🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Solusi Belajar Agama di Tengah Kesibukan yang Mendera


Reporter: Gema Fitria

Redaktur: Dian Soekotjo


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah Nomor 224)


Hadits singkat seperti tertera di atas, sudah cukup menjadi pengingat kuat bahwa menuntut ilmu agama bukan perkara pilihan melainkan kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Para ulama menafsirkan bahwa ilmu yang dimaksud, adalah ilmu agama.

Alasan kewajiban tersebut selaras dengan syarat diterimanya amal yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam atau ittiba’. Untuk dapat ikhlas dan ittiba’, kita perlu ilmu sebagai pemandu. Tanpa ilmu, seseorang sangat mungkin terjerumus pada hal yang keliru.

Masalah lain kemudian muncul. Mendatangi majelis ilmu tidaklah mudah bagi sebagian orang karena kesibukan pekerjaan, apalagi penduduk di kota-kota besar. Jam kantor yang panjang dengan tumpukan tugas tentu demikian menguras tenaga. Belum lagi kemacetan jalan hingga berbagai tantangan kompleks lainnya. Kalaupun sempat datang ke majelis ilmu, sering kali tubuh sudah terlalu penat untuk fokus.

Bagaimana caranya ya agar tetap bisa belajar agama di tengah kesibukan yang mendera?

Ilmu Agama Di Genggaman Tangan

HSI AbdullahRoy merupakan lembaga kajian online yang didirikan dengan tujuan menyebarkan dakwah tauhid. Materi utamanya adalah tauhid yang dirancang secara terstruktur dan berkesinambungan, di bawah asuhan Ustadzuna DR. Abdullah Roy, M.A. Program gratis yang resmi dimulai tahun 2013 ini telah diikuti ratusan ribu santri dari berbagai negara.

Kegiatan belajar di HSI menggunakan media grup Whatsapp dan website. Materi diambil dari kitab para ulama yang ringkas tapi menyeluruh, dibagikan setiap hari Senin sampai dengan Jum’at dalam bentuk audio berdurasi 3-15 menit. Materi sengaja diberikan sedikit semi sedikit agar tidak memberatkan.

Metode belajar online adalah solusi terbaik karena kemudahan dan fleksibilitasnya. Tidak mengherankan, pembelajaran tidak terganggu sama sekali saat dunia dilanda wabah Covid beberapa tahun yang lalu. Di saat masjid-masjid dan pusat kajian offline terpaksa ditutup, kegiatan belajar santri HSI tetap berlanjut karena ilmu agama bak di genggaman tangan.

Tantangan Belajar Online

Salah satu santri Angkatan 212, Akhuna Surya Ramadhan, mungkin dapat menjadi contoh nyata. Latar belakang pendidikannya sama sekali bukan dari agama. Ia melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah negeri. “Tiga tahun istri saya mengajak bergabung ke HSI,” kisahnya. “Awalnya saya ragu karena takut tidak bisa istiqamah. Tapi setelah mendengar ceramah tentang kewajiban menuntut ilmu, saya berpikir, kalau belajar offline saja susah, lalu online pun tidak saya coba, kapan lagi saya akan belajar?” ujar Akhuna Surya Ramadhan kepada Majalah HSI.

Sebagai karyawan yang 90% waktunya dihabiskan di lapangan, tantangan Akhuna Surya dalam belajar adalah menghadirkan konsentrasi. “Saya selalu berusaha memanfaatkan waktu untuk menyimak materi. Cuma ya itu, sulit konsentrasi sebab menyimak materi kadang di antara bunyi mesin alat berat atau handy-talky. Sering kejadian juga, baru menyimak 2 menit, tiba-tiba diminta menghadap atasan karena ada masalah yang urgent, jadi stop dulu, nanti lanjut lagi.. dan gak terhitung berapa kali saya mengerjakan evaluasi sambil berjalan atau setengah berlari karena panggilan mendadak,” ujar staf Konsultan Sipil ini.

Toh semangatnya tidak luntur. Manfaat besar yang dirasakan membuatnya bertekad akan terus menuntut ilmu di HSI. Akhuna Surya mengaku sangat menikmati proses belajarnya. “Maasyaa Allah banyak sekali ilmu yang baru saya ketahui dari HSI. Alhamdulillah sejauh ini tidak pernah bosan, bahkan selesai EA, rasanya tidak sabar menunggu silsilah baru dimulai. Penasaran setelah ini belajar apa, he he,” tambahnya diiringi senyuman.

Kendali Ada Pada Diri Sendiri

Cerita lain datang dari Ukhtuna Feni Edya santri Angkatan 201 yang seorang ASN di Padang. Ia mengenal HSI dari teman kantornya yang sering memutar audio kajian setiap pagi. “Waktu itu saya ikut mendengar, lalu tertarik ikut mendaftar,” kisahnya.

Bagi Ukhtuna Feni, fleksibilitas waktu dan materi yang singkat namun padat, menjadi daya tarik utama. “Tidak punya latar belakang pendidikan agama pun, insyaallah tetap bisa mengikuti. Penyampaiannya jelas, berjenjang, dan mudah dipahami,” tuturnya.

Namun belajar online bukan tanpa tantangan. “Yang memegang kendali adalah diri sendiri,” ujarnya tegas. “Musyrifah memang selalu mengingatkan, tapi kalau kita tidak disiplin, ya sulit. Kadang saya sampai mengerjakan evaluasi tanpa sempat menyimak dulu karena takut ketinggalan waktu,” ungkap perempuan 38 tahun ini sembari tersenyum.

