Generasi Cahaya
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Semangat Kesukarelawanan: Membagi Suka Cita di Lingkungan Sosial

Reporter : Putri Oktaviani

Redaktur : Gema Fitria


Selain hubungan dengan Allah, ada juga ibadah yang terkait dengan hubungan antar manusia. Kegiatan kesukarelawanan adalah bentuk kebaikan sederhana yang dapat memberikan dampak besar pada masyarakat. Kerelaan untuk meluangkan waktu, tenaga, dan keahlian tanpa pamrih, hanya untuk melihat wajah Allah tentu akan menjadi catatan amal kebaikan yang berharga yang tidak hanya mampu meringankan beban masyarakat, tetapi juga mampu membentuk ikatan sosial dan membangun masyarakat yang saling peduli.

Anak muda adalah generasi pembentuk masa depan. Karena pengaruh kemajuan teknologi, pemuda-pemudi zaman sekarang cenderung mengikuti budaya apatis. Kemudahan yang didapat dari aktivitas online mengakibatkan interaksi langsung dengan sesama manusia berkurang. Orang-orang cenderung semakin individualis karena alat bantu sosial yang semakin tidak membutuhkan tatap muka.

Bergabung dalam sebuah organisasi atau komunitas dapat meningkatkan intensitas interaksi sosial. Apalagi jika komunitas memiliki kegiatan sukarela sehingga membantu menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah bersabda, “Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (makhluk hidup), terdapat pahala (dalam berbuat baik padanya). Sebagai muslim yang selalu ingin mengejar kebaikan, kita harus bisa mencari peluang ibadah meskipun melalui amal ringan.

Menanam Bibit Jiwa Bersukarela

Di antara langkah kecil yang bisa dilakukan oleh para remaja untuk menumbuhkan jiwa kesukarelawanan adalah berpartisipasi aktif di komunitas sosial. Dengan lingkungan yang mendukung kegiatan sukarela, kesadaran mengenai kebutuhan sosial akan terbentuk. Rasa ingin menjadi pribadi yang bermanfaat semakin meningkat. Kegiatan bermanfaat dapat dimulai dari lingkungan terdekat, bahkan dari dalam rumah. Misalnya, memanfaatkan media sosial untuk penggalangan dana. Bisa juga dengan mengikuti kegiatan di lingkungan rumah atau sekolah.

Ukhtuna Farras Syifa, santri HSI angkatan 242, menjadikan kegiatan berbagi makanan berbuka puasa sebagai salah satu program rutin tahunan dari kegiatan OSIS di sekolahnya. “Karena ana anak OSIS keagamaan, kemarin pada saat bulan Ramadhan kita mengadakan berbagi takjil di jalan raya dan di salah satu panti (asuhan, red),” cerita Ukhtu Syifa, panggilan akrabnya.

Keterlibatan sosial juga bisa dilakukan di lingkungan rumah, seperti yang dilakukan Ukhtuna Nadia Afifah, santri HSI angkatan 252, yang bergabung di komunitas kajian remaja di komplek perumahannya. “Ana mengikuti komunitas kajian remaja di dekat rumah. Kebetulan ana salah satu panitia akhwatnya,” jelasnya. Kajian tersebut, lanjutnya, rutin digelar setiap hari Jum’at ba’da Ashar, meskipun yang hadir hanya sekitar 8 hingg 12 orang saja.

Penghambat Semangat Kesukarelawanan

Banyaknya aktivitas merupakan kendala utama dalam mengikuti kegiatan sukarela. Padatnya kegiatan belajar dan pekerjaan rumah, membuat para remaja sulit meluangkan waktu. Namun, tidak demikian dengan Ukhtu Nadia. “Ana mengaturnya dengan meluangkan waktu sore hari di hari Jum’at, mengerjakan tugas dan semacamnya pada pagi atau malam harinya,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kegiatan rapat komunitas dilakukan melalui grup obrolan WhatsApp serta sebagian besar persiapan kajian dipegang oleh panitia yang lebih tua, sehingga memudahkannya dalam membagi waktu.

