Shalat Qiyamul Lail
Penulis: Ja’far Ad-Demaky, S.Ag.
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc.
Pendahuluan
Shalat qiyamul lail adalah shalat yang paling utama setelah shalat wajib, yang akan mengangkat derajat, menghapuskan kesalahan, memperindah wajah, dan mencerahkan hati orang yang melaksanakannya. Ini termasuk ciri khas perbuatan orang-orang yang shalih (bertakwa) dahulu. Bahkan, hukum meninggalkan shalat malam adalah makruh bagi yang terbiasa melakukannya. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhum, bahwa dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku,
يا عَبْدَ اللَّهِ، لا تَكُنْ مِثْلَ فُلانٍ؛ كانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Wahai Abdullah, jangan kamu seperti fulan! Dahulu ia terbiasa shalat malam, tetapi ia sekarang meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159)
Definisi
Qiyamul lail terdiri dari dua kata, yaitu qiyam dan al-lail. Pengertian qiyam menurut bahasa Arab adalah menegakkan, menghidupkan atau menghabiskan, sedangkan al-lail artinya malam atau sebagian malam. Istilah shalat ini juga digunakan untuk shalat tahajud, shalat tarawih, dan shalat witir. Menurut istilah para ulama fikih, qiyamul lail adalah,
قَضَاءُ اللَّيْلِ وَلَوْ سَاعَةً بِالصَّلاَةِ أَوْ غَيْرِهَا
“Menghabiskan malam, meskipun hanya satu jam dengan shalat atau ibadah lainnya.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyahil Kuwaitiyyah: 34:117)
Adapun shalat tahajud adalah,
صَلاَةُ التَّطَوُّعِ فِي اللَّيْلِ بَعْدَ النَّوْمِ فِي أَيِّ وَقْتٍ مِنْ لَيَالِي الْعَامِ
“Shalat sunnah yang dilakukan di malam hari setelah tidur pada bagian malam mana pun.” (Mughnil Muhtaj, 1:228)
Sedangkan shalat tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah (ترويحة), yang berarti istirahat, dari kata rahat (الراحة) yang artinya menghilangkan kesulitan dan kelelahan.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
والتراويح : هي قيام الليل في رمضان، وسمي تراويح لأن الناس كانوا يطيل القيام والركوع والسجود فإذا صلوا أربعا استراحوا ثم استأنفوا الصلاة أربعا ثم استراحوا...
“Tarawih adalah shalat malam pada bulan Ramadhan. Dinamakan tarawih karena orang-orang memperlama waktu berdiri, rukuk, dan sujud. Apabila selesai melaksanakan shalat empat rakaat, mereka istirahat, kemudian memulai lagi empat rakaat selanjutnya, kemudian istirahat ….” (Syarhul Mumti’ ala Zadil Mustaqni, 4:10)
Yang dimaksud dengan shalat witir ialah shalat yang dikerjakan antara waktu setelah shalat isya hingga terbit fajar atau subuh sebagai penutup shalat malam. Dinamakan demikian karena shalat witir itu dikerjakan ganjil, sebanyak satu rakaat, tiga rakaat, atau lebih. (Shahih Fiqih Sunnah, 1:336)
Jumlah Rakaat
Jumlah rakaat shalat malam tidak terbatas, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ ؛ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam dilakukan dua rakaat - dua rakaat. Apabila salah seorang di antara kalian khawatir bahwa subuh (akan tiba), maka ia shalat satu rakaat sebagai witir bagi shalat yang telah dilaksanakannya.” (HR. Bukhari no. 473 dan Muslim no. 49)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Seseorang boleh shalat dua puluh rakaat sebagaimana yang masyhur dalam Mazhab Ahmad dan Syafi’i. Begitu juga, boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam Mazhab Malik. Seseorang juga boleh shalat sebelas dan tiga belas rakaat. Semuanya baik, jadi banyak atau sedikitnya rakaat tergantung lama atau pendeknya bacaan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23:113)
Adapun shalat witir maka jumlah minimalnya adalah satu rakaat, berdasarkan hadits Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ
“Shalat witir itu satu rakaat di akhir malam.” (HR. Muslim no. 752)
Shalat witir juga boleh dilaksanakan sebanyak tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata,
مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَزِيْدُ – فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ – عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً : يُصَلِّي أرْبَعاً فَلاَ تَسْألْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أرْبَعاً فَلاَ تَسْألْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاثاً. فَقُلتُ: يَا رسولَ اللهِ ، أتَنَامُ قَبْلَ أنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: (( يَا عَائِشَةُ، إنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah menambah (rakaat shalat) dalam bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya- lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka janganlah engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya rakaat tersebut. Kemudian beliau shalat empat rakaat, maka janganlah engkau tanyakan bagus dan panjangnya rakaat tersebut. Lalu beliau shalat tiga rakaat. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnnya mataku tidur tetapi hatiku tidak.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Shalat witir boleh dilakukan tiga rakaat sekaligus dengan satu tasyahud akhir. Akan tetapi, dalam Al-Mulakhash Al-Fiqhi[1] disebutkan bahwa jika seseorang ingin shalat witir sebanyak tiga rakaat, maka dia melakukan shalat dengan dua rakaat lalu salam, kemudian shalat satu rakaat terpisah. Pada rakaat pertama disunnahkan untuk membaca سبح اسم (surah Al-A’la), pada rakaat kedua قل يا أيها الكافرون (surah Al-Kafirun) dan rakaat ketiga membaca قل هو الله أحد (surah Al-Ikhlas).
