Mutiara Al-Quran

Seruan Terbaik adalah yang Menuntun ke Jalan Allah

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Za Ummu Raihan


LAFAL AYAT

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’" (QS. Fusshilat: 33)

TAFSIR

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ

  • Kepada tauhidullah dan ketaatan kepada-Nya. Al-Hasan berkata, “Itulah seorang mukmin yang menjawab seruan Allah, dan dia juga menyeru manusia untuk turut menjawab seruan Allah tersebut yang mengajaknya berbuat ketaatan.[1]
  • Aisyah berkata, “Orang yang menyeru kepada Allah adalah para muazin.”[2]
  • Ikrimah, Qais bin Abi Hazim, dan Mujahid berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan para muazin.”[3]
  • Al-Qurthubi menyatakan dalam Tafsir-nya bahwa pendapat terbaik tentang makna “man da’a ilallah” dalam ayat ini adalah sebagaimana yang dibawakan oleh Al-Hasan, “Ayat ini berlaku umum untuk setiap orang yang berdakwah/menyeru kepada Allah.”[4]
  • وَعَمِلَ صَٰلِحًا
  • Yaitu beramal shalih sebagai bentuk responnya atas seruan Allah,[5]
  • Aisyah berkata, “Amal shalih adalah dua rakaat (shalat sunnah) yang dikerjakan di antara azan dan iqamah.[6]
  • Al-Kalbi berkata, “Maksudnya adalah mendirikan shalat dan berpuasa.”[7]
  • وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
  • Maknanya: Aku adalah orang yang berserah diri (muslim) kepada Rabb-ku, bukan sebaliknya seperti orang yang semata menjawab dengan lisan. Aku meyakini agama Islam dengan hati, dan kuucapkan keyakinan tersebut dengan lisan.[8]
  • Dia menyatakan kebahagiaannya dengan Islam, dan dia menjadikan Islam sebagai agama dan jalan hidupnya. Dia bangga dengan itu semua.[9]
  • Ibnu Sirin, As-Suddi, dan Ibnu Zaid berkata, “Yang dimaksud pada ayat tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Al-Hasan juga berpendapat yang sama dengan mereka bertiga.[10]

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK

1. Dakwah ilallah terdiri atas beberapa tingkatan:[11]

  • Pertama, dakwah ilallah para nabi yang dibekali dengan mukjizat dari Allah, dengan diiringi hujjah (argumentasi), burhan (petunjuk), dan pedang (yaitu perang melawan kekafiran, ed.). Derajat ini dapat dicapai oleh para nabi semata.
  • Kedua, dakwah ilallah para ulama. Mereka semata berbekal hujjah dan burhan. Ada ulama yang memiliki ilmu tentang Allah, ulama yang memiliki ilmu tentang sifat-sifat Allah, dan ulama yang memiliki ilmu tentang hukum-hukum Allah.
  • Ketiga, dakwah ilallah para mujahidin yang dilakukan dengan pedang dan tombak. Mereka memerangi orang-orang kafir sampai mereka masuk Islam dan menaati Allah.
  • Keempat, dakwah para muazin yang menyeru manusia untuk mendirikan shalat. Seruan mereka (berupa azan) juga termasuk dakwah ilallah dan dakwah menuju ketaatan kepada-Nya.

2. Aisyah berkata, “Menurutku, ayat ini membahas tentang para muazin.”[12]

3. Ayat ini menunjukkan bahwa ayat-ayat Makkiyyah, yang membahas tentang azan, disyariatkan di Madinah.[13] Berdasarkan penjelasan Al-Qurthubi, surah Fushshilat ayat 33 ini merupakan ayat Makkiyyah, sedangkan syariat azan merupakan dalil Madaniyyah.[14]

4. Barang siapa yang menggabungkan antara dakwah ilallah dan amal shalih, untuk menunaikan kewajiban yang Allah tetapkan, serta menjauhi keharaman yang Allah larang maka tidak ada orang yang lebih baik jalan hidupnya selain dia. Tidak ada jalan hidup paling jelas yang melebihi jalan hidupnya. Tidak ada amalan yang pahalanya melebihi amalannya maka dia adalah muslim.[15]

Referensi:

  1. Fathul Bayan fi Maqashidil Qur’an. Siddiq Hasan Khan. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  2. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Al-Maktabah Asy-Syamilah
10