🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Seni Belajar Giat di Tengah Aktivitas Padat

Reporter : Putri Oktaviani

Redaktur : Dian Soekotjo


Semua aspek kehidupan manusia, bahkan episode setelah kematian, hanya dapat kita tadabburi dengan ilmu. Bahkan segenap penciptaan semesta, era bermula hingga masa kelak kemudian, mudah dipahami akal jika landasannya adalah ilmu. Tak ayal kita mendapati perintah menuntut ilmu dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.” Hadits ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan tanggung jawab, bukan sekadar anjuran. Sudah sepantasnya seorang muslim berjuang menyediakan waktu menuntut ilmu sekaligus memprioritaskannya.

Ironisnya aktivitas harian seputar tuntutan dunia, terkadang melalaikan hingga membuat kewalahan. Tidak sedikit di antara kita yang sebenarnya telah memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu, justru memilih melepaskan keutamaan tersebut. Sebagian berdalih belum mampu mengatur waktu dengan baik. Sungguh sayang beribu sayang… Tapi bagaimana membuat keduanya beriringan? Bukankah Rasulullah ﷺ malah mencela orang yang hendak menghabiskan seluruh waktunya untuk ibadah saja?

Kenali Diri dan Pola Aktivitas Harian

Halaqah Silsilah Ilmiyah (HSI) Abdullah Roy adalah program belajar agama Islam secara daring. Kegiatan belajar di HSI terbilang ringan dan praktis sehingga dapat diikuti oleh santri dari berbagai kalangan. Toh faktanya bukan sedikit yang gugur di tengah jalan dengan alasan padatnya kesibukan.

Di titik inilah, kemampuan mengatur ritme belajar menjadi penting. Sebab, materi yang baik pun bisa terasa berat, jika tidak diiringi manajemen waktu dan suasana belajar yang tepat.

Sebagian orang mungkin lebih nyaman belajar selepas Subuh saat pikiran masih bening, tapi ada pula yang baru bisa fokus di sela-sela malam setelah urusan rumah tangga tuntas. Setiap orang mempunyai rutinitas dan cara belajar yang berbeda. Tampaknya waktu belajar yang tidak tepat, bisa membuat belajar tidak efektif. Akibatnya ilmu tidak merasuk. Belajar membutuhkan keadaan yang nyaman sehingga pikiran bisa konsentrasi.

Ukhtuna Nurul Aini, santri HSI angkatan 212, menemukan bahwa waktu belajar terbaik untuknya adalah pada dini hari. “Kenali saat prime time kita, yaitu jam di mana otak dalam kondisi optimal untuk menyerap ilmu, secara maksimal dalam waktu singkat. Saat tidak banyak "iklan" lewat mengganggu konsentrasi belajar. Buat saya, prime time saya adalah dini hari,” ungkap ibu yang akrab disapa Nurul tersebut.

Selain waktu, metode belajar yang dipakai juga perlu diperhatikan. “Saya tipe belajar visual. Lebih cepat masuk ke otak dengan membaca dibanding auditory (mendengar),” tutur Ukhtuna Nurul. “Karena saya pembosan, tantangan terbesar adalah mengatasi rasa bosan. Kalau sudah begitu, biasanya saya alihkan dengan kegiatan lain, baru kembali belajar lagi.  Alhamdulillah, untungnya modul belajar di HSI cukup fleksibel. Adanya admin di grup, sangat membantu mengingatkan pada saat futur alias saat datang malesnya,” tambahnya.

Pengalaman Ukhtuna Uswatun beda lagi. Santri HSI angkatan 211 tersebut mengaku lebih mudah belajar dengan metode mendengarkan. “Untuk materi-materi HSI, saya dengarkan berulang-ulang ketika kegiatan rumah tangga, misalnya sambil nyuci, setrika, atau masak. Karena saya tipe auditory, dengan mendengarkan lebih menangkap materinya. Kalau membaca saja kurang kuat,” ungkapnya.

Tipe pembelajar dengan gaya auditory tampaknya lumayan diuntungkan karena bisa sering-sering mendengarkan materi ilmu sembari mengerjakan tugas-tugas lain. Tapi tentu saja tiap gaya belajar mempunyai kelebihan maupun tantangannya masing-masing. Belum lagi deretan jadwal kesibukan tiap manusia juga pasti berbeda.

