Keliling HSI

Seragam Dinas dan Semangat Belajar Tak Pernah Padam

Reporter: Dian Pujayanti

Redaktur: Dian Soekotjo


Di lingkungan Polri, berjabat tangan merupakan salah satu etika yang ditekankan kepada anggotanya. AKBP Apt. Susy Fitria, S.Si., M.M., atau yang akrab disapa dengan Ibu Susy, mengiyakan hal tersebut. Di sisi lain, syariat Islam menetapkan bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, haram bersentuhan.

Menyelaraskan dua hal yang sekilas bertolak belakang itu, jelas bukan perkara sepele. Pengalaman tersebut dirasakan Ibu Susy. Kala awal mula membulatkan tekad menjalankan syari'at tidak bersentuhan dengan lawan jenis non mahram di lingkungan kerjanya, beliau mengaku kenyang sindiran. Sikapnya dianggap nyeleneh. Toh Ibu Susy tidak mundur sejengkal pun. Ia yakin mempertahankan prinsip termasuk ketika berhadapan dengan pejabat tinggi kepolisian, bahkan Kapolri, dalam sebuah acara resmi.

Untungnya Pak Kapolri berkenan mengerti dan tidak ada sanksi apapun baginya. Setelah kejadian tersebut, sebuah pesan apresiasi justru diterimanya dari seorang Jenderal bintang dua. Alhamdulillah, Bu Susy tentu lega. Langkahnya mengamalkan syari'at kian kokoh biidznillah.

Bagaimana ya keseharian seorang perwira polisi menjalani keyakinan agama di antara tuntutan profesi? Beliau ini juga seorang santri Program Reguler HSI AbdullahRoy sejak pertengahan tahun 2018. Ibu Susy berkenan membagikan perjalanannya kepada Majalah HSI. Berikut liputan kami untuk Rubrik Keliling HSI edisi kali ini.

Berawal dari Kegelisahan

Jauh sebelum mendaftar sebagai santri HSI, Ibu Susy telah menyimpan sejumlah kegelisahan tentang praktik ibadah yang dijalaninya. Ia terbiasa menunaikan ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, meskipun diakuinya kala itu belum selalu tepat waktu. Ia menyadari masih banyak hal yang perlu diperbaiki.

“Bacaan Al-Qur'an saya juga masih buruk, makhraj dan tajwid banyak salah, puasa sunnah jarang atau malah tidak pernah,” ungkapnya kepada Reporter Majalah HSI. Namun, Ibu Susy terbilang rajin menunaikan qiyamullail, bahkan sejak kuliah.

Rasa gelisah terhadap kekurangannya dalam ibadah, sekaligus membawa Ibu Susy kerap mempertanyakan tepat tidaknya ia mengamalkan ibadah. Dalam hatinya, juga tumbuh kegelisahan tentang sejumlah amalan yang dijumpai di lingkungan masyarakat. Kebiasaan Tahlilan kematian misalnya, ini salah satu yang mengganjal di hati. "Saya tidak sependapat walaupun kadang masih ikut. Dzikir ramai-ramai setelah shalat pun saya kurang sreg. Saya suka membaca dzikir yang saya hafal sendiri," ujarnya.

Kegelisahan itu belum langsung membawanya kepada tempat belajar yang tepat. Hingga pada suatu sore, ketika hendak menunaikan shalat Magrib, Ibu Susy singgah di sebuah masjid yang sedang direnovasi. Di sana, ia bertemu sekelompok akhwat yang tengah menggelar kajian. Awalnya, berada di tengah kumpulan itu justru membuat Ibu Susy merasa asing.

"Awalnya saya gelisah, tetapi seorang yang paling ramah di antara mereka menyapa saya dan membuat saya nyaman," kenangnya.

Malam itu, kajian Kitab Bulughul Maram yang akhirnya turut disimak Ibu Susy, tampak membuka jalan mengenal proses menuntut ilmu agama. Kajian tersebut membuka jalan Ibu Susy menemukan HSI AbdullahRoy hingga akhirnya beliau resmi tercatat sebagai salah satu santri Angkatan 182.

Perjalanan belajar itu memberinya kesempatan untuk memperbaiki pemahaman dan praktik ibadah. Bagi Ibu Susy, memulai proses menuntut ilmu bukan berarti perjalanan menunaikan perintah agama telah purna. Semakin jauh ia belajar, semakin ia merasa tak mengerti apa-apa. Banyak hal ingin diketahuinya.

