Khotbah Jumat

Selama Pintu Itu Masih Terbuka


Penulis: Abu Ady

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M. A.


Khotbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحَلَّ الطَّيِّبَاتِ، وَحَرَّمَ الْخَبَائِثَ، وَوَعَدَ مَنِ اتَّقَاهُ وَصَبَرَ بِالْفَرَجِ وَالرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَنَهَى عَنْ أَكْلِ الْحَرَامِ وَالطَّمَعِ وَالْجَشَعِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah.

Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan takwa yang sebenar-benarnya. Takwa yang membawa kita untuk tunduk dan patuh kepada semua perintah Allah, serta menjauh dari segala larangan-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا۟ اتَّقُوا۟ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُم مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah.

Tidak diragukan, kita semua mencari jalan menuju surga. Ada yang bersungguh-sungguh dengan puasa sunnah, ada yang semangat dengan qiyamul lail dan ada yang berjuang dengan sedekah besar. Semua itu adalah amal mulia. Tetapi ketahuilah, ada jalan yang lebih mudah dan dekat kepada kita, yaitu berbakti kepada orang tua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ». قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka.” Seorang sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, baik salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim nomor 2551).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa orang tua adalah jalan yang Allah buka bagi anak-anaknya untuk meraih surga dengan mudah. Namun, seringkali manusia lalai, sehingga kesempatan berharga itu berlalu begitu saja. Hadits di atas menunjukkan bahwa pintu surga terbuka lebar bagi siapa saja yang berbakti kepada orang tuanya, terlebih lagi ketika mereka sudah lanjut usia.

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah.

Berbicara dengan lemah lembut kepada orang tua bisa menjadi penyebab masuk surga. Thaysalah bin Mayyas berkata, “Aku pernah bersama kelompok Najdat (sebuah golongan dari kaum Khawarij), lalu aku melakukan beberapa dosa yang aku anggap termasuk dosa-dosa besar. Maka aku menyebutkannya kepada Ibnu Umar. Ia bertanya kepadaku, ‘Apa saja dosa-dosa itu?’ Aku menjawab, ‘Begini dan begitu.’ Lalu Ibnu Umar berkata, ‘Itu bukan termasuk dosa besar. Dosa besar itu ada sembilan: menyekutukan Allah, membunuh, lari dari medan perang, menuduh wanita suci berzina, memakan riba, memakan harta anak yatim, berbuat zalim di masjid, memperolok-olok orang lain dan membuat kedua orang tua menangis karena durhaka.’

Kemudian Ibnu Umar berkata kepadaku, ‘Apakah engkau takut terhadap api neraka dan ingin masuk surga?’ Aku menjawab, ‘Ya, demi Allah.’ Ia bertanya lagi, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Aku menjawab, ‘Ibuku masih hidup.’ Maka Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, jika engkau berbicara kepadanya dengan penuh kelembutan dan memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga, selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.’” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).

Kisah ini menunjukkan betapa besar kedudukan berbakti kepada orang tua, bahkan ucapan lembut dan perhatian kecil kepada mereka bisa menjadi sebab seseorang meraih surga.

Betapa banyak anak yang masih memiliki orang tua, tetapi tidak pernah menyadari betapa besar nikmat tersebut. Mereka sibuk dengan pekerjaannya, teman-temannya dan dunianya, hingga lupa duduk menemani orang tua walau sebentar. Padahal, orang tua tidak selalu butuh harta kita. Seringkali mereka hanya butuh telinga yang mau mendengar, senyum yang menenangkan, atau sekadar genggaman tangan hangat dari anaknya.

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah.

Janganlah membuat orang tua kita bersedih. Jika telah terjadi, bertobatlah dan buatlah mereka bahagia sebagaimana telah membuat mereka bersedih.

Lihatlah bagaiamana seorang sahabat datang kepada Rasulullah lalu berkata, "Aku datang untuk berbaiat kepadamu demi hijrah (berpindah ke jalan Allah), sementara aku meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis."

Maka Rasulullah bersabda,

ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَ

"Kembalilah kepada keduanya, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis." (HR. Abu Daud nomor 2528).

Sahabat tersebut disuruh kembali kepada orang tuanya dan membuat mereka tertawa setelah menangis karenanya, padahal penyebab mereka menangis adalah kebaikan yaitu hijrah yang merupakan ibadah sangat mulia, tetapi Rasulullah tidak mengizinkan sahabat itu. Lalu, apa jadinya kita yang membuat orang tua kita menangis karena perbuatan yang bukan ibadah, terlebih lagi perbuatan yang buruk?

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah.

Bagaimana cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup?

Ibnul Jauzi mengatakan, berbakti kepada keduanya dilakukan dengan menaati perintah mereka selama bukan dalam hal yang dilarang oleh Allah, mendahulukan perintah mereka atas amalan sunnah, menjauhi apa yang mereka larang, menafkahi keduanya, berusaha memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka, serta bersungguh-sungguh dalam melayani dan membantu mereka.

