Selamat Datang di Kelas Takhashus

Reporter: Gema Fitria

Redaktur: Dian Soekotjo


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat [QS. Al Mujadalah: 11]

Kadar pemahaman terhadap agama menjadi salah satu ukuran kebaikan seseorang dari sudut pandang Islam. Berbagai dalil dapat menjadi rujukan berkaitan hal ini. Seperti firman Allah tentang kedudukan orang beriman dan orang yang berilmu dalam Surat Al Mujadalah ayat 11, juga sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang dibawakan oleh Sahabat Mu’awiyah Radhiyallahu’anhu, yang berbunyi مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ atau ‘Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan atasnya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.’

Hakikat tersebut akan membawa kita mensyukuri nikmat kesempatan menuntut ilmu agama. Sejatinya, peluang belajar agama merupakan bentuk kasih sayang Allah yang demikian agung. Dengannya terbuka jalan kita memahami agama dengan benar dan lurus. Rasa syukur atas kesempatan belajar hendaklah diikuti kesungguhan.

Bab kesungguhan belajar rupanya menjadi poin perhatian di HSI. Latar belakang ini pula yang akhirnya mengetengahkan rencana pembentukan kelas khusus dalam Divisi KBM grup akhwat atau kelompok ART. Setelah tercetus gagasan dan berbagai persiapan, kelas terbatas tersebut akhirnya mendekati peluncuran, insyaallah pada Juni 2025. Dari berbagai bursa nama, terpilihlah Kelas Takhashus menjadi titel resmi.

Upaya Memompa Antusiasme

Koordinator Divisi KBM ART atau grup akhwat, Ukhtuna Fauziana yang kerap disapa Mbak Ana, mengemukakan latar belakang pembentukan Kelas Takhashus dalam rapat persiapan pengurus program yang diadakan akhir April lalu. Menurut Mbak Ana, pembentukan Kelas Takhashus sedikit banyak berawal dari kegelisahan terhadap kenyataan grup-grup belajar HSI akhir-akhir ini.

“Semakin kesini, grup-grup memang banyak santrinya, hingga 200 lebih, bahkan 300-an, tapi seiring silsilah berjalan, jumlah santri Rasib dan Ghayyib juga tidak sedikit,” tutur Mbak Ana melalui media Zoom. Mbak Ana mengungkapkan bahwa alasan yang melatarbelakangi para santri berpredikat nilai Rasib-Ghayyib, cukup membuat kita mengelus dada. “Beberapa menyatakan tidak berniat mendaftar HSI, ada yang mengatakan tidak sengaja didaftarkan teman atau saudara, ada yang beralasan kesibukan kerja, dan lain sebagainya. Ini jelas memprihatinkan,” ujarnya.

Kondisi pendaftar yang membludak pada kesempatan penerimaan santri baru, tapi tak sedikit santri keluar pada akhir setiap sesi, terutama di angkatan-angkatan baru, diakui Mbak Ana berbanding terbalik dengan kenyataan grup-grup HSI angkatan-angkatan awal. “Seperti angkatan 134, 151, atau 152, jumlah santri di tiap grup itu kecil memang sejak awal terbentuk. Namun, santrinya kompak,” ungkapnya. Kompak yang dimaksud Mbak Ana di sini, ialah rasa kepedulian yang terbilang tinggi antar sesama penuntut ilmu dalam satu grup. Sampai-sampai, dari pengalaman Mbak Ana, pernah ketika seorang santri berniat mundur dari HSI, grup langsung dibanjiri chat berisi dukungan.

“Rata-rata, santri saling kenal dalam grup karena jumlahnya sedikit. Kemudian kalau ada seseorang yang mengeluh ingin keluar karena mungkin kesibukan atau susah membagi waktu, itu teman-teman lain langsung menyemangati. ‘Jangan keluar… jangan keluar…insyaallah bisa. Nanti dibantu..’ Kepeduliannya sampai seperti itu,” ungkap Mbak Ana. Perhatian semacam ini nampak berpengaruh pada suasana grup. Antusiasme santri dalam belajar terpompa dan buktinya angka santri ter-remove di akhir silsilah, tidak banyak.

1 Musyrifah dan 1 Muraqibah

Kelas Takhashus dirancang sebagai grup kecil. “Dalam satu kelas, maksimal 50 santri,” ungkap Mbak Ana memaparkan desain grup seputar rencana peluncuran Kelas Takhashus. “Dan para santri di grup akan didampingi satu orang Musyrifah dan satu orang Muraqibah,” imbuhnya.

