Sukacita Lebaran Tanpa Perayaan Berlebihan
Reporter: Loly Syahrul
Redaktur: Gema Fitria
Gema takbir berkumandang sejak terbenamnya matahari di penghujung Ramadhan. Suara yang menggetarkan hati itu menjadi penanda datangnya hari kemenangan bagi kaum muslimin. Rasa syukur dan haru memenuhi dada orang-orang beriman, karena Allah Ta’ala telah memberikan kesempatan menjalani ibadah sebulan penuh, sekaligus menghadirkan harapan besar agar seluruh amal diterima oleh-Nya.
Di rumah-rumah kaum muslimin, datangnya Idul Fitri disambut dengan berbagai persiapan. Setiap sudut rumah dibersihkan, berbagai hidangan terbaik disiapkan, dan pakaian terindah untuk shalat Id ditata rapi. Di balik kemeriahan itu, ada sosok yang memegang peranan paling besar dalam memastikan semuanya berjalan dengan baik, yaitu ibu. Dari dapur hingga ruang tamu, dari menyiapkan makanan hingga menyambut tamu, ibu kerap menjadi ujung tombak berbagai persiapan hari raya.
Kesibukan tersebut sering membuat hari raya bagi ibu terasa berbeda dengan anggota keluarga lainnya. Di satu sisi ada kebahagiaan menyambut kemenangan setelah Ramadhan, namun di sisi lain ada antrian tanggung jawab yang menunggu untuk ditunaikan.
Kesibukan Sebelum Shalat Id
Kesibukan ibu di hari raya telah dimulai sejak pagi buta. Ibu biasanya menjadi orang pertama yang bangun, kemudian mengecek seluruh anggota keluarga, seperti memastikan semua mandi sesuai jadwal dan berpakaian rapi setelahnya. Selepas itu, ibu juga menyajikan sarapan, bahkan terkadang menyuapi anaknya jika masih berusia balita. Kesibukan tersebut kadang menjadikan ibu sebagai orang terakhir yang bersiap. Bahkan, bagi sebagian ibu, rangkaian aktivitas sudah dimulai sejak malam takbiran.
Ukhtuna Fachrianti, santri HSI Angkatan 232, mengatakan bahwa puncak kerepotannya adalah malam takbiran. ”Malam takbiran buat saya agak repot karena harus memasak makanan untuk Lebaran besok pagi,” ujarnya. Ini dilakukannya dengan tujuan agar esok pagi lebih santai. “Tinggal bangunin anak-anak untuk shalat Subuh. Biasanya mereka langsung mandi. Saya sambil anget-angetin makanan, lalu kita makan bersama sebelum shalat Id,” imbuhnya.
Ukhtuna Fachrianti mengatakan, “Kita makan pagi hari untuk nunjukin kalau hari tersebut kita sudah tidak puasa lagi. Walaupun belum bisa ngungkapin detail dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam, tapi sedikit-sedikit saya mengajarkan kepada anak-anak agar bisa menerapkan sunnah yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,” ungkap ibu sepasang putra-putri ini.
Tidak semua ibu mengalami tingkat kesibukan yang sama. Sebagian mencoba menyiasatinya dengan melakukan berbagai persiapan bahkan jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Pengalaman Ukhtuna Demiaty Perangin misalnya.
Santri HSI Program Reguler Angkatan 211 ini mengaku sudah lama tidak merasakan kerepotan di hari raya. Putra-putrinya sudah dewasa. Di samping itu, Ukhtuna Demiaty terbiasa menyiapkan segala kebutuhan Lebaran sejak sebelum Ramadhan tiba.
“Menjelang Ramadhan, saya sudah mulai membuat isian/selai kue Nastar, sudah mencuci gorden sebelum puasa, sudah membeli bahan-bahan masakan seperti menyiapkan stok bawang merah, bawang putih, dan lain-lain,” ungkapnya.
“Alhamdulillah, mempunyai 4 orang anak yang sudah besar-besar, dan yang bungsu sudah SMA sehingga ketika hari raya tidak terlalu repot. Pekerjaan rumah sudah berbagi, tidak dikerjakan oleh ana sendiri,” tuturnya. Wanita yang telah 31 tahun berkarir di kantor pemerintah ini, mengatakan hal itu dilakukannya agar saat Ramadhan tidak terlalu sibuk. “Sehingga bisa fokus muraja’ah Al-Qur’an,” imbuhnya.
Kesibukan ibu dalam menyambut hari raya tidak hanya perkara tenaga dan waktu. Dalam banyak keluarga, ibu sering menjadi pihak yang memikirkan berbagai kebutuhan Lebaran juga, mulai dari hidangan, pakaian, hingga keperluan menjamu tamu. Di sinilah sering muncul tantangan lain bagi ibu. Salah satunya tentang bagaimana menyambut hari raya dengan penuh kegembiraan, tanpa terjebak pengeluaran berlebih.
Godaan Konsumtif
Pengagungan terhadap hari raya kelihatannya sering kali tanpa disadari membelokkan para ibu pada perilaku konsumtif. Sebut saja kebiasaan membeli pakaian baru super mahal padahal pakaian lama masih sangat layak. Atau memesan seragam luar biasa mewah demi terlihat kompak dan wah.
