Rumah : Cermin Akhlak Sang Qawwam
Reporter: Rizky Aditya Saputra
Redaktur: Gema Fitria
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Tirmidzi).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan kebaikan seseorang dalam keluarga sebagai indikator cerminan diri. Hal ini diungkapkan Rasulullah bukan tanpa alasan. Sebagai penyampai wahyu dari langit, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak cukup dilihat dari penampilannya di hadapan banyak orang.
Di luar rumah, seseorang dapat menjaga tutur kata, menampilkan sikap santun, bahkan memperoleh pujian dari banyak orang. Namun, ketika pintu rumah tertutup, tidak ada lagi tuntutan untuk menjaga citra. Di sanalah tabiat, kesabaran, dan akhlaknya benar-benar tampak. Karena itu, rumah menjadi tempat pertama seorang suami menunjukkan kualitas imannya.
Setiap orang bisa saja bersikap baik di hadapan orang lain. Namun, cerminan sesungguhnya terlihat ketika ia berada di rumah. Menjadi qawwam bukan hanya tentang memimpin dan menafkahi, tetapi juga tentang menghadirkan kasih sayang, kelembutan, dan keteladanan bagi keluarga. Keluarga harmonis bukan lahir dari sosok yang paling berkuasa atau otoriter, melainkan dari pemimpin yang meneladani akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Wujud Kebaikan Sederhana yang Berdampak Besar
Tidak ada manusia yang sempurna. Akhu Abu Hamzah mencoba memahami betul ungkapan tersebut. Ia memaklumi ketidaksempurnaan sang istri dalam berbagai aspek. Meski kesannya "hanya" mengurus rumah, terkadang tugas itu lebih melelahkan dibanding pekerjaan di kantor. Ditambah lagi, wanita merupakan makhluk yang lebih mengedepankan perasaan daripada logika, sehingga perlu pendekatan khusus untuk mengambil hatinya.
"Kita coba membiasakan diri dalam menegur istri secara lembut. Karena mood-nya setiap hari berubah, untuk hal ini memang perlu sikap khusus. Tidak bisa asal menegur, karena mereka menggunakan perasaan yang dominan. Dan kalau mereka cerita, kita juga harus menjadi pendengar yang baik. Menurut penelitian, wanita itu harus mengeluarkan 20.000 kata per hari. Jika bukan kita yang mendengarkan, nanti mereka cerita ke orang lain. Repot, kan?" Akhuna Abu Hamzah melempar pertanyaan yang tak butuh jawaban.
Bagi para istri, menjalani rutinitas yang sama memang melelahkan. Oleh karenanya, kehadiran suami yang ikut meringankan pekerjaan rumah adalah sebuah tanda cinta yang selalu dinanti. "Hasil obrolan dengan istri, dia sangat senang kalau suami membantu meringankan pekerjaan rumah. Walaupun hanya menemani anak bermain, itu sudah sangat membantunya untuk tetap fokus. Karena selama ini dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah secara multitasking. Hal ini yang harus kita pahami sebagai suami," ujar Akhu Abu Hamzah melanjutkan.
"Dan jangan lupa mengucapkan terima kasih dalam keadaan apapun. Misalkan disiapkan makanan, minuman atau melihat rumah dalam keadaan bersih. Itu penting, artinya kita menghargai dia. Dan jika salah, jangan lupa minta maaf dengan tulus kepadanya," ayah dua anak ini menambahkan.
Mengendalikan Emosi adalah Tanda Kekuatan
Tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, hingga padatnya aktivitas sering kali menjadi pemicu emosi di dalam rumah tangga. Namun, Rasulullah mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan fisik untuk mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri saat marah. Beliau tidak menjadikan istri dan keluarga sebagai pelampiasan kekesalannya di luar. Sebaliknya, setiap persoalan dihadapi dengan kesabaran, kelembutan, dan komunikasi yang baik hingga menemukan jalan keluar.
Teladan ini menjadi panduan hidup yang selalu coba dipegang oleh Akhu Abu Hamzah. Ia menyadari bahwa rumah seharusnya menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, bukan menjadi sasaran luapan emosi akibat masalah di luar. Ini juga sekaligus menjadi pengingat bahwa seorang suami harus mampu memisahkan urusan pekerjaan dengan kehidupan keluarga.
"Kadang setelah seharian bekerja, seseorang pulang dalam keadaan lelah dan mudah tersulut emosi. Justru di situlah kita diuji untuk menahan diri. Ana belajar bahwa istri dan anak tidak boleh menanggung akibat dari tekanan yang kita alami di luar rumah," ucap Abu Hamzah.
Mengendalikan emosi memang bukan perkara mudah, tetapi dapat dilatih melalui kebiasaan-kebiasaan kecil, seperti berdiam diri ketika marah, berwudhu, memperbanyak dzikir, atau menunda pembicaraan hingga suasana lebih tenang. Ketika suami dan istri sama-sama berusaha menjaga lisan dan sikap, setiap perbedaan dapat diselesaikan tanpa saling menyakiti. Selain itu, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin akan membuat keputusan yang diambil lebih bijaksana.
