Kabar Yayasan

Rencana Kelas Khusus untuk Mereka yang Sungguh-sungguh

Reporter: Gema Fitria

Editor: Dian Soekotjo


وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada fata-nya, "Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum menemukan pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan hingga bertahun-tahun." [QS Al Kahfi: 60]

Surat Al Kahfi ayat 60 bercerita tentang perkataan Nabi Musa ‘Alaihissalam. Allah berfirman dalam ayat tersebut لِفَتَىٰهُ yang berarti kepada fata-nya. Fata adalah bahasa Arab yang bermakna budak. Padahal ayat tersebut tengah mengulas dialog Nabi Musa ‘Alaihissalam dengan Yusya’ bin Nun, yang juga seorang nabi, seperti diterangkan Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah bin Hamad Al-Ushaimi dalam kitab karyanya, Khulashah Ta’dzim Al ‘Imli.

Mengapa Allah memilih kata fata atau budak padahal yang dimaksudkan adalah Yusya’ bin Nun yang seorang nabi? Absah, nabi adalah manusia merdeka, bukan satupun fata. وإنَّما كان مُتَلْمِذًا له, kata Syaikh Shalih, dikatakan demikian karena Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalam tengah menimba ilmu pada Nabi Musa ‘Alaihissalam. Memburu ilmu butuh totalitas, tak akan diperoleh dengan raga yang berleha-leha. Bahkan Yusya’ mengiringi Nabi Musa kemana melangkah, laksana budak, tentunya demi leluasa menyerap pengetahuan.

Menuntut ilmu adalah amal yang diwajibkan dalam Islam, malahan ini tanggung jawab setiap hamba. Namun, kelihatannya tidak semua manusia yang mendapat peluang, mampu insaf. Ada saja yang memilih alpa hingga berakhir dengan lepasnya kesempatan belajar. Di program reguler HSI AbdullahRoy, kenyataan tidak jauh berbeda. Silsilah ke silsilah, sesi demi sesi, ramai santri rasib. Ironi, hal memprihatinkan, tapi tak juga terhenti. Apa perlu kelas khusus untuk mengakhiri, setidaknya mengurangi, keterpurukan ini?

Hanya Bisa Prihatin

Ukhtuna Ummu Ayu bertugas menjadi Musyrifah dalam program reguler sejak tahun 2020. “Sudah beberapa kali pindah angkatan, Mbak, jadi tidak full menyertai satu grup dalam 5 tahun itu,” ungkap warga Semarang tersebut kepada Majalah HSI. “Setelah setahun bertugas, ana juga pernah izin off karena mau melahirkan,” sambungnya mengenang awal perjalanan berkhidmat di HSI. Meski berpindah-pindah grup, Ummu Ayu mengaku selalu mempunyai pengalaman yang sama, pada akhir sesi KBM. “Sedih kalau akhir sesi, karena harus me-remove santri yang Rasib dan Ghayyib,” ujarnya kemudian.

Istilah remove tentunya tidak asing di lingkup KBM HSI. Ini ialah suatu prosedur di akhir silsilah, di mana para santri yang menyandang nilai Rasib, nilai kurang dari 50, apalagi Ghayyib, yaitu nilai 0, harus rela dikeluarkan dari grup belajar. Artinya, mereka tak lagi diizinkan melanjutkan belajar ke silsilah berikutnya.

Ummu Ayu mengemukakan bahwa ia telah berupaya semampunya agar para santri terhindar dari remove. “Ana kira semua Musyrifah juga sama, telah berupaya maksimal. Apalagi di HSI ada struktur di atas kita. Ada Muraqibah, ada PJ, Koordinator, yang mengarahkan kita harus begini, harus begini,” kata Ummu Ayu. “Sampai reminder evaluasi pun telah terjadwal,” timpal santri angkatan 191 itu. “Yang membuat sedih, ada saja yang gugur, padahal sudah lewat beberapa sesi. Kadang kepikiran apa ana kurang maksimal,” Ummu Ayu menyampaikan kekhawatiran.

Ukhtuna Rahma yang juga mempunyai pengalaman bertugas lintas angkatan, menyampaikan hal senada. “Qadarullah, Umm, ada saja yang tak bisa lanjut. Memang sih bisa leveling sekarang,” terang Ukhtuna Rahma. “Tapi juga tidak semua rasiber mendaftar,” imbuhnya. Ukhtuna Rahma tampak menyayangkan kesempatan tetap belajar di HSI melalui program leveling atau mengulang silsilah, yang tidak dimanfaatkan sebagian santri dengan nilai Rasib. “Kadang yang ter-remove sampai puluhan lebih dalam grup yang sebenarnya juga sudah tinggal sedikit,” ujarnya. “Yaa… grup sepi deh..” Ukhtuna Rahma seperti mencoba menggambarkan kesedihannya.