Shalat witir tidak dilakukan dengan dua tasyahud dan satu salam agar tidak menyerupai atau sama dengan shalat maghrib karena Nabi telah melarang hal tersebut. (Al-Fiqh Al-Muyassar, hlm. 65)
Jika Shalat Witir Sebanyak Lima Rakaat
Shalat witir lima rakaat dapat dilakukan dengan dua cara.
1. Shalat dua rakaat, lalu dua rakaat, kemudian satu rakaat.
2. Shalat lima rakaat secara bersambung, tanpa duduk tasyahud, kecuali di akhirnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits Aisyah yang berbunyi,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَة ؛ يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ ، لاَ يَجْلِسُ إِلاَّ فِيْ آخِرِهَا.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat malam tiga belas rakaat, melaksanakan shalat witir darinya sebanyak lima rakaat. Beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali di akhirnya.” (HR. Muslim no. 7337)
Jika Shalat Witir Sebanyak Tujuh Rakaat
Shalat witir tujuh rakaat dapat dilakukan dengan dua cara.
1. Shalat enam rakaat. Setiap dua rakaat diakhiri salam, kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat secara terpisah.
2. Shalat tujuh rakaat secara bersambung, tanpa duduk tasyahud, kecuali pada rakaat keenam. Setelah tasyahud, bangkit tanpa salam dan langsung melanjutkan rakaat ketujuh, kemudian diakhiri dengan salam. Hal ini dijelaskan dalam hadits Aisyah yang berbunyi,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوْتَرَ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ ؛ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ فِيْ الثَّامِنَةِ ، فَيَحْمَدُ اللهَ ، وَيَذْكُرُهُ ، وَيَدْعُوْ ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّم ، ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسِعَةَ ، فَيَجْلِسُ ، فَيَذْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيَدْعُوْ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً يُسْمِعُنَا ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ، فَلَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ ؛ أَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ ، لَا يَقْعُدُ إِلاَّ فِيْ السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وِلاَ يُسَلِّمُ ، فَيُصَلِّي السَّابِعَةَ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً ، ثُّم يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ..
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat witir sembilan rakaat, beliau tidak duduk kecuali di rakaat kedelapan, lalu memuji Allah, berzikir kepada-Nya, dan berdoa, kemudian bangkit tanpa salam. Kemudian beliau melanjutkan shalat untuk rakaat kesembilan, lalu duduk dan berzikir kepada Allah dan berdoa, kemudian mengucapkan salam satu kali. Beliau memperdengarkan salamnya kepada kami. Kemudian beliau shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Ketika sudah menua dan lemah, beliau melakukan shalat witir tujuh rakaat, tanpa duduk, kecuali pada rakaat keenam, kemudian bangkit tanpa salam, lalu melanjutkan shalat untuk rakaat ketujuh kemudian salam. Kemudian beliau shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. (HR. An-Nasa’i, 3:240. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i).
Jika Shalat Witir Sebanyak Sembilan Rakaat.
Shalat witir sebanyak sembilan rakaat dapat dilakukan dengan dua cara.
1. Shalat delapan rakaat. Setiap dua rakaat diakhiri salam, kemudian dilanjutkan satu rakaat terpisah.
2. Shalat sembilan rakaat bersambung, tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaat kedelapan. Setelah tasyahud bangkit tanpa salam dan langsung melanjutkan rakaat kesembilan, lalu diakhiri dengan tasyahud dan salam. Hal ini telah dijelaskan dalam hadits Aisyah di atas.
Perbedaan Shalat Tahajud dan Shalat Witir
Setelah kita mengetahui tentang definisi dan jumlah rakaat pada penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang perbedaan antara shalat tahajud dan shalat witir terdapat, di antaranya:
1. Jumlah rakaat shalat witir harus ganjil, tidak boleh genap. Adapun jumlah rakaat shalat tahajud adalah genap.
2. Jumlah maksimal shalat witir adalah sebelas rakaat. Adapun jumlah rakaat shalat tahajud tidak terbatas.
3. Shalat witir bisa dikerjakan sebelum tidur. Adapun Shalat tahajud dikerjakan setelah bangun dari tidur. Ditinjau dari sisi ini, jika shalat witir dikerjakan setelah bangun tidur, bisa juga disebut sebagai shalat tahajud.
4. Shalat witir dalam satu malam hanya boleh dilaksanakan sebanyak satu kali, sedangkan tahajud bisa berulang kali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ وِتْرَانِ في لَيْلةٍ
‘Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad, 26:222; Abu Daud, no. 1439; At-Tirmidzi, no. 470; An-Nasa’i, 3:229; Ibnu Hibban, no. 2449. At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan gharib, sedangkan Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 2:481 menilai hadits ini hasan).
Qunut Witir
Para ulama memandang qunut dalam witir disyariatkan, tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukumnya:
Apakah wajib ataukah sunnah?
Apakah disunnahkan sepanjang tahun setiap malam ataukah hanya pada saat Ramadhan atau di akhir Ramadhan?
1. Tata cara qunut witir
Adapun terkait tata caranya yang dilakukan sebelum atau sesudah rukuk, maka juga terjadi perbedaan pendapat.
Pertama, dalam riwayat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa qunut witir dianjurkan untuk dibaca sebelum rukuk. Ubay radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ.
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat witir lalu membaca qunut sebelum rukuk.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, 2:167, no. 426)
Alqamah rahimahullah menuturkan,
أَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن أبي شيبة.
“Sungguh dahulu Ibnu Mas’ud dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa qunut dalam shalat witir sebelum rukuk.” (HR. Ibnu Abi Syaibah. Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, 2:166).
Kedua, doa qunut juga sah apabila dibaca setelah bangun dari rukuk pada posisi i’tidal. Semua cara ini telah ditetapkan secara shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebanyakan ulama memahami bahwa qunut dilakukan sebelum rukuk dengan tujuan agar bisa berdiri lebih lama.
Urwah bin Az-Zubair mengatakan, “Sesungguhnya Abdurrahman bin Abdun Al-Qari -- pada zaman Umar bin Al-Khaththab, Abdurrahman bin Abdun bersama Abdullah bin Al-Arqam mengurus baitul mal -- berkata, ‘Sesungguhnya Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar pada suatu malam di bulan Ramadhan, lalu Abdurrahman bin Abdun Al-Qari keluar dan mengelilingi masjid. Ia mendapati orang-orang di masjid terbagi menjadi kelompok-kelompok dan tidak bersatu. Seseorang shalat sendiri, sedangkan yang lainnya mengimami shalat sejumlah orang. Kemudian Umar bertutur, ‘Demi Allah! Saya pandang, seandainya kita kumpulkan mereka bersama satu imam saja, tentu akan lebih baik.’ Setelah itu, Umar bertekad untuk melakukan hal tersebut dan memerintahkan Ubay bin Ka’ab untuk mengimami shalat malam kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Umar radhiyallahu ‘anhu pun keluar menemui mereka lagi dalam keadaan orang-orang shalat di belakang satu imam, sehingga Umar mengatakan, ‘Sebaik-baik bid’ah[2] ialah ini, dan yang tidur (tidak ikut) lebih utama daripada yang ikut shalat,’ Maksudnya, orang yang shalat di akhir malam lebih utama karena orang-orang tersebut sedang melakukan shalat tarawih di awal malam.
Mereka melaknat (mendoakan keburukan) bagi orang kafir pada separuh bulan Ramadhan dengan doa, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, dan tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai-beraikan persatuan mereka dan timpakanlah rasa takut di dalam hati mereka, serta timpakan siksaan dan azab-Mu atas mereka, wahai sesembahan yang haq,’ Setelah itu, mereka bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk kebaikan kaum muslimin semampunya, kemudian memohon ampunan untuk kaum mukminin.’’
Abdurrahman bin Abdun mengatakan, ‘Apabila selesai melaknat orang-orang kafir, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memohon ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat, serta permintaan lainnya, Ubay mengucapkan, ‘Ya Allah, kami hanya menyembah-Mu, berusaha dan beramal hanya untuk-Mu, dan memohon rahmat kepada-Mu, wahai Rabb kami, dan kami takut kepada azab-Mu yang pedih. Sesungguhnya azab-Mu ditimpakan kepada orang yang Engkau musuhi,’ kemudian ia bertakbir dan turun untuk sujud.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, 2:155-156. Dikatakan oleh pen-tahqiq, “Sanadnya shahih.”).
Kesimpulan terkait tata cara qunut witir disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sejatinya, doa qunut witir merupakan bagian dari doa yang diperbolehkan dalam shalat. Barang siapa yang mau melakukannya, dipersilakan. Barang siapa yang mau meninggalkannya, juga dipersilakan. Sama seperti seseorang yang diberi pilihan untuk shalat witir dengan tiga, lima, atau tujuh rakaat. Sama juga seperti orang yang diberi pilihan untuk shalat witir tiga rakaat yang dipisah atau disambung.
Demikian pula, seseorang diberi pilihan dalam doa qunut. Jika dia mau melakukannya, dipersilakan. Namun, jika dia mau meninggalkannya, juga dipersilakan. Jika seseorang mengimami jamaah dalam salat tarawih pada bulan Ramadhan, lalu membaca doa qunut sepanjang bulan Ramadhan, itu sudah baik. Jika ia membaca doa qunut di separuh terakhir, itu juga baik. Bahkan, jika ia tidak qunut sama sekali, itu juga baik.” (Majmu’ Al-Fatawa, 22:271).
2. Bacaan doa qunut witir
Terdapat beberapa riwayat terkait bacaan doa qunut witir.
Pertama, riwayat dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma.
اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ ليْ فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku keselamatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepadaku, dan lindungilah aku dari keburukan atas hal yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang memutuskan, tetapi tidak diputuskan untuk-Mu. Sesungguhnya orang yang telah Engkau jaga tidak akan terhina. Engkau Maha Suci, wahai Rabb kami, dan Engkau Maha Tinggi.” (HR. Abu Daud no. 1425, An-Nasa’i no. 1745, At-Tirmidzi nomor 464. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini sahih).
Kedua, riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yaitu,
اَللَّهمَّ إنِّيْ أعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ ، لاَ أُحْصِي ثَناءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ علَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, dengan ridha-Mu, aku mohon perlindungan dari murka-Mu. Dengan ampunan-Mu, aku mohon perlindungan dari hukuman-Mu. Dengan sifat-Mu yang mulia, aku mohon perlindungan dari azab-Mu. Aku tidak sanggup memenuhi pujian untuk-Mu, Engkau adalah sebagaimana pujian yang Engkau sematkan pada diri-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3566. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Ada beberapa catatan penting terkait doa qunut witir:
Ketika seseorang melakukan shalat berjamaah sebagai imam atau pun makmum, sebaiknya kata ganti أَنَا(ana/saya) diubah menjadi نَحْنُ (nahnu/kami).
Mengangkat tangan pada saat qunut witir adalah sesuatu yang disyariatkan sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hal ini diriwayatkan oleh Al-Aswad rahimahullah; ia berkata,
أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُوْدٍ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِيْ الْقُنُوْتِ إِلَى صَدْرِهِ
“Sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dahulu mengangkat kedua tangannya ketika membaca doa qunut sampai setinggi dadanya.” (HR. Al-Marwazi dalam Mukhtashar Kitab Al-Witr, hlm. 139).
Saatnya Mengadu
Qiyamul lail adalah kesempatan bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb-Nya dan mengadukan segala keluh kesahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kelemahan hamba-Nya yang membutuhkan tempat pelarian tatkala bimbang atau diliputi duka. Ikhwati fiddin, sebaik-baik tempat mengadu bagi seorang mukmin adalah Allah. Sebaik-baik tempat memohon petunjuk bagi seorang mukmin adalah Allah.
Hapuslah air mata dan lenyapkanlah keraguan di dada. Jadikanlah qiyamul lail sebagai jalannya. Bukalah lembaran baru kehidupan, dengan petunjuk yang telah dicontohkan oleh Nabi junjungan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Referensi:
- Asy-Syarhu Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tahqiq: Khalid bin Ali Al-Musyaiqih, Muassasah Asam, Cetakan Kedua, Tahun 1416 H.
- Shahih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzhahibil A’immah, Abu Malik Kamal Ibnu As-Sayyid Salim, Darut Tauqifiyyah lit Turats.
- Al-Mulakhash Al-Fiqhi, Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan, Darul Maimanah.
- Qiyamul lail, Al-Hafizh Ibnul Jauzi, Dar Al-Autsaq.
- Al-Fiqh Al-Muyassar fii Dhau’il Kitab sas Sunnah, Nukhbah Minal Ulama’, Darul Alamiyah.
- Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah.
- Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah.
- Mukhtashar Kitab Al-Witr, Al-Marwarzi.