Menurutnya, soal evaluasi pun kini makin menantang. “Harus lebih teliti dan benar-benar paham dalilnya, bahkan sedikit-sedikit belajar Bahasa Arab juga,” tambahnya.

Ukhtuna Feni mengatakan membiasakan diri untuk menyimak dan mencatat di rumah, tetapi ia kadang-kadang harus melakukan itu ketika ada waktu senggang di jam kerja, karena keterbatasan waktu sebagai istri dan ibu yang bekerja di luar rumah.

Disiplin Adalah Kunci

Latar belakang yang sama juga dimiliki oleh Ukhtuna Nova Yanti. Santri dengan NIP ART171-06088 ini melewati pendidikan formal di sekolah umum. Keinginan belajar agama dimulai ketika Ukhtuna Nova membaca informasi tentang HSI di grup komunitas belajarnya, kemudian ikut mendaftar dan menjadi santri.

Ukhtuna Nova bersyukur Allah memudahkannya menyelesaikan apa-apa yang menjadi pilihannya. “Alhamdulillah saya diizinkan bertahan sampai hari ini. Biidznillah karena belajarnya dengan cara simple, yang diperlukan hanya kedisiplinan, jadi tidak merasa terbebani. Materi yang diberikan tidak banyak. Jadi terasa ringan dan mudah,” ungkap Apoteker yang didaulat menjadi pengajar ini.

Ukhtuna Nova mengaku selalu mencatat setiap materi hingga selesai. “Dulunya yang saya yakini, kemampuan manusia untuk mengingat informasi lewat audio itu terbatas, di bawah 20%. Apalagi untuk waktu yang lama, kemungkinan hanya tertinggal di bawah 5%. Walaupun materinya panjang, tetap didengarkan, pause, catat, dengarkan lagi..sampai materi selesai,” urai wanita yang berdomisili di Kota Tangerang ini menggambarkan.

Kadang-kadang Ukhtuna Nova memanfaatkan waktu luang di antara kegiatan sekolah, bahkan beberapa kali membawa buku catatan jika akan berada di luar rumah. “Jika catatannya ketinggalan, saya akan gunakan kertas lain yang nantinya ditempelkan di buku catatan asli. Itu pernah terjadi beberapa kali,” ungkapnya.

“Saya mengajar di SMK Farmasi, di mana lebih banyak kegiatan praktik di lab. Di awal praktik, siswa terlebih dulu akan membuat jurnal yang membutuhkan waktu 1-1.5 jam. Selepas itu, siswa akan meracik obat secara mandiri, tetapi tetap dipantau. Nah, di saat itulah kegiatan mencatat materi HSI bisa dilakukan. Saya selalu berusaha membawa earphone. Jika dibutuhkan, audio tinggal di-pause dan earphone dilepas. Segala macam cara dilakukan. Target harian harus tercapai,” pungkasnya menunjukkan kesungguhan.

Peran HSI Dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi

Di HSI, pembelajaran dikemas seringan mungkin dengan pembahasan langsung ke inti sari materi, karenanya insyaallah mudah diikuti oleh masyarakat awam, bagaimanapun latar belakangnya.

Salah satu Muraqibah yang bertugas di ART222, Ukhtuna Wiwit Rachmawati, mengatakan HSI cocok diikuti oleh siapa pun. “Bagi mereka yang menghendaki belajar ilmu agama dengan waktu yang fleksibel tapi tetap sistematis dan terstruktur, sangat cocok mengikuti kegiatan belajar mengajar di HSI,” tuturnya meyakini.

Sebagai santri aktif sekaligus pengurus, Ukhtuna Wiwit sudah merasakan sendiri kemudahan belajar di HSI. Walaupun gratis, banyak fasilitas yang didapatkan.

“Fasilitasnya yang pertama, tentunya kita mendapatkan ilmu agama yang sangat bermanfaat. Kedua, pembelajaran mudah diakses melalui grup whatsapp dan website/aplikasi. Materinya ringkas, disediakan fitur untuk langsung mencatat, diiringi dengan evaluasi rutin untuk mengukur pemahaman, dan adanya syahadah bagi yang lulus silsilah. Ketiga, mendapatkan lingkungan yang positif,” Ukhtuna Wiwit menjelaskan.

Menariknya lagi, HSI menyediakan fasilitas interaktif yang memungkinkan santri bertanya langsung kepada Ustadz apabila ada materi yang tidak dipahami. “Ini program yang bagus ya, tapi yang bertanya memang harus bersabar karena antre,” ucapnya.

Ilmu agama adalah cahaya yang menuntun kehidupan. Ia lebih mulia dari segala ilmu dunia, karena mengantarkan kepada kebahagiaan sejati dunia dan akhirat. Di era digital ini, kemudahan teknologi adalah karunia besar dari Allah. Maka sudah sepatutnya kita mensyukurinya dengan menggunakannya untuk hal-hal baik, salah satunya menuntut ilmu syar’i.

Alhamdulillah, sudah ratusan ribu santri dari berbagai negara sudah merasakan manfaatnya. Jika antum ingin bergabung, nantikan pendaftaran santri baru di akun resmi HSI AbdullahRoy, atau kunjungi tanya.hsi.id. Semoga antum menjadi bagian dari keluarga besar pencinta ilmu. Barakallahu fikum.

73