Catatan Sang Qawwam
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Slow Living: Seni Menikmati Hidup dengan Tenang Tanpa Diburu Dunia

Reporter: Rizky Aditya Saputra

Redaktur: Gema Fitria


Istilah slow living semakin populer di berbagai kalangan. Gaya hidup ini bukan berarti hidup malas atau tanpa tujuan, melainkan cara seseorang untuk menikmati hidupnya dengan tenang, perlahan, dan tanpa huru-hara.

Seseorang yang menerapkan slow living, biasanya berusaha untuk menikmati setiap proses kehidupan tanpa tergesa-gesa mengejar validasi dari orang lain. Ia juga tak terlalu berambisi mengejar dunia yang tak ada habisnya.

Selain itu, slow living juga membawa manfaat besar bagi kesehatan jiwa. Gaya hidup yang terlalu sibuk ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan mental, dan slow living membantu hati dan pikiran lebih tenang, sehingga ibadah akan terasa lebih nikmat.

Oleh karena itu, slow living bukan sekadar gaya hidup modern. Ia merupakan aplikasi dari nilai-nilai Islami yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh ketenangan, kesederhanaan, dan fokus pada tujuan akhirat.

Meski pengalaman setiap orang berbeda, slow living tidak selalu berarti meninggalkan pekerjaan atau berpindah tempat tinggal. Esensinya adalah menata prioritas agar aktivitas dunia tidak menggeser tujuan hidup yang lebih besar. Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin dimulai dengan mengurangi distraksi, memperbaiki pengelolaan waktu, atau memberi ruang yang lebih luas bagi keluarga dan ibadah. Bagi yang lain, perubahan tersebut bisa hadir dalam bentuk keputusan hidup yang lebih besar.

Menata Prioritas

Salah satu yang merasakan manfaat menata ulang prioritas hidup adalah Akhuna Dimas. Lebih dari sepuluh tahun lalu, ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta. Sejak saat itu, ia mulai menyusun ritme hidup yang lebih terarah antara bekerja, belajar, dan beribadah.

“Setelah berhenti, ana coba menyusun berbagai kegiatan selain bekerja. Tentunya bekerja adalah kewajiban, tetapi ana meluangkan waktu untuk belajar Bahasa Arab. Dan setiap adzan, ana coba komitmen shalat di masjid. Ini salah satu impian ana ketika di kantor, karena tidak bisa shalat di masjid berjama’ah,” ungkapnya.

Selain memberi keleluasaan untuk menambah aktivitas yang bermanfaat, perubahan ritme hidup tersebut juga membantu Akhuna Dimas dalam menentukan prioritas. Ada kalanya ayah satu anak ini perlu berhenti sejenak untuk memilih mana yang benar-benar bernilai bagi dirinya. Ia pun membatasi penggunaan gawai agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.

“Dulu di kantor, ana sering membuka media sosial berjam-jam tanpa sadar. Sekarang ana mencoba mengurangi dan lebih fokus pada hal yang bermanfaat. Ada untungnya juga handphone ana masih tipe lama, jadi kalau terlintas mau main game atau scrolling aplikasi, jadi malas karena lemot,” ceplosnya.

Semangat yang sama juga mendorong Akhuna Abu Fauzan menata ulang ritme hidupnya. Santri HSI angkatan 202 ini coba menerapkan slow living di kampung halamannya di Solo. Dulunya ia adalah bagian dalam hiruk-pikuk ibu kota yang super sibuk. Ia terbiasa menembus kemacetan Jakarta yang tidak mengenal waktu, bahkan waktu shalat sekalipun.

“Kalau diingat dulu, ana merasa bersalah banget. Ana sering menunda shalat maghrib, karena kena macet di jalan. Rasanya hidup tidak tenang, karena terburu-buru terus,” tuturnya.

“Sekarang ana punya waktu luang dengan keluarga. Itu sesuatu yang lebih berharga daripada jabatan dan gaji dulu. Karena waktu tidak akan bisa diulang, jika tidak memulai ana pasti akan menyesal sekali. Syukurlah, sekarang di kampung hidup malah lebih tenang. Mau ibadah juga gampang, maasyaa Allah,” imbuhnya bersyukur.

Mengabaikan Validasi Manusia


Islam mengajarkan agar seorang muslim bekerja secara profesional dan beribadah secara maksimal. Jika salah satunya ditinggalkan, maka hidup tak akan berjalan seimbang.