Seorang anak juga harus menjaga adab dan rasa hormat kepada keduanya. Tidak meninggikan suara di hadapan mereka, tidak menatap mereka dengan pandangan tajam, tidak memanggil keduanya dengan menyebut nama mereka secara langsung, berjalan di belakang mereka (sebagai bentuk hormat), dan bersabar terhadap hal-hal yang tidak disukainya dari keduanya. (Birrul Walidain, hlm. 2)

Selain itu, masih banyak yang bisa dilakukan seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Di antaranya:

Membantu keduanya dalam pekerjaan. Seorang anak tidak pantas melihat kedua orang tuanya bekerja, sementara ia hanya duduk diam tanpa memberi bantuan kepada mereka.

Menjauhi hal-hal yang mengganggu mereka, baik ketika mereka sedang tidur, maupun dengan membuat keributan, meninggikan suara, menyampaikan kabar yang menyedihkan, atau bentuk gangguan lainnya.

Menghindari pertengkaran dan perdebatan di hadapan mereka. Anak hendaknya berusaha menyelesaikan masalah dengan saudara atau anggota keluarga lain jauh dari pandangan kedua orang tuanya, agar hati mereka tetap tenang dan tidak terganggu.

Segera memenuhi panggilan mereka, baik ketika sedang sibuk maupun tidak. Sebagian orang, ketika dipanggil oleh salah satu dari orang tuanya saat sedang sibuk, berpura-pura tidak mendengar, tetapi ketika sedang senggang, barulah dia menjawab.

Padahal, perbuatan yang pantas bagi seorang anak adalah segera menjawab dan memenuhi panggilan kedua orang tuanya begitu mendengar mereka memanggil. (U’ququl Walidain, hlm. 34).

Khotbah Kedua

اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَىٰ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَىٰ تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَىٰ رِضْوَانِهِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.

Amma ba’du.

Jamaah Jum’at rahimakumullah.

Bagi yang masih memiliki orang tua, bersyukurlah karena ada di antara kita yang setiap kali pulang ke rumah tidak lagi mendapati senyuman ibu atau nasihat ayah. Yang tersisa hanya kenangan, doa yang bisa dipanjatkan dan air mata rindu yang menetes di atas sajadah.

Oleh karena itu, barangsiapa telah kehilangan orang tua, ia telah kehilangan pintu surga yang paling besar. Tidak ada lagi kesempatan membahagiakan mereka dengan amal langsung, tinggallah amal setelah wafat.

Dalam sebuah riwayat, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka wafat?” Beliau menjawab,

نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلّا مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا ‌بَعْدَ ‌مَوْتِهِمَا

“Ya, ada, yaitu mendoakan dan memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji mereka setelah wafat, memuliakan sahabat mereka dan menyambung silaturahmi yang tidak bisa tersambung kecuali melalui keduanya.” (HR. Ahmad nomor 16059).

Inilah empat pintu bakti setelah orang tua wafat, yaitu doa dan permohonan ampun untuk mereka, menunaikan janji dan wasiat mereka, memuliakan sahabat-sahabat mereka, serta menyambung silaturahmi dengan keluarga yang berhubungan karena mereka.

Para orang shalih terdahulu telah mempraktikkan bagaimana berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal. Suatu ketika, Abdullah bin Umar bertemu dengan seorang laki-laki dari kalangan Arab Badui di jalan menuju Mekkah. Ibnu Umar pun memberi salam kepadanya, kemudian menaikkannya ke atas keledai yang biasa ia tunggangi, dan memberikan serban yang ada di kepalanya.

Ibnu Dinar yang menyertai beliau saat itu, berkata, “Kami pun berkata kepadanya, ‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu. Mereka itu hanya orang-orang Badui dan mereka sebenarnya sudah puas dengan hal yang sederhana.’”

Namun Abdullah bin Umar menjawab, “Sesungguhnya ayah dari orang ini dulu adalah sahabat karib Umar bin Khaththab, sedangkan aku telah mendengar Rasulullah bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ

‘Sesungguhnya bentuk kebaktian yang paling mulia adalah ketika seorang anak menjalin hubungan baik dengan teman-teman dekat ayahnya.’" (HR. Muslim, nomor 2552).

Di akhir khotbah ini marilah kita bershalawat untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin. Tak lupa, kita doakan para pemimpin kita agar diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimudahkan dalam mengurus urusan umat dan diberi kemampuan untuk menegakkan keadilan serta menjaga kemaslahatan rakyat.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، واشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ.



Referensi

Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Sunan Abi Daud, Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Al-Adabul Mufrad, Imam Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Musnad Ahmad, Imam Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Birrul Walidain, Ibnul Jauzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.

U’ququl Walidain, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Al-Maktabah Asy-Syamilah.



48