Sabar dan Syukur, Tanda Tauhid di dalam Diri
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
Kita sama-sama mengetahui bahwa tauhid adalah fondasi utama kehidupan seorang muslim. Tauhid bukan sekadar pemahaman dan keyakinan di dalam hati, namun juga terwujud dalam sikap dan amalan sehari-hari. Di antara tanda seorang hamba bertauhid adalah sifat sabar dan syukur dalam dirinya. Melalui sifat sabar dan syukur akan terlihat kuat atau tidaknya tauhid seseorang. Untuk mengetahui keterkaitan antara sabar dan syukur dengan tauhid mari kita ikuti penjelasan berikut.
Tauhid rububiyah
Tauhid rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb yaitu Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta.
Sabar adalah bentuk pengakuan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi di dunia ini, baik musibah maupun keburukan yang menimpa makhluk, terjadi karena kehendak dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman dalam firman-Nya,
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Taubah: 51)
Orang yang bersabar menyandarkan dirinya pada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menyalahkan takdir, tetapi melihat bahwa apa yang menimpanya adalah bentuk ujian dari Rabb yang Maha Bijaksana sehingga ia menerima ketetapan itu dengan hati bersih dan penuh keimanan.
Sementara itu, syukur dalam tauhid rububiyah tampak dari pengakuan bahwa semua kenikmatan berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53).
Dengan adanya syukur di dalam diri seorang hamba, ia akan meyakini bahwa tidak ada satu pun nikmat yang ia miliki, baik kesehatan, rezeki, keamanan atau keluarga melainkan berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dari dirinya sendiri.
Tauhid uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah pengesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah. Dalam tauhid uluhiyah, sikap sabar dan syukur adalah bentuk ibadah yang besar. Orang yang bersabar tidak mengeluh kepada makhluk, tetapi mengarahkan hati hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharap pahala dan menjaga ketaatan di tengah kesulitan hidup yang dialaminya.
Sementara itu, orang yang bersyukur, tidak hanya mengucapkan pujian, tapi juga menggunakan nikmat yang ia dapat dalam rangka ibadah dan kebaikan dalam rangka mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya nikmat-nikmat itu.
Tauhid asma’ wa sifat
Dalam tauhid asma’ wa sifat, seorang muslim mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sempurna. Sabar muncul dari keimanan bahwa Allah Maha Bijaksana (الحكيم), Maha Mengetahui (العليم), dan Maha Adil (العدل). Oleh karena itu, setiap musibah yang terjadi pasti mengandung hikmah dan keadilan Allah, meskipun seseorang tidak mengetahuinya.
Syukur muncul dari keyakinan bahwa Allah Maha Pemurah (الكريم), Maha Pemberi (الوهاب), dan Maha Penyayang (الرحيم). Seorang yang mengimani sifat-sifat ini, rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tumbuh dalam dirinya dan itu mendorongnya untuk bersyukur sepenuh hati dengan menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi semua larangan-Nya.
Sabar dan syukur harus dilandasi tauhid
Tauhid harus menjadi landasan semua amalan. Tanpa tauhid, sabar menjadi sekadar menahan derita dan syukur menjadi sekadar sikap sopan dalam tata krama. Namun, ketika dilandasi tauhid, sabar menjadi ibadah penuh pahala dan syukur menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika seseorang mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah, penuh pengharapan dan takut akan azab-Nya, maka ia akan tenang menerima takdir di masa sulit dan ringan beribadah di kala senang. Inilah hakikat tauhid yang melahirkan ketundukan lahir dan batin dalam diri seorang hamba.
Dengan demikian, sabar dan syukur bukan sekadar akhlak mulia semata, tetapi buah dari tauhid yang benar. Kuatnya tauhid seseorang akan memperkuat kesabaran dan memperindah syukurnya, sedangkan lemahnya tauhid akan melahirkan keluh kesah, putus asa, sombong dan kufur terhadap nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.
Keterkaitan sabar dan syukur dengan iman
Iman seorang hamba tidak selalu berada pada satu tingkat, kadang naik dan kadang turun. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya iman adalah sejauh mana seseorang bisa mengamalkan sabar dan syukur dalam setiap keadaan hidupnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Iman terbagi dua: separuhnya sabar dan separuh lagi syukur.” (Madarijus Salikin, 2:151).
Dalam kesempatan lain, Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa sebab sabar dan syukur sebagai dua sisi iman, di antara sebabnya seperti yang ia katakan, “Iman mencakup tiga hal: ucapan, perbuatan dan niat. Keseluruhannya dapat diringkas ke dalam dua cabang besar, yaitu melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Melakukan perintah adalah menjalankan ketaatan untuk Allah, inilah hakikat dari syukur. Meninggalkan larangan adalah menahan diri dari maksiat dan ini adalah hakikat dari sabar. Seluruh agama berporos pada dua hal ini: melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang.” (‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin: 108)
Dari pemaparan ini, dapat kita pahami bahwa sabar dan syukur memiliki peran besar dalam keimanan seorang hamba, dengan syukur ia akan menjadi taat beribadah dan dengan sabar ia akan menjauhi kemaksiatan.