Akhuna Dimas merasakan puncak kenikmatan hidup tatkala ia tak perlu lagi khawatir ketinggalan waktu shalat berjamaah di masjid. “Rezeki itu sudah Allah atur. Sekarang ana usaha pribadi dan kerja remote di rumah, alhamdulillah cukup saja. Malah, hati ana sangat tenang karena ana bisa beribadah kapanpun ana mau seperti shalat Dhuha, belajar Bahasa Arab dan lainnya,” ucapnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Akhuna Abu Fauzan. Menurutnya, hidup dalam batasan syariat justru membuat hati lebih tenang. Ia juga tak mau ambil pusing dengan penilaian orang lain yang terkadang menyebutnya downgrade atau turun kelas.

Mengabaikan validasi manusia bukan berarti tidak peduli terhadap nasihat. Namun seorang muslim perlu memahami bahwa penilaian manusia tidak akan pernah ada habisnya.

“Kalau tujuan kita jelas mencari ridha Allah, kita tidak terlalu sibuk memikirkan apakah orang suka atau tidak. Sampai ada yang bilang kok malah downgrade karena sekarang tinggal di kampung. Tapi mau gimana, ana nyaman di sini, dan kita hidup bukan untuk penilaian manusia, tetapi untuk penilaian Allah,” Abu Fauzan mengungkapkan.

Menikmati Ibadah

Perkara mubah bisa bernilai pahala jika diniatkan karena Allah. Salah satunya menerapkan gaya hidup slow living, yang jika dilakukan dengan meluruskan niat dan ittiba’ pada tuntunan Rasulullah, akan berdampak pada meningkatnya kekhusyukan saat beribadah. Ibadah yang dilakukan dengan hati yang hadir akan terasa jauh lebih nikmat ketimbang sekadar menggugurkan kewajiban. Banyak orang menjalani ibadah secara tergesa-gesa karena pikirannya dipenuhi urusan dunia. Padahal dengan menghadirkan hati sejenak dalam beribadah, maka kita akan merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Dengan waktu yang lowong, kita bisa menambah ibadah sunnah. Seperti shalat sunnah, di situ kita bisa melantunkan bacaan dengan perlahan tanpa diburu-buru pekerjaan. Ketika shalat sunnah, ana mencoba memperlambat bacaan dan memahami maknanya. Rasanya berbeda, hati jauh lebih tenang,” papar Akhuna Dimas.

“Ketika hati tenang, efeknya sangat banyak. Salah satunya kita jadi lebih berhati-hati dalam menentukan setiap keputusan. Ini juga menumbuhkan sifat muraqabatullah atau senantiasa merasa diawasi Allah. Jadi setiap keputusan tidak dilakukan secara asal, melainkan ditimbang di atas keridhaan Allah,” tambahnya.

Hidup Hanya Berharap Ridha Allah

Seiring bertambah usia, sejatinya jatah kehidupan di dunia semakin berkurang. Dengan begitu, seorang muslim perlu merenungkan kembali tujuan hidupnya saat ini. Apakah tujuan hidupnya semakin mendekatkan diri kepada Allah, atau sebaliknya justru semakin menjauh.



Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Ia justru menjadi sinyal awal agar tidak berlebihan dalam mengejar dunia. “Sejak berusia 40 tahun, ana mulai sadar, kalau jalan pulang (kematian) tidak akan lama lagi. Oleh karena itu, ana bertekad memfokuskan diri untuk memperbaiki ibadah dan mencari ridha Allah,” Akhuna Abu Fauzan menuturkan.

“Hidup sederhana tak membuat kita terhina. Sebaliknya, justru meringankan hisab kita nanti di akhirat, dan ini lebih menenangkan hati menurut ana,” tutupnya.

Pada akhirnya tujuan hidup seorang muslim adalah surga. Sebuah tempat kembali yang indah dan diselimuti kemewahan. Sedangkan harta dunia hanyalah fana yang tak dibawa ke liang lahat.

Oleh karena itu, alangkah bijaknya seorang ayah mulai menggeser orientasi hidup dari mengejar dunia, kepada mencari ridha Rabb-Nya. Dengan hidup sederhana, insyaallah keluarga akan tumbuh dalam ketenangan dan keberkahan.

0