Menjaga Prinsip Wajibnya Menuntut Ilmu di Balik Seragam Dinas

Sebagai anggota Polri yang sejak tiga tahun terakhir mengemban tugas sebagai Dosen Madya di Akademi Kepolisian (Akpol) Lemdiklat Polri, kesibukan Ibu Susy demikian padat. Tugasnya mencakup mengajar serta mendukung kegiatan operasional pembelajaran, pelatihan, dan pengasuhan (Jarlatsuh). Dinamika pekerjaan yang tinggi dan perintah pimpinan yang bisa datang kapan saja, membuat waktu menjadi barang yang sangat mahal bagi Ibu Susy. Tantangan terbesar dalam kondisi super sibuk ini bukan sekadar mencari waktu luang untuk terus menuntut ilmu, melainkan bagaimana menjaga konsistensi agar fokus tidak sepenuhnya terserap oleh pekerjaan. “Setiap waktu harus siap re-schedule sesuai perintah pimpinan,” ungkapnya. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti menunaikan kewajiban belajar ilmu agama.

Bagi Ibu Susy, kunci utama dalam menghadapi padatnya jadwal adalah kecerdasan dalam memanfaatkan setiap celah waktu yang ada. Alih-alih menunggu waktu yang benar-benar senggang, ia memilih memisahkan dengan tegas antara jam dinas dan luar dinas, lalu mengisi waktu domestik dengan hal-hal bermanfaat. Kehadiran teknologi seperti kelas daring via zoom dan rekaman audio sangat membantu proses belajarnya.

Sambil memasak atau membersihkan rumah, Ibu Susy terbiasa mendengarkan materi ilmu. Ia juga menekankan pentingnya mengulang pelajaran secara berkala. “Mendengarkan materi berkali-kali itu lebih membantu saya mengingat,” jelasnya, menyiasati keterbatasan fokus akibat multitasking.

"Selain itu, saya usahakan pekerjaan kantor tidak dibawa ke rumah. Kalaupun lembur, maka hal-hal di luar kantor akan saya maksimalkan pada waktu yang ada. Misalnya di pagi hari sebelum berangkat ke kantor atau malam hari sebelum jam 11 malam," pungkasnya. Hal tersebut membuktikan bahwa keterbatasan waktu dapat ditaklukkan bila niat telah lurus.

Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus karena adakalanya kelelahan fisik memicu penurunan motivasi atau rasa jenuh. Ketika emosi negatif atau rasa malas datang, Ibu Susy memilih untuk tidak melawannya secara ekstrem, melainkan menerimanya sebagai bagian kodrat manusia yang butuh istirahat. Strategi utamanya adalah menurunkan target belajar secara fleksibel saat tugas kantor sedang menumpuk, tanpa benar-benar memutus interaksi dengan ilmu.

"Saya ingin belajar Islam yang murni. Walaupun untuk di lingkungan pekerjaan saya itu bukan hal mudah untuk diterapkan," tutur perempuan 46 tahun tersebut.

Saat ini, Ibu Susy aktif di berbagai tempat belajar. Ia mengikuti pembelajaran di HSI, menempuh kuliah di International Open University (IOU), mendalami bahasa Arab di Lisanul Arab, serta rutin melakukan ziyadah dan menyetorkan hafalan Al-Qur'an. Bahkan sebenarnya, ia terdaftar sebagai mahasiswi S3 di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Hanya saja, ia tengah mengambil cuti.

Perjuangan Mengamalkan Ilmu

Salah satu tantangan paling nyata adalah menjaga diri dari berjabat tangan dengan non-mahram. Kebiasaan yang dianggap lazim dalam interaksi kedinasan itu menjadi persoalan tersendiri ketika harus diselaraskan dengan pengamalan ilmu agama yang dipelajarinya.

"Saya beranikan tidak berjabat tangan dengan non mahram saat bersalaman, saat itu tahun 2016-an adalah hal yang sangat aneh di lingkungan kami. Banyak yang tersinggung karena belum paham."

Ibu Susy mengakui bahwa persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut keputusan pribadi. Ia juga harus menghadapi respon orang-orang di sekitarnya, termasuk sindiran dari mereka yang belum memahami alasannya.

"Berjabat tangan masuk dalam bab pelajaran yang ditekankan dalam etika anggota Polri, sehingga dulu ini merupakan hal yang sulit karena banyak yang belum bisa menerima. Saya cukup sering mendengar sindiran, tapi alhamdulillah sekarang sudah ada beberapa yang mengikuti," kenangnya.

