Khotbah Jumat

Saat-saat Istimewa

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Za Ummu Raihan

KHOTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang masih memberikan kita kesempatan untuk mengisi waktu kita dengan kebaikan. Pada siang ini kita berkumpul di tempat yang mulia ini untuk meraih keridhaan-Nya dan mengumpulkan pahala sebagai bekal di akhirat kelak.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, umat-umat terdahulu memiliki umur yang cukup panjang. Diriwayatkan bahwa usia Nabi Nuh mencapai 900 tahun. Adapula riwayat yang mengatakan bahwa usianya mencapai 1.000 tahun. Di sisi lain, usia umat Nabi Muhammad H hanya sekitar 60 hingga 70 tahun. Nabi H bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampaui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah no. 4236)

Meski umur kita pendek, Allah yang Maha Pengasih banyak memberikan kemurahan kepada kita sehingga kita dapat meraih kebaikan yang banyak di sela-sela kesibukan kita. Allah menyediakan waktu-waktu istimewa yang ketika kita beribadah di dalamnya kita akan meraih pahala yang besar. Di antara waktu-waktu tersebut adalah:

Pertama: Sepertiga malam terakhir.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni.’” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758)

Kedua: Waktu sahur.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena pada waktu makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)

Imam An-Nawawi menjelaskan contoh keberkahan pada makan sahur: makan sahur memperkuat tubuh untuk berpuasa; seorang muslim bangun untuk mendirikan qiyamul lail, berzikir, dan berdoa; serta waktu sahur adalah saat turunnya rahmat Allah dan terkabulnya doa. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 7:206)

Ketiga: Waktu pagi.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus mendoakan keberkahan waktu tersebut bagi umatnya. Nabi H bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606)

Keempat: Waktu dhuha.

Seorang muslim disunnahkan untuk melaksanakan shalat dhuha. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memuji orang yang rutin melaksanakan shalat dhuha dengan sebutan “awwabin”,

لا يُحَافِظُ على صلاةِ الضُّحَى إلا أَوَّابٌ وهي صلاةُ الأَوَّابِينَ

“Tidaklah menjaga shalat sunnah dhuha melainkan al-awwab. Inilah shalatnya para awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1224)

Imam Nawawi menukil penjelasan ulama bahwa makna “awwab” adalah orang yang taat atau orang yang senantiasa kembali kepada Allah dengan cara mengerjakan ketaatan. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim)

Kelima: Waktu-waktu shalat fardhu.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ

“(Terdapat) lima shalat yang diwajibkan oleh Allah kepada para hamba-Nya. Barang siapa yang melaksanakannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun karena meremehkan haknya, maka dia memiliki perjanjian dengan Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Barang siapa yang tidak mendirikannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya. Jika Allah menghendaki, Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Abu Daud no. 1420)

Keenam: Waktu antara azan dan iqamah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا


“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan iqamah, maka berdoalah pada waktu tersebut.” (HR. Ahmad no. 12584)

Ketujuh: Hari Jumat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Sebaik-baik hari sewaktu matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukan ke dalam surga, dan ketika hari itu pula dia dikeluarkan dari surga. Hari kiamat juga tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.”

Pada hari Jumat banyak amalan yang bisa dilakukan, misalnya memperbanyak salawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, membaca surah Al-Kahfi, dan berdoa setelah ashar (menjelang akhir hari).

Kedelapan: 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Amal shalih pada hari-hari tersebut memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah melainkan hari–hari yang sepuluh ini.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Bukhari no. 969 dan Tirmidzi no. 757)

Kesembilan: Hari Arafah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah. Sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah ‘laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syay-in qadir’.” (HR. Tirmidzi no. 3585)

Kesepuluh: 10 hari terakhir bulan Ramadhan ketika berbuka.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak: (1) pemimpin yang adil, (2) orang yang berpuasa ketika dia berbuka, dan (3) doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526)

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mari kita manfaatkan waktu-waktu utama tersebut, agar usia kita yang pendek tetap menjadi usia yang istimewa karena dipenuhi oleh amal shalih. Demikian yang dapat kita sampaikan pada khutbah pertama ini, semoga bermanfaat.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ. فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHOTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, para nabi adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka tidak pernah merasa bangga atas amalnya. Amal shalih yang mereka lakukan senantiasa diiringi dengan doa agar amalnya diterima.

Ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam telah melakukan sebuah amal shalih yang sangat besar yaitu memabngun fondasi Ka’bah. Namun, beliau tidak besar kepala atas amalnya. Beliau tetap berdoa kepada Allah Jalla Jalaluh agar amalnya diterima. Doa tersebut diabadikan di Al-Quran,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Wahai Rabb kami, terimalah amal kami dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127-128)

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, doa tersebut hendaknya menjadi doa yang sering kita panjatkan karena kita tidak tahu dari sekian amal yang kita kerjakan, apakah Allah akan menerimanya atau tidak. Kita berharap agar umur kita di dunia ini senantiasa terisi dengan kebaikan yang diterima di sisi Allah Jalla Jalaluh.

Di akhir khotbah ini, mari kita bersalawat untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

Referensi:

  1. Tafsir Ath-Thabari.
  2. Shahih Al-Bukhari.
  3. Shahih Muslim.
  4. Sunan At-Tirmidzi.
  5. Musnad Ahmad.
  6. Shahih Ibnu Khuzaimah.
  7. Syarhun Nawawi ‘ala Muslim.
0