Masih ada cerita Ukhtuna Intan yang punya pengalaman meremove 50-an santri pada beberapa angkatan berturut-turut. “Qadarullah, Mbak, yang sama sekali tidak mengerjakan sejak awal, alias Ghayyib, banyak sekali,” keluhnya. Ummu Umar, Musyrifah HSI lainnya, turut mengiyakan. “Angkatan-angkatan baru terutama, banyak sekali yang Rasib dan Ghayyib. Dua tahun lalu grup ana hampir seratus yang ter-remove, angkatan baru,” ungkapnya. “Qadarullah. Sedih tapi mau bagaimana lagi.. Hanya bisa prihatin,” imbuhnya.

Dua Sisi Kemudahan

Beberapa Musyrifah yang bersedia membagi pengalaman seputar remove santri Rasib kepada Majalah, ada yang sampai pada kesimpulan bahwa sistem yang jauh lebih mudah, sangat mungkin turut menjadi sebab.

“Kita tidak bisa sepihak menuduh semua santri yang ter-remove, kurang serius belajar,” ungkap Ukhtuna Ummu Lia yang sehari-hari bekerja sebagai guru Bahasa Inggris sebuah sekolah menengah di kota Lampung. “Karena background-nya juga macam-macam. Tapi juga bukan berarti dibiarkan,” Ukhtuna Ummu Lia mengemukakan pendapat. Menurut ibu dua putri ini, jika hendak memperbaiki keadaan, HSI dapat mulai merumuskan penyebab-penyebabnya.

“Bisa jadi karena daftarnya lebih mudah, sehingga tidak tersaring lagi mana santri yang mendaftar karena benar-benar ingin belajar, mana yang tidak sengaja ada di kelas karena ikut-ikutan,” ungkapnya berargumen.

Ternyata alasan serupa turut dikemukakan Ukhtuna Umi Nabila. “Masuk HSI sekarang mudah sekali. Tinggal isi data, klik kirim, terdaftar. Jadi banyak pendaftarnya. Kelihatan di angkatan baru,” Ukhtuna Umi Nabila menyampaikan penilaian. “Tapi begitu KBM mulai, langsung terlihat itu deretan Ghayyib-Rasib, bisa sampai 100 lebih,” ungkap Umi Nabila terdengar menyayangkan.

“Sebaiknya ini juga dipertimbangkan karena di satu sisi, pendaftaran yang mudah, sistem yang mudah, segala yang mudah, memang mendatangkan animo,” tutur Ukhtuna Umi Nabila. Namun, menurutnya, sisi lain kemudahan bukan selamanya hal positif. Persen keseriusan santri yang menurun jika ditilik dari jumlah Rasiber yang kian membengkak, adalah salah satu hasil dari sistem. Ini fenomena terbilang memprihatinkan.

Tanpa Niat Mendaftar

Majalah coba menghimpun beberapa opini santri Rasib yang tak lagi mendaftar program mengulang silsilah atau leveling. Kekhawatiran yang dikemukakan Ukhtuna Ummu Lia, bahwa santri mungkin mendaftar hanya karena ikut-ikutan, banyak terbukti.

Ukhtuna Sulistyawati salah satu eks-santri 242 berkenan membagi pengalamannya pada Majalah. “Saya tidak tahu, Kak, HSI itu apa. Saya juga bingung kenapa nama saya ada di situ,” sanggahnya melalui pesan WhatsApp. “Saya mau belajar HSI, tapi sekarang sedang tidak memungkinkan. Saya sedang sibuk skripsi,” tutur Ukhtuna Sulistyawati akhirnya mengungkapkan alasan.

Kondisi serupa dialami Ummu Desi yang berdomisili di Banda Aceh. “Saya memang diajak teman untuk ikut. Anak-anak dan menantu saya, keponakan saya, juga ikut. Tapi saya belum berniat mendaftar karena masih sibuk mengurus Mamak yang sedang sakit. Rencananya, nantilah kalau Mamak sudah sehat,” ungkap nenek 5 cucu itu. Toh, nyatanya, nama Ummu Desi tercantum sebagai peserta angkatan 242.

