Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/WJshR8cSMDE?si=iaOWCZdIwZ2EF8ny
Seuntai Nasihat dan Pengingat untuk Jamaah Haji
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Faizah Fitriah
Musim haji sudah dimulai. Sebagaimana diketahui, terhitung sejak bulan Dzulqa’dah, para jamaah haji dari Indonesia sudah bertolak menuju Al-Haramain melalui embarkasi masing-masing. Tidak lama lagi, para jama'ah haji akan bertalbiyah menuju Mina untuk melaksanakan al-mabit (bermalam di Mina), sebuah amalan yang dianjurkan bagi jamaah haji.
Untuk itu, pada tulisan ini, ada sedikit nasihat dan peringatan untuk saudara-saudara kita yang bi’idznillah pada tahun ini Allah undang untuk melaksanakan salah satu dari lima rukun Islam yang tersebut. Beberapa poin yang akan disampaikan yakni berkaitan dengan perkara-perkara penting dalam ibadah haji.
Haji adalah Ibadah yang Agung
Ibadah haji adalah ibadah yang sangat agung. Allah Ta’ala menjadikan haji sebagai salah satu dari rukun Islam yang lima.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
"Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Faktanya, di dalam Islam terdapat banyak amal shalih lainnya, seperti sedekah, mengucapkan salam, membaca Al-Qur’an, dan berbagai ibadah lain yang diwajibkan maupun dianjurkan oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Namun, amalan-amalan yang termasuk dalam rukun Islam yang lima adalah amalan-amalan besar dan agung.
Haji diwajibkan bagi orang yang mampu. Zakat diwajibkan bagi orang yang telah memenuhi syarat. Shalat diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah. Ini menunjukkan betapa agung dan utamanya ibadah haji karena Allah menjadikannya sebagai salah satu dari rukun Islam. Maka hendaknya, seorang muslim dan muslimah yang Allah beri kesempatan untuk berhaji benar-benar merasakan bahwa ia sedang—dan akan—menunaikan sebuah amalan yang sangat besar dalam agama ini.
Kapan Haji Diwajibkan?
Menurut pendapat yang lebih kuat, haji diwajibkan pada tahun ke-9 Hijriyah, yaitu dua tahun sebelum Haji Wada’, pada tahun ketika banyak utusan datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Di dalam firman-Nya, Allah Ta’ala berkata,
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
"Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana." (QS. Ali ‘Imran: 97)
Ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas akan wajibnya haji.
Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
أيها الناسُ قد فُرِضَ عليكم الحجُّ فحُجُّوا
"Wahai manusia, sungguh Allah telah mewajibkan atas kalian ibadah haji, maka berhajilah kalian." (HR. Muslim)
Dari ayat dan hadits ini, kita mengetahui bahwa haji hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Perlu dicatat bahwa kemampuan di sini mencakup kemampuan dari segi fisik dan juga harta.
Apakah Haji Wajib Segera Ditunaikan?
Jika telah terkumpul dua kemampuan (secara fisik dan harta), pendapat yang lebih kuat yakni ia wajib segera menunaikan haji, dan tidak boleh menunda tanpa alasan yang dibenarkan. Hukum asal dari sebuah perintah adalah bersegera melaksanakannya. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰت
"Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)
Rabbunaa Tabaraka wa Ta’ala juga berfirman,
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ
"Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian." (QS. Ali ‘Imran: 133)
Sudah sepatutnya tatkala Allah mewajibkan suatu ibadah, maka seorang hamba bersegera menunaikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan di dalam sebuah hadits,
مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيضُ وَتَضِلُّ الضَّالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَة
"Barang siapa yang ingin berhaji, hendaklah ia bersegera, karena bisa jadi ia jatuh sakit, kendaraannya hilang, atau ada kebutuhan mendesak yang menghalanginya." (HR. Abu Dawud)
Ini menunjukkan bahwa haji adalah kewajiban yang hendaknya segera ditunaikan. Jangan sampai kita menunda-nunda, lalu terhalang oleh sesuatu yang tidak kita duga.
Keutamaan Haji
Terdapat banyak hadits yang menunjukkan keutamaan haji. Di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
العمرة إلى العمرة كفارةٌ لما بينهما، والحجُّ المبرور ليس له جزاءٌ إلا الجنَّة
"Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan keutamaan haji, khususnya haji yang mabrur. Balasannya adalah surga. Adapun haji yang dilakukan berulang kali—bersama umrah—dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa. Selain menjadi sebab masuk surga, ia juga menjadi sebab ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانَ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابُ اِلاَّ الْجَنَّةَ
"Iringilah antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran dari besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur selain surga." (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa haji dan umrah memiliki banyak faedah, yakni menghapus dosa, dan dengan izin Allah juga menjadi sebab hilangnya kefakiran.