Begitu juga urusan perut, sebagian ibu sudah menyediakan lauk-pauk serta penganan enak-enak yang istimewa. Ada pula yang rela mengeluarkan dana ekstra untuk menyulap rumah agar berbeda dari hari biasa, seperti mengecat ulang, mengganti gorden, membeli peralatan makan baru, membeli bunga segar, hingga menyiapkan amplop THR untuk dibagikan kepada anak-anak. Semua sah-sah saja asalkan sesuai kemampuan. Tapi kalau dipaksakan, itu menjadi problematika tersendiri.
Ukhtuna Az Zahra Putri mengaku mengalokasikan dana yang cukup besar untuk persiapan Lebaran. “Wah, kalau Lebaran pengeluaran kami bisa meningkat 75% atau kadang sampai 100% alias hampir dua kali lipat hari biasa,” ucap santri Angkatan 232 tersebut.
Demikian pula pengakuan Ukhtuna Lucky Herawati, dari Angkatan 202. Pengeluarannya membengkak menjelang Idulfitri. “Untuk menyambut Lebaran biasanya kami menyiapkan pos biaya tambahan untuk pakaian, hidangan, hantaran makanan, dana amplop salam-tempel, pembelian alat-alat rumah tangga yang baru, dan jika diperlukan kami juga mempersiapkan dana untuk renovasi rumah. Pos-pos pengeluaran ini biasanya meningkat 50-75% dari pengeluaran normal kami,” tukas guru SD yang biasa dipanggil Ummu Hamzah tersebut.
Melayani Tetamu
Setelah lengkap segala persiapan, keluarga-keluarga akan sampai pada Hari-H. Di Indonesia, lebaran identik dengan tetamu. Bersilaturahmi ke rumah sanak saudara pada hari raya adalah tradisi yang sudah mengakar kuat di negeri ini.
Dalam melayani tamu di hari Lebaran, bisa dipastikan, lagi-lagi, ibu lah yang tersibuk. Dari menyiapkan makanan, membuat minuman, sampai beramah tamah dengan tetamu.
“Banyak melayani tamu tidak membuat saya lemah atau merasa capek, semua tertutupi dengan senangnya hati karena kita berkumpul dan bersilaturahmi dengan saudara-saudara yang datang. Sebab kalau bukan momen Lebaran, kita susah berkumpul,” kata Ukhtuna Eni Kustampi yang merupakan seorang guru TK.
Sementara Ukhtuna Maryati Warsodiharjo yang sudah belajar di HSI sejak 2018, berkenan membagikan tips agar para ibu tidak kelelahan di hari raya. “Sesungguhnya hari raya bukanlah hari untuk beristirahat dari ibadah,” ujarnya menggugah kesadaran. Menurut santri HSI yang juga mengemban amanah sebagai Koordinator Muraqibatul Mu’allimah/Koordinator Intensif Hifzhul Mutun Akhwat HSI Abdullah Roy ini, hari raya ialah kesempatan menampakkan hasil tarbiyah didikan Ramadhan.
“Di dapur kita belajar sabar. Di ruang keluarga kita belajar ikhlas. Di ruang belajar kita menanamkan ilmu. Semua itu adalah ibadah jika diniatkan karena Allah,” ujar ibu rumah tangga tersebut memotivasi.
Makna Hari Raya yang Sesungguhnya
Persis seperti pendapat Ukhtuna Maryati, Syawal sejatinya memang simbol kemenangan setelah sebulan penuh manusia dididik untuk menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Idulfitri merupakan momentum melanggengkan ketaatan yang sudah menjadi kebiasaan selama Ramadhan. Di hari itu, hendaknya kita menghidupkan sunnah, di antaranya dengan memperlihatkan kegembiraan tanpa berlebih-lebihan dalam perayaannya.
“Hari raya bagi saya seorang ibu, pendidik, dan pengajar, bukan sekadar hari besar. Saya berharap ia adalah hari pembuktian bahwa Ramadhan benar-benar membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tutup warga Kediri ini mengajak bertafakur.
Ukhtuna Fachrianti berpendapat sama. “Pada hari Lebaran biasanya ada rasa yang sulit dijelaskan, yaitu rasa haru, rasa syukur, rasa takut kalau Ramadhan tahun ini itu adalah Ramadhan terakhir kita. Dan juga ada harapan semoga saya bisa jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya.
“Ramadhan kayak ngebersihin hati kita, terus Idulfitri tuh momen kita merasakan hasilnya. Saya jadi sadar, ternyata saya bisa loh lebih sabar, bisa lebih dekat dengan Al-Qur’an, bisa lebih kuat menahan diri, dan semoga saya dan keluarga bisa menjaga kebaikan itu bukan cuma di Ramadhan, tapi juga setelahnya. Aamiin allaahumma aamiin,” ungkap Ukhtuna Fachrianti mengemukakan harapan.
Nah, Ummahat wa Akhwati fillah, meriah atau tidaknya suasana Lebaran di rumah ternyata bukan poin utama yang seharusnya menjadi perhatian seorang ibu. Oleh sebab itu, ibu tidak perlu membebani diri dengan standar yang terlalu tinggi.
Kita perlu ingat bahwa ibu adalah madrasatul ‘ula bagi anak-anak dalam menunaikan syariat di dalam rumah. Di balik segala kesibukan, seorang ibu memegang peran penting dalam menjaga suasana hari raya agar tetap berada dalam koridor syariat. Di situlah seorang ibu menampilkan teladan.
Bukan kemeriahan yang menjadi ukuran, tetapi bagaimana rumah senantiasa diliputi rasa syukur, kebersamaan, dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Selamat Lebaran para Murabbiyah. Taqabbalallahu minna waminkum. Baarakallahu fiikunna.