Ketika pertama kali mengetahui namanya tercatat sebagai santri, Ummu Desi berupaya mensyukuri. “Ya bersyukur, dibukakan kesempatan menuntut ilmu. Ternyata sudah ada yang mendaftarkan,” katanya kemudian. “Sayangnya saya belum bisa dengan rutinitas belajar tiap hari di HSI. Apalagi waktu itu neneknya anak-anak keluar-masuk Rumah Sakit, opname,” pungkas Ummu Desi. Qadarullah, Ummu Desi akhirnya ter-remove dari grup gara-gara nilai hanya didapatkannya dari dua kali evaluasi harian yang sempat dikerjakannya.

Pengalaman Ummu Ahyar sama saja rupanya. Pensiunan ASN tersebut ikut di remove dari grup karena nilai akhir yang tak memadai. Ia bahkan merasa tak mendaftar dan mengaku gaptek, tapi nyatanya nama beliau ikut tertera sebagai santri 232 yang sayangnya tidak lulus ke silsilah berikutnya.

Pembentukan Kelas Khusus

Berbagai keprihatinan di atas, ternyata telah lebih dulu meliputi para penanggung jawab Divisi KBM kelas akhwat. Koordinator KBM ART, Ukhtuna Fauziana atau yang kerap disapa Mbak Ana, menyampaikan kepada Majalah HSI bahwa timnya Alhamdulillah telah berancang-ancang mengupayakan jalan keluar. Mbak Ana membenarkan adanya rencana pembentukan kelas-kelas khusus. Kabarnya, grup-grup santri di program khusus tersebut akan berupa kelas-kelas mini beranggotakan lebih sedikit santri.

“Itu kelasnya kecil, mungkin sekitar 50-60 santri, kemudian ada satu Musyrifah, dan satu Muraqibah,” ungkap Mbak Ana membocorkan sedikit informasi program kelas khusus. Mbak Ana beserta segenap tim memimpikan program ini akan diisi mereka yang berupaya sungguh-sungguh menuntut ilmu. Jika sejak awal, peserta telah tersaring, besar kemungkinan tak banyak lagi yang akan bermudah-mudahan menghilangkan kesempatan belajar. Dari perencanaan, nampak ide kelas khusus ini besar peluang menjadi solusi.

Diperkirakan Mulai Pertengahan 2025

Mbak Ana mengemukakan bahwa kelas yang tengah diwujudkan, bertujuan antara lain meningkatkan kualitas KBM, menyeleksi thalibah yang benar-benar ingin belajar, membangun karakter menghargai waktu, dan serius dalam belajar, serta menghasilkan thalibah yang beradab, baik terhadap sesama santri maupun pengurus.

“Program ini disiapkan untuk dibuka pada angkatan baru ART 252. Sasarannya adalah santri baru angkatan 252 dan santri lama yang ingin mengulang,” ujar Mbak Ana. Jadi semua santri HSI berkesempatan untuk menjadi peserta program ini.

Rangkaian Fasilitas untuk yang Benar-benar Ingin Belajar

Mbak Ana kembali memberi bocoran bahwa sistem belajar masih sama, yaitu mendengarkan rekaman audio yang dibagikan di grup WhatsApp, kemudian ada evaluasi-evaluasi untuk dikerjakan. Mbak Ana menambahkan bahwa karena santrinya sedikit, harapannya Musyrifah bisa lebih fokus melayani santri di grup. “Beda kalau ratusan, pasti tidak akan terpantau semua,” ungkap Mbak Ana.

Program kelas intensif yang tengah diwujudkan, nampaknya juga dirancang memberi kemudahan dalam proses belajar. Kembali dituturkan Mbak Ana, bahwa disediakan kitab yang merupakan resume materi yang diberikan. “Sekarang sedang digarap oleh teman-teman di HSI Pernik,” imbuhnya. “Semoga kitab itu bisa menambah semangat dalam belajar, terkhusus misalnya untuk santri yang usianya sudah lanjut, terkait misalnya dalil, kemudian perkataan para ulama, dan sebagainya,” Mbak Ana berharap.

“Kemudian, insyaallah akan ada sesi tanya jawab Ustadz. Nah tanya jawab Ustadz nanti akan terkait materi yang disampaikan,” pungkas Mbak Ana.

Maasyaa Allah banjir fasilitas.. Semoga Allah mudahkan proses persiapan hingga peluncuran program kelas khusus ini nantinya, dan apa yang menjadi harapan dari program ini bisa terlaksana. Mari doakan bersama-sama… Apabila antunna berminat menjadi salah satu peserta di kelas baru ini, persiapkan diri ya… Insyaallah menjelang peluncuran, pada pertengahan tahun 2025, Majalah HSI akan kembali berbagi informasi kelas khusus ini. Nantikan ya..

0