Desain kelas kecil dengan sedikit santri dan 1 Musyrifah - 1 Muraqibah ini, diupayakan dapat menumbuhkan suasana belajar lebih intensif. Menurut Mbak Ana, dua pengurus yang mendampingi santri diharapkan dapat lebih fokus memberikan pelayanan. “Jelas berbeda menangani 50 santri dengan melayani ratusan santri, misalnya hingga 200 atau 300 seperti di Program Reguler,” papar Mbak Ana. Divisi yang dipimpinnya berharap para santri akan mendapatkan perhatian lebih dari para pendamping yaitu Musyrifah ataupun Muraqibah di Kelas Takhashus. “Dengan demikian mudah-mudahan proses belajar para santri kian lancar dan terjaga,” Mbak Ana menyampaikan.

Kelas Takhashus sendiri kabarnya segera dimulai pertengahan tahun ini, bersamaan dengan angkatan baru atau Angkatan 252 memulai kegiatan belajar. Program rintisan Kelas Takhashus akan dibuka dalam 6 kelas. Untuk itu Divisi KBM telah merekrut sejumlah Musyrifah beserta Muraqibah.

Mengenai kriteria Musyrifah dan Muraqibah yang bertugas, Koordinator Kelas Takhashus, Ukhtuna Surya Sari, menyatakan kepada Majalah HSI bahwa petugas-petugas tersebut dipilih berdasarkan kriteria khusus. “Telah terpilih 8 Muraqibah dari Program Reguler KBM-ART yang akan bertugas sebagai Musyrifah dan Muraqibah di Takhashus. Mereka yang terpilih adalah kandidat yang berpengalaman dalam mendampingi santri mengikuti KBM di program reguler,” ujar Ukhtuna Sari. Ia menambahkan bahwa khusus untuk posisi Muraqibah Takhashus dipilih dari Muraqibah-Muraqibah yang telah bertugas minimal 5 sesi KBM atau selama 1 tahun dengan nilai kompetensi yang bagus.

Ditawarkan untuk Para Pemegang NIP atau Santri Lama

Dalam kesempatan pembekalan pendamping Kelas Takhashus, dikemukakan bahwa nantinya program ini ditawarkan kepada seluruh santri HSI saja atau belum dibuka untuk umum. Mereka yang telah memiliki NIP HSI saja, alias hanya santri HSI, yang dapat mendaftar sebagai peserta.

Santri HSI yang sedang aktif belajar di angkatan tertentu bisa tetap mengikuti KBM dan mendaftar program ini secara bersamaan. Kelas Takhashus bahkan dibuka bagi mereka yang telah ter-remove karena predikat nilai Rasib maupun Ghayyib, baik bagi santri yang telah mendaftar program mengulang silsilah atau leveling, maupun yang belum mendaftarkan diri.

Ukhtuna Sari menambahkan bahwa semua santri yang mendaftar sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, akan diterima. Persyaratan tersebut salah satunya adalah melunasi biaya pendaftaran dan SPP mengingat kelas khusus ini berbayar.

Biaya pendaftaran diterangkan Ukhtuna Sari adalah sebesar Rp 50.000,00. Ini sudah termasuk fasilitas modul pembelajaran dan ongkos kirim. Biaya lain yang akan dikeluarkan oleh santri Kelas Takhashus adalah SPP sebesar Rp 150.000,00 per silsilah. “Jika ada pembatalan tidak berlaku pengembalian dana (no refund policy). Harap pertimbangkan dengan matang sebelum melakukan pendaftaran dan pembayaran,” pungkas Ukhtuna Sari mewanti-wanti.

Menurutnya dengan biaya tersebut, santri akan mendapat fasilitas terbilang sangat memadai, berupa grup terbatas yang didampingi 1 Musyrifah dan 1 Muraqibah berkualitas, modul belajar premium, fasilitas tanya jawab rutin bersama Ustadzuna Dr. Abdullah Roy, e-transkrip resmi per silsilah, serta e-syahadah kelulusan setiap level.

Saat disinggung apakah santri tidak perlu mencatat materi lagi karena sudah ada modul yang disediakan, Ukhtuna Sari hanya merespon singkat, “Ikatlah ilmu dengan tulisan, agar lebih paham dan melekat.”

Tanya Jawab Bersama Ustadzuna

Salah satu fasilitas yang dapat dikatakan eksklusif dalam Kelas Takhashus adalah kesempatan mengajukan pertanyaan langsung kepada Ustadzuna Dr. Abdullah Roy seputar materi pelajaran.

Mbak Ana menyatakan bahwa mekanisme tanya jawab langsung tersebut tengah digodok. “Apakah nanti ada jadwal khusus, mungkin sepekan sekali atau sebulan sekali, dengan tatap muka via Zoom bersama Ustadz, ataukah santri mengumpulkan pertanyaan kemudian dijawab oleh Ustadz Roy melalui voice note WhatsApp, kita belum bisa pastikan,” ujar Mbak Ana.