Sehingga yang utama dilakukan adalah mengenali diri, mana gaya belajar yang paling sesuai, plus pola aktivitas harian. Dengan memahami pola belajar dan kesibukan, jadwal menuntut ilmu dapat disetel dengan aktivitas harian, meskipun padat.

Lebih Mendesak, Lebih Didahulukan

Namun, menyesuaikan waktu belajar serta gaya belajar saja, terkadang belum cukup. Ada kalanya berbagai urusan datang bersamaan hingga membuat seseorang benar-benar kewalahan menentukan mana yang harus didahulukan. Dalam hal ini, keterampilan mengenali prioritas menjadi penting.Untuk menunaikan tugas-tugas yang menumpuk, perlu diketahui mana yang lebih mendesak dan wajib. Tugas yang tidak darurat dapat ditunda atau dikerjakan di sela-sela tugas wajib. Nah, karena menuntut ilmu adalah wajib, maka pengalokasian waktu belajar itu tampaknya sebuah keharusan juga.

“Saya yang harus menyesuaikan jadwal untuk tetap menyeimbangkan perhatian terhadap keluarga, karena ilmu sangat diperlukan untuk bekal hidup,” ungkap Ukhtuna Uswatun.

“Caranya yaitu yakinkan bahwa kita wajib menuntut ilmu agama yang akan menyelamatkan kita dalam hidup dunia-akhirat. Jadi ilmu HSI dan ilmu syar’i lainnya bukan beban tapi kebutuhan,” Ukhtuna Uswatun berbagi hikmah. Memahami pentingnya ilmu akan menjadikan ia prioritas dalam jadwal harian kita.

“Ketika materi dishare saya dengarkan dulu sampai selesai. Terus nanti diulang-ulang dan ketika longgar baru dikerjakan quiz-nya,” papar Ukhtuna Uswatun yang juga berprofesi sebagai dokter tersebut, menceritakan jadwal belajar di HSI. “Saya usahakan tepat waktu.

Pada pagi ketika materi dishare, maka dengarkan. Pada malam ketika dibuka evaluasi, maka kerjakan. Jika tidak sempat, pagi-pagi sekitar jam 7 atau 8 atau 9 saya kerjakan evaluasi,” ceritanya bersemangat. Bahkan saking khawatir terlewat, Ukhtuna Uswatun mengaku sering mengecek aplikasi edu HSI-nya untuk sekedar melihat apakah evaluasi sudah diselesaikannya.

Selain menjadikan ilmu prioritas dan membuat jadwal, perlu dipahami bahwa menuntut ilmu adalah perjuangan dan membutuhkan pengorbanan. Ukhtuna Firly Diah Respatie, santri HSI angkatan 212, bersemangat menuntut ilmu karena termotivasi pesan dari seorang tabi’in.

“Intinya berusaha untuk istiqamah dalam tholabul ‘ilm. Caranya antara lain harus mau repot, buat jadwal belajar dan sungguh-sungguh ikuti jadwal yang sudah dibuat.

Pemahamannya bahwa ilmu tak dapat diraih dengan berleha-leha, iya kan Ukhty? Yahya bin Abi Katsir berkata, ‘Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai,” Ujar Ukhtuna Firly berbagi hikmah.

Komitmen santri satu ini dalam menuntut ilmu, pernah diuji ketika menunaikan ibadah haji. “Untuk belajar HSI, biasanya saya mencatat semua materi di buku catatan yangkhusus HSI. Bagi ana tholabul ‘ilm itu memang harus mau berkorban, meluangkan waktu, terstruktur, sistematis, dan serius. Saat haji pun ana bawa buku catatan, sebab kelas belajar saat itu tidak libur hingga persis 5 hari di Mina baru kelas libur. Maasyaa Allah, sangat mengesankan,” ujar Ukhtuna Firly berbagi kisah.

“Di tengah ibadah ana otong-otong (menggotong, bahasa Jawa, red) catatan HSI sebab harus EH, EP, dan bisa jadi EA kan ya. Jadi harus sedia payung sebelum hujan,” paparnya mengenang perjuangan.

Nah, dari Ukhtuna Firly kita belajar bahwa saat kita telah menyadari benar bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban, tak akan ada masalah lagi saat harus mengerjakannya berdampingan dengan ibadah lain. Tak perlu salah satu amal dikorbankan atau ditinggalkan.

