Mutiara Nasihat Muslimah

Saring sebelum Sharing

Penulis: Indah Ummu Halwa

Editor: Athirah Mustadjab


Inilah zaman yang dikatakan oleh Nabiyyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai zaman tersebarnya tulisan. Tulisan tersebar begitu masif, mulai dari yang bersifat ilmiah, debat, hoaks, curahan hati, ghibah, namimah, riya, bahkan sekadar cuap-cuap tanpa manfaat. Kita pun teringat dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda kiamat kecil,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ… ظُهُورَ الْقَلَمِ

“Sesungguhnya menjelang datangnya kiamat … bermunculannya pena (qalam).” (HR. Ahmad no. 3870. Syaikh Ahmad Syakir berkata, “Sanadnya shahih.”)

Dapat kita lihat dan rasakan bahwa pada hari ini sangat jarang orang yang tidak memiliki akun media sosial. Alhasil, kehidupan sosial juga bisa dengan mudah dijangkau dengan satu genggaman saja walau jarak sangat jauh. Siapa pun bisa mengaksesnya dan berselancar di dalamnya, tak terkecuali para muslimah. Oleh karena itu, hal yang perlu diingat adalah aktivitas di dunia maya tersebut harus sesuai dengan koridor syariat yang telah ditetapkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Teliti, Jangan Tergesa-Gesa!

Genggaman internet sedekat genggaman tangan. Cukup satu klik, status medsos akan bergulir ke salah satu dari dua arah: ke arah kebaikan atau ke arah keburukan. Jika seorang Muslimah merenungi konsekuensi tersebut, sepatutnya dia bertanya ke diri sendiri sebelum memposting sebuah status di media sosial, “Apakah hal yang akan kubagikan ini benar? Jika dia benar, apakah layak untuk kubagikan?”

Banyak muslimah, baik yang setia hadir di majelis ilmu, yang hadir kajian online, atau yang hanya melihat potongan-potongan video dakwah begitu bersemangat membagikan konten-konten yang dia lihat dan dia ketahui. Konon, mereka ingin mendakwahkan kebenaran yang ia ketahui walau satu ayat. Ini alasan yang tentu saja tidak salah, bahkan sahabat Abdullah bin 'Amr berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah kalian sampaikan (apa yang datang) dariku walau hanya satu ayat.“ (HR. Ad-Darimi no. 541)

Kendati demikian, bukan berarti setiap konten boleh disebarluaskan. Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar akan berfaedah apabila memenuhi berbagai syarat. Sebaliknya, dia akan berbalik menjadi musibah jika dilakukan serampangan.

Setiap muslimah wajib menyadari bahwa banyak mata tertuju padanya. Oleh karena itu, hendaklah dia menjaga setiap postingannya di media sosial karena agar orang lain semata meniru hal baik dari dirinya. Berikut ini beberapa hal yang bisa dijadikan panduan oleh setiap muslimah, agar dakwahnya di dunia maya tidak menjadi sumber petaka:

1. Bertakwa di mana pun berada

Seorang muslimah itu sepantasnya mengutamakan syariat agamanya, menggenggam erat sabda Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berlepas diri dari segala perkara yang membuat Rabbnya murka. Demikianlah karakteristik muslimah yang bertakwa. Imam An-Nawawi mendefinisikan takwa, “Menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” yaitu maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.[1] Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa barang siapa yang berani melanggar aturan-aturan Allah ‘Azza wa Jalla, dia bukan orang yang bertakwa.

Dengan bekal ketakwaan, seorang muslimah yakin bahwa dirinya selalu berada di bawah pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap dirinya. Di mana pun dan kapan pun, dia selalu menjaga keadaan lahir dan batinnya, baik tatkala sendirian maupun di keramaian. Dia jauhi segala hal yang akan merusak agamanya, baik itu berupa syubhat maupun syahwat.

2. Berporos pada kalamullah, sabda Rasul, dan kalam sahabat

Pembicaraan seorang muslimah hanya berkisah pada hal-hal yang berfaedah. Dalam dakwahnya di media sosial, tiga hal menjadi pijakannya: Al-Qur’an, hadits shahih, dan perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum . Dia menjauh dari pembicaraan yang sia-sia dan mendatangkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla. Jika pun dia berbicara dalam hal mubah, dia tetap teliti dalam mengeluarkan setiap kata.

3. Menjaga tangan dan lisan

Jari-jemari dan lisan adalah sebab diampuninya dosa atau dikaruniakannya pahala. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Selain itu, juga terdapat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbicara yang baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah no. 3662)

Termasuk juga bentuk penjagaan lisan pada zaman sekarang adalah menjaga tulisan, salah satunya adalah di media sosial. Sebenarnya diam itu lebih mudah daripada mengeluarkan tenaga untuk mengetik sesuatu, tetapi ternyata bagi sebagian orang diam itu jauh lebih susah.