Pengalaman berhadapan dengan pejabat tinggi kepolisian, termasuk Kapolri, menjadi salah satu momen penting. Dari pengalaman tersebut, Ibu Susy belajar bahwa keyakinan perlu dijalankan dengan keteguhan sekaligus adab dalam berinteraksi.

Bagi Ibu Susy, ilmu agama tidak berhenti pada pemahaman mengenai apa yang benar dan salah. Ilmu juga semestinya memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain.

"Saya belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya membuat kita tahu mana yang benar, tetapi seharusnya juga membuat kita semakin baik dalam bersikap," ungkapnya.

Pengalaman menjaga prinsip tersebut turut membentuk cara Susy memandang kehidupan profesionalnya. Ia berusaha menjalankan tanggung jawab dengan lebih berhati-hati, menjaga lisan, serta tidak menzalimi orang lain. Keteguhan, menurutnya, tidak harus membuat seseorang bersikap keras terhadap lingkungan sekitarnya.

"Keteguhan iman tidak akan membuat kita dikucilkan selama kita tetap mengedepankan adab, keramahan, dan rasa hormat kepada siapa saja, termasuk kepada mereka yang berbeda pandangan. Sukses berkarier tidak harus mengorbankan prinsip spiritual kita, karena konsistensi harian kita adalah kunci utamanya. Justru setiap hari adalah proses untuk belajar istiqamah," papar Ibu Susy yang telah berkarir di tubuh Polri sejak 2005.

Di tengah tanggung jawab pekerjaan dan berbagai dinamika yang menyertainya, Ibu Susy berusaha menjaga hati agar tidak bergantung pada manusia. Ia mengingatkan dirinya bahwa pertolongan Allah tetap menjadi tempat bersandar, termasuk ketika seseorang merasa sendirian menghadapi persoalan.

"Allah tetap ada ketika tak ada lagi satupun orang tersisa di sisi kita."

Bakti Anak : Tanggung Jawab yang Menyertai

Di luar kesibukan dinas dan kegiatan belajar, Ibu Susy memiliki tanggung jawab lain yang tidak kalah besar, yaitu merawat kedua orang tua yang telah lanjut usia. Kondisi tersebut menuntut pembagian waktu dan tenaga sekaligus kesabaran ekstra. "Menghadapi orang tua yang sudah sepuh itu sungguh sesuatu. Kita dituntut untuk lebih sabar, lebih lembut, dan lebih banyak memahami," ungkapnya.

Bagi Ibu Susy, merawat orang tua menjadi kesempatan berbagi ilmu yang telah dipelajarinya, kepada dua manusia yang dicintainya itu. Ia berusaha mengenalkan pemahaman agama yang lurus melalui cara-cara yang sesuai dengan keadaan mereka.

Untuk sang ibunda yang gemar membaca, Ibu Susy khusus menyediakan bahan bacaan.

"Ibu saya suka membaca, jadi buku-buku manhaj salaf yang saya sediakan di rumah dibaca sama beliau. Jika beliau tidak paham beliau tanya," tuturnya.

Dulu, bahkan Ibu Susy mengajak sang ibunda menghadiri kajian ke masjid setiap hari Ahad. Ketika kondisi kesehatan sang ibu tidak lagi memungkinkan, Ibu Susy mendampingi ibundanya untuk beralih menyimak kajian secara daring.

Sementara kondisi sang ayah yang mengalami penurunan fungsi pendengaran berat, menghadirkan tantangan lain lagi dalam upaya berbagi ilmu. Namun Ibu Susy tetap optimis.

Di lingkungan keluarga besar, pilihan Ibu Susy dalam menjalankan tuntunan agama pun tidak selalu dipahami dengan cara tepat. "Ada yang kurang suka saya berpakaian gamis dan khimar panjang warna gelap dan kadang bercadar. Semakin mereka khawatir saya tidak akan dapat jodoh," ceritanya sambil tersenyum.

Semakin Belajar, Semakin Menyadari Kekurangan

Menghadapi perbedaan pandangan, Ibu Susy memilih untuk tetap menjaga hubungan baik. Ia berusaha menunjukkan akhlak mulia sembari selalu meyakini bahwa setiap orang memiliki proses masing-masing dalam menerima hidayah.