Selain manajemen waktu yang kacau, hiburan instan yang sangat mudah diakses kerap menyita perhatian para remaja dari kegiatan yang bermanfaat. Berbagai bentuk hiburan digital seperti media sosial, video pendek, dan permainan online benar-benar telah memberikan efek candu kepada mereka. Ukhtu Syifa menyampaikan bahwa cara untuk mengurangi ketergantungan pada gawai adalah dengan memaksa diri melakukan kegiatan bermanfaat, “Ana kalau di rumah bermain ponsel di saat waktu luang saja, Ukh,” katanya. Pada kesempatan lainnya, ia mengisi dengan tadarus dan membantu ibu merapikan rumah.

Buah dari Spirit Kesukarelawanan

Kegiatan sukarela akan membantu pembentukan karakter dan pengembangan diri. Dengan aktif pada kegiatan sosial, empati, dan kepedulian akan terasah. Begitu juga kepekaan mengenali kebutuhan masyarakat. Anak muda akan belajar bertanggungjawab terhadap lingkungan sosial maupun alam dan mendalami peran sebagai khalifah di muka bumi.

“Alhamdulillah dari kegiatan tersebut ana dapat banyak pelajaran dan manfaat, seperti ana dapat belajar lebih bertanggungjawab, disiplin, dan dapat mengatur emosi juga,” Ukhtu Syifa menerangkan. “Membiasakan perilaku yang baik sesuai dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan juga menjalin persaudaraan yang baik dengan orang-orang yang memiliki tujuan positif,” sambungnya.

Berorganisasi dan berkomunitas juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, serta kemampuan menyelesaikan masalah. Selain itu, kegiatan filantropi juga bisa menambah portofolio dan memperluas jaringan relasi. Solidaritas umat akan semakin kokoh dan terjaga. Ukhtu Nadia mengutarakan bahwa ia lebih semangat membangun kebaikan dengan bergabung dengan lingkungan yang positif, “Dengan adanya teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan, rasanya menenangkan dan membuat semangat untuk menuntut ilmu dan mendengarkan nasihat,” tandasnya.

Meskipun begitu ia kecewa karena peserta kajian masih sedikit, “Namun, tetap ada dampaknya. Karena kajian remaja ini terbuka untuk umum, terkadang ada remaja yang belum memahami sunnah datang juga. Pelan-pelan warga tahu, bahwa di masjid komplek ada pengajian rutin khusus remaja yang temanya juga dimodifikasi agar menarik bagi remaja,” imbuhnya.

Sedangkan Ukhtuna Unaisah, santri HSI angkatan 252, mengikuti kegiatan sukarela untuk mencari pahala dari Allah. Ia menjadi pengajar pengganti pada salah satu pondok tahfidz Al-Qur’an di kota Palopo. “Bersukarela membantu saya untuk istiqamah dengan memiliki teman-teman yang shalihah. Menambah pengalaman dan percaya diri, melatih dan menguji diri agar bisa memimpin, menjadikan diri lebih dewasa, dan dapat mengajarkan ilmu yang telah didapatkan supaya meraih pahala, insyaallah,” ujar santri yang mengajar dasar-dasar agama kepada santri usia SD tersebut.

Ukhtuna Unaisah termotivasi mengajar agar bisa memberikan manfaat meskipun sederhana kepada masyarakat, “Agar dapat berbagi ilmu syar'i yang telah lebih dulu didapatkan, membantu anak-anak kaum muslimin di kota ana untuk dapat membaca Al-Qur'an dengan benar serta menghafal dan mengamalkannya sesuai dengan manhaj salaf,” pungkasnya.

Kegiatan sukarela memiliki banyak manfaat pada lingkungan dan masyarakat, yang nantinya manfaat itu akan kembali kepada diri sendiri dalam bentuk amal baik dan balasan dari Allah. Kegiatan sukarela bisa menjadi sumber amal jariyah yang akan terus mengalir hingga setelah kematian. Meskipun berupa kegiatan yang ringan dan sederhana, namun ia akan menjadi awal dari perubahan sosial.

Tujuan terbesar yang ingin diraih dalam hidup adalah cinta dan ridha Allah. Salah satu jalan untuk mencapai keduanya adalah dengan melakukan kebaikan. Allah sangat mencintai perbuatan baik, bahkan memerintahkan manusia untuk berlomba dalam kebaikan. Karena hidup adalah perlombaan, jangan sampai kita tertinggal dalam kebaikan! Baarakallaahufiikum.

9