya diambil tetapi sayurnya tidak. Sayur yang paling tidak ideal di Indonesia ada 2, pertama sayur sop, yang kedua sayur asem. Untuk sayur asem sendiri, anak-anak hanya mengambil jagungnya saja. Melinjo, daun melinjo, kacang panjang, atau daun-daun lainnya tidak diambil. Yang diambil hanya kuah sama jagungnya saja.

Jadi, bisa kita katakan, kemungkinan besar ada gangguan serat. Nah, anak-anak dengan sembelit ini bisa jadi ada keluhan sakit perut apalagi sudah 4 tahun. Coba dievaluasi lagi, buang air besar atau BAB-nya bagaimana? BAB-nya beberapa hari sekali? Apakah sulit buat BAB? Apakah jika BAB harus ngeden? Teksturnya apakah keras, bulat-bulat hitam gelap, dan yang lain? Atau apakah sakit saat BAB? Kultur di masyarakat biasa jadi penyebab, yaitu makan pedas. Makan pedas bisa menjadi faktor agresornya lebih dominan. Tinggal faktor protektornya diperbaiki.

Pertanyaan berikut adalah apa pemeriksaan yang harus dilakukan? Konsultasikan lagi sama dokter. Jika keluhannya adalah sesuatu yang tidak bisa dimodifikasi tanpa obat, untuk protektor, agresor, pola makan, dan yang lain, kemungkinan besar harus dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjangnya bisa dilakukan laboratorium, atau yang ekstrim adalah pemeriksaan endoskopi. Kami doakan semoga ananda bisa lebih cepat untuk disembuhkan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Muntah Disertai Nyeri Berulang

Pertanyaan dari ART152-1309 Ibu Maria, Surabaya

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Dokter. Saya ingin menanyakan tentang anak perempuan saya. Sekarang umurnya 12 tahun. Riwayat pernah opname karena tifus saat kecil. Di umur 10 tahun, beberapa kali ke dokter dengan diagnosis maag dan dikasih obat maag serta anti muntah.

Dari umur 10 tahun ke 12 tahun anak saya sering sekali muntah. Misalnya saat anak tidur nyaman di malam hari, tidak ada masalah atau keluhan pada sore hari, tetapi saat dini hari sekitar jam 3 atau jam 4 subuh, anak terbangun dan menangis sampai kesakitan. Gejalanya bisa muntah sepanjang hari sampai sore. Hal itu bisa terjadi satu bulan sekali.

Karena sudah sering, saya hanya memberi obat muntah di rumah, seperti domperidon dan dibalur minyak agar nyaman. Pertanyaan saya Dok, gejala muntah ini sebenarnya apa ya, Dok? Apakah akan mengganggu anak saya kedepannya? Karena gejalanya terjadi lumayan sering. Jazaakallahu khayr.

Jawaban:

Jazaakillahu khayr. Semoga ananda segera diberikan kesembuhan. Kalau mendengar ceritanya, ini masalah yang serius karena keluhannya berulang. Apakah itu membahayakan? Iya jelas membahayakan, Umm. Walaupun, alhamdulillah ini seperti alarm untuk bangun di dini hari untuk tahajud, lanjut waktu subuh, dan lanjut sampai sekolah. Tetapi kalau ini berkelanjutan dan dipaksa istilahnya, ada kemungkinan besar akan mempengaruhi kualitas tidur anak dan kita ketahui kualitas tidur ini berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan serta kemampuan kognitif anak. Minimal kemampuan anak belajar pasti terganggu, karena kuantitas tidurnya terganggu, sehingga gejala ini harus diatasi. Di luar itu, kita juga bicara bahwa penyakit yang terus-menerus ini akan memengaruhi fungsi pencernaannya. Bisa kita bayangkan, sakit perut dini hari, setelah itu muntah-muntah, ini menjadi sesuatu yang akan mengganggu sekali, dan bisa mengubah struktur dari usus atau dari organ saluran cerna anak.

Sehingga apa yang harus dilakukan? Pertama, kita harus mencari penyebab dasarnya. Ada beberapa kasus, seperti sembelit atau yang sakit perut di tengah malam, hingga anak muntah-muntah, tidak bisa menerima asupan lagi perutnya, terasa terlalu begah dan sakit. Penandanya yaitu kita bisa raba dari perut, terutama di bagian kiri bawah itu biasanya akan teraba nggrenjel, kayak keras-keras seperti kerikil di dalamnya ataupun yang seperti kumpulan bahan keras.

Dan secara anamnesis (proses tanya-jawab antara dokter dengan pasien untuk menggali riwayat kesehatan atau penyakit, red) bisa kita tanya apakah buang air besar atau BAB anak rutin? Berapa hari sekali? Saat BAB susah apa tidak? Ngeden apa tidak? Dan kita bisa mundur, saat anak umur 2-4 tahun apakah ada riwayat gangguan buang air besar berulang hingga akhirnya menjadi satu situasi, yang secara bawah sadar menekan refleks buang air besar si anak. Hal ini bisa menjadi salah satu pemicu sakit perut di masa sekarang. Meskipun banyak juga kemungkinan yang bisa menyebabkan kasus ini.

Jadi untuk Ibu Maria, saran saya coba konsultasikan ke dokter anak, dan mungkin minta dirujuk ke dokter spesialis gastroenterologi anak atau dokter saluran cerna anak, sehingga nanti mungkin akan ada serangkaian pemeriksaan. Jika saat pemeriksaan ditemukan sesuatu yang menyumbat, atau sesuatu yang tidak wajar, bisa dilakukan pemeriksaan imaging atau pencitraan sebelum dilakukan endoskopi. Bisa dilakukan USG ataupun yang lain karena kalau misalkan diberikan obat-obat saja penyebab dasarnya tidak teratasi, sakit dan gejalanya akan berulang.

Kalau prinsip sakit perut, bila kita menyinggung faktor agresor dan protektor, faktor agresornya tidak dimodifikasi, faktor protektornya tidak ditingkatkan, hanya minum obat, tidak akan teratasi penyebab dasarnya.

Dengan analogi sederhana, misalnya saat ini sedang hujan, yang dikerjakan hanya menyimpan ember di bawah atap yang bocor, sedangkan kita tidak memperbaiki atapnya. Maka jika esoknya hujan lagi, atapnya akan bocor lagi, dan itu akan berulang. Jadi tidak akan menyelesaikan masalah. Semoga bisa dipahami.

Makanan saat Pemulihan Gastritis

Pertanyaan dari Ibu Ika

Dokter, anak saya umur 12 tahun. Qadarullah pasca perawatan, rawat inap, di rumah sakit 2 minggu yang lalu dengan diagnosis gastritis dengan cystitis, muncul nyeri sakit perut setelah makan kuah lemak pedas. Alhamdulillah saat ini bebas dari nyeri tanpa obat, hanya sedikit rasa begah dan kembung. Yang ingin saya tanyakan apakah anak saya tidak boleh lagi makan pedas dan berlemak? Apakah seterusnya atau sampai berapa lama?

Jawaban:

Semoga ananda segera diberikan kesembuhan. Untuk kondisi anak Ibu Ika, sakitnya kebetulan ada dua, yang pertama yaitu gastritis atau sakit radang lambung atau yang mungkin relate dengan kondisi yang sekarang. Yang kedua yaitu cystitis. Cystitis adalah peradangan pada kandung kemih, dan ini juga berhubungan dengan sakit perut yang sebelumnya sempat saya singgung. Jadi qadarullah keduanya relate, satunya sakit perut di ulu hati, satunya sakit perut di bawah pusat atau di atas selangkangan kemaluan. Alhamdulillah, biidznillah, sudah diberikan kesembuhan.  

Pertanyaannya menarik, nih. Apakah tidak boleh lagi makan pedas dan berlemak? Situasinya begini, pada saat ada masalah di permukaan, yang dilakukan adalah menghindari secara total. Itu yang pertama, tetapi sampai kapan? Alhamdulillah, tubuh kita diberikan kemampuan untuk beregenerasi. Artinya memperbaiki diri, melapisi diri, dan memperbaiki lukanya. Dibantu dengan obat-obatan ataupun tanpa obat-obatan tetapi dengan karunia Allah, tubuh kita akan sembuh. Jadi, yang harus dilakukan adalah berikan waktu dan ruang untuk tubuh yang terluka itu untuk sembuh sendiri. Nah pada saat interval itu, tidak boleh ada paparan bahan-bahan yang agresor sama sekali. Tetapi pada saat faktor protektifnya sudah muncul, tiga hal yang tadi kita bahas tentang lapisan lambung dan yang lain, pada akhirnya anak sudah bisa menerima dengan intensitas yang wajar untuk makan-makanan tadi atau faktor-faktor agresor tadi.  

Sehingga simpulannya adalah pertama selama anak sedang sakit hindari faktor pencetus, dalam hal ini hindari makanan pedas secara total. Kedua, berikan waktu untuk pemulihan, rata-rata waktu pemulihan sekitar 2-4 pekan, untuk beberapa kasus yang ekstrem bisa sampai 12 pekan. Jadi jangan mengkonsumsi makanan pedas dahulu. Lalu yang ketiga, bilamana sudah selesai pemulihan, apakah boleh makan pedas lagi? Boleh, selama masa pemulihan itu sudah lewat. Dengan catatan tidak berlebihan dalam waktu dan dalam jumlah.  

Jika sudah selesai masa pemulihan mudah-mudahan bisa makan pedas lagi dan itu memang nikmat tersendiri bagi penikmat makanan pedas. Namun, jangan sampai menjadi makan sambal pakai bakso, padahal seharusnya makan bakso pakai sambel. Ini orang Indonesia kadang suka terbalik. Ada juga makan telur balado, yang mana seharusnya telur lebih banyak dari sambal baladonya, tetapi kadang sambel baladonya lebih banyak dari telurnya. Mungkin itu saja. Mudah-mudahan bisa menghibur hati ananda Ibu Ika ya.. Mudah-mudahan bisa makan pedas lagi.

101