Pengamalan dan pengaruh sabar dan syukur dalam kehidupan
Semua orang tahu bahwa seorang hamba tidak keluar dari dua keadaan, hidup dalam kelapangan atau kesempitan. Dalam setiap keadaan itu, setiap orang harus mengamalkan sabar atau syukur agar dirinya selalu mendapat kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin! Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya dan itu tidaklah dimiliki oleh siapa pun, kecuali oleh orang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim nomor 2999).
Sabar dan syukur merupakan bentuk penghambaan diri yang sesungguhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mampu bersabar saat tertimpa ujian berarti ia memiliki keimanan yang kuat tentang kebijaksanaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berharap hanya kepada-Nya. Sementara itu, orang yang bersyukur ketika mendapat nikmat, berarti ia meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Dzat Yang Maha Memberi, lalu mengakui nikmat tersebut dan menggunakannya untuk ketaatan.
Ketika seorang hamba diuji dengan musibah, kehilangan, kesulitan ekonomi, penyakit atau gangguan manusia, maka saat itulah sabar menjadi benteng utama yang menjaga imannya dari kehancuran. Tanpa sabar, seseorang bisa jatuh ke dalam sikap berkeluh-kesah terhadap takdir, bahkan sampai pada perbuatan berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga kufur kecil atau bahkan besar.
Sebaliknya, banyak orang rusak agamanya bukan karena musibah, tapi justru karena nikmat yang melalaikan. Orang yang tidak bersyukur ketika kaya, sehat, terkenal atau memiliki kekuasaan, akan mudah terjatuh pada kesombongan, tertipu oleh dirinya sendiri dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, syukur adalah cara memperkuat iman dengan selalu mengingat bahwa semua nikmat hanyalah titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kelapangan dan kesempitan hidup sama-sama ujian
Mungkin ada yang mengira kalau ujian itu hanya ada pada kesempitan dan kesusahan yang dialami dalam hidup, tapi bagi orang beriman, kelapangan dan kesempitan hidup sama-sama ujian sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Abi Al-I’zz rahimahullah “Kemiskinan dan kekayaan adalah ujian dari Allah Ta‘ala bagi hamba-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُوْلُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.” (QS. Al-Fajr: 15).
Jika ada orang miskin yang sabar lalu ada orang kaya yang bersyukur, dan mereka sama-sama bertakwa, derajat keduanya menjadi sama di sisi Allah. Namun jika salah satu di antara keduanya lebih unggul dalam takwa, dialah yang lebih utama di sisi Allah.
Pasalnya, kemiskinan dan kekayaan itu tidak menjadi ukuran, melainkan yang ditimbang di sisi Allah adalah kesabaran dan rasa syukur. (Syarhul ‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, 5:210-211).
Sebagian kita bisa saja menyangka ujian hidup susah lebih berat daripada ujian hidup mewah, namun ternyata tidak demikian. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ujian dalam keadaan lapang itu lebih berat daripada ujian dalam keadaan sempit.”
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum salaf “Kami diuji dengan kesulitan, lalu kami bisa bersabar. Tapi ketika kami diuji dengan kelapangan, kami tidak mampu bersabar.”
Dalam hadits disebutkan,
...أعُوْذُ بِكَ مِنْ... شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى، وشَرِّ فِتْنَةِ الفَقْر
Aku berlindung kepada-Mu dari … buruknya fitnah kekayaan, dan dari buruknya fitnah kemiskinan….”
Adapun kemiskinan, banyak orang yang bisa menghadapinya. Sedangkan kekayaan, hanya sedikit orang yang mampu lulus dari ujiannya. Oleh karena itu, kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang miskin. Karena memang, ujian kemiskinan lebih ringan. Meskipun kondisi kaya dan miskin sama-sama butuh sikap sabar dan syukur. Hanya saja, karena dalam kelapangan itu ada kenikmatan dan dalam kesempitan itu ada rasa sakit, maka yang umum dikenal adalah mensyukuri nikmat dalam kelapangan dan bersabar dalam kesulitan. (Majmu’ul Fatawa, 14:305)
Akhirnya, kita menyadari bahwa sabar dan syukur adalah dua sisi yang tak terpisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Keduanya merupakan wujud nyata dari penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penerapan tauhid dalam kehidupan. Siapa yang mampu mengamalkan keduanya dalam setiap keadaan hidupnya, maka ia termasuk orang-orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberi petunjuk di dunia dan akhirat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua termasuk golongan mereka.
Referensi:
- Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- ‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, Ibnul Qayyim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Syarhul ‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, Ibnu Abdil I’zz, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Majmu’ul Fatawa, Ibnu Taimiyah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.