Sehat dan Berpahala dengan Basket, Apa Bisa?

Reporter: Rizky Aditya Saputra

Redaktur : Dian Soekotjo


فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan mengingatmu, bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku

[QS Al Baqarah: 152]

Kesehatan merupakan karunia besar yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepada setiap hamba-Nya. Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat melakukan banyak hal, termasuk beribadah secara maksimal. Oleh karena itu, menjaga kesehatan merupakan sebab penting yang tidak boleh luput dari ikhtiar tiap muslim.

Salah satu bentuk usaha menjaga kesehatan ialah dengan berolahraga. Dan dari banyak olahraga yang ada, kita bisa coba menekuni basket. Menariknya, selain mendapatkan bonus tubuh yang sehat, basket ternyata juga dapat dijadikan sarana meraih pahala. Apa benar bisa?

Mengubah Niat

Akhuna Abu Rumaysho seorang santri HSI Angkatan 221 adalah ‘pecandu’ basket. Sejak kecil, Abu Rumaysho telah tertarik dengan banyak jenis olahraga. Hingga ia menjatuhkan pilihannya kepada bola basket.

“Ana dari kecil di kampung, senang kegiatan outdoor atau olahraga apapun. Mulai dari badminton, sepak bola, sepak takraw, voli, dan tenis meja. Ana enggak fokus salah satu. Diikuti semua yang penting badan bergerak. Itu berjalan dari SD, SMP, dan SMA,” ucapnya.

“Ketika SMA, ana tertarik melihat lapangan basket, karena waktu kecil ada saudara main basket dibilangnya keren. Akhirnya ana main basket dari SMA sampai saat ini umur hampir 50 tahun,” ia menambahkan.

“Alhamdulilah setelah tahu ilmunya, kata para asatidz dan masyaikh, hal mubah seperti basket bisa dijadikan sarana ibadah dan ketaatan, serta bernilai pahala. Jadi yang tadinya niat awal olahraga untuk sehat saja, ditambah agar kuat beribadah. Kita ganti niatnya sehingga bisa dapat pahala,” ujar akhuna Abu Rumaysho kepada Majalah HSI.

Menjalin Ukhuwah Sekaligus Berdakwah

Lewat olahraga basket, akhuna Abu Rumaysho tak hanya mendapatkan manfaat kesehatan jasmani. Asupan kesehatan hati pun ia peroleh berkat jalinan ukhuwah bersama komunitas Moeslim Basketball Community (MBC). Ini sebuah wadah hobi bagi para pebasket muslim, khusus ikhwan, di Jakarta.

Sebagai olahraga tim, tentunya dibutuhkan teman yang banyak untuk bermain basket. Pemilihan teman, secara tidak langsung akan memengaruhi naik-turunnya keimanan. “Yang ana pelajari dari para guru dan ahli ilmu, kita perlu perhatikan circle. Karena itu merupakan salah satu pesan Rasulullah, bahwasanya agama kita tergantung dari agama teman kita. Supaya kita enggak salah bergaul, jangan salah masuk circle,” ungkap pria berdarah Minang ini.

“Ana saat ini bermain di lingkungan teman yang sudah hijrah karena alasan agama. Alhamdulillah, dari sekian banyak komunitas, ada MBC yang konsep utamanya mewadahi para muslimin yang hobi basket, untuk mendapat circle yang sesuai dengan agama Islam. MBC menjadi fasilitator buat teman-teman saling menjaga ukhuwah dan menasihati. Kita juga mengajak teman-teman yang belum mengenal agama, lewat basket ini,” imbuhnya. Mengenalkan agama adalah peran dakwah dan ternyata basket bisa jadi jalan masuk. Setidaknya, ini yang ditempuh Abu Rumaysho dan komunitas MBC.

Memperhatikan Adab dan Muamalah

Meski hukum asalnya mubah, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika bermain basket agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama. Khususnya terkait adab dan muamalah kepada sesama muslim. Mulai dari menjaga aurat, bertutur kata yang baik, juga saling menasihati dalam kebaikan.

“Kita kan hidup dibatasi syariat, banyak hobi yang halal, syubhat, bahkan haram. Kita harus meninggalkan permainan yang dilarang agama,” ujar Akhuna Abu Rumaysho.

Ia mencontohkan, “Kita harus hindari kata-kata yang kotor atau kasar. Untuk pakaian, para ikhwan juga perlu memperhatikan. Jangan sampai aurat terbuka. Karena jika memakai celana terlalu pendek, aurat bisa terlihat. Khawatir menjadi fitnah dan dosa,” kata Akhuna Abu Rumaysho.

Sebagai olahraga body contact alias banyak persinggungan fisik dengan sesama pemain, basket menjadi cukup rentan terjerumus pada adu fisik. Oleh karena itu, Akhuna Abu Rumaysho, mengaku sering mengingatkan para ikhwah untuk menjaga diri dari perbuatan menzalimi orang lain.