Haji Mabrur Adalah Sebaik-baik Jihad bagi Wanita
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلا نَغْزُو وَنُجَاهِدُ مَعَكُمْ فَقَالَ لَكِنَّ أَحْسَنَ الْجِهَادِ وَأَجْمَلَهُ الْحَجُّ حَجٌّ مَبْرُورٌ
"’Wahai Rasulullah, tidakkah kami ikut berperang dan berjihad bersama kalian?’ Maka beliau menjawab, ‘Akan tetapi, jihad yang paling baik dan paling indah bagi kalian adalah haji, yaitu haji yang mabrur.’" (HR. Bukhari)
Sejak mendengar hadits ini, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan haji.
Di dalam hadits ini disebutkan bahwa haji mabrur adalah sebaik-baik jihad bagi para wanita karena di dalam haji terdapat kesungguhan, kelelahan, pengorbanan, kesabaran, dan perjuangan yang besar.
Haji Mabrur Termasuk Amalan Paling Utama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّه, حَجٌّ مَبْرُور إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِه,
"Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, jihad di jalan Allah, haji yang mabrur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa haji mabrur termasuk amalan yang sangat tinggi kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.
Haji Menghapus Dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّه
"Barang siapa berhaji, lalu ia tidak berkata rafats dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika ibunya melahirkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَه
"Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya, hijrah menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji menghapus dosa-dosa sebelumnya?" (HR. Muslim)
Betapa agung ibadah haji ini. Ia bukan sekadar perjalanan, tetapi perjalanan ibadah yang bisa menjadi sebab ampunan yang sangat besar dari Allah.
Penjelasan Haji Mabrur
Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga. Lalu, apa yang dimaksud dengan haji mabrur?
Di antara ciri-cirinya adalah:
- Harta yang digunakan untuk berhaji adalah harta yang halal.
- Menjauhi kefasikan, maksiat, dan perdebatan selama berhaji.
- Pelaksanaan hajinya sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sekadar menjalankan manasik secara asal-asalan.
- Ikhlas karena Allah, tidak sombong, tidak riya, dan tidak mencari pujian manusia.
Sebagian ulama juga menyebutkan bahwa di antara tanda haji mabrur yaitu setelah pulang dari haji, seseorang menjadi lebih semangat dalam menaati Allah dan semakin menjauh dari maksiat.
Beberapa Faedah Haji
Allah Ta’ala berfirman,
لِّيَشْهَدُوا۟ مَنَٰفِعَ لَهُمْ
"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka." (QS. Al-Hajj: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa haji memiliki banyak manfaat, baik manfaat agama (diniyah) maupun manfaat dunia (duniawiyah).
1. Faedah Diniyah (Agama)
Di antara manfaat terbesar haji dari sisi agama sebagai berikut.
- Mendapatkan ridha Allah karena haji merupakan salah satu rukun Islam.
- Menjadi sebab diampuninya dosa.
- Menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
- Menjadi sebab bertambahnya iman dan ketakwaan.
2. Faedah Duniawiyah (Dunia)
Dari sisi dunia, haji juga membawa banyak manfaat, yaitu
- menggerakkan sektor transportasi,
- menghidupkan perdagangan,
- menggerakkan kebutuhan pakaian,
- menghidupkan perhotelan,
- menghidupkan sektor makanan serta kebutuhan jamaah.
Orang-orang datang ke Baitullah karena rindu kepada rumah Allah dan ingin menunaikan kewajiban mereka sebagai muslim. Oleh karena itu, mereka rela mengorbankan harta yang mereka miliki demi melaksanakan ibadah yang agung ini.
Poin Nasihat untuk Jamaah Haji
Di antara nasihat yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah, dalam kitab beliau Tafsirun Nasik bi Ahkamil Manasik adalah sebagai berikut:
(1) Ikhlaskan ibadah haji hanya untuk Allah
Haji adalah ibadah yang sulit disembunyikan. Orang tahu kita safar berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Karena itu, godaan riya dan sum’ah bisa lebih besar.