Akhawati fillah, seorang muslimah akan menjaga jemari dan lisannya karena dia mengharapkan surga Allah semata. Mari kita ingat kembali sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang dinamakan mukmin adalah yang manusia merasa aman dari gangguannya, sedangkan yang dinamakan muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat dari lisan dan tangannya. Dan muhajir adalah yang berhijrah dari kejelekan. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak masuk surga jika tetangganya merasa tidak aman dari tingkah buruknya.” (HR. Ahmad no. 12103)

4. Selalu teliti

Dunia maya terdapat aneka perkara yang seringkali masih samar. Berita, cerita, dan informasi masih harus diteliti kebenarannya dari berbagai aspek: siapa yang menyampaikan, apa latar belakang masalah tersebut. Pendeknya, seorang muslim wajib teliti untuk menyerap dan memposting segala sesuatu di media sosial. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

5. Hindari debat

Seorang mukminah sudah seharusnya bergaul dengan manusia dengan cara yang baik di mana pun dia berada. Dia tidak turut campur dalam masalah-masalah yang dia tidak ketahui secara pasti. Ia juga beriman bahwa menjauhkan diri dari perdebatan adalah keselamatan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Barang siapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138)

6. Gunakan seperlunya

Ahibbati fillah, sungguh sangat disayangkan apabila seorang muslimah kurang pandai mengatur waktunya karena waktu adalah modal kesuksesan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Marilah kita pergunakan waktu yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala dengan sebaik-baiknya.

Gunakanlah dinding media sosial untuk hal yang bermanfaat saja. Gunakanlah seperlunya saja. Ini akan membantu kita memangkas ketergantungan terhadap media sosial. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Malik no. 1402, Ahmad no. 1646, Ibnu Majah no. 3966, At-Tirmidzi no. 2240, dan lainnya.)

7. Jangan menjadi sumber fitnah (godaan)

Ketika seorang muslimah harus muncul di media sosial, dia tidak perlu menampakkan fisiknya, walau dengan tampilan hijab yang sempurna. Sadarilah bahwa fitnah (godaan) yang berat bagi laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 4706)

Seorang muslimah tidak perlu mengunggah fotonya di media sosial, meski diiringi dengan caption motivasi, misalnya. Cukuplah sampaikan ilmu atau informasi penting yang diperlukan, tanpa menambahi hal-hal yang melanggar syariat.

8. Hindari musik

Bagaimana pun bentuknya dan apa pun alasannya, musik adalah perkara yang diharamkan dalam Islam. Namun pada zaman ini, godaan musik melambai di mana-mana. Sepanjang waktu membuka media sosial, musik hadir di video Facebook, reels Instagram, bahkan status WhatsApp. Musibah yang besar tatkala orang yang menggunakan musik tersebut tidak merasa sedang berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Wal’iyadzubillah .

Saudariku muslimah, jangan tertipu dengan banyaknya manusia yang melakukan hal tersebut. Ingatlah bahwa hal tersebut merupakan perbuatan yang dimurkai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِفَ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutra, khamer (minuman keras), dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari no. 5590; Ibnu Hibban no. 6719; Al-Baihaqi, 5:221; dan Abu Daud no. 4039)

Penutup

Akhawati fiddin, jadilah bagai permata yang indah nan terjaga. Berhati-hati dalam bersikap, termasuk di dunia maya, karena setiap dosa yang ditiru manusia akibat contoh perbuatan dari kita akan tertera di catatan malaikat. Akhawati fillah, saringlah sebelum memutuskan untuk sharing (membagikan). Saringlah sebelum memutuskan untuk memposting. Tiada lain yang didamba oleh seorang muslimah melainkan keselamatan dan keberkahan dalam kehidupan. Wasta'inu billah, la quwwata illa billah. Nas’alullahut taufiq. Wallahu Ta’ala a'lam bish shawab.

Referensi:

  1. Ensiklopedi Hari Menurut Sunnah Yang Shahih (terjemahan Asyraatushus Saa'ah), Yusuf bin 'Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
  2. Ensiklopedi Hadits, https://hadits.in
  3. Haramnya Musik, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, https://almanhaj.or.id/12559-haramnya-musik.html
  4. Jangan Pernah Melayani Perdebatan, Raehanul Bahrain, https://muslim.or.id/59693-jangan-pernah-melayani-perdebatan-di-dunia-maya.html
  5. Taqwa (terjemahan), Dr. Fadhl Ilahi, https://almanhaj.or.id/990-t-a-q-w-a.html
6