“Kita harus bisa menjaga diri untuk tidak zalim terhadap diri sendiri dan orang lain. Ketika bermain jangan terlalu kasar, jangan mencederai. Karena khawatir urusannya bisa ke akhirat. Misalkan, ada ikhwah yang cedera sehingga ibadahnya menjadi tidak maksimal. Pasti di Hari Kiamat, kita akan ditanya mengenai hal itu,” ujar pria 48 tahun ini.

“Atau kalau terkadang kita terlanjur tidak sengaja menzalimi, kita harus legowo minta maaf, dan harus mudah juga memaafkan. Jangan sampai semangat basket mengalahkan kaidah agama,” pungkasnya.

Dari Lapangan ke Kajian

Kembali ke tujuan awal, olahraga bola basket merupakan salah satu cara menjaga tubuh tetap sehat. Lebih dari itu, basket juga dapat dijadikan sebagai wasilah dalam beribadah dan meningkatkan ketakwaan. Pas sudah dengan pengalaman Abu Rumaysho bersama MBC selama beberapa tahun terakhir. Ia dan teman-teman MBC tak sekadar bermain basket, melainkan juga membangun ukhuwah Islamiyah dengan Ikhwan di kota lain, bahkan bersama-sama mengadakan daurah di beberapa tempat.

“Kegiatan rutin kami, bermain basket bareng di akhir pekan. Ada juga agenda safar ukhuwah game, kita sharing faedah dan berbagi pengalaman dengan para ikhwan dari kota lain. Kemudian di circle kami ada banyak aktivis dakwah, jadi kita manfaatkan mereka untuk menjadi fasilitator kebaikan, kita pernah mengadakan daurah di Masjid At-Tiin dan Masjid Sunda Kelapa,” terangnya.

“Kemudian, jika terjadi waktu bentrok antara basket dan kajian, kita harus mengalahkan basket untuk menuntut ilmu. Kita harus bijak, tentu menomorsatukan kajian daripada basket,” Akhuna Abu Rumaysho mengakhiri.

Belajar Secara Bertahap

Basket ternyata tidak saja ajang olah tubuh yang diminati para ikhwan. Ukhtuna Humaira adalah salah satu potret pebasket akhwat yang sejak SMA sudah kepincut dengan olahraga yang satu ini. Meski itu terbilang belum lama berlalu, karena kini ia tengah berkuliah S2 di sebuah kampus swasta di kota apel, sulung dari tiga bersaudara ini mengaku bakal terus main basket sampai tua. “Insyaallah, akan basketan terus sampai nenek-nenek….hahaha…,” kelakarnya dari ujung sambungan telepon saat diwawancarai Majalah HSI.

Padahal dulu, santri yang mulai belajar di HSI tahun 2022 ini, seorang yang cenderung pemalu dan tidak banyak aktivitas. “Dari kecil seingat ana, jarang sekali ikut kegiatan di sekolah. Ya sekolah, belajar, paling main dengan tetangga, dengan adik-adik, sepulang sekolah,” ujarnya berbagi kenangan. Namun, semenjak duduk di bangku sebuah SMA swasta di Surabaya, kota kelahirannya, dan dipercaya sang guru olahraga untuk memperkuat tim basket sekolah, Ukhtuna Humaira jadi kecanduan. Apalagi Surabaya adalah kota kelahiran DBL, sebuah liga basket ternama yang sekarang sudah berkelas nasional. Kemampuan sekaligus kecintaan Ukhtuna Humaira terasah dengan kompetisi bergengsi yang merupakan ajang tahunan tersebut.

“Berproses, rajin latihan, dan jangan gampang puas, itu kuncinya,” jawab Ukhtuna Humaira saat ditanya apa resepnya bisa mahir main basket. “Dulu ana belajarnya ya mulai dari dribble. Passing awalnya masih meleset-meleset. Berkali-kali dimarahi pelatih…. Ah, biasa itu,” tuturnya dari ujung saluran. Namun, dari tekun berlatih, Ukhtuna Humaira membuktikan bahwa akhirnya ia pun dianggap layak oleh sekolahnya berlaga di ajang bergengsi sekelas DBL. “Percaya pada potensi diri dan terus asah saja, mudah-mudahan makin meningkat,” dara 23 tahun itu kembali membagi penguat motivasi.

Ikut Perkumpulan atau Club

Selanjutnya, Ukhtuna Humaira tak memungkiri bahwa pelatih demikian besar perannya dalam membentuk seorang pemain. Selain sudah tentu saja dalam hal teknis basket, pelatih turut andil menggembleng mental pelatih. “Alhamdulillah, ana jadi tekun berlatih biidznillah, dan tidak menyerah, sedikit banyak karena peran pelatih ana di SMA dulu. Beliau keras sekali, tapi kata-katanya selalu berdampak ke ana,” Ukhtuna Humaira mengungkapkan.