"Kalau emosi dibiarkan menguasai, masalah kecil bisa menjadi besar. Rasulullah mengajarkan kita untuk bersabar, berdialog, dan mencari solusi bersama. Dan kalau suasananya sedang panas, kita bisa meniru cerita Ali bin Abi Thalib ketika sedang bertengkar dengan istrinya, Fathimah. Beliau memilih pergi ke masjid, tidur-tiduran di tanah untuk menenangkan diri. Setelah tenang, baru beliau pulang," santri asal Bekasi ini menjelaskan.
Memberi Contoh, Bukan Hanya Nasihat
Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat setiap hari sering kali lebih membekas daripada nasihat yang berulang kali didengar. Oleh karena itu, Rasulullah mendidik keluarga dengan keteladanan. Beliau mengajarkan pentingnya menjaga shalat, memperbanyak ibadah, dan menunaikan amanah melalui perilaku nyata.
Dalam kehidupan modern, keteladanan itu dapat diwujudkan dengan menjaga salat berjamaah di masjid bagi laki-laki, menghidupkan salat sunnah di rumah, membiasakan tilawah Al-Qur'an bersama keluarga, menepati janji kepada anak, hingga membatasi penggunaan gawai saat berkumpul dengan keluarga.
Bagi Akhuna Abu Khalid, santri HSI asal Jakarta, kebiasaan orang tua akan menjadi cerminan bagi anak-anaknya. Tanpa disadari, banyak perbuatan negatif yang dilakukan anak, karena meniru perilaku orang tuanya.
"Kalau kita mengajak anak shalat, tetapi kita sendiri sering menunda atau sibuk bermain ponsel, anak akan menangkap perbedaan antara ucapan dan perbuatan. Ana belajar bahwa pendidikan terbaik dimulai dari memberi contoh. Anak-anak akan lebih mudah mencintai ibadah ketika mereka melihat orang tuanya menikmati ibadah setiap hari," ujar Akhu Abu Khalid mengingatkan.
"Di rumah, sebisa mungkin kita memberikan contoh untuk keluarga. Mulai dari shalat berjama'ah ke masjid, dan membaca Al-Qur'an di rumah. Mereka melihat, dan mencontohnya kelak," tambahnya.
Keteladanan memang tidak memberikan hasil secara instan, tetapi dampaknya akan tumbuh dalam jangka panjang. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya menjaga ibadah, menepati janji, dan hadir sepenuhnya saat bersama keluarga akan belajar nilai-nilai tersebut secara alami. Inilah salah satu warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua, yakni keteladanan akhlak yang dicontohkan setiap hari.
"Penyakit orang tua zaman sekarang, saat anak berbicara atau bertanya, biasanya merespons tanpa memberi perhatian penuh. Matanya lebih fokus ke handphone. Nanti ketika posisinya dibalik, saat orang tua memanggil, mata anak fokus ke gadget, eh kita yang marah. Padahal kita yang mencontohkan lebih dulu. Ana dan istri sepakat, kalau sedang bersama anak harus sangat meminimalisir memegang handphone," tegasnya.
Kebaikan Kecil yang Bernilai Besar di sisi Allah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan bahwa senyum adalah sedekah, sedangkan akhlak yang baik merupakan bagian dari ibadah. Ketika seorang suami pulang ke rumah dengan wajah ceria, menyapa kabar istri dan anak, di saat itulah kebahagiaan sesungguhnya terjadi. Setelah ditinggal hampir seharian, tentu obat rindu keluarga adalah senyuman Sang Qawwam. Dan perhatian sederhana, sering kali lebih berkesan daripada pemberian materi.
"Sepulang kerja, ana berusaha menyempatkan diri bertanya kepada istri dan anak tentang kegiatan mereka hari itu. Meskipun hanya beberapa menit, mereka merasa diperhatikan dan suasana rumah menjadi lebih hangat. Anak-anak ingin didengar. Saat kita merespons cerita mereka dengan antusias, mereka akan merasa dihargai dan lebih terbuka kepada orang tuanya. Saya juga berusaha membiasakan diri mendoakan keluarga setiap selesai shalat," ujar ayah satu anak ini.
Kebaikan-kebaikan sederhana tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah, dampaknya akan terasa besar dalam kehidupan keluarga. Rumah menjadi tempat yang penuh kehangatan, komunikasi terjalin lebih baik, dan setiap anggota keluarga merasa dicintai.
"Walau belum bisa menjadi suami dan ayah yang sempurna, tapi kita terus berusaha yang terbaik. Membangun keluarga yang sakinah tidak selalu membutuhkan hal-hal yang luar biasa, tetapi bisa dimulai dari perhatian, doa, dan akhlak mulia sehari-hari," ucapnya berpesan.
Menjadi qawwam bukan tentang menjadi sosok yang paling ditakuti, tetapi menjadi orang yang paling dirindukan kehadirannya di rumah. Ketika seorang suami meneladani akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memperlakukan keluarganya, dia bukan hanya sedang membangun rumah tangga yang harmonis, tetapi juga menapaki salah satu jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat yang telah ditunjukkan oleh manusia paling penyayang kepada umatnya.
Maka, jangan pernah berhenti belajar meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, manusia terbaik yang paling lembut kepada keluarganya. Semoga setiap senyum, kesabaran, perhatian, dan kebaikan yang kita hadirkan di rumah, menjadi jejak langkah mengikuti sunnah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, hingga kelak Allah mengumpulkan kita bersama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta orang-orang yang meneladani akhlak Nabi-Nya di surga-Nya. Aamiin. Baarakallahu fiikum..
***