Kesibukan bekerja, belajar, dan merawat orang tua membuat Ibu Susy semakin menyadari keterbatasan waktu serta keterbatasan kemampuan manusia. Berbagai rencana tidak selalu dapat terlaksana sesuai harapan. Karena itu, ia berusaha menjaga ketergantungannya kepada Allah dalam menjalani tanggung jawab sehari-hari.

"Menjadi anak sekaligus pembelajar di saat bersamaan mengajarkan kita bahwa bersandar pada kemampuan diri sendiri saja tidak akan pernah cukup. Sementara waktu dan tenaga kita terbatas. Akhirnya, memang tidak ada tempat berbagi yang paling menenangkan selain kepada Allah. Kita mungkin bisa merencanakan banyak hal, tetapi untuk mampu menjalaninya dengan baik, kita sangat membutuhkan pertolongan Allah," pungkas Ibu Susy.

Perjalanan menuntut ilmu membawa perubahan dalam cara Ibu Susy memandang dirinya sendiri. Jika dahulu ia merasa telah cukup menjalankan agama dengan menunaikan ibadah wajib, kini ia semakin menyadari luasnya ilmu agama dan banyaknya hal yang belum dipelajari apalagi dipahami atau diamalkan.

"Dulu mungkin saya merasa bahwa saya sudah cukup menjalankan agama karena sudah melaksanakan ibadah-ibadah wajib. Setelah belajar, saya justru semakin menyadari betapa luasnya ilmu agama dan betapa banyak hal yang belum saya ketahui," ungkapnya jujur.

Kesadaran itu turut memengaruhi cara Ibu Susy menghadapi persoalan sehari-hari. Ia berusaha tidak terburu-buru menilai keadaan hanya berdasarkan keinginan pribadi. Dalam pekerjaan maupun kehidupan keluarga, ia belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai rencana.

"Saya memahami bahwa tidak semua hal sesuai dengan keinginan kita. Hikmah atas segala sesuatu hanya Allah yang lebih tahu. Mungkin itu yang membuat saya lebih belajar untuk tenang, bersabar, dan tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan pada keadaan," tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Ibu Susy untuk menyemangati sesama penuntut ilmu, terutama mereka yang harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan belajar. Menurutnya, keinginan untuk belajar tidak harus menunggu sampai seseorang memiliki waktu luang yang panjang.

"Cobalah mulai dari waktu yang sedikit. Kadang kita hanya punya beberapa menit. Gunakan beberapa menit itu. Kalau belum mampu membaca banyak, baca sedikit. Kalau belum bisa mengikuti semuanya, ikuti semampunya," pesannya.

Bagi Ibu Susy, langkah kecil yang dijaga secara konsisten tetap memiliki arti dalam perjalanan menuntut ilmu. Setiap orang memiliki keadaan, tanggung jawab, dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, ia mengajak para ibu dan perempuan yang bekerja untuk terus berusaha sesuai kemampuan, tanpa harus membandingkan perjalanan diri dengan pencapaian orang lain.

"Bisa jadi satu halaman yang kita baca hari ini, satu kajian yang kita dengarkan, atau satu ilmu yang kita amalkan, menjadi sebab Allah memperbaiki kehidupan kita. Jadikan itu sebagai motivasi," paparnya menyampaikan ajakan.

Di tengah tanggung jawab sebagai anggota Polri, anak yang merawat orang tua, dan seorang penuntut ilmu, Ibu Susy terus berusaha memperbaiki diri. Perjalanannya mengingatkan bahwa belajar bukan hanya tentang banyaknya materi yang diselesaikan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu itu perlahan hadir dalam ibadah, sikap, dan tanggung jawab sehari-hari.

Sehat-sehat selalu, Ibu Susy. Semoga Allah mengokohkan langkah Ibu dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.

Perjalanan Ibu Susy mengingatkan kita bahwa segala peran dan amanah di pundak kita bukan alasan untuk berhenti belajar. Setiap orang memiliki keadaan dan keterbatasan masing-masing. Yang terpenting, jangan berhenti melangkah, meski harus memulainya dari waktu yang sedikit.

Semoga Allah menjaga semangat kita untuk terus menuntut ilmu, mengamalkannya, dan menyebarkannya. Sebab, menuntut ilmu adalah jalan menuju surga yang patut kita jaga sepanjang hayat. Semangat selalu menuntut ilmu, teman-teman.

Baarakallahu fiikum.

6