Seorang muslim harus benar-benar berhati-hati. Hendaknya ia merendahkan diri di hadapan Allah dan memohon agar dijaga dari riya' dan sum’ah. Jangan sampai niat kita berhaji demi pujian manusia, demi gelar “Pak Haji” atau “Bu Haji”, atau demi tujuan dunia lainnya. Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa mengerjakan suatu amalan lalu ia mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya." (HR. Muslim)
Dalam Haji Wada’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdoa:
اللَّهُمَّ حَجَّةٌ لاَ رِيَاءَ فِيهَا وَلاَ سُمْعَةَ
"Ya Allah, (jadikan ini) haji yang tidak mengandung riya' dan tidak pula sum’ah." (HR. Ibnu Majah)
(2) Pelajari fiqih haji dan umrah
Seorang jamaah haji hendaknya bersungguh-sungguh mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan haji dan umrah, agar ia dapat menunaikan manasik dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
"Ambillah dariku manasik haji kalian." (HR. Muslim)
Artinya, manasik haji harus diambil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan dari kebiasaan, tradisi, atau sekadar ikut-ikutan. Ambillah tata cara ibadah haji yang benar dari referensi yang shahih, yakni di antara buku yang sangat bermanfaat dalam masalah ini adalah karya Fadhilatusy Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah yang berjudul تَفْسِيرُ النَّاسِكِ بِأَحْكَامِ الْمَنَاسِكِ (Tafsirun Nasik bi Ahkamil Manasik).
(3) Carilah teman safar yang baik
Teman safar sangat memengaruhi ibadah seseorang. Maka dari itu, hendaknya seorang muslim memilih teman perjalanan yang shalih, yang jika dilihat saja sudah menambah keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
"Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi..." (HR. Muslim)
Teman yang baik akan membantu kita dalam ibadah, mengingatkan ketika lalai, dan menenangkan ketika lelah.
(4) Bawalah bekal yang cukup
Ketika safar haji, hendaknya seseorang membawa bekal yang cukup, baik harta maupun kebutuhan lainnya, agar tidak menyusahkan orang lain. Jangan sampai seseorang pergi ke Baitullah tanpa membawa bekal, lalu justru bergantung kepada manusia dengan alasan “bertawakal”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله
"Barang siapa menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Dan barang siapa merasa cukup, maka Allah akan memberinya kecukupan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tawakal bukan berarti meninggalkan sebab. Justru termasuk tawakal adalah mengambil sebab, yakni mempersiapkan bekal, lalu bersandar kepada Allah Ta’ala sepenuhnya, bukan kepada bekal tersebut.
(5) Jaga akhlak selama safar haji
Safar adalah bagian dari adzab. Maksudnya adalah safar itu melelahkan, menguras tenaga, dan membuat seseorang mudah letih. Tatkala seseorang lelah, ia lebih mudah marah, tersinggung, dan berakhlak buruk. Oleh karena itu, jamaah haji harus sangat menjaga akhlaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَن
"Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi)
Di hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ... وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
"Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga... maka hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia suka diperlakukan." (HR. Muslim)
Tentunya, jiwa kita suka untuk dihormati, maka dari itu hormatilah orang lain. Apabila kita suka untuk diperlakukan dengan lembut, maka bersikap lembutlah kepada orang lain.
(6) Perbanyak dzikir, doa, dan istighfar
Waktu-waktu selama berada di Tanah Suci sangat berharga dan terbatas. Jangan sampai waktu itu terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
(7) Isi hari-hari haji dengan dzikir, doa, dan amal shalih lainnya
Di antara amalan tersebut seperti beristighfar, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, memperbanyak amal shalih lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغ
"Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
Ikhwani wa akhawati rahimakumullah, maka selama Allah Ta’ala masih memberi kesehatan dan kesempatan untuk berada di Tanah Suci, manfaatkanlah sebaik-baiknya.
Demikianlah seuntai nasihat dan pengingat penting yang berkaitan dengan ibadah haji, baik tentang keagungannya, waktu diwajibkannya, keutamaannya, ciri-ciri haji mabrur, faedah-faedahnya, maupun beberapa nasihat bagi para jamaah haji.
Tentu yang disampaikan di sini bukanlah pembatasan. Masih banyak nasihat lain yang bisa disampaikan. Namun semoga poin-poin pada tulisan ini bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang akan berangkat haji, agar mereka menunaikan ibadah yang agung ini dengan ilmu, keikhlasan, kesabaran, dan akhlak yang mulia.
Semoga Allah memudahkan para jama'ah haji, menerima amal mereka, menjadikan haji mereka haji yang mabrur, dosa-dosa mereka diampuni, dan mereka kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin.