🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Tangan-Tangan Kebaikan di Balik Para Penghafal Al-Qur’an

Reporter: Leny Hasanah

Editor: Subhan Hardi


Tidak semua orang dapat hadir di halaqah. Tidak semua duduk mengulang ayat demi ayat. Namun di balik itu, ada mereka yang tetap terlibat dengan caranya sendiri, memastikan proses itu tidak berhenti di tengah jalan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ" قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: "أَهْلُ الْقُرْآنِ، هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah keluarga Allah itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahli Al-Qur’an; merekalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ahmad, no. 12279; dinilai sanadnya hasan oleh Syaikh Syu'aib Al-Arnauth)

Selama ini, perhatian kita sering tertuju pada mereka yang piawai menghafal. Padahal ada satu lapisan yang jarang disorot: siapa yang menjaga agar “keluarga Allah” itu tetap ada?

Menopang yang Tidak Terlihat

Program Beasiswa Penghafal Al-Qur’an (BPQ) LAZ HSI Berbagi hadir di ruang yang tidak selalu tampak. Ia tidak berada di tengah halaqah, tidak pula menggantikan peran guru. Perannya justru ada di satu titik yang sering luput: menopang.

Dalam gambaran yang lebih luas, BPQ ditempatkan sebagai program prioritas. Sejajar dengan kafilah dakwah, penyediaan air bersih, hingga pembangunan masjid. Semuanya diarahkan pada satu tujuan: kebermanfaatan jangka panjang.

Akhuna Qodri Abu Hamzah, Direktur LAZ HSI Berbagi, menjelaskan posisi itu dengan lugas.

“Dalam konteks yang lebih luas, posisi BPQ ini adalah salah satu program prioritas karena ini semua ladang amal jariyah yang mendatangkan manfaat jangka panjang. Seperti program kafilah dakwah, program air bersih, program pembangunan masjid,” ujarnya.

Di lapangan, tantangan yang muncul dalam program BPQ seringkali bukan pada kemampuan anak dalam menghafal. Justru yang lebih menentukan adalah keberlanjutan proses itu sendiri. Akses pendidikan formal menjadi salah satu persoalan yang nyata.

“Masalah yang dihadapi perihal akses pendidikan penghafal Al-Qur’an ini perihal lembaga yang menyediakan ijazah sekolah yang diakui negara atau formal. Yang formal biasanya biayanya mahal,” jelas Akhuna Qodri.

Sementara itu, banyak lembaga berbasis Al-Qur’an yang kuat dalam pengajaran dan pembinaan hafalan justru berada di jalur nonformal.

“Padahal banyak lembaga nonformal khusus Al-Qur’an yang bisa bersaing dalam proses menghafal. Itu juga yang membuat orang tua berpikir tentang career path,” lanjutnya.

Di titik inilah BPQ mengambil peran yang sangat spesifik. “Yang membedakan adalah kita memang fokusnya ke SPP untuk biaya pendidikan formal para penghafal Al-Qur’an, biar orang tua fokus memberikan support lainnya saja,” kata Akhuna Qodri.

Tentunya, upaya yang dilakukan HSI Berbagi bukan hanya konsep. Dalam periode 2024–2025, program BPQ telah menyalurkan dana sebesar Rp62.500.000,00 untuk 10 penerima manfaat. Memasuki tahap pertama tahun ajaran 2025/2026, jumlah penerima melonjak signifikan, sebanyak 42 orang dinyatakan lolos verifikasi dengan total bantuan mencapai sekitar Rp290 juta.

Angka-angka ini mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, ada puluhan keluarga yang kini bisa melanjutkan langkah pendidikan anak-anak mereka tanpa harus berhenti di tengah jalan.

Menjaga Lingkaran yang Sama

Yang dijaga dalam program BPQ bukan hanya hafalan, tetapi juga lingkungan yang mengelilinginya. Sejak awal, proses seleksi melibatkan asatidz dan ustadzaat yang memiliki sanad. Namun pembinaan tidak berhenti pada anak. Orang tua ikut menjadi bagian dari proses yang berjalan.

“Kita memboyong para asatidz dan ustadzaat yang memiliki sanad untuk proses tes. Proses pembinaannya juga menuntut orang tua atau walinya agar bisa mengikuti kajian di HSI Berbagi,” ujar Akhuna Qodri.

Sebab pada akhirnya rumah tetap menjadi ruang paling berpengaruh. “Ingin anak shalih atau shalihah pasti berawal dari orang tuanya juga bisa menunjukkan apa yang mereka inginkan dari anak-anaknya,” imbuhnya.

Keberhasilan pun tidak diukur hanya dari jumlah hafalan. Banyaknya penerima manfaat dan penerima manfaat meningkatkan hafalan dan istiqomah dalam menjaga hafalan serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka menjadi dasar yang kuat dalam program ini.

“Perubahan yang terjadi mungkin tidak selalu tampak mencolok. Namun bagi keluarga, dampaknya terasa. Beban yang berkurang memberi ruang bagi orang tua untuk lebih hadir, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping,” jelas Akhuna Qodri.



Dari Niat Menjadi Amal Jariyah

Di balik keberlangsungan program ini, ada satu hal yang tidak terlihat tetapi sangat menentukan: kepercayaan. LAZ HSI Berbagi berupaya menjaganya melalui sistem pelaporan dan distribusi yang terukur.

“Karena ini berhubungan dengan lembaga pendidikan tempat penerima manfaat, maka kami membuat laporan yang disesuaikan dengan proses pendistribusian program, di mana dan berapa,” ujar Akhuna Qodri.

Ia menambahkan, “Kita memberikan bantuan secara nyata, selektif dalam mencari penerima manfaat dan tidak sekadar membantu saja tanpa adanya proses monitoring serta pembinaan,” imbuhnya.

Bagi sebagian muhsinin, keterlibatan ini lebih dari donasi. Akhuna Achmad Afrizal melihatnya sebagai bagian dari ikhtiar yang lebih panjang: menolong agama Allah, menjaga Al-Qur’an, dan menanam amal yang tidak terputus.

Ia mengaitkannya dengan firman Allah dalam QS. Muhammad ayat 7, QS. Al-Hijr ayat 9, hingga QS. Yasin ayat 12, serta hadits tentang pahala yang terus mengalir.

Salah satu hadits yang ia pegang berbunyi:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ...

“Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: bacalah dan naiklah…” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Dari sana, santri angkatan tahun 2015 ini memandang bahwa membantu para penghafal Al-Qur’an adalah cara untuk ikut mengambil bagian. Tidak semua orang menghafal, tetapi setiap orang memiliki peluang untuk terlibat.

Refleksi yang ia sampaikan sederhana: bahwa umur manusia terbatas, sementara waktu terus berjalan. Di tengah kondisi zaman yang penuh fitnah, kesempatan berbuat kebaikan menjadi sesuatu yang perlu disadari dan dijaga dengan istiqamah.

Sementara, bagi Ummu Rasha Deeva, keputusan untuk terlibat juga lahir dari kesadaran yang sederhana, namun kuat. Ia melihat program ini sebagai bagian dari upaya menjaga arah generasi di masa depan.

“Dengan Al-Qur'an, insyaallah kita bisa terhindar dari banyaknya perbuatan kekufuran, maksiat yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan kaum munafikun, terutama untuk generasi yang akan datang,” ujar Ummu Rasha, santri angkatan ART231.

Baginya, dampak dari dukungan seperti ini tidak selalu terlihat dalam waktu dekat. Namun justru di situlah nilainya, ia bekerja dalam jangka panjang, membentuk generasi yang tetap terhubung dengan Al-Qur’an.

Cerita yang Mengalir dari Rumah

Di sisi penerima manfaat, cerita berjalan lebih tenang dan justru di situlah letak kekuatannya.

Ummu Anshor Fitri mengisahkan, anaknya mulai menghafal sejak usia lima tahun. Bermula dari kebiasaan sederhana: murrotal di rumah, lingkungan yang mendukung, serta proses hijrah yang mereka jalani sebagai keluarga.

Seiring waktu, tantangan datang bukan pada menambah hafalan, melainkan menjaganya. Terlebih ketika anak mulai memasuki masa remaja, ketika fokus mudah terpecah.

Pendampingan pun tidak selalu berupa dorongan. Ada ruang jeda. Ada waktu untuk bernapas. Sejak menerima beasiswa BPQ, ada satu hal yang berubah: mereka tidak lagi merasa berjalan sendiri.

“Program ini sangat membantu, tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan hafalan anak. Kami merasa tidak berjuang sendirian,” tutur santri HSI ber-NIP ART211 menjelaskan.

Ia kemudian menyampaikan pesan yang sederhana, tapi dalam. ”Jazaakumullah khairan katsiran kepada para muhsinin. Dukungan ini adalah investasi akhirat yang sangat berarti bagi kami. Semoga setiap ayat yang dibaca dan dihafal oleh anak kami menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya untuk Bapak dan Ibu sekalian,” tutupnya.

Menjaga yang Terus Hidup

Pada akhirnya, satu hafalan memang tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia disangga oleh banyak peran: orang tua, guru, lembaga, dan mereka yang memilih untuk ikut terlibat, meski dari jauh. Sebagian hadir di depan. Sebagian memilih tetap di belakang. Namun dari situlah satu ayat bisa terus dijaga dan terus hidup.

Barangkali, tidak semua dari kita ditakdirkan menjadi penghafal Al-Qur’an. Namun, selalu ada ruang untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menjaganya. Dan bisa jadi, dari peran yang tampak sederhana itu, Allah bukakan jalan amal jariyah yang terus mengalir, melampaui usia, melampaui waktu.

Jika hari ini Allah lapangkan rezeki dan kesempatan, mungkin inilah salah satu pintu kebaikan yang bisa dipertimbangkan, ikut mengambil bagian dalam menjaga Al-Qur’an, melalui mereka yang menghafalnya. Karena di balik setiap ayat yang terjaga, ada tangan-tangan kebaikan yang memilih untuk terlibat.*


16