Ukhtuna Humaira juga menyarankan mereka yang akan belajar basket, hendaknya melengkapi diri dengan bekal yang cukup. Ia mengaku khusus memperhatikan pakaian karena sebagai muslimah, ia terikat ketentuan syariat untuk menutup aurat. Selebihnya, adalah hal-hal standar, seperti sepatu olahraga dan lapangan tempat bermain yang memadai.

Khusus masalah yang terakhir, Ukhtuna Humaira menyarankan untuk bergabung dengan club maupun wadah komunitas basket, “Karena biasanya mereka mempunyai jadwal latihan yang telah teratur, termasuk akses ke lapangan,” imbuhnya. Dengan demikian, tak perlu lagi pusing mengeluarkan biaya sebagai ongkos sewa lapangan.

Seputar Tips Sehat Main Basket ala dr. Yusuf

Setelah mengenal bahwa basket tak serta-merta menjauhkan kita dari agama, bahkan bisa jadi jalan dakwah, maka merupakan hal penting juga nampaknya, untuk memahami rambu-rambu main basket. Mudah-mudahan dengan demikian, main basket bisa lebih menyenangkan dan aman.

Untuk perkara satu ini, Majalah HSI membahasnya bersama dr. Yusuf Samudera, santri HSI yang juga gemar olahraga. Berikut cuplikan wawancara kami :

1. Majalah HSI : Ada opini bahwa olahraga di malam hari itu rentan pada kematian, mengingat beberapa peristiwa atlet meninggal saat berolahraga, terjadi pada malam hari. Padahal basket kebanyakan dimainkan malam hari, Dok. Apalagi di kalangan mereka yang sudah bekerja dan tidak punya waktu pada pagi harinya. Bagaimana penjelasannya, Dok?

dr. Yusuf : “Itu tidak benar. Olahraga boleh saja dilakukan malam maupun pagi hari. Untuk yang melakukannya malam, lebih bagus dibagi, karena kalau siangnya lelah bekerja, malam tubuh biasanya sudah slow down. Memang sebaiknya (orang yang siang bekerja) berolahraga di pagi hari, untuk lebih semangat juga.

Terkait adanya risiko serangan jantung ketika berolahraga, dr. Yusuf Samudera menjelaskan beberapa batasan yang perlu diperhatikan oleh setiap orang. Salah satunya, jangan terlalu berlebihan atau memforsir diri saat tubuh memberikan sinyal kelelahan.

“Untuk batasan, tergantung dia punya penyakit apa. Namun yang perlu dibatasi, ada maximal heart rate (detak jantung maksimal). Jangan melebihi angka 220 dikurangi usia. Jadi misalkan usianya 40 tahun, heart rate max jangan lebih dari 180.

Kemudian, kejadian serangan di jantung sebenarnya terjadi karena dia sudah punya jantung koroner, tapi tidak ketahuan. Mungkin begitu diforsir kebutuhan oksigen meningkat, terjadilah henti jantung

2. Majalah HSI : Adakah tips lainnya, Dok, yang sebaiknya juga diperhatikan?

dr. Yusuf Samudera : World Health Organization (WHO) telah merekomendasikan durasi waktu berolahraga yang aman. Bagi penggiat olahraga ringan, hanya dibutuhkan waktu 150 menit per pekan untuk olahraga. Sementara penggiat olahraga berat, hanya memerlukan waktu yang lebih singkat, yakni 90 menit per pekan.

Selain itu, untuk orang-orang yang memiliki masalah berat badan berlebih (obesitas), juga perlu menghindari olahraga yang bersifat berat. Kata kuncinya olahraga 150 menit per pekan, itu rekomendasi WHO. Tubuh yang bergerak akan bermanfaat untuk masa depan. Ini pun untuk olahraga ringan ke sedang, bukan yang berat. Misalkan kita jogging ringan 30 menit dikali 5 hari itu sudah cukup. Untuk olahraga yang berat, cukup 90 menit per pekan.

Untuk yang terlanjur obesitas, semua perubahan dimulai dari sekarang. Kalau dibiarkan, risiko ditanggung sendiri. Umur telah Allah tentukan, tapi kita diminta untuk berikhtiar. Memulainya sedikit-sedikit, jangan langsung yang berat, bentuk kebiasaan regular, konsisten, baru bisa ditingkatkan sedikit-sedikit. Kemudian olahraganya jangan yang menyanggah tubuh, bisa dengan bersepeda atau berenang. Jangan yang lompat-lompat, nanti khawatir lututnya bermasalah.

Nah, bagaimana? Tidakkah antum sekalian tertarik mencoba olahraga satu ini? Dengan mengubah niat serta mengoptimalkan upaya beramal, insyaallah, basket pun bisa jadi jalan meraih pahala. Kalau bisa sehat sekaligus berpahala, mengapa tak kita ambil keduanya? Yuk, sampai ketemu di lapangan… Baarakallahu fiikum.

0