Mengingat kesempatan tanya-jawab sangat bergantung kepada keluangan waktu Ustadzuna, maka Divisi KBM belum dapat memberikan kepastian jadwal.

Fasilitas yang Paling Ditunggu

Salah satu santri angkatan 192, Ukhtuna Nurfath Pravita Ningsih, menyampaikan kegembiraannya seputar rencana peluncuran program terbaru Divisi KBM grup ART ini. “Masyaallah, semakin tahun HSI semakin lengkap fasilitas pembelajarannya. Semakin memudahkan untuk menuntut ilmu dengan era digital saat ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi Ustadz Abdullah Roy dan keluarga. Semoga kita yang sedang menuntut ilmu, Allah berikan keistiqamahan dan pemahaman yang baik,” ujarnya mendoakan.

Kak Vita, demikian sapaan akrab Ukhtuna Nurfath Pravita Ningsih, memandang penting fasilitas tanya jawab dalam pembelajaran secara online. Menurutnya fasilitas ini akan menjadikan santri mudah mendapat jawaban yang lebih spesifik dan mendalam terkait materi yang tengah dipelajari. “Fasilitas ini memungkinkan kami memperjelas pemahaman tentang materi yang disampaikan, serta mendapatkan bimbingan yang lebih personal. Dengan jumlah peserta yang terbatas, santri akan memiliki peluang besar untuk mendapatkan perhatian dan jawaban langsung dari Ustadz,” sambungnya.

Penilaian yang kurang lebih sama datang dari santri lainnya, Ummu Raiend. Santri yang menetap di Jakarta tersebut, sangat mendukung adanya Kelas Takhashus. Dikatakannya, materi HSI berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai orang awam yang sedang menuntut ilmu, banyak pertanyaan yang timbul seiring berjalannya waktu. Tanya-jawab materi bersama Ustadzuna bisa menjadi solusi terbaik. Ummu Raiend juga mengaku kurang memahami beberapa materi dari kitab yang baru dipelajari, sehingga penting sekali ada fasilitas tanya jawab langsung bersama Ustadzuna Dr. Abdullah Roy agar keresahan terhadap hal-hal yang tidak dipahaminya bisa teratasi.

Ummu Raiend sebelumnya mengalami kesulitan untuk menanyakan materi pelajaran kepada Ustadzuna. Ia mengungkapkan pengalamannya ketika ingin bertanya langsung kepada Ustadz. “Sebelumnya kami diarahkan mengikuti live interaktif jika ingin bertanya langsung kepada Ustadzuna. Qadarullah ana dan beberapa teman santri lain mengalami kesulitan untuk dapat terhubung. Maka program Takhashus ini merupakan solusi bagi santri. Semoga program Takhashus ini menjadi salah satu wasilah bagi santri untuk lebih memperdalam ilmu syar’i,” tulisnya melalui chat WA menyampaikan harapan.

Santri Angkatan 192 lainnya, Ukhtuna Dhevi Aristi Hermanda, menyampaikan hal senada. “Maasyaa Allah, hadirnya program Takhashus ini benar-benar menjadi suntikan semangat bagi kami dalam menapaki jalan thalabul ‘ilmi. Kehadirannya bak embusan angin sejuk di tengah terik yang menyengat. Terlebih, adanya fasilitas tanya jawab interaktif menjadi kabar gembira. Kini, kami para santriwati memiliki ruang untuk bertanya-jawab langsung dengan Ustadzuna, dengan peluang besar untuk mendapatkan jawaban atas kegelisahan-kegelisahan ilmiah yang selama ini kami pendam,” ungkapnya mengemukakan pandangan.

Ukhtuna Dhevi yakin program ini betul-betul telah dipikirkan secara matang, mulai dari perencanaan hingga eksekusinya. “Tak diragukan lagi, ini adalah fasilitas yang dirancang dengan penuh pertimbangan dan ketulusan demi memberikan kenyamanan serta kemudahan bagi para penuntut ilmu. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan Tim HSI dengan balasan terbaik di dunia dan akhirat,” tutupnya.

Mudah-mudahan kehadiran Kelas Takhashus benar-benar menambah semarak halaqah yang ada di HSI. Segala penyempurnaan yang terus dikebut menjelang peluncuran yang tak lama lagi, mudah-mudahan Allah kabulkan terwujud. Dari kelas ini, semoga lahir para pembelajar yang betul-betul mengagungkan ilmu, bukan sekadar coba-coba atau karena bingung mengisi waktu.

Antum yang berminat mengulang materi dari awal di Kelas Takhashus, atau ingin muraja’ah agar ilmu yang didapat semakin tertancap kuat, silakan pantau terus informasi pendaftarannya di Grup Diskusi atau akun sosial media resmi HSI. Yuk, ramai-ramai mendaftar.. Baarakallahu fiikum.

0