Bukankah masing-masing bisa kita kerjakan sekaligus beriringan? Hanya perlu tekad, ketekunan mengatur jadwal, disiplin, dan skala prioritas.

Membuat Sistem Pengingat Agar Tidak Lupa

Memaksa diri tetap belajar di tengah aktivitas nan padat, memang bukan mudah. Tantangan lainnya adalah terlupa. Apalagi jika waktu yang dijadwalkan sudah terlewat. Bisa-bisa evaluasi-evaluasi juga ikut kosong, tidak terkerjakan. Memang lupa adalah fitrah manusia, sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa.” Sehingga pengingat selalu dibutuhkan oleh manusia.

Alhamdulillah, HSI telah melengkapi diri mendukung sistem ini. Ada Musyrif dan Musyrifah serta Grup Diskusi yang membantu proses reminder bekerja.

Ukhtuna Nurul merasa sangat terbantu dengan pesan pengingat dari Musyrifah grup angkatannya. “Reminder dari grup sudah cukup,” ujarnya. Begitu pula yang diungkapkan Ummu Abdul Hamid santri Angkatan 211, yang kadang terlupa jika menunda-nunda. “Tidak menunda agar tidak lupa,” ujar Ummu Abdul Hamid memberikan tips. “Kita juga bisa buka Grup Diskusi dan di situ juga Maasyaa Allah admin atau Musyrifah kita aktif mengingatkan,” sambungnya.

Berbeda dengan Ukhtuna Farahdila Rahma Fitri, santri HSI Angkatan 221, yang membutuhkan bantuan aplikasi pengingat agar tidak terlewat belajar. “HSI Reguler saya pakai aplikasi pengingat. Kalau nggak, seringnya kelupaan,” ujar ibu rumah tangga yang sekaligus pengajar dan mahasiswa tersebut. “Ana mengandalkan alarm HP aja dan alarm-nya nggak cuma sekali.Pagi dan siang,” pungkasnya. Pengingat ganda seperti ini, tampaknya akan membantu santri yang sibuk, karena ketika sebuah pengingat terlewat masih ada pengingat cadangan.

Sehingga kemungkinan lupa dan terlewat menyimak materi semakin kecil.

Adanya pengingat yang teratur akan membentuk rutinitas dan kebiasaan. Seperti yang terjadi pada Ukhtuna Rahma Tangkudung, santri reguler Angkatan 202. Ia mengaku merasa ada yang kurang ketika belum menyimak materi HSI. “Karena udah cukup lama ikut HSI reguler, udah nggak pake alarm lagi. Alhamdulillah, udah jadi kayak kebiasaan aja. Tiap hari harus dengar materi dan kerjakan evaluasi. Biidznillah,” ungkap santri asal Gorontalo tersebut.

Kendalikan “Time Thief”

Waktu adalah harta yang sering disia-siakan. Waktu habis bukan karena mengerjakan aktivitas utama, namun terkikis oleh kegiatan kecil yang melenakan. Kegiatan kecil yang sering membuat waktu berjalan tidak terasa yaitu bermain media sosial.

Sekali membuka media sosial, ternyata waktu telah berlalu selama berjam-jam. Akibatnya tugas yang wajib terbengkalai. “Kalau medsos kadang-kadang iya. Keasyikan scroll-scroll suka bikin lupa waktu, ngerjain evaluasi sampai batas akhir waktu,” kata Ukhtuna Rahma.

Membuka media sosial bisa jadi cara beberapa orang mengusir kebosanan. Dalam kesibukan yang padat, tentu seseorang membutuhkan hiburan. Namun, jangan sampai hal yang bertujuan untuk mengisi waktu luang tersebut malah demikian menyita sehingga waktu terbuang. Bijak bermedia sosial adalah menggunakan media sosial secukupnya, membuka ketika bosan dengan tetap mengingat kesibukan yang menunggu. Agar tidak lengah, gunakan batasan waktu ketika bermedia sosial.

Cobaan lain dalam belajar adalah futur, yaitu semangat yang melemah. “Rasa futur kadang datang menghampiri, tapi bagaimana kita berusaha tentunya dengan banyak berdoa agar dipermudah segala urusan, agar diberikan istiqamah dalam menuntut ilmu, diberikan ilmu yang bermanfaat oleh Allah,” ujar Ukhtuna Ummu Abdul Hamid menyampaikan pengingat.

