Tanya Dokter

Sakit Maag pada Anak: Fakta Ilmiah atau Mitos?

Dijawab oleh dr. Arifin Kurniawan Kashmir, Sp.A, M.Kes


Pertanyaan dari Ibu Ika:

Anak saya berusia 12 tahun, Qadarullah, pasca dirawat di rumah sakit dua minggu yang lalu dengan diagnosa gastritis dan cystitis. Awalnya nyeri, muncul sakit perut sesudah makan kuah lemak pedas. Alhamdulillah saat ini sudah bebas dari nyeri tanpa obat, hanya sedikit rasa begah dan kembung. Yang ingin saya tanyakan, apakah anak saya tidak boleh lagi makan pedas dan berlemak? Apakah seterusnya atau sampai berapa lama?

Jawaban:

Masyaallah ya, untuk ibu Ika semoga ananda segera diberikan kesembuhan. Sakitnya kebetulan ada dua ya, yang pertama ada gastritis atau radang lambung yang disampaikan tadi yang mungkin relate dengan kondisi sekarang. Yang kedua cystitis ini adalah peradangan pada kandung kemih. Ini juga berhubungan dengan sakit perut.

Keduanya relate, lokasinya yang satu sakit perut di ulu hati dan satunya sakit perut di bawah perut di bawah pusat atau di atasnya selangkangan (dekat kemaluan). Alhamdulillah biidznillah sudah diberikan kesembuhan.

Situasinya yang harus dilakukan adalah menghindari secara total.

Alhamdulillah tubuh kita diberikan kemampuan untuk regenerasi, artinya untuk memperbaiki diri melapisi diri dan memperbaiki luka dibantu dengan obat-obatan ataupun tanpa obat-obatan, dengan izin Allah, insyaallah akan sembuh perlahan.

Berikan waktu dan ruang untuk tubuh yang terluka, untuk sembuh sendiri. Jadi itu yang harus dilakukan. Pada interval waktu, tadi tidak dipaparkan sama sekali dengan bahan-bahan agresor yang tadi kita bahas (pedas, lemak).

Tetapi pada saat faktor protektifnya sudah muncul, lapisan lambung dan yang lain, akhirnya dia sudah bisa menerima dalam intensitas yang wajar untuk makanan agresor tadi.

Kesimpulannya adalah selama dia sedang sakit, maka hindari secara total. Berikan ruang dan waktu untuk pemulihan. Rata-rata lamanya dua sampai empat pekan. Untuk beberapa kasus yang ekstrem bisa sampai 12 pekan. Jadi jangan konsumsi pedas dulu. Bilamana sudah boleh makan lagi, tetap dibatasi, tidak berlebihan jumlah dan frekuensinya.

Pertanyaan dari Ibu Nita di Aceh:

Anak saya usia 12 tahun, sekarang ini sedang sekolah boarding atau tinggal di asrama. Jadi selama boarding dia sering mengeluh sakit perut, terkadang mual di pagi hari. Sudah kami bawa ke dokter, didiagnosa sakit lambung dan banyak pantangan makanan seperti cokelat dan segala jajanan.

Dari dulu, dia memang jarang makan nasi selama di rumah ketika masih SD, sukanya makan kentang goreng untuk sarapan, makan siang, ataupun terkadang hanya sekali saja makan dalam sehari.

Setelah boarding otomatis pola makannya jadi berubah, harus makan nasi dengan ikan dan sayur. Terkadang dia makan nasinya cuma sedikit. Bagaimana caranya supaya saya bisa merubah pola makan anak saya? Harus seperti apa ya dokter supaya perutnya terbiasa kembali. Selama boarding satu semester ini sudah berapa kali muntah, terkadang 3 hari tidak sekolah.

Jawaban:

Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang muncul pada mayoritas ibu dengan anak yang sekolah boarding karena keluhan seperti ini cukup banyak. Ada satu penelitian yang menyatakan kurang lebih 76% anak boarding itu biasanya mengeluh sakit perut. Pola makan pada anak-anak boarding ini kadang tidak teratur. Penyebabnya meski ada jadwal tapi dikembalikan ke kemampuan anak-anak itu sendiri untuk mengatur waktu. Seringkali kebutuhan untuk mengejar hafalan muraja’ahnya juga ditambah kegiatan harian.

Zaman dulu, santri harus melakukan berbagai pekerjaan secara mandiri tapi saat ini, sekolah boarding sudah lebih banyak fasilitas untuk meringankan santri. Generasi sekarang menghadapi kesulitan dalam manajemen waktu sehingga akhirnya makanan tidak jadi kebutuhan utama atau prioritas mereka. Terkadang geser-geser waktu, kadang suka diakhirkan, atau yang jadi masalah terkadang juga dikurangi porsinya sehingga tidak sesuai. Apalagi tadi awalnya ananda tidak suka makan nasi. Kalau sudah tidak suka makan nasi biasanya pada saat di tempat umum yang memang menyediakan nasi bisa jadi dia skip atau mengambilnya cuma sedikit sebagai syarat saja bahwa sudah makan.

Kondisi lambung yang sering kosong dan tidak optimal, ini jadi masalah. Sebenarnya nasi bisa diganti dengan sumber karbohidrat lain seperti kentang, roti, jagung, ubi, atau singkong. Konteksnya faktor agresor pada ananda adalah pola makan yang kurang optimal, lalu waktu istirahat yang tidak bagus, dan mungkin pada saat itu, ananda juga akhirnya mengonsumsi sesuatu untuk mengisi perut atau mengurangi rasa laparnya. Ada juga sesuatu yang dikonsumsi secara rutin yang berhubungan dengan kemampuan dia untuk belajar. Contohnya dia minum kopi atau yang lain.

Dengan demikian faktor agresor-nya lebih dominan, sedangkan faktor protektornya hilang, makannya kurang bagus. Yang harus dilakukan adalah tekan faktor agresor-nya, seperti kebiasaan-kebiasaan kurang bagusnya kita hilangkan, lalu faktor protektornya dinaikkan, paling gampang adalah merubah pola makan.

Bisa kita terapkan untuk anak-anak yang ada di pondok sekalipun, adalah makan porsi kecil tapi sering. Jangan berikan waktu pengosongan lambung lebih dari 4 jam. Bisa bawa minuman sereal dalam satu tumbler kecil, misalnya, sehingga saat ada kelas kurang lebih 3 sampai 4 jam, dia bisa izin untuk minum, atau misalkan bawa biskuit dalam kemasan kecil yang bisa dikonsumsi kapanpun. Minta izin pada musyrif ataupun pada ustaz/ustazahnya.

Jadi ini yang biasanya saya sarankan kepada orang tua coba bawakan anaknya jangan kemasan besar, jangan party pack, tapi berikan kemasan renceng untuk dimakan di sela-sela pelajaran satu atau dua keping biskuit sehingga situasi asam lambungnya akan terjaga dengan baik. Jadi jangan terlalu fokus pada obat-obatan, tetapi kita juga harus memperbaiki pola kehidupannya yaitu pola makan sehat, istirahat cukup, kelola stress.

0