Agar semangat dapat bangkit kembali, kita perlu mengingat tujuan awal menuntut ilmu serta menyadari besarnya keutamaan ilmu itu sendiri. Pada akhirnya, menjaga semangat dan mengendalikan “time thief” alias sang pencuri waktu adalah bagian dari menjaga amanah waktu. Sedikit demi sedikit waktu yang kita upayakan terjaga dengan baik akan terkumpul menjadi langkah nyata fokus menuntut ilmu.

Libatkan Keluarga sebagai Penyokong Semangat

Selain diri sendiri, faktor eksternal tampaknya juga sangat mempengaruhi usaha kita istiqamah menuntut ilmu. Suasana dan waktu yang nyaman serta kondusif untuk belajar merupakan hasil dari dukungan keluarga. Ukhtuna Firlly bercerita bahwa suaminya sangat mendukung dalam menuntut ilmu. “Sejak awal ana belajar, beliau selalu memudahkan urusan ana untuk belajar. Menyediakan jaringan WiFi di rumah, membelikan laptop baru saat laptop ana rusak,” ujar Ukhtuna Firlly. Jelas ini adalah dukungan besar. Jika agenda satu anggota keluarga ditopang bersama, insyaallah setiap langkah akan lebih ringan dijalani dan tujuan lebih mudah diraih.Ukhtuna Ummu Abdul Hamid juga mendapat dukungan serupa dari sang suami. “Intinya kalau sudah selesai urusan rumah tangga, kalau mau ngerjain HSI atau pun di kelas belajar online yang lain, insyaallah suami bisa dibilang mempersilahkan atau bahkan suami berusaha agar suasana tenang, kondusif, dan bahkan membantu mengingatkan anak-anak agar jangan sampai menggangu ummi-nya kalau sedang belajar gitu,” jelas Ukhtuna Ummu Abdul Hamid.

Hubungan timbal balik kemudian terjadi biidznillah. Setelah keluarga memberikan sokongan, semangat menuntut ilmu yang ditunjukkan dapat menjadi teladan. Insyaallah, mereka akan tertular dan turut bersemangat mencintai ilmu agama. Mudah-mudahan, ini langkah nyata mendatangkan berkah dari Allah.

Semua Pertolongan Hanya Milik Allah

Berbagai upaya yang kita usahakan agar dapat menuntut ilmu dengan lancar, tidak akan berhasil tanpa pertolongan dari Allah. Segala kemudahan hanyalah karunia dari-Nya. Maka setelah menempuh usaha-usaha terbaik, kita perlu senantiasa berdoa dan memperbaiki niat.

“Semoga Allah selalu luruskan niat ana ya. Para salafush shalih dulu selalu memperbaiki dan menyempurnakan niat mereka setiap hari. Kita ini apalah ya dibandingkan dengan kesungguhan mereka, maasyaa Allah,” ajak Ukhtuna Firlly.

Sementara Ukhtuna Ummu Abdul Hamid mengingatkan pentingnya meminta keberkahan waktu. “Intinya bisa atur waktu saja, utamakan melakukan hal-hal terpenting, lalu yang penting, kemudian setelahnya, dan setelahnya. Manfaatkan waktu luang kita untuk hal yang bermanfaat. Apalagi kita sebagai ibu rumah tangga yang punya aktivitas selain mengurus rumah, harus pinter-pinter mengatur waktu kita. Tentunya dengan banyak minta pertolongan kepada Allah agar Allah memberkahi waktu kita. Mudah-mudahan waktu bisa kita gunakan menjalankan kewajiban sebagai hamba, yang salah satunya dengan menuntut ilmu syar'i walaupun lewat belajar online seperti di HSI kita ini,” pesannya.

Menuntut ilmu adalah ibadah yang membutuhkan kesungguhan. Mari optimalkan usaha kita untuk mengatur waktu, mengusahakan dukungan keluarga, dan perbanyak doa. Jangan sampai waktu luang habis tanpa manfaat, karena waktu adalah nikmat yang kelak kita pertanggungjawabkan. Ingat, teman-teman, sempatkan untuk belajar, bukan belajar ketika sempat ya…